Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Ketahuan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum...!" suara salam bersahutan, Sofia, Bapak, Azlan dan Azman beriringan memasuki rumah. Waktu menunjukkan pukul 21.00 tepat.


"Wa'alaikumussalam!" balas Dara dan Mamak bersamaan. Sofia langsung masuk ke kamarnya diikuti Dara.


"Sof... gimana tugasnya, beres?"


"Ya gitu deh... " balas Sofia tak bersemangat.


"Hoamm.... " yaaa rupanya sudah ngantuk dia.


"Sofia sudah ngantuk Yuk, sejak di rumah Ana nguap terus, untung tugasnya beres."


"Makanlah dulu Sof, habis itu cuci kaki dan gosok gigi, masa calon bidan jorok!" ledek Dara, Sofia tidak peduli dengan ledekan Dara.


"Sinilah Yuk...!" ajak Sofia sambil menepuk dipan. Dara duduk di tepi dipan sementara Sofia telah berbaring.


"Besok Ayuk dan Kak Azlan balek Cikarang, alangkah sepinya Sofi disini. Gak ada teman tidur lagi," celotehnya mengungkapkan sedikit isi hatinya. Dara tersenyum geli melihat Sofia curhat seperti itu, wajahnya yang sejak pulang dari rumah temannya tadi sudah tak bersemangat, kini tambah muram karena ditekuk.


"Emang kenapa Sof...?"


"Masih kangen Yuk, padahal baru saja Sofi punya teman yang sebaya di rumah ini, ehhh besoknya harus sudah balek," ucapnya kesal.


"Kok kesal sih, emang kamu senang gitu punya teman seperti Dara?" Dara balik bertanya.


"Senang bangetlah Yuk, apalagi Ayuk nyambung diajak ngobrol. Lebih senang lagi kalau Ayuk jadi Kakak ipar Sofi. Ayuk jadi Kakak ipar Sofi saja ya!" mohonnya sambil mengatupkan kedua tangannya. Dara hanya tersenyum merespon permohonan Sofi.


"Ngomong-ngomong kamu semester berapa sih kuliahnya? Terus kenapa memilih kebidanan?" Tanya Dara mengalihkan topik pembicaraan.


"Semester 4 Yuk. Alasannya Sofi senang banget kalau ada ibu hamil diperiksa perutnya. Dan lagi di Dusun ini belum ada bidan, jadi Sofi memilih kebidanan. Nanti kalau Yuk Dara hamil ponakan Sofi, biar Sofi saja yang jadi bidannya," ujar Sofi kePDan.


Dara tersipu malu mendengar omongan Sofi barusan, jangankan melahirkan hamilnya saja belum terbayang.


"Sofi... kau makanlah dulu, sudah malam. Jangan kau ganggu Ayukmu itu!" jerit Mamak mengingatkan Sofia makan.


"Sofi sudah kenyang Mak, tadi di rumah Ana disuguhin Baso, " balas Sofia.


"Hoammm..." Sofie menguap.


"Tidurlah Sof, kamu ngantuk berat kayanya," Dara ikut berbaring disebelah Sofia.


Jam 11 malam Dara terbangun, rasa pengen buang air kecil mengganggu tidurnya yang memang belum nyenyak. Dilihatnya ke samping, Sofia tidur dengan lelapnya. Kayaknya dia lelah dan ngantuk berat. Dara bangkit lalu perlahan keluar pintu mengendap-endap takut membangunkan seisi rumah.


Pintu kamar mandi dibukanya perlahan, beginilah kalau di rumah orang, dia merasa segan. Takutnya membangunkan orang rumah. Setelah panggilan alam tertuntaskan, Dara segera keluar dan bergegas menuju kamar kembali.


Belum sampai satu langkah, tiba-tiba tubuh Dara terasa ada yang memeluk serta mulut dibekap. Dara terhenyak kaget, dia pikir orang yang berniat jahat. Dara berusaha berontak dan berteriak. Namun usahanya gagal, sebab mulutnya dibekap begitu kuat.


