
"Hahahahahaha ....!" suara tawa masih bersahutan di ruang tamu. Entah apa lagi yang dibincangkan para orang tua kedua mempelai. Melihat mereka akrab dan dekat, ada rasa bahagia. Terutama di hati Azlan dan Dara.
Azlan tiba-tiba masuk menyusul ke kamar yang kini telah ditempati Dara dan baby Zla. Azlan merangsek masuk dengan alasan sudah mengantuk. Namun ketika melihat Dara sedang memberi ASI pada baby Zla, hasrat Azlan tiba-tiba menyergap dada.
Azlan mengendap-endap dan berbaring di samping Dara seraya memeluk pinggang Dara. Dara langsung menyadarinya dan sengaja meremas jemari Azlan seolah memberi kode asmara.
"Sayang... lepas dulu ASInya. Abang juga mau dimanja." Azlan merengek berubah manja.
Pelan-pelan Dara melepaskan ASInya dari bibir mungil baby Zla. Dan tanpa merasa terusik, baby Zla melepaskan ASInya.
Buru-buru Azlan melancarkan aksinya, dan ini harus dilakukan dengan cepat, sebab bisa jadi orang-orang diluar sana merecokinya. Tanpa butuh waktu lama pertahanan Dara jebol juga di malam pengantin ini, malam pengantin Sofia dan Wisnu. Tanpa harus susah payah dan berkeringat lelah. Namun di kamar lain, ada pasangan yang masih harus berjuang menjebol gawang dengan susah payah, siapa lagi kalau bukan Sofia dan Wisnu.
Wisnu sudah mengunci pintu rapat-rapat dan menutup celah yang sekiranya bisa diintip orang. Suasana dalam kamar sudah sangat mendukung untuk mereka apabila ingin melaksanakan sunnahnya.
Wajah Sofia diliputi kabut resah dan gugup. Dadanya dari sejak masuk ke dalam kamar pengantin sudah bergemuruh dilanda kecamuk rasa. Semua rasa ada di sana, padahal Wisnu belum memulai mendekatinya. Wisnu malah terlihat duduk termenung di sisi ranjang dengan wajah yang gelisah juga.
"Aduhhh... bagaimana ini. Apakah malam ini kami bakal melakukannya?" batin Sofia bertanya-tanya.
"Bagaimana ini, tiba-tiba aku begitu sangat tegang, terlebih ini adalah pengalaman pertama bagiku. Tapi... aku... sudah ingin mengarungi surga dunia itu. Kata Sirait, nikmatnya tiada tara. Ayolah jangan tegang begini, Wisnu." Batin Wisnu berkata-kata dan mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dulu saat dirinya mencium Sofia perasaan tegang dan gugup ini tidak ada, namun saat di malam pengantinnya ini, tiba-tiba Wisnu sangat tegang.
Wisnu kembali menenangkan dirinya yang tiba-tiba gugup, namun akhirnya dia berusaha membuang rasa gugup itu dengan membaca doa sebelum melakukan hubungan suami istri.
"Ya Allah jauhkan hubungan suami istri kami dari gangguan syetan yang terkutuk," begitu kira-kira doa Wisnu dalam membuang segala tegang menghadapi malam pertamanya.
Suasana romantis itu sudah mendukung. Dan perlahan Wisnu menghampiri Sofia yang masih berpura-pura membersihkan mukanya di depan meja rias. Lalu tangan Wisnu dengan perlahan namun pasti melingkar di pinggang Sofia. Sofia tersipu malu, ditatapnya wajah Wisnu dari cermin. Sofia mengagumi wajah tampan Wisnu yang baginya sempurna.
__ADS_1
Wisnu mengangkat tubuh Sofia dan membawanya ke ranjang pengantin. Lalu tubuh ramping itu dibaringkan. Ditatapnya lekat wajah itu.
"Saya menginginkan kamu malam ini. Saya harap kamu tidak menolaknya." Permintaan Wisnu ini terdengar seperti sebuah permintaan seorang atasan pada bawahannya. Bukan kata-kata rayuan yang penuh romantisme. Namun Sofia berusaha menyembunyikan ketegangannya di balik remang- remang cahaya lampu meja.
"Lakukanlah A, malam ini Sofia akan menyerahkan seluruh jiwa dan raga Sofia untuk Aa," ucap Sofia pasrah.
Persetujuan Sofia membuat Wisnu makin tertantang, dan dengan perlahan Wisnu memulainya. Meskipun dia bukan tipe romantis yang bertele-tele penuh kata bualan, namun dalam memperlakukan Sofia dalam hal ini hubungan suami istri, Wisnu melakukannya dengan penuh perasaan.
