Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Cowok Angkuh


__ADS_3

Pergantian Shift


POV Azlan


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, alarm hape Dara berbunyi nyaring. Dara menggeliat malas dari tidurnya. Dia nampak masih ngantuk. Hari ini kebetulan pergantian shift, Dara masuk shift malam dari jam 11 malam sampai 7 pagi. Jam yang paling malas untuk bekerja sebetulnya. Aku dengan sigap menyiapkan bekal Dara. Kebetulan tadi Dara yang masak, karena Aku masuk kerja giliran shift pagi dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam. Agak sedih sebenarnya, mengingat kebersamaan kami di dua minggu ini akan sangat berkurang, hanya 4 jam. Itupun pertemuan kami hanya saat Aku pulang kerja sampai Dara berangkat kerja. Padahal hubungan kami mulai melunak, Dara tidak sejutek dulu saat awal-awal terjadi "nikah paksa" itu.


Bekal Dara sudah siap, Aku hanya menyiapkan ayam goreng dan sedikit sayur kangkung.


Aku menghampiri Dara yang masih terbaring malas. Kutepuk-tepuk pundaknya untuk membangunkannya.


"Dek, bangun sudah jam 10 lewat 10 menit!" Ujarku. Dara menggeliat malas lalu bangkit dan duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawa.


"Abang sudah siapkan bekal!" Ucapku. Dara masih belum menyahut, rasa malas menggelayuti wajahnya. Sedang enak tidur dibangunkan, pasti malas banget. Aku sering mengalaminya.


Perlahan Dara bangkit, dia menuju ******. Bersih-bersih dan gosok gigi. Lalu memakai pakaian kerjanya yang sudah siap dan rapi.


"Makasih ya Bang udah nyiapin bekal Dara." Ucapnya sambil memakai kerudung segi empatnya.


Aku cuma tersenyum membalas ucapan terimakasih Dara.


"Adek kok BT gitu sih.....?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana hati Dara yang tidak bersemangat.


"Nggak kok, hanya lagi malas saja masuk malam. Ditambah lagi Teknisinya bukan Bang Jabar, nyebelin." Ungkapnya agak sedikit kesal.


"Memangnya kenapa kalau bukan Bang Jabar, kan harus shift juga dia?" Tanyaku lagi. Nampaknya Bang Jabar Teknisi senior diatasku itu idolanya Dara. Alasannya karena dia ganteng dan wangi. Itu yang selalu Aku danger kalau Dara tiba-tiba cerita perihal di tempat kerjanya. Akupun kadang sedikit cemburu, namun karena Aku kenal dekat Bang Jabar. Kedekatan Dara dan Bang Jabar tidak lebih dari partner kerja.


Aku juga wangi dan tampan tidak kalah dengan Jabar, cuma kulitku saja yang lebih gelap dari Jabar.


"Teknisi yang satunya gak asik, dia jutek dan kalau mesin trouble kadang suka marah. Pokoknya Teknisi yang satu itu menyebalkan!" Gerutunya kesal . "Siapa, Bang Reno bukan?" Yakinku.


"Iya.... tapi bukan Reno Barak!" Cetus Dara.


Setahuku sih Teknisi yang satu itu memang begitu sifatnya, agak jutekkan. Tapi masa iya sih Dara diperlakukan jutek juga. Dara kan cantik dan tidak ngebosanin yang lihat.


"Terus rencana ke kampung itu gimana?" Tanyanya tiba-tiba merubah topik.


"Ya jadilah Dek...!" Sahutku.


"Maksudnya kapan kita berangkat?" Tanyanya lagi.


"Abang sih maunya Jumat malam, tapi Adek masih masuk kerja. Kalau hari Sabtu kita berangkat dari sini kemungkinan ambil pesawat yang berangkat jam 9 pagi." Jelasku. Dara termenung sesaat.


"Kalau Dara hari Jumat ijin gak masuk kerja gimana? Kan cuma sehari ini?" Tanya Dara seakan memberi saran.


"Janganlah Dek, takut ganggu kerjaan Adek!" Cegah Azlan.


"Dara gak apa-apa, lagian Dara tidak pernah ijin atau bolos sebelumnya!"


"Terserah Adek saja kalau itu tidak menggaggu pe kerjaan Adek." Ucapku.

__ADS_1


"Ya sudah, Abang booking saja sekarang tiket pesawatnya." sarannya.


