Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Agresif ya... Dia Sekarang???


__ADS_3

Semua orang yang di sana melihat ke arah Azlan yang masih terbatuk.


"Kenapa, Lan? Coba minum air?" usul Mamak yang langsung ditolak Azlan yang mengibaskan tangannya. Dara melihat Azlan keheranan.


"Abang... ini minum airnya?" Dara dengan sigap sudah berada di dekat Azlan dengan satu gelas air putih. Azlan meraih gelas itu walaupun tadi sempat menolaknya, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Batuk-batuk itupun tidak terdengar lagi.


"Bagaimana dengan pembicaraan tadi, apakah Mamaknya Sofia setuju?" Bu Endah menyinggung kembali obrolannya yang membahas perjodohan Sofia dengan Wisnu anak lelakinya kepada Mamak.


Azlan merasa dongkol dalam hatinya, sebab kedua orang tua Dara dan Mamaknya masih ngobrol perihal perjodohan Sofia dan Wisnu, dasar hati Azlan tetap bersikukuh tidak menyetujui niat kedua orang tua Dara yang ingin menjodohkan Sofia dan Wisnu. Bukan tidak ada alasan, Azlan tahu bahwa perempuan yang dicinta Wisnu adalah Dara.



"Kalau saya setuju-setuju saja, tapi kita kembalikan ke anak-anak. Biarlah mereka yang tentukan. Kalau ada jodohnya dari yang maha kuasa, maka Insya Allah berjodoh," ucap Mamak lugas. Bu Endah manggut-manggut paham sembari mengaminkan ucapan Mamak.


...----------------...


Malam kian larut, setelah makan malam, suasana di rumah Azlan kembali menghangat. Pak Malik dan Bu Endah serta Mamak masih asyik bercengkrama, sedangkan Sofia sudah masuk kamar karena merasa sudah ngantuk. Dua besan itu terlihat sangat akrab dan tidak canggung lagi. Ada saja yang mereka obrolkan, mulai dari ketika Dara kecil sampai tragedi maut yang menimpa orang tua Dara.


Sementara Dara dan Azlan masih di teras merasakan angin malam, tadi setelah makan Dara merasa gerah lalu mengajak Azlan ke teras.


"Abang, kayaknya Dara mulai ngantuk. Dara masuk dulu ya," Dara ingin pamit karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Azlan ikut bangkit, lalu mengikuti Dara dari belakang.


Saat Dara melewati ruang tengah yang masih berisik dengan obrolan dua besan, tiba-tiba langkah Dara terhenti. Tidak sengaja Dara menguping obrolan Ibu dan Bapaknya yang menyinggung kecelakaan maut yang merenggut kedua orang tuanya. Hatinya langsung sedih dan menangis.


"Dara ke kamar duluan ya Pak, Bu, Mamak," pamit Dara tanpa menatap ke arah dua besan yang seketika terhenti obrolannya ketika Dara lewat.


Bu Endah dan Pak Malik sontak saling lempar pandang melihat gelagat Dara yang seakan pergi dengan raut muka sedih, ada rasa sesal di wajah Pak Malik dan Bu Endah. Mereka menyadari, mungkin saja tadi Dara mendengar mereka membicarakan kamatian kedua orang tua Dara yang tragis sehingga membuat Dara sedih.


__ADS_1


Di kamar, Dara langsung menghempas tubuhnya di kasur dengan perasaan sedih. Dara menangis mengingat kembali kedua orang tuanya yang meninggalkannya dengan cara tragis.



Azlanpun menghampiri Dara ke kamar setelah tadi dia pamit juga kepada Mamak dan kedua orang tua Azlan. Azlan kaget melihat Dara tengkurap dengan isak tangis. Azlan menduduki ranjang lalu mengusap punggung Dara.


"Dek... kenapa menangis?" Azlan mengguncang pelan bahu Dara. "Ada apa, Dek?" Azlan semakin khawatir. Dara tidak menyahut, dadanya sesak dan tiba-tiba rasa rindunya seakan membuncah mengingat kembali kenangan indah masa kecil, saat bersama kedua orang tuanya.