Namun, saat matanya melihat muka orang yang membekapnya, Dara mengenalinya.


"Bang Azlan....!" gumannya dalam hati. Azlan yang bersitatap dengan mata Dara, memberi isyarat supaya Dara tidak berisik atau teriak. Setelah Dara terlihat tenang dan tidak berontak. Azlan melepaskan bekapannya.


"Adek, ayo ikuti Abang," bisik Azlan. Dara menggeleng dengan muka terlihat was-was.

__ADS_1


"Tolonglah...!" pinta Azlan memelas. Dara terlihat berpikir dengan muka yang bingung.


"Ayo sayang...sebentar saja!" bujuk Azlan lagi.


"Plissss...!" sekali lagi Azlan memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Mau ya...?" muka Azlan memelas. Dara masih terlihat bingung dan berpikir.


"Mamak dan Bapak sudah tidur, Azman juga... " Azlan menyingkirkan ketakutan Dara, Azlan bisa menebak ketakutan Dara yaitu takut ketahuan Bapak dan Mamak. Akhirnya setelah dibujuk rayuan maut Azlan, Dara mengangguk dan mengikuti Azlan yang memberi kode supaya mengikutinya.


Azlan menuntun jemari Dara sambil berjalan mengendap-endap menuju dapur. Sementara Dara dengan sedikit takut masih terus mengikuti Azlan. Tiba di depan pintu belakang yang menghubungkan dapur dan taman belakang, Azlan berhenti. Lalu perlahan membuka pintu dengan sangat hati-hati. Pintupun terbuka dengan perjuangan yang penuh resiko.


Azlan menutup kembali pintu belakang dengan hati-hati, namun tidak rapat masih ada celah yang tersisa. Tiba di taman belakang, Azlan membawa Dara ke sebuah bangku panjang yang sudah tersedia di sana. Lalu mereka duduk di bangku itu.


Azlan mengambil sesuatu dari saku celana tidurnya lalu mengeluarkan benda tersebut. Dara merasa heran apa yang diambil Azlan dari sakunya? Kemudian Azlan menyobek ujung benda itu, dan dikeluarkannya isi dari benda itu lalu dituangkannya di telapak tangannya.


Sesuatu berupa cairan kental keluar dari benda itu, rupanya Azlan menuangkan isi obat nyamuk losyen. Dara sampai terhenyak dibuatnya. Dara setengah melotot lalu geleng-geleng kepala. Sedemikian rupa Azlan mempersiapkan pertemuan yang dipaksanya, dengan membawa losyen obat nyamuk. Dara ingin ketawa melihat lelucon nyata di depan matanya sendiri, namun ditahannya. Dia cuma mampu menutup mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara.


Tanpa basa-basi Azlan mengoles-ngoles losyen anti nyamuk itu ke sekujur kulit tangan dan kaki Dara yang terbuka. Dara tidak menolaknya, dia pasrah. Wajah Darapun tak luput dari olesan losyen obat nyamuk. Namun usapannya terasa lembut sehingga membuat Dara merasa terbuai.


Kini giliran Azlan mengoles sekujur tubuhnya yang terbuka, termasuk wajah hitam manisnya.


Dara yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Azlan, tersenyum geli. Tak habis pikir dengan kelakuannya, Azlan pikir di taman belakang Dara akan betah diajak berlama-lama. Entah apa yang mau dilakukan Azlan, Dara belum bisa menebaknya.


"Dek..., jujur saja Abang kangen berat sama Adek. Selama disini Abang tidak pernah lagi bisa berdekatan begini dengan Adek." ungkap Azlan pada akhirnya membuka percakapan.


"Abang ini nekad banget sih, gimana kalau ketahuan Mamak atau yang lainnya. Bisa malu Dara," ucapnya kesal.


"Jangan takut, makanya kita bisik-bisik saja supaya tidak ketahuan," sergah Azlan.


