
Lebaran datang, suara takbirpun berkumandang. Hari yang dinantikan seluruh umat Islam di dunia kini menyapa.
Setelah pembicaraan kemarin malam bersama Ibu dan Bapaknya Dara, Azlan dan Dara berpamitan pulang ke kontrakan yang baru saja disewanya. Ibu dan Bapaknya Dara berusaha menahan mereka, namun Dara memaksa untuk tinggal di kontrakan. Lagipula Dara merasa tidak enak dengan Wisnu yang sejak marah membabi buta kepada Azlan tidak nampak batang hidungnya. Entah kemana.
Bu Endah dengan terpaksa membiarkan Dara pergi dan tinggal di kontrakan yang Dara sewa dadakan, dengan berat hati Bu Endah melepaskan Dara sembari memberikan bekal makanan ringan untuk sahur besok. Dara dan Azlan sempat menolaknya, namun Bu Endah memaksa untuk dibawa. Saat sahur, Bu Endah datang ke kontrakan diantar Pak Malik, membawa makanan untuk sahur.
Sebelum Bu Endah pergi meninggalkan kontrakan Dara, Bu Endah mewanti-wanti agar saat lebaran nanti Dara dan Azlan ke rumah untuk berlebaran di sana.
Saat malam takbiran hingga pagi menjelang, Azlan dan Dara hampir tidak memejamkan mata. Keduanya sama-sama terpekur dengan pikirannya masing-masing. Azlan mengalihkan kebisuan diantara keduanya dengan bertakbir. Walau Azlan merasa prihatin dengan keadaan Dara, namun dia tak mampu berbuat banyak untuk mengembalikan keceriaannya kembali.
"Bersiaplah Dek, kita Sholat Id bersama," ajak Azlan sambil memberikan sentuhan di kepala Dara. Ingin dipeluknya gadis didekatnya itu, namun Azlan sengaja memberi ruang buat Dara untuk melepaskan semua rasa sedihnya dengan mendiamkannya. Sebab dirangkul seperti apapun, Dara menolaknya dia ingin merasa sendiri.
"Biarkan Dara sendiri dulu Bang!" itu alasan yang selalu Dara berikan setiap Azlan ingin menghibur dan merangkulnya.
Perlahan Dara bangkit, langkah kakinya menuju kamar mandi yang kebetulan berada di dalam. Dara membersihkan diri, walau udara Lembang terasa menusuk, namun Dara memaksakan diri untuk mandi.
Dara nampak segar setelah mandi dan sedikit berdandan, baju gamis yang digunakannya menambah kecantikannya. Azlan terpesona dibuatnya, sementara Dara yang menjadi pusat perhatian Azlan, wajahnya masih berkabut mendung. Azlan memahami kenapa Dara begitu, kejadian kemarin dan sikap Wisnu yang marah pada Dara karena Dara dianggap membangkangnya, adalah alasan Dara bermuram durja.
"Ayo Dek!" ajaknya, seraya melangkahkan kaki menuju lapangan besar di sebrang rumah kontrakannya yang kebetulan digunakan sebagai fasilitas Sholat Idul Fitri. Dara mengikuti Azlan dari belakang.
Sholat Idul Fitri usai, Azlan dan Dara kembali ke kontrakan. Dara menjatuhkan bokongnya di lantai kontrakan dan duduk termenung, seperti bingung apa yang harus dilakukan. Azlan menghampiri, dan tiba-tiba bersimpuh di paha Dara untuk memohon maaf. Dara tersentak lalu berusaha mendongakkan kepala Azlan.
"Abang minta maaf atas kekacauan yang diakibatkan Abang selama ini. Dari sejak kita bertemu sampai hari ini, Abang mohon maaf sama Adek. Beri kesempatan Abang untuk memperbaiki semuanya. Segala sedih, kecewa yang dirasakan Adek akibat Abang, sekali lagi Abang minta maaf," ucap Azlan memohon sambil menangis. Dara terharu, perlahan Azlan merangkul tubuh rapuh Dara. Dipeluknya serta diusap-usap kepala gadisnya dengan sayang.
Dara menangis dipelukan Azlan, segala sedih yang dirasakannya baik yang diakibatkan Azlan maupun Wisnu tumpah di sana. Ini sentuhan pertamanya setelah sebulan lamanya mereka tidak kontak fisik, keduanya menumpahkan segala rasa haru dalam pelukan. Azlan paham kesedihan Dara bukan cuma itu saja, kehilangan kedua orang tua menjadi kesedihan yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Ayo kita ke rumah Ibu dan Bapak, kita memohon ampun pada mereka, terutama pada A Wisnu," ajak Azlan membuat Dara yang tadi sudah tenang kini muram kembali.