Aku mengangguk setuju. Waktu masih menunjukan pukul 10.30 malam, masih ada waktu untuk Dara bersantai. Tiba-tiba rasa kangen mendera. Malam ini dan malam-malam selanjutnya selama dua minggu ke depan kami tidak akan berbagi kasur lagi.


"Huhhhh.....," Gumanku kasar.


Aku mendekati Dara yang sedang membuka hapenya, suasananya memungkinkan untuk Aku melepas rindu sejenak. Apalagi melihat bibir Dara yang sudah dibubuhi lipstik merah jambu, membuat jantungku berdebar2 ingin menyambar.


Pikiranku kalut, Aku langsung merangkulnya. Lalu mendaratkan ciuman ganas dibibir tipisnya. Dara nampak terkejut seakan tidak siap dengan serangan mendadakku.


"Kangen Dek....!" Bisikku bergetar diliputi nafsu. Aku masih belum mau melepas pagutan bibir kami, Aku semakin kuat merangkulnya.


Dara meronta-ronta seakan kehabisan nafas. Perlahan Aku melepaskan rangkulanku dan pagutan bibirku.


"Abang apa-apaan sih, ini lihat dandanan Dara jadi berantakan!" Ngambeknya sambil manyun. Lalu membetulkan kerudungnya yang tadi mencong dan membubuhi kembali bibirnya dengan lipstik.


"Cantik....!" Pujiku takjub. Rasanya semakin besar cintaku pada gadis dihadapanku ini, apalagi ketika dicium sudah tidak menolak dan marah lagi.


Sayangnya jam sudah menunjukkan pukul 10.45 Dara harus berangkat kerja. Aku siapkan motor untuk mengantar Dara.


Aku mengantar Dara dengan perasaan hati yang campur aduk, bahagia dan kecewa. Bahagia karena telah melepaskan kangen walau sejenak, kecewa karena tidak bisa melanjutkan rasa kangen itu karena Dara harus bekerja.


POV end


*


*


"Abang jangan mampir-mampir. Langsung pulang, cuci kaki dan tidur!" Intruksinya seraya beranjak meninggalkan Azlan.


Azlan tersenyum bahagia lalu memutar motornya dan melaju pulang ke rumah kontrakannya.


*


*


*


Tiba didalam pabrik, Dara bertegur sapa sejenak dengan Santi dan serah terima laporan. Mesin rupanya dalam keadaan Change Model. Jadi Dara sedikit bersantai sampai Teknisi dan programmer siap memprogram model di komputer.


Hampir satu jam mesin selesai diprogram. Teknisi Reno memanggil Dara.


"Dara......!" Panggilnya. Dara segera menghampiri seraya menenteng kertas report.


"Mesin sudah Ok, kamu cek fidding list dan part, cocokkan jangan sampai ada yang beda!" Perintah Reno dingin. "Kalau sudah Ok, panggil saya!" Peringatnya sambil berlalu menuju ruang Teknisi.


Dara memanggil Ira untuk membantunya ngecek Part. Pengecekan ini harus benar-benar hati-hati dan teliti, sebab jika salah sedikit bisa patal akibatnya. Mesin bisa trouble, dan PCB yang dipasang komponen bisa wrong value. Pengecekan selesai, Fidding list dan Part yang sudah terpasang di Feeder sama dan cocok, Dara segera memanggil kembali Teknisi Reno.


Mesinpun beroperasi dengan Ok walau kadang diselingi dengan sedikit masalah karena pengaruh tukar model.

__ADS_1


Saat Dara sibuk menulis laporan di report, tiba-tiba Reno menghampiri dan duduk di meja Dara. Dara tersentak sehingga dia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Reno.


"Dar......... bagaimana kabarnya setelah menikah? Tiba-tiba Dara dikejutkan dengan pertanyaan yang cukup membuat jantungnya hampir copot. Hati Dara bertanya dari mana Reno tahu Dara sudah menikah.


" Tega banget kamu Dar, saya yang sudah lama suka sama kamu, tapi kamu malah menikah dengan Teknisi dari pabrik lain!" Ucapnya bernada protes.


"Maaf Bang, maksud Bang Reno apa?"


"Jangan pura-pura, saya sudah tahu semua tentang pernikahan kamu yang siri itu." Tekannya yang sontak membuat Dara terkejut.


"Pernikahan siri!" Guman Dara dalam hati.