"Abang ingin ngobrol dan ingin dekat sama Adek, dan juga Abang kangen sama Adek," ucap Azlan jujur.


"Awas ya Abang macam-macam!" peringat Dara jutek.


"Tidak... Abang hanya kangen sama Adek. Kalau macam-macampun gak masalah, kan? Adek kan bininya Abang."


"Bini? Cuma bini paksa, ingat itu!" peringat Dara lagi.


Perlahan angin berhembus menerpa bunga Matahari dan Dahlia yang ada di taman belakang, sehingga hawa dinginnya menelusup ke pori-pori, Dara mengusap kulit tangannya yang sudah terbaluri losyen nyamuk tadi, menandakan Dara kedinginan, padahal tadi dia sempat kegerahan dengan hawa panas malam.


"Sayang... dingin ya?" tanya Azlan berubah romantis. Dara geli sendiri, Dara harus waspada jangan sampai Azlan melakukan hal-hal yang menjerumus pada romantisme. Ahhh... tiba-tiba saja Dara malah terbayang kejadian romantis dia dengan Azlan saat di kontrakan waktu itu. Dara segera menepis bayangan itu.


"Besok kita pulang, Dara pengennya pakai Bis, supaya bisa menikmati keindahan Jalan Lintas Sumatra," kelitnya mengalihkan pikiran kotornya saat bayangan romantis itu datang.


"Tidak bisa dong sayang, kita kan udah buking pesawatnya pulang pergi, lagian kalau naik Bis bisa makan waktu lama."


"Dara gak suka naik pesawat, naik pesawat sangat menakutkan!" timpal Dara merengut.


"Nanti juga tidak akan menakutkan, makanya naik pesawat itu dinikmati saja. Kalau takut, Adek bisa peluk Abang." Dara melotot mendengar ucapan Azlan yang terakhir.


"Abang bisanya bercanda aja, Dara serius takut tahu," protes Dara kesal.

__ADS_1


"Iya, iya Abang tahu. Abang minta maaf!"


"Ya udah...biar Adek gak takut dan tegang lagi, nih Abang kasih permen!" sodor Azlan memberi sebiji permen penyegar mulut.


Dara mengkerutkan keningnya. Buat apa Azlan memberinya permen penyegar mulut. Pikirnya, tadi sebelum masuk kamar tidak gosok gigi apa? Huhhh.... modus, pasti ujung-ujungnya ada maunya.


"Buat apa Abang kasih Dara permen? Konyol banget, Abang sudah mempersiapkan semua ini. Losyen sama permen. Lucu kalau gak ada maksud lain," Dara menaruh curiga.


Azlan tersenyum puas, merasa tebakan Dara benar. Pokoknya malam ini Dara harus bisa dia taklukan. Licik banget Azlan.


"Abang pikir Dara belum gosok gigi gitu tadi sebelum masuk kamar, kasih permen segala," sinis Dara.


"Ihhh... jangan salah paham dong, Abang ajak Adek kesini emang pingin ngobrol panjang dengan Adek, makanya Abang persiapkan losyen sama permen. Malah tadi Abang mau bekal Pempek sama cukonya buat kita makan disini, tapi berabe takut ketahuan Mamak," urainya


"Jadi Abang bawa yang simpel saja permen, supaya Adek gak merasa kaku," lanjutnya.


"Alasan...!" cebik Dara merengut.


"Gak alasan. Abang benar-benar pengen ngobrol lama disini. Abang pengen berduaan sama Adek. Anggap saja kita sedang pacaran," beber Azlan juju. Dara menoleh sesaat ke arah Azlan.


"Pacaran yang sembunyi-senbunyi dan takut ketahuan orang tua," lanjutnya lagi.


Dara hanya diam sambil mengecap merasakan manisnya permen yang diberikan Azlan tadi.


"Dek...apa yang Adek rasakan saat di sini? Saat bersama Mamak dan Sofi atau dengan Bapak dan Azman?" Tiba-tiba Azlan melontarkan pertanyaan yang membuat Dara berpikir lama untuk menjawabnya.


