
"Bagaimana menurut Lu, Rik?" tanya seseorang pada seorang pemuda yang lebih muda darinya. Pemuda tampan berusia sekitar 26 tahun itu, menatap tajam pada pemuda yang disebutnya Rik, tadi.
"Gua belum tahu ceritanya Bang, lagipula Gua jarang melakukan interaksi yang lama sama dia, Gua jadi illfeel jika mendengar Abang sampai menerima penolakan dari dia. Sok cantik banget kan? Tapi Gua tidak mau gegabah dong mengambil kesimpulan dari satu pihak saja, Gua akan cari tahu dari mulut dia sendiri bagaimana kronologisnya sampai Abang berani nekad melakukan pengeroyokan itu."
"Lu bisa diandalkan tidak? Abangmu ini lagi kecewa dan sakit hati. Jadi, Gua minta bantuan Elu."
"Gua, kagak bisa janji Bang. Lagipula Bapak sudah mengeluarkan duit banyak buat membiayai biaya Rumah Sakit lakinya, dan terapi dia sampai sembuh total. Sekarang kalau Lu naas lagi, Elu mau mempertaruhkan reputasi Bapak Gua? Gua ogah, Bapak Gua coreng dimata dunia, begitu-begitu juga Bapak Gua adalah seorang aparat yang amanah dan selalu membela yang benar," tolak Riki.
"Shitt....!" umpatnya kesal.
"Lagipula nih Bang, dalam keluarga kita tidak ada yang namanya otak kriminal. Jadi menurut Gua, jauh-jauhlah dari yang namanya berurusan sama hukum, ribet tahu."
"Ck..., cemen Lu!" ejeknya sembari memukul pelan lengan Riki.
"Lagipula, Dara punya seorang dekeng. Kayaknya dia punya kakak seorang Tentara, kemarin Gua mengintainya dan melihat Tentara itu bertamu lama ke kontrakannya, lalu si Dara memeluk erat begitu lama dan akrab banget. Jauh-jauhlah Bang dari namanya kericuhan, Gua kagak setuju. Walaupun Gua masih muda dari Elu, Gua kagak mau Elu mati konyol dan harus masuk penjara gara-gara masalah perempuan."
Perbincangan itu berakhir saat keduanya dikeroyok hujan yang tiba-tiba turun.
...****************...
"Apa... Riki saudaranya Reno?" Rivai terkejut saat mendengar penjelasan dari Azlan.
"Bisa jadi I, sebab Gua sama Dara melihat dengan mata dan kepala Gua sendiri. Apakah si Riki itu adiknya atau saudara sepupunya, kita belum tahu."
"Coba Neng Dara cerita sedikit tentang si Riki."
"Dara belum bisa menyimpulkan apa-apa Kak sejauh ini. Dia memang sedikit menyebalkan, sok tahu, dan lagak-lagaknya mirip Bang Reno. Terutama senyum dan sorot matanya mirip banget. Jadi sejak itu, Dara merasa illfeel dan jangan-jangan Kak Riki dikirim Bang Reno untuk menyakiti Dara mungkin."
"Itu sih masih dugaan Dara, tapi semoga saja dugaan Dara salah," lanjut Dara.
Azlan dan Rivai mengangguk-angguk.
"Gua jadi khawatir I kalau begini sama keselamatan bini Gua, apa perlu kita hubungi Pak Bahtiar?"
"Itu belum perlu Lan, kita lihat dulu sampai sejauh mana dia bertindak, sukur-sukur dia tidak memperalat si Riki untuk membalaskan dendam pada Elu atau Dara," saran Rivai.
Di Pabrik🏭
"Dar..., malam ini kamu jalankan PCB Kenwiid. Kita Change model. Cek part, samakan dengan Feedinglist. Yang teliti, awas jangan sampai salah. Model Kenwiid SAA urgent lho," perintah Kak Vita tanpa jeda.
__ADS_1
"Ok Kak siap....!"
"Ajak Ira cek part, diulang ngeceknya. Ini PCB Pabrik Hyundy lho, pabrik tempat Abang kamu cari cuan," berita Kak Vita sambil tersenyum.
"Siap Kak....!" sahut Dara disertai senyum simpul.
Dara mendadak ingat Azlan gara-gara malam ini harus change model Kenwiid SAA.
"Bang Azlan lagi apa ya?"
"Dara....!" Dara tersentak saat Riki memanggil.
"Melamun kamu ya? Saatnya kerja ya, mohon kerjasamanya. Kamu cek dulu part bareng Cheker, aku mau program dulu," ucapnya sambil mengutak-atik komputer.
