
"Dar, ada berita hangat nih?" Nela berbisik sebelum menuju mesinnya.
"Apaan, kompor meleduk?"
"Bukan... si Meta ternyata sudah resign!"
"Yang benar...?"
"Iya benar... eh tapi nanti lagi deh ceritanya, ada Teknisi killer datang. Gua ke mesin dulu ya!" pamit Nela. Nela beranjak, Reno menghampiri dan Dara cuek. Mulai detik ini Dara malas untuk melayani Teknisi yang satu ini, kecuali urusan mesin.
"Dara....!" Reno memanggil tapi Dara menoleh sekilas, Dara yakin yang dibicarakan Reno bukan urusan pekerjaan. Jadi dia malas untuk melayani Reno. Cowok di hadapannya memang tampan, wangi dan rapi seperti yang selalu disombongkannya, namun Dara benar-benar tidak suka cowok yang sifatnya angkuh.
Dara masih menulis laporan di kertas report, sebenarnya dia ingin segera beranjak dan mengecek keadaan mesin. Daripada jengah, Dara bangkit hendak memutar tubuhnya dan keluar dari kursi yang didudukinya. Namun secepat kilat Reno menangkap pinggang Dara, lalu terduduk dipangkuannya, secepat kilat Reno mencium bibir Dara namun Dara keburu melengos. Dan ciuman itu berakhir di pipi Dara.
Dara berontak dengan kasar, dia begitu marah dan tidak suka.
"Jangan kurang ajar, perlakuan Abang ini sudah merupakan sebuah pelecehan. Lihat saja akan Dara laporkan!" ancam Dara seraya berontak melepaskan rangkulan Reno di pinggangnya.
"Ya ampun Dara, begitu saja marah. Mungpung lagi sepi, Vita tidak ada, Ira sibuk ngecek, para Teknisi stand by di mesin masing-masing, CCTV hanya mengarah ke bagian tengah mesin, kan tidak ada yang melihat. Apa salahnya kita romantis dulu barang sebentar, Plis Dara, Abang hanya ingin merasakan bibirmu. Cuma bibir!" rayunya begitu frontal tanpa disaring. Dara makin geram. Dengan sekuat tenaga Dara mengerahkan semua tenaganya mencengkram kuat-kuat kemeja Reno, lalu menamparnya kuat.
"Plak....!" tamparan itu benar-benar terjadi dan tepat di pipi Reno.
__ADS_1
Nafas Dara turun naik, cepat dan tidak beraturan. Tubuhnya kini berdiri dengan posisi masih begitu dekat dengan Reno.
"Jangan keterlaluan ya, Dara juga punya batas kesabaran! Abang selalu menganggap Dara gampangan dan melecehkan Dara. Kalau memang Abang cinta, tapi tidak seperti ini caranya. Ini pelecehan!" tekan Dara seraya menghempas kerah Reno. Reno mengibas-ngibaskan kerah yang dicengkram Dara tadi, wajahnya kini memerah menahan marah.
"Apa bedanya yang dilakukan si Azlan, sampai dia bisa nikahin kamu? Kamunya saja yang gampangan, pura-pura sok jaim padahal mau!" ucap Reno ketus. Dara geram, ingin rasanya berbalik dan menghantam cowok menyebalkan ini dengan pukulan bertubi-tubi.
Kali ini Dara tidak ingin meneteskan air mata untuk ketiga kalinya di hadapan cowok menyebalkan ini, dia harus kuat dan mencoba bertahan.
...****************...
"Elu harus bilang Dar ke laki Elu atas perlakuan Reno yang tidak menyenangkan. Lama-lama dia makin berani sama Elu, memeluk, mencium dan itu dia lakukan di pabrik, di ruang produksi. Kalau tidak dibilangin ke laki Elu, bisa-bisa si Reno keterusan dengan aksinya. Dia malah makin gencar melecehkan Elu, karena merasa belum kena batunya." Saran Nela yang sengaja ikut ke kontrakan Dara atas paksaan Dara.