Dara menghela nafas dalam, sepertinya ia sedang berpikir jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Azlan tadi."


"Kenyamanan...!" tiba-tiba saja jawaban Dara itu membuat jantung Azlan berdenyut dengan cepat. Rasanya tak percaya Dara akan memberikan sepatah kata itu "kenyamanan". Kalau Dara sudah merasa nyaman, itu artinya peluang untuk sebuah cinta begitu besar. Itu pikir Azlan.


Seperti yang diingatkan Bapaknya siang tadi di ladang, bahwa untuk membuat Dara bertahan adalah dengan memberikan rasa " nyaman". Dan baru saja Dara bilang bahwa dia nyaman. Azlan jadi yakin bahwa sebenarnya ada "cinta" yang mulai menyelinap di hati Dara.


Saking bahagianya dengan jawaban Dara barusan, tiba-tiba Azlan meraih tubuh Dara merapat. Dara terkejut namun tidak sempat berontak.


"Sayang... kangen...," bisiknya ditelinga Dara. Dara merasakan hembusan nafas Azlan menerpa wajahnya, wangi permen penyegar mulut tercium begitu segar.


"Lihatlah diatas sana, bulan begitu setia menyinari tiap malam tanpa bosan, walau keadaannya purnama atau sabit sekalipun, dia tetap setia menemani malam. Seperti itulah yang akan Abang lakukan pada Adek, dalam keadaan apapun Abang akan selalu setia sama Adek," ungkap Azlan penuh kesungguhan. Dara terhanyut dalam buaian kata-kata Azlan barusan yang terdengar puitis. Terlebih tubuhnya dengan tubuh Azlan begitu dekat, nyaman, Dara benar-benar merasakan rasa yang nyaman didekat Azlan.


Azlan meraih pelan wajah Dara, kini posisinya dan posisi Dara berhadapan. Ditatapnya lekat wajah cantik itu. "Alangkah cantiknya istriku ini, berkerudung ataupun tidak tetap cantik!" Guman Azlan dalam hati.


Dara menundukkan kepalanya, dia merasa malu berada di posisi seperti ini, padahal sebelumnya tidak semalu saat ini. Tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam dadanya, seperti getaran rasa yang menggebu.


"Kangen Dek... " Azlan mendongakkan wajah Dara yang menunduk malu. Lalu perlahan namun pasti wajah itu didekatkan ke wajahnya, semakin dekat dan akhirnya keduanya saling menyatukan rasa rindu yang menggebu tanpa penolakan satu sama lain.


Azlan mengangkat tubuh Dara membawanya berdiri. Dipeluknya erat tubuh itu, sesaat ciuman hangat dan penuh hasrat itu terlepas untuk memberi ruang bernafas keduanya.


Deru nafas makin menggebu, keduanya larut dalam hasrat yang sama, rasa rindu yang menggebu. Keduanya bersitatap dalam tatapan yang sama-sama sendu. Diraihnya kembali wajah cantik gadis kesayangannya itu.


"Abang sayang dan cinta sama Adek...!" Lalu keduanya saling menyatukan lagi hasrat cinta yang menggebu-gebu itu tanpa peduli dinginnya angin malam. Dara dengan repleks memeluk erat tubuh Azlan, Azlanpun demikian. Siluet mesra keduanya terpampang nyata di dinding tembok yang temaran, disaksikan sang rembulan yang hanya separuh.


"Ck, ck, ck... hampir dini hari... " geram dan berdecak kesal.

__ADS_1


"Ayok... sayang kita masuk!" ajak Azlan, Dara mengikuti Azlan. Baru saja Azlan selesai mengunci pintu belakang, keduanya dikejutkan oleh penampakan seseorang. Keduanya terkejut setengah mati dan malu banget.


"Mamak....!" Teriak keduanya hampir bersamaan.


__ADS_2