
"Nel... Gua duluan ya!" pekik Dara seiring motor matic yang dijalankan Azlan menjauh. Nela melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengacungkan jempol memberi kode, entah kode apa. Dara berpegangan di pinggang Azlan dengan perasaan yang ragu, terlebih sikap cowok di depannya kini tidak sehangat sebelum dia ke Korea.
Pikiran Dara melayang-layang kemana-mana, bingung mau ngajak ngobrol apa. Sementara Azlan yang di depan tidak bicara juga. Aduhh... gimana ini, Dara malah semakin tidak karuan. Dara hanya mampu menatap punggung Azlan, seraya mengajaknya bicara.
"Abang... kenapa sih Abang diam saja, harusnya Abang ajak Dara ngobrol tidak mendiamkan kaya begini. Ihhhh menyebalkan!" gerutu Dara dalam hati.
Dara iseng mempermainkan jarinya di punggung Azlan, lalu dia menuliskan huruf demi huruf. Azlan yang sedang fokus memegang stang, melepas tangannya sebelah lalu meraih tangan Dara. "Geli...." tegurnya. Dara terhenyak namun tidak peduli, dia menepis tangan Azlan lalu terus menuliskan huruf demi huruf sehingga tersusun dua buah kata.
"Kencan yuk!"
Motor yang ditumpangi Dara dan Azlan tiba dikontrakan, Dara segera turun dan menunggu Azlan membuka pintu. Azlan turun dari motor, namun sejenak dia menatap Dara, sampai gadis itu menoleh dan menatapnya. Azlan menatapnya tajam, namun Dara mengalihkan dengan cepat tatapannya seakan tidak tahan dengan tatapan itu.
"Kalah kamu Dek, rupanya kamu masih merasa bersalah atas foto itu. Tadinya Abang pikir kamu akan histeris ketemu Abang, meluk atau gelendotan saat di motor," pikir Azlan dalam hatinya.
"Tidak bersama selama dua tahun, kamu malah kurusan tapi tetap cantik. Dan... kamu saat merasa bersalah seperti ini malah makin menantang, Dek. Lihat saja apa yang akan Abang lakukan sama kamu, sampai kamu tidak berdaya," pikirnya licik.
Azlan membuka kunci kontrakan, di sampingnya Dara merasakan wangi parfum di tubuh Azlan sampai dihidunya karena jaraknya begitu dekat.
"Pasti dia sedang terpesona," duga Azlan percaya diri.
Mereka masuk beriringan, Azlan membiarkan Dara masuk duluan. Lalu setelah sama-sama di dalam, Azlan langsung mengunci pintu kontrakan. Dara menatap ruangan 4x4 meter itu, menyapu bersih seluruh ruangan. Ada dua koper dan tas ransel yang sudah teronggok rapi di sana. Keadaan kamar benar-benar rapi meskipun disesaki barang asing yang baru pertama kali dia lihat di kamar ini.
Dara menggantungkan tas kerjanya di kastop pintu, lalu langkah kakinya dia arahkan ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti, saat tangan Azlan tiba-tiba meraih tangan Dara dan membawa tubuh Dara kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Abang kangen... tahukah kamu selama ini Abang sudah menahan rindu, tapi sikap kamu tidak memperlihatkan bahagia saat Abang pulang," ucap Azlan diliputi kabut gairah. Dara terhenyak sejenak, bukankah Azlan tadi mendiamkannya. Tapi kini dia mendekapnya erat seraya mengungkapkan isi hatinya dengan wajah yang sudah bergairah.
Tiba-tiba tanpa terduga Azlan menyambar bibir Dara agresif, kerinduan yang tertunda selama setahun seakan kini ditumpahkan. Lagi dan lagi diraupnya bibir itu, ganas. Lantas dengan cepat Azlan membawa Dara ke dalam kamar. Dihempasnya tubuh Dara ke atas kasur, sedikit kasar.
"Abang... pelan-pelan!" pekik Dara menahan tindakan agresif Azlan. Azlan diam sejenak seraya mengunci tangan Dara yang berusaha berontak.
"Bagus ya, tadi kemana saja? Nanyain kabar Abang yang baru balik dari jauh sana saja nggak. Tidak kangen sama suami, atau sudah punya yang lain?" tuding Azlan marah, namun tubuhnya kini kian merangsek menguasai tubuh Dara.
"Abang... tahan dulu, Dara ingin ke kamar mandi," cegah Dara seraya menahan dada Azlan. Azlan tidak mendengar, dia malah semakin agresif.