"Sofia ... aku mencintaimu ... bantu aku mencintaimu ....!" Akhirnya kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Wisnu seiring usahanya memasukkan bola ke dalam gawang yang benar-benar masih rapat. Dilihatnya Sofia meringis namun tertahan, Sofia tahu jika dia mengerang mengeluarkan suara, maka ditakutkan yang di luar sana mendengar.
Untuk meredam rasa sakit itu, Wisnu meraup bibir Sofia yang mulai terbuka. Wisnupun tidak kalah berjuang untuk mencoba memasuki gawang yang kini pasrah di hadapannya. Karena memang belum pernah melakukannya, Wisnu benar-benar penuh perjuangan dalam memasukinya. Dan dua puluh menit kemudian setelah pemanasan ala pemain senam, dengan susah payah Wisnu berhasil menjebol gawang yang langsung disambut teriakan histeris dan air mata dari Sofia.
Wisnu terkejut dan langsung menutup mulut Sofia dengan tangan sebelah kirinya dan melepasnya, perlahan diganti dengan ciuman lembut Wisnu.
"Tahan, Sofia... ini sungguh pengalaman pertama buat kita. Kamu sungguh-sungguh memberi kado terindah dalam hidup saya," ucapnya seraya menghujani kembali Sofia dengan bertubi-tubi ciuman.
Sofia tersenyum dengan deraian air mata, bahagia sekaligus sakit sama-sama dia rasakan kini. "Sofia bahagia bisa memberikan ini pertama kalinya untuk Aa, maka terimalah cinta Sofia, A." Kata-kata Sofia semakin membawa keduanya dalam buaian gairah hasrat yang semakin bergelora.
"Cupppp....!" kecupan panjang Wisnu labuhkan di kening Sofia. "Kita tidur saja, saya sudah ngantuk dan benar-benar lelah," ucap Wisnu seraya menyelimuti tubuh berdua. "Benar kata Sirait, surga dunia ini, nikmatnya tiada tara," bisik hati Wisnu sebelum dia benar-benar tenggelam dalam rasa kantuk. Kini Sofia Dan Wisnu benar-benar terlelap dalam kantuk yang tidak tertahan.
Besoknya saat Kumandang Adzan diperdengarkan. Wisnu terbangun, di sampingnya nampak Sofia yang masih terlelap. Namun dengan pelan Wisnu mengguncang tubuh Sofia.
__ADS_1
"Sayang... bangun... sudah Adzan Subuh. Kita harus mandi besar." Wisnu menggoyahkan tubuh Sofia pelan. Sofia mulai menggeliatkan tubuhnya.
Saat Sofia terbangun, sontak dia terkejut mendapati Wisnu berada didekatnya dengan bertelanjang dada, namun beberapa detik kemudian Sofia ingat dia kini sudah suami istri dengan Wisnu.
"Aa.... !" Sofia tersentak.
"Cepat pakai bajunya. Kita ke kamar mandi secara bergiliran. Saya dulu, setelah itu kamu," ucap Wisnu seraya menghidupkan lampu utama dan seketika kamar pengantin menjadi terang benderang.
Saat Sofia menyingkap selimutnya, sontak Sofia ternganga. Melihat itu Wisnu segera menghampiri Sofia dan melihat apa yang membuat Sofia ternganga.
"Kenapa?"
Wisnu melihat ke arah Sofia menatap. Rupanya darah. Dan darah itu Wisnu yakini adalah darah perawan Sofia. Wisnu tersenyum bangga, sebab dia yang pertama buat Sofia.
"Sudah, jangan dipikirkan. Itu namanya darah perawan, sekarang kamu bukan perawan lagi. Karena perawan kamu sudah saya renggut," ucap Wisnu sembari tersenyum smirk. Sofia menunduk malu seraya menahan selimutnya supaya tidak jatuh memperlihatkan tubuhnya di hadapan Wisnu secara terang benderang.
"Kenapa harus malu, bukankah tadi malam kamu sudah memasrahkannya untuk saya?"
"Ayo... pakailah bajunya. Saya ke kamar mandi duluan," ucapnya sembari bergegas keluar kamar. Sofia menatap kepergian Wisnu dengan senyum mengembang. Sofia benar-benar merasa bahagia telah memiliki Wisnu.
"Sofia berjanji akan memberikan cinta ini untuk Aa, dan akan Sofia buat Aa mencintai Sofia sepenuhnya," janji Sofia sungguh-sungguh.
T A M A T
Jangan Lupa mampir ke Novel Author yang lainnya ya...
Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah
Jangan Sebut Aku Pelakor
__ADS_1