Rasa sedih dan takut dalam diri Dara akan penolakan dan sikap bengis Wisnu, menjadikan Dara semakin muram dan dilanda sedih kembali.
Tapi Azlan berusaha menguatkan.
"Ayo Dek, kita minta maaf. Ditolak atau tidak yang penting kita berusaha!" bujuk Azlan. Akhirnya Dara mau dan berhasil dibujuk.
Tiba di rumah Bu Endah dan Pak Malik, Dara sengaja mencari Wisnu kakak tersayangnya namun nihil. Dara semakin sedih. Setelah sungkeman dan makan-makan, Dara memutuskan ke makam kedua orang tuanya. Walaupun Bu Endah dan Pak Malik mencegahnya supaya ke makamnya besok, namun Dara tidak bisa dicegah.
Di makam kedua orang tuanya, Dara duduk bersimpuh memohonkan doa dan menangis. Menangis karena semua kesedihan yang dilalui selama ini, tumpah semua di sana. Azlan mengikuti Dara duduk bersimpuh dan memohonkan doa bagi kedua orang tua Dara.
Selesai dari makam, Dara dan Azlan kembali ke kontrakan setelah berpamitan pada Bu Endah dan Pak Malik. Bu Endah tidak bisa berbuat banyak saat kembali mencegah Dara untuk pergi.
*
Hari yang ditentukan tiba, pernikahan Azlan dan Dara akan dilangsungkan. Pak Penghulu yang sudah pulang dari mudik, mempersilahkan waktu dan tempat di rumahnya dengan syarat ada tambahan biaya. Azlan menyanggupi.
Setelah semua siap dan rukun nikah terpenuhi, akhirnya ijab qobul dimulai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Virginia binti almarhum Bagja Gumelar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar TUNAI," lancar tanpa hambatan, akhirnya pernikahan Dara dan Azlan sah baik secara agama dan negara.
"Sah....!" semua saksi dan yang ada di situ berteriak yang sama menandakan pernikahan sederhana ini sah.
Dara mencium tangan Azlan dan sebaliknya Azlan mencium kening Dara dengan khidmat. Acara selanjutnya, Azlan dan Dara menandatangani beberapa berkas pernikahan.
__ADS_1
Dara menangis haru setelah mendengar sedikit tausyiah dan wejangan Pak Penghulu.
"Untuk buku nikah, karena pendaftaran kalian termasuk mendadak, maka buku nikah akan dikirimkan langsung ke alamat rumah orang tua mempelai," ucap Pak Penghulu.
"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri baik agama maupun negara!" tekan Pak Penghulu lagi.
Acarapun selesai, Azlan dan Dara, Bu Endah dan Pak Malik serta kedua saksi dan wali hakim, berpamitan dari rumah Pak Penghulu.
Azlan merasa lega walau hatinya masih mengganjal perasaan bersalah terhadap Dara. Sedangkan Dara hatinya diliputi rasa gundah bukan bahagia. Bukankah ini keputusannya untuk melegalkan pernikahannya secara agama dan negara? Tapi...lagi-lagi ketiadaan Wisnu membuatnya muram. Sedih yang seakan tak berperi.
Azlan dan Dara memutuskan untuk segera pulang ke Cikarang, karena Dara merasa sudah tidak nyaman dengan keadaan di sana. Saat dia berusaha mencari keberadaan Wisnu, namun Wisnu tidak terlihat sama sekali batang hidungnya. Nomer WA dan HPnya. juga tidak aktif.
"A... Dara minta maaf! Sebegitu marahnya Aa sama Dara sampai tidak mau menemui lagi Dara. Maafkan Dara A....!" lirihnya sambil berurai air mata.
Bu Endah dan Pak Malik memeluk sedih kepergian Dara, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarang Dara untuk tinggal sampai besok.
Sebelum pergi Dara menitipkan sebuah surat untuk Wisnu pada Bu Endah.
"Bu, titip surat ini buat A Wisnu!" ucap Dara sendu, wajahnya diliputi kesedihan yang mendalam. Bu Endah memeluk Dara dengan sedih, dia hanya bisa berkata, "sabar ya Neng.... semoga pernikahannya bahagia dan perjalanan pulangnya lancar dan selamat!" Kedua perempuan beda usia itu berpelukan sambil menangis.
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Dara, Azlan dan Darapun beranjak meninggalkan pekarangan rumah itu.
Wisnu menatap sendu dan cucuran air mata kepergian Dara. Hatinya hancur melepas kepergian adik tersayangnya itu.
"Aku yang selalu menjaganya, aku yang selalu melindunginya, tapi dia yang mendapatkan cintanya, dasar lelaki berengsek!" gumannya sembari beringsut dari samping rumahnya.
__ADS_1