"Layani Abang, sudah satu tahun Abang menahannya. Abang merindukan kamu. Apakah kamu tidak merindukan Abang?" Tatapan mata Azlan menancap tepat di pupil mata Dara. Dara diam, di hadapannya kini adalah seorang suami yang sedang meminta haknya. Dan Dara tidak akan bisa menolaknya.
Dara membalas tatapan Azlan yang menancap, bak busur panah yang membidik sasarannya. Dara lemah seketika, ketika Dewa Asmara semakin menampakan gairahnya.
Dara baru menyadari apa yang diucapkan Azlan barusan, ajakan kencan? Rupanya Azlan menyadari huruf-huruf yang Dara tuliskan di punggungnya tadi, sampai Dara nyaris tidak percaya. Saat ternganga saja, Azlan begitu cepat menyerangnya.
Ada yang banyak berubah dari Azlan bagi Dara Dari segi fisik memang masih belum berubah, namun penampakan kulitnya bersih walaupun warnanya tidak berubah seperti Lee Min Ho. Azlan semakin agresif dan liar, bisa jadi karena setahun tidak bersama menjadikan Azlan berubah agresif.
"Abang... ini masih sore... Dara takut ada orang datang." Dara menatap Azlan penuh rasa was-was. Walaupun dia sama sangat merindukan Azlan, namun Dara takut saat berkencan ini tiba-tiba ada Rivai datang atau siapapun itu. Bukankah dirinya tadi sudah meminta Rivai untuk datang, guna menjelaskan tentang keberadaan foto dirinya dan Reno yang dimiliki Azlan.
__ADS_1
Dara dan Azlan terengah-engah saat keduanya saling melepaskan pertautan panas mereka. Dara rasanya tidak ingin melepaskannya, dia masih ingin dalam dekapan Azlan. Apalagi Azlan memperlakukannya lebih ganas dari biasanya, dan itu membuat Dara semakin terbuai dan melayang di udara, bahkan Dara tidak segan meminta lagi.
Azlan menyeringai puas atas permintaan manja Dara, dia tahu Dara sangat merindukannya juga. Azlan yakin Dara selama berpisah darinya begitu menjaga kesetiaannya, buktinya saat dia merasakan Dara, Dara persis saat kejadian malam pertama. Tangan Dara melilit erat di pinggang Azlan seakan tidak ingin terlepas. Namun mengenai foto itu, Azlan tetap masih harus menanyakan nanti disaat yang tepat. Sekarang dia tidak ingin merusak moment intim bersama Dara.
"*Aku tahu Sayang, kamu rindu Abang. Lihatlah* *tanganmu ini begitu erat melilit*," decaknya girang.
Azlan melepaskan kembali pertautannya, ini yang kedua kalinya. Dia menariknya perlahan seraya menatap wajah Dara penuh bahagia. Dia melihat kepasrahan dan keikhlasan di wajah cantik yang sedikit tirus itu. Didekatkan kembali wajahnya lalu ciuman itu mendarat, namun kini tidak agresif begitu lembut dan manis. Kemudian kedua matanya juga dikecup, pipi kanan dan kiri.
Azlan terbaring lemas setelahnya lalu memeluk tubuh Dara dari samping. "Kamu masih sama seperti awal Abang merasakan kamu," ungkap Azlan. Dara tersenyum meringis saat Azlan kembali mencium telinganya.
"Dan semoga, pertautan kali ini bisa tumbuh benih di dalam rahim Adek." Azlan menyeringai tanpa sepengetahuan Dara.
"Abang banyak berubah...." balas Dara akhirnya dia berani bicara walaupun ragu. "Apa yang berubah? Kamu yang berubah," tuding Azlan membuat Dara merengut.
"Abang agresif dan ganas," ucap Dara seraya menutup wajahnya karena malu.
"Tapi, suka, kan?" Dara tidak menjawab, hanya gestur tubuhnya menyiratkan sebuah jawaban "ya" atas pertanyaan Azlan.
"Tentang foto itu, Abang juga ingin minta penjelasan Adek," ucap Alzan seraya mempererat pelukannya. Dara pikir setelah saling menumpahkan rasa rindu yang menggebu-gebu, Azlan lupa akan foto itu.
__ADS_1
"Abang bawa oleh-oleh untuk Adek," Ucap Azlan lalu memejamkan matanya karena ngantuk.