Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sofia Diperkenalkan


__ADS_3

Jeep berjalan perlahan membelah jalanan kota Cikarang. Wisnu yang mengendarai jeep begitu fokus dan sama sekali belum menyapa Sofia. Sofia benar-benar salah tingkah dibuatnya. Sejak dia menjadi Bidan, ada yang sedikit berubah dalam diri Sofia, yaitu tidak pecicilan seperti dulu.


Dulu saat merasa suka sama seseorang, dia akan sangat antusias dan memperlihatkan perasaan sukanya. Namun kini, dia menjaga sikap itu. Terlebih pada Wisnu, yang sempat dia sukai, namun Wisnu tidak menanggapi. Namun kini secara tiba-tiba Wisnu ingin melamar, disaat hati Sofia sedang dihadapkan pada sikap perhatian Dokter Herman di kampung halamannya.


Sofia memberanikan diri menyapa Wisnu. "A, kita mau kemana?" Wisnu masih fokus ke jalanan, depan, kanan, dan kiri, sebab jalanan Cikarang selalu penuh sesak dengan kendaraan terutama angkot. Makanya Wisnu sangat hati-hati menjalankan Jeepnya.



"*Ditanya malah diam saja, jadi malu yang nanya* *deh kalau begini. Katanya ingin melamar, tapi kok* *begini banget. Tapi kenapa aku malah menyukai* *cowok dingin di sebelahku ini. Tidak Dokter* *Herman yang berparas ganteng oriental, yang* *selalu perhatian itu*." Hati Sofia berbicara.



Tiba-tiba bunyi WA Sofia berbunyi, tanda panggilan masuk dari seseorang. Saat Sofia lihat, rupanya Dokter Herman. Wahhh... seakan Dokter Herman merasakan kalau Sofia tadi sedang memikirkan dirinya, tahunya dia langsung datang dan menelpon.



Sofia mengangkat telpon itu namun ragu-ragu.


"Halo, Assalamu'alaikum!" Saat baru permulaan berbicara dalam telpon tiba-tiba Wisnu menghentikan Jeepnya secar mendadak. Sontak tubuh Sofia mendongak ke depan, untungnya tidak kejedot dashboard mobil seperti saat dulu pernah dia alami.


Kejadian ini seperti dejavu. Dulu Wisnu ngerem mendadak karena melihat Sofia asik baca WA dari Dara sampai kening Sofia kejedot dashboard, dan kini kembali kejadian itu terulang. Namun kali ini tidak ada insiden kejedot seperti dulu.



Sofia tersentak, air mukanya nampak sedih dan muram. "Siapa yang nelpon?" Wisnu merebut HP Sofia lalu dilihatnya, ada nama Dokter Herman disana. Wisnu langsung menutup panggilan tersebut. Hati Sofia mencelos, rasa kesal dan sedih tiba-tiba menyeruak. Tadi dicuekin, giliran dia menerima telpon dari seseorang, Wisnu marah.



"Kamu sedang jalan dengan saya, jadi tidak usah terima telpon dari siapapun. Hargai dong saya yang di sebelah kamu," peringat Wisnu tegas.


__ADS_1


Sofia nampak menarik nafasnya dalam seakan mempersiapkan kata-kata. Ditatapnya sejenak pria tampan di hadapannya ini, yang kini berubah sangat menyebalkan.



"Itu teman Sofi, A. Dia Dokter Herman. Dia partner kerja Sofia di RS. Jadi wajar dong kalau Sofia angkat telpon dia," ucap Sofia sambil berkaca-kaca. Wisnu melihat Sofia berkaca-kaca, dia jadi khawatir gadis itu malah menangis. Apa salah cara dia menegur? Wisnu merasa dia wajar menegur Sofia, karena posisinya Sofia sedang jalan dengan dirinya.



"Kamu kan sedang jalan dengan saya, jadi usahakan dong jangan ganggu kebersamaan kita dengan terima telpon dari pria lain."



"Memangnya dari awal ada perjanjian tidak boleh angkat telpon dari seseorang jika sedang jalan dengan Aa? Tadi saja Aa begitu cuek dan tidak peduli dengan Sofia, tapi giliran Sofia terima telpon Aa langsung marah." Sofia memberikan alasan.