"Ya iyalah jelas Abang Lu bakal marah kalau bininya dilecehkan cowok lain. Tapi jika tidak Elu laporin, kesannya Elu menutup-nutupi kelakuan bejat si Reno. Dan si Reno tidak akan kapok-kapok. Secara terus-menerus keselamatan marwah Elu juga akan terancam." Sungut Nela sambil mengunyah makanan.
"Nasib baik dia tidak sampai mencium bibir Gua. Gua rasanya sudah tidak nyaman kerja disitu Nel, kemarin Meta yang selalu mengancam dan memfitnah, sekarang Bang Reno yang selalu bikin ulah. Tidak ada habis-habisnya rasanya cobaan Gua, Nel!" keluhnya putus asa.
"Masih sama juga rupanya, Meta pergi, Reno berulah. Ya sudah kalau begitu Elu juga resign saja, kerja di rumah jadi IRT saja. Lagipula Bang Azlan masih sanggup menafkahi Elu."
__ADS_1
"Gua belum siap jadi IRT sepenuhnya Nel. Lagipula Gua masih pengen kerja, ngumpulin duit, ngirim duit ke Ibu, pengen nabung dan pengen punya usaha sendiri jika tabungannya sudah banyak. Kerja di tempat orang harus siap ditekan, tapi yang lebih tidak enak sikap sesama teman. Dan sekarang Gua merasakannya, tidak nyaman. Pengen keluar saja, belum lagi dua minggu kedepan masih satu shift sama Bang Reno, Gua harus gimana Nel?" ungkapnya bingung.
"Ya ampun kenapa musti bingung, Elu laporlah sama laki Lu, jangan dibiarkan si Reno makin ngelunjak sama Elu. Dia sudah menganggap Elu gampangan dan otomatis dengan seenaknya dia akan melakukan hal itu lagi, jadi cepatlah Elu lapor dan bilang." Desak Nela geram.
"Lagipula kenapa sih Elu tertutup banget sama Abang Lu, tidak pernah cerita masalah yang Elu hadapi, kesannya Elu tidak percaya sama Abang Lu. Oklah dulu Elu sebal dengan sikap pemaksa dia sampai Elu nikah sama dia. Tapi sekarang beda Dar, Elu juga sudah menerima dia dan sudah ehem ehem. Lantas apalagi keraguan Elu. Ini menyangkut harga diri Elu. Kalau misalkan Elu sampai diperkosa si Reno, Elu masih mau diam dan tidak mau cerita?" Sambung Nela lagi menggebu.
"Nela..., apa sih ngomongnya sampai diperkosa segala. Na'udzubillah... gila kali kalau itu sampai terjadi Gua lapor polisilah. Jangan ada misalkan, misalkan, Gua ngeri dengarnya!" sentak Dara kesal.
"Lagian Elu banyak mikir, untuk kali ini tolong ikuti Gua. Kasih tahu Abang Lu, biar si Reno kapok." Tekan Nela.
"Kalau dikasih tahu, seperti yang Gua bilang tadi Gua takut ada pertikaian antara mereka."
"Biarlah bertikai, itu artinya dia begitu mencintai Elu, dia tidak mau orang yang dicintainya dilecehkan!"
"Kita lihat saja nanti Nel, lagipula Gua cuma empat jam ketemu Bang Azlan, jadi mana sempat Gua cerita!"
"Ah, ya sudah. Up to youlah Dara. Jangan cerita lagi jika Elu dapat pelecehan dari si Reno. Lebih baik Gua balik, pusing kasih saran sama orang keras kepala. Assalamu'alaikum!" pamit Nela menyerah dengan sikap Dara yang keras kepala.
__ADS_1
Dara menatap kepergian sohibnya dengan nanar. Diapun bingung hal terbaik apa yang harus dia lakukan, mengikuti saran Nela atau tahan dulu?