
"Tapi, Adek tidak pernah beritahu Abang, terus sejak kapan Adek mergokin mereka jalan bareng?" Azlan akhirnya penasaran.
"Ini aib orang lain, jadi Dara rasa tidak perlu orang yang tidak bersangkutan tahu, kecuali dia yang melihat sendiri. Dara mergokin mereka saat kita mau mudik ke kampung Dara!" jelas Dara.
"Oh ya....!" Azlan terhenyak. Dara hanya mengangguk.
"Tidak jahat gitu Dek, dengan cara seperti ini?"
"Apanya yang jahat? Mereka itu yang jahat! Kemarin Kak Meta masih ingin merebut Abang dari Dara, dan Dara ancam supaya menjauhi Pak Erik. Tapi apa? Sekarang malah ketahuan masih jalan dengan Pak Erik. Bukankah yang begitu yang jahat? Jahat karena tanpa Kak Meta sadari dia telah menghancurkan rumah tangga seseorang, dan Pak Erik telah berani mengkhianati anak dan istrinya!" jelas Dara berapi-api.
"Memang ini saat yang tepat harus ketahuan, sebab dengan begitu baik Meta maupun Pak Erik diharapkan kapok main belakang!" harap Dara.
Tiba-tiba telpon WA Dara bunyi, rupanya Bu Rani menelpon.
"Ini Bu di samping pasar kaget, sebelum parkiran motor!" sahut Dara.
Tak berapa lama, seseorang yang ciri-cirinya sama persis dengan yang disebutkan ditelpon tadi, muncul di hadapan Dara dan Azlan sambil matanya mencari sosok Dara. Dara melambai dan akhirnya Bu Rani melihat ke arah Dara.
Sosok perempuan dewasa yang begitu cantik, dengan tinggi tubuh yang ideal menghampiri Dara. Badannya saja bagus, pantas saja sebab saat Dara tadi memberikan informasi tentang keberadaan Meta dan Pak Erik, Bu Rani bilang baru sampai di tempat gym. Rupanya Bu Rani rajin ngegym, makanya bodinya bagus di usia yang bisa ditaksir 35 tahun itu.
Senyumnya mengembang seraya menyalami Dara.
"Ohhh... kamu masih muda rupanya Mbak, cantik juga!" pujinya.
"Terimakasih Bu Rani, Ibu terlalu berlebihan memuji saya!" tepis Dara.
__ADS_1
"Oh iya, nama kamu siapa?"
"Dara Bu, dan ini suami saya!" ujar Dara seraya memperkenalkan Azlan, ketika Dara melihat mata Bu Rani sekilas melihat Azlan.
"Oh... sudah menikah?" Dara tersenyum dan mengangguk.
"Saya sebetulnya terkejut saat mendapati nomer asing menghubungi saya, padahal tempo hari Mbak Dara pernah menghubungi saya, tapi waktu itu saya pikir orang iseng, jadi tidak saya hiraukan. Lalu tadi saat saya baru sampai gym, tiba-tiba ada nomer masuk dan memberitahukan hal penting tentang keberadaan suami saya bersama seorang perempuan muda, hal ini memang sudah lama saya mencurigai suami saya. Tapi, hari ini tidak disangka saya mendapat informasi dari Mbak tentang suami saya. Itu makanya tadi gym langsung saya tinggal, karena penasaran," ucap Bu Rani panjang lebar.
"Iya Bu, sayapun tidak sengaja melihat penampakan ini," sahut Dara.
"Saya berterimakasih sekali pada Mbak Dara dan suami atas info ini. Ngomong-ngomong Mbak Dara tahu dari mana nomer HP saya?"
"Sebelumnya saya mohon maaf, sebab dengan sengaja dan diam-diam, saya mencari tahu tentang nomer Ibu dari data yang tersimpan di office kami. Kebetulan data semua pegawai di staff office, menyertakan silsilah keluarga dan data keluarga serta nomer telepon yang bisa dihubungi. Dengan bantuan orang office, saya berhasil mendapatkan nomer Hape Ibu. Sekali lagi saya mohon maaf!" ucap Dara merasa telah lancang mendapatkan nomer Bu Rani.
"Oh... saya tidak apa-apa Mbak, justru saya sangat berterimakasih. Malah saya heran, kenapa Mbak Dara bisa mencari tahu nomer Hape saya pada awalnya?" Bu Rani masih heran kenapa Dara berusaha mencari nomer teleponnya.
"Tepat sekali Bu, itu makanya saya mencari nomer Hape