Dara masih terisak dan masih menenggelamkan wajahnya di bantal. Sedih dan rasa rindu kepada kedua orang tuanya masih setia menggelayuti hati Dara. Azlan menduga kesedihan Dara ini akibat dari obrolan orang tua Dara yang menyinggung tragedi maut yang menimpa kedua orang tua Dara 16 tahun yang lalu.


Azlan bangkit sejenak untuk mematikan saklar lampu. "Trek....," bunyi saklar terdengar, lalu Azlan naik ke atas kasur dan berbaring di samping Dara yang kini masih terdengar sisa-sisa tangisnya. Azlan mengusap lembut bahu Dara yang sejak tadi masih betah tenggelam menengkurapkan tubuhnya.


"Dek.... sabar ya, masih ada Abang dan keluarga yang selalu mencintai Adek. Percayalah Abang tidak akan pernah meninggalkan Adek," hibur Azlan. Azlanpun ikut merasakan kesedihan Dara. Usia enam tahun yang masih memerlukan kasih sayang kedua orang tua sudah kehilangan kapal dan Nakhodanya. Nasib baik masih ada keluarga lain yang memberikan kasih sayang yang sama.


Besoknya, Dara dan Azlan bersiap untuk pergi kerja. Hari ini Azlan mulai masuk sebab masa cutinya telah habis. Azlan seperti biasa memasuki ruangan Teknisi, sudah ada Arbi dan Rian disana.


"Jerry Yan bukan artis Korea, dodol. Melainkan artis Taiwan yang kata Mamak Gua, sukses membintangi drama Taiwan Meteor Garden beberapa tahun yang lalu," papar Azlan bangga.


"Terserahlah, lagipula Gua kagak kenal dia," ucap Arbi seraya memainkan HPnya.


"Yan... kemarin Lu kemana, kagak datang disyukuran rumah Gua?"


"Gua sibuk Lan, keluarga bini Gua ada acara hajatan. Gua kagak enak jika pergi saat riweuh begitu," alasan Rian diiringi raut wajah menyesal.


Tiba-tiba Rivai datang menyusul, diikuti Kepala Teknisi Bang Tedy sang pengantin baru. "Wahh... Elu sudah datang Lan... yang balik dari Korea pasti bawa duitnya banyak," celoteh Bang Tedy datang-datang. Azlan tersenyum lalu membalas celotehan Bang Tedy.



"Gua bawa duit segede pintu Bang, kagak muat malah," balas Azlan sambil tertawa. Semua yang di ruangan itu tertawa ngakak.

__ADS_1



Sementara di tempat lain di 🆚 Industry, Dara dengan sedikit lesu berjalan menunju meja Operatorny sembari menulis di kertas repot.



"Hai sayang... apakabar nih, nampaknya lesu? Padahal sudah dicas semalam, masa lesu dan murung?" Jabar tiba-tiba mengagetkan Dara ya memang sejak tadi tidak fokus dengan apa yang ada di depannya.



"Abang...." serunya lesu.


"Kenapa sih Neng kayak lesu begitu? Kemarin maaf ya Abang tidak bisa datang ke acara syukuran rumahmu," tanya Jabar diliputi rasa sesal.


"Tidak, Dara biasa saja kok," sangkal Dara sambil menoleh ke arah Jabar. Saat tatapan Dara menuju Jabar, dilihatnya cowok beristri itu makin hari makin tampan saja dan selalu wangi. Sama halnya dengan Azlan, menurut Dara Azlan sepulangnya dari Korea kulitnya makin bersih dan makin manis saja, terlebih saat melakukan hubungan suami istri Azlan semakin agresif, dan Dara menyukainya.



"Eh... kok jadi senyum-senyum gitu Neng, tidak sedang kesambet, kan? Tadi lesu dan murung, sekarang senyum-senyum," heran Jabar sambil menatap lekat Dara.



"Hah... apa? Mana ada Dara kesambet, Dara hanya membayangkan saat Bang Azlan menggempur Dara, dia begitu agresif," ucap Dara tanpa sadar. Jabar ternganga, Daranya disini di depannya membicarakan masalah ranjang. Seketika hati Jabar dilanda panas dingin.



"Agresif ya dia sekarang....!"


"Apaan....?" Dara kaget seakan tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


__ADS_2