Dara segera melaksanakan tugasnya bersama Ira, ngecek part atau komponen dan memasangnya di Feeder. Tidak berapa lama tugas Dara dan Ira selesai, tinggal menunggu Programmer memprogram sesuai model.
Dara memperhatikan Riki dari mejanya dengan sudut mata, Teknisi itu memang cekatan dan pandai juga. Selain masih muda, dia seorang Teknisi yang sudah pandai jadi Programmer. Hampir sebelas dua belas dengan Reno dari kepandaiannya, termasuk ketampanannya sama-sama mempunyai wajah yang *good looking*.
"Dara....!" Riki berteriak memanggil Dara yang segera Dara hampiri.
Proses change model akhirnya kelar juga, butuh waktu satu jam untuk Riki memprogram model. Mesinpun Ok dan berjalan lancar, hanya sekali-sekali alarm merah berbunyi, selebihnya alarm hijau berbunyi pertanda komponen habis yang harus segera diganti.
"Dara...!" Tiba-tiba Riki menyapa dan menghampiri Dara yang sedang sibuk menulis laporan.
"Boleh aku duduk disini?" ijinnya seraya meletakkan kursi yang dia bawa entah dari mana, lalu dia letak di samping kiri Dara. Dara sedikit terhenyak dengan tingkah Riki yang duduk di sebelahnya persis posisi yang pernah Reno lakukan tempo hari. Tiba-tiba Dara teringat kejadian naas itu, saat Reno melecehkannya. Dengan cepat Dara menggeser kursinya ke sebelah kanan menjauh dari Riki, walau pada kenyataannya posisi Riki dan Dara tidak bersentuhan.
"Boleh, silahkan saja," Dara mempersilahkan. "Dara kamu sudah menikah ya?" Tiba-tiba cowok muda dan tampan di sebelahnya ini bertanya diluar jalur. Dara merasa risih dan kesal akan pertanyaan tidak penting ini saat jam kerja.
"Kenapa Kak Riki tanya itu?" Balas Dara.
"Tinggal jawab saja apa susahnya sih, lagian ini tidak mengganggu pekerjaan kamu. Mesin sedang on dan Ok. Seperti pernah kamu bilang tempo hari yang sempat WA an saat mesin sedang berjalan, kamu bilang pandai-pandai kita membuka WA asal tidak mengganggu pekerjaan," tukasnya.
"Kenapa, memangnya penting banget ya tahu status Dara?"
"Aku hanya ingin tahu saja supaya aku tidak naksir kamu, kalau saja kamu sudah bersuami," ucap Riki beralasan.
__ADS_1
"Dara sudah menikah," jawab Dara tanpa berbelit.
"Ohh....!" serunya.
Dara cukup tersenyum simpul mengingat cowok di depannya bertanya seperti ini, Dara sudah menduga Riki pasti sudah tahu tentang dirinya dari Reno. Situasi ini memberi jalan buat Dara bertanya sesuatu kepada Riki, soal penemuan Dara dan Azlan tentang kebersamaan Riki dan Reno.
"Dara boleh bertanya, tidak?"
"Apa?"
"Apa hubungan Kak Riki dengan Bang Reno?"
Sontak Riki berubah menjadi salah tingkah seakan kebakaran jenggot atau diketahui kesalahannya, padahal Dara hanya menanyakan hal simpel.
"Aku sepupunya, tepatnya adik sepupunya?" jawabnya jujur. Dara mengangguk-angguk.
"Apa Kak Riki bekerja disini ada motivasi lain?" tanya Dara mirip seorang pengintrogasi. Riki mengerutkan keningnya heran.
"Tidak ada, hanya murni bekerja," jawabnya sederhana.
"Serius? tidak ada niat lain? secara... Kak Riki kan saudara sepupu Bang Reno?" todong Dara.
"Tidak ada. Jangan suudzon dulu Dara. Aku begini-begini juga tahu adab dan tahu mana yang baik dan benar," tandasnya serius.
"Baguslah Kak, berarti mulai sekarang kita bisa jadi partner kerja yang solid dong. Tanpa mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."
Riki terdiam tidak menyahut lagi Dara, seakan merasa kegap akan suatu hal, yang sebenarnya tidak akan pernah dia lakukan seperti apa yang Reno isyaratkan tempo hari.
"Siap nggak Kak, jadi partner solidnya Dara?"
Riki tersenyum simpul lalu berkata, "kenapa tidak?"
"Tapi ada syaratnya, asal kamu mau jawab dengan jujur, aku bersedia jadi partner yang solid dan baik," ungkapnya memberi syarat.
"Apa....?" Dara menyernyit penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Apa sebenarnya yang akan Riki tanyakan pada Dara sebagai syarat untuk menjadi partner kerja yang solid? Nantikan kisahnya besok.....