"Kamu harus tahu dong dengan karakter saya, kalau sedang jalan dengan saya, jangan terima telpon dari siapapun kecuali keluarga," tegas Wisnu.




"Sofia mau keluar, Sofia mau balik lagi. Keluarkan Sofia dari Jeep ini." Sofia meminta sambil bercucuran air mata. Wisnu sedikit kaget dengan sikap Sofia, Sofia menangis dan ingin pulang lagi. Ini tidak boleh terjadi, pokoknya Wisnu hari ini tidak boleh gagal membawa Sofia untuk dikenalkan pada teman-temannya bahkan atasannya.



"Sudah... jangan menangis... maafkan saya!" bujuk Wisnu yang tiba-tiba mendekat dan memeluk Sofia. Sofia terkejut dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba baik dan memeluknya. Namun Sofia tidak mau kelihatan lemah, dia berontak dan berusaha melepaskan pelukan Wisnu.



"Lepas... Sofia mau pulang!" ulangnya meminta. Wisnu lagi-lagi terhenyak. Dia melihat Sofia masih menangis dan seakan kalut.

__ADS_1



"Sudah... aku minta maaf. Tadi aku emosi karena melihat kamu telponan dengan orang lain. Kan kamu sudah tahu bahwa aku ini serius mau melamar kamu dan mau mengenalkan kamu pada teman-teman aku. Jadi wajar dong kalau aku marah," ujar Wisnu sedikit lembut untuk ukuran cowok dingin seperti dia. Dan ada yang tiba-tiba berubah dari Wisnu, panggilan saya yang seakan formal kini berubah menjadi aku dan kamu.



Wisnu lagi-lagi memeluk Sofia untuk membujuknya seraya menyusut air mata yang masih mengalir dari sudut mata Sofia. "Sudah dong, nanti cantik kamu hilang di hadapan teman-teman saya," bujuk Wisnu kaku dan kata saya kembali diucapkannya. Sofia tergugu, lama-kelamaan tangisnya reda, lalu kini seakan menikmati pelukan Wisnu yang tiba-tiba menghangatkan hatinya. Pelukan seorang Tentara yang selama ini dia idam-idamkan.



"Ayo, kita jalan lagi. Ini mulai siang. Aku tidak mau lho nanti kita sampai disana kehujanan. Ini sudah mendung nih....!" ajaknya seraya menatap ke arah langit yang tiba-tiba mendung, padahal ini masih pagi. Cuaca memang tidak bisa ditebak, sama seperti hati Wisnu yang belum bisa ditebak oleh Sofia sebenarnya dia benar-benar mencintainya atau ada hal lain yang memaksa Wisnu harus segera menikah?



Satu jam kemudian, Jeep sampai di barak asrama Kopassus. Wisnu turun lebih dahulu kemudian memutar dan membukakan pintu untuk Sofia. Adegan ini tidak luput dari perhatian para penghuni barak. Para yunior ada juga senior yang kebetulan berada di barak menatap Wisnu penuh rasa penasaran dan rasa ingin tahu.



"Wah... Abang kita bawa cewek nih. Benaran atau jadi-jadian?" Sirait nyerobot dan mengata-ngatai Wisnu. Wisnu tidak peduli dengan tatapan-tatapan usil para senior maupun yuniornya. Dia tiba-tiba meraih jemari Sofia dan menautkannya lalu berjalan menghampiri mereka.



"Wah... benaran ini cewek. Gua pikir Bang Wisnu tidak menyukai cewek."


"Ini kan cewek yang dulu pernah dibawa kesini, yang ditinggalkan di barak sama Bang Wisnu," timpal yang lain heboh. Sofia merasa malu, kedatangan dia seakan jadi tontonan.


"Woyy... dengar ya kalian. Gua datang kemari ingin memperkenalkan calon istri Gua. Bulan depan Gua ajak ke pelaminan. Catat ya, yang pernah bilang Gua tidak suka perempuan, nih sekarang Gua bawa gandengan yang akan segera Gua nikahi." Wisnu memperkenalkan Sofia sebagai calon istrinya bahkan akan dinikahinya bulan depan. Serius nih?



Sofia terkejut mendengar pengakuan Wisnu. Bulan depan Wisnu mau mengajak dirinya menikah, apakah yang dikatakan Wisnu serius?

__ADS_1


Nantikan lanjutannya... di episode selanjutnya...


__ADS_2