
Setelah mengakhiri pesan chat dengan Kakak tersayangnya, Dara sengaja membuka kembali pesan suara yang dikirim Azlan.
Dara mulai terlelap saat dengan sengaja pesan suara dari Azlan diperdengarkan. Lirik lagu Aa Ariel yang dinyanyikan ulang oleh Azlan terdengar lirih sampai membuatnya terbuai dan terlena dalam lelap.
Dara terbangun ketika suara Adzan Zuhur berkumandang. Dara menggeliat malas dan berusaha mengumpulkan nyawa.
Segera Dara bergegas ke kamar mandi, mandi dan ambil wudhu. "Ah..., segar rasanya," gumannya menikmati tetesan air yang membasahi tubuhnya.
Setelah melaksanakan Sholat Zuhur, Dara melaksanakan misinya yaitu memasak yang tadi pagi telah direncanakan. Yaitu memasak sayur asem sama balado telur. Bumbunya sudah tidak perlu ribet lagi, sebab sudah ada racikannya. Tinggal nambah-nambah sedikit saja jika ada yang kurang. Masakpun selesai. Dara bisa sedikit bersantai sambil rebahan.
Malampun menjelang, Azlan pulang ketika Dara sudah kelar melaksanakan Sholat Isya. Dia mengucap salam seperti biasa.
"Assalamu'alaikum!" salamnya.
"Waalaikumsalam," jawab Dara pelan. Azlan sekilas menatap Dara kaget plus senang, sebab salamnya dijawab Dara walau pelan.
Dara masuk ke kamar seakan menghindari Azlan, lalu merebahkan tubuhnya sambil memainkan HPnya. Sebenarnya Dara nggak enak dengan situasi ini, lagipula Azlan gak tahu masalah sebenarnya kenapa Dara bersikap begitu.
Tak berapa lama setelah mandi, Azlan menyusul Dara masuk kamar yang cuma dihalangi lemari plastik itu.
"Dara sudah masak sayur asem sama balado telur, Abang tinggal ngambil saja kalau mau makan," ucap Dara.
Azlan melengos tanpa menyahut, lagi pula perutnya memang sudah lapar.
"Adek sudah makan belum?" tanya Azlan dari balik lemari. "Sudah tadi," sahutnya.
Azlan makan dengan lahapnya, rasanya nikmat banget masakan Dara, walaupun Azlan tahu masakan Dara hanya memakai bumbu yang sudah siap saji, yang tinggal awur saat menggunakannya. Hanya kalau kurang, tinggal tambah gula dan garam.
"Alhamdulillah...!" Ucapnya mengakhiri makan malam buatan Dara.
Setelah makan, Azlan menghampiri Dara dengan maksud ingin menanyakan sesuatu.
"Abang..., Dara udah minta ijin tidak masuk di hari Jum'at," ucap Dara memotong niat Azlan yang ingin bicara.
"Oh.... Leadernya ngijinin?" tanya Azlan kaku.
"Iya....,"
__ADS_1
"Nggak ganggu kerjaannya gitu...?" tanya Azlan lagi seakan risau.
"Nggak... !"
"Maksudnya, Adek gak kenapa-kenapa kita jadi berangkat ke kampung?" ada keragu-raguan dalam pertanyaan Azlan.
"Kenapa Abang yang jadi plin-plan sih, bukannya Abang bilang demi permohonan terakhir Abang?" Tukas Dara.
"Iya...Abang paham!" lirihnya
"Ya sudah, Dara mau tidur. Tolong matikan lampu dan jangan bangunkan Dara, Dara udah setel alarm!" Peringatnya menyudahi perdebatan malam ini.
Azlan terhenyak dengan kekakuan dan sikap Dara yang dingin ini menjelang kepulangannya ke kampung.
"Dek.....!" Panggil Azlan hati-hati.
"Apa lagi...?" sahut Dara malas.
"Sikap Adek udah beberapa hari ini berubah, kenapa? Apakah ada yang mengganjal dalam pikiran Adek, kalau ada cerita sama Abang?" Tanya Azlan hati-hati.
Jawaban Dara cukup membuat Azlan mengusap Dada, sebegitu buruknya Dara menilai keluarganya yang akan memperlakukan buruk Dara. Azlan berubah muram, dia bangkit kemudian mematikan stop kontak lampu.
"Ceklek... " dan lampu mati.