"Maaf, Dara enggak merasa melakukan pernikahan siri, itu mungkin gosip murahan!, sangkal Dara.


"Maaf Bang, apakah tidak sebaiknya kita tidak membahas hal diluar pekerjaan?" Lanjut Dara protes sambil melengos menjauhi Reno.


"Ada apa, kalau memang tidak merasa, kenapa kamu sewot?" Tuturnya mengekori Dara.


"Dara tidak sewot, Dara biasa saja!" Tepis Dara.


"Saya hanya kecewa sama kamu Dara, saya yang suka dan menyatakan cinta sama kamu tapi orang lain yang kamu pilih!" Protesnya penuh kekecewaan. Dara hanya diam, malas rasanya melayani Reno.


"Apa kurangnya saya dibanding dia yang legam itu, saya masih jauh lebih tampan dari dia!" Cibirnya membuat hati Dara tiba-tiba merasa tersayat.


Dara bukan tidak ingin membela Azlan atas perkataan Reno, namun tiba-tiba dadanya sesak, Dara menangis dalam diam, bahunya sedikit berguncang, isaknya ditahan.


Dara menyembunyikan wajahnya dibalik kertas report, sebelum air matanya benar-benar jatuh. Dara menghampiri Ira di belakang yang sedang ngecek barang.


"Ra......, titip dulu mesin.....Aku ke toilet dulu!" Lapor Dara seraya beranjak cepat. Ira mengangguk.


Ditoilet Dara menumpahkan tangisnya. Rasa sakit hati dan kecewa serta segala rasa lainnya campur menjadi satu. Beruntung di toilet tidak ada orang, jadi dia puas menumpahkan segala rasa yang berkecamuk didadanya.


Setelah tangisnya reda dan Dara mulai bisa menguasai diri, Dara menatap dirinya di cermin.


Dara berkata-kata pada dirinya sendiri. Ini semua berawal dari Bang Azlan. Meta datang dan tiba-tiba mengancamnya, juga berkaitan dengan Azlan. Sekarang Reno kecewa karena Dara lebih memilih Azlan. Semua berkaitan dengan Azlan. Masalah seolah timbul sejak dia bersama Azlan.


Pantas saja Reno selalu jutek pada Dara, karena cintanya tidak terbalas oleh Dara. Tapi kenapa harus Dara yang jadi kemarahan mereka, bukan langsung ke Azlan saja. Ini semua kan pangkal masalahnya dari Azlan. Dara jadi geram dengan Azlan. Padahal tadi saat Reno bilang bahwa dia masih lebih tampan dari pada si legam yaitu Azlan, ingin rasanya Dara bilang dan membela Azlan "bahwa cinta tidak memandang dari legamnya, cinta berasal dari hati". Namun tak mampu terucap seiring sesak didada yang tadi tiba-tiba mendera.


Setelah merasa tenang, Dara keluar dari toilet. Dia segera kembali ke mesin. Disana masih ada Reno di meja Dara. Dara sejenak menatap punggung cowok angkuh itu, tekadnya akan Dara hadapi apapun yang cowok itu katakan.


"Sudah puas nangisnya.....?".Sapanya seakan mencibir.


" Bukan urusan Abang Dara menangis atau tidak!" Balas Dara.


Kalau bukan masih butuh karena urusan mesin, Dara rasanya malas dekat-dekat dengan cowok angkuh satu ini. Walaupun Dara menyukai tipe-tipe cowok tampan dan wangi, tapi untuk Reno yang angkuh, Dara tidak termasuk pengagumnya.


"Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu lebih memilih cowok hitam legam itu?", pertanyaan itu seakan telak menghujam jantungnya. Dadanya sesak seketika, sakit sekali mendengar Azlan yang dikatain legam untuk yang kedua kalinya dengan nada penuh ejekan oleh cowok angkuh dihadapannya ini. Dara mengatur nafasnya perlahan sebelum berbicara.


" Cinta tidak memilih hitam legam atau putihnya, tapi perhatian dan kasih sayangnya!" Tekan Dara tegas.

__ADS_1


"Cukup ini pertanyaan yang terakhir dari Abang tentang si legam. Urusan Dara sama Abang hanya tentang pekerjaan." Peringat Dara sambil melengos. Reno tersenyum kecut melihat Dara yang menjauh darinya.


"Lagipula siapa yang mau sama cowok yang angkuh dan sok paling tampan seperti Abang?" Guman Dara dalam hati geram.


__ADS_2