Dara melihat sikap Azlan dengan ujung mata, ada perasaan sedih sudah memperlakukan cowok itu dengan sikap dinginnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tapi Dara tidak bisa memejamkan matanya untuk sekedar istirahat satu jam kedepan. Nafasnya tak beraturan. Di ruang sebelah yang hanya disekat oleh lemari plastik, masih terdengar suara TV menandakan Azlan belum mau mengakhiri aktivitas menontonnya, namun tiba-tiba TV mati. Dara pura-pura tidur lelap.
Suara derap langkah menuju kasur, Azlan semakin dekat dengan Dara. Sementara Dara yang menyadarinya, masih berpura-pura terlelap dengan deru nafas seolah sedang tertidur, teratur dan tubuhnya dibuat selemas mungkin. Ada yang Dara sesali dengan posisi tidurnya yang tengadah menghadap langit-langit rumah, tadi saat Azlan mematikan TVnya Dara tidak segera merubah posisi tidur menyamping.
Makin dekat, dan Azlan berhenti disebelah Dara. Azlan bersimpuh menatap wajah Dara yang teduh, deru nafasnya teratur nampak sangat lelap.
"Kangen dengan bibir indah ini, dan kangen dengan tubuh ini saat kupeluk, kangen juga dengan sikap jutek namun hangatnya itu," guman Azlan pelan. Betapa Azlan merindukan Dara saat ini.
"Abang cinta sama Adek, Abang takut kehilangan Adek!" Dara mendengar jelas ungkapan hati Azlan, seraya masih pura-pura terlelap.
Tanpa Dara sadari pelan namun pasti, tubuh Azlan semakin mendekat dan wajahnya kini hanya beberapa senti. Deru nafas makin menggebu. Semakin ditahan semakin bergairah, lalu ciuman manis itu Azlan daratkan tepat dibibir Dara. Sedetik dua detik Azlan masih menikmati bibir itu, Dara terhenyak tak percaya, nafasnya berusaha dia tahan.
__ADS_1
Dara dongkol setengah mati karena Azlan berhasil mencuri lagi ciuman darinya. Mau berontak langsung, nanti malah ketahuan tidur bohongan. Kalau dibiarkan, Azlan malah keenakan. Terpaksa Dara membiarkan bibirnya dinodai Azlan untuk 30 detik kedepan. Sejujurnya dirinyapun merasakan kerinduan akan sentuhan Azlan.
Seolah sedang menghitung detik, saat detik ke 30 Dara perlahan membuka matanya. Dan pura-pura tidak tahu bahwa Azlan sedang mencium bibirnya.
"Abang.....!" Pekiknya memukul tubuh Azlan yang kini menyentuhnya. Azlan terperanjat lalu dengan cepat mendongak. Belum puas merasakan kehangatan bibit gadis itu, Azlan keburu dikagetkan oleh Dara yang terjaga.
"Apa-apan Abang ini, mau memaksa Dara, ya?" Dara memekik marah.
Azlan gelagapan dia salah tingkah karena ketahuan.
"Abang hanya kangen sama Adek, bukan memaksa," sangkal Azlan tak karuan.
"Jangan banyak alasan, sana Abang tidurnya dekat TV. Dara mau tidur sendiri tidak mau berbagi kasur sama Abang!" Tandasnya seraya membenarkan posisi tidurnya menjadi menyamping.
Azlan berdecak sebal dengan kejadian barusan,- kenapa Dara mesti terbangun juga saat dirinya masih ingin menikmati bibir manis gadis itu.
Sementara Dara walaupun kesal, namun didadanya menyimpan rasa rindu yang mendalam akan sentuhan Azlan tadi. Dara nampaknya sudah kena candu asmara Azlan yang mulai menjalar didada.
Biar sajalah untuk hari ini Azlan tidur didepan TV biar tahu rasa, anggap saja ini semua hutang yang harus dibayar atas semua kejadian yang ditimbulkan sejak Dara dijebak nikah paksa olehnya.
"Dara membuka HPnya, dengan iseng dia mengirim pesan WA pada Azlan.
["😡😡😡😡😡"], hanya emot marah yang dikirim.
["Kangen sayang.... jangan marah lagi dong.... 😘😘😘🥰🥰🥰"], balas Azlan merayu.
["🤮🤮🤮🤮👹👹👹"], balas Dara lagi.
[ " I love you.... sayang.... "], Azlan malah tambah jadi.
"Ting."
"Ting."
"Ting."
Entah yang keberapa kali mereka saling balas pesan WA, kalau begitu kenapa gak saling lepas marah sekalian rindu saja ya. Hehehe......
__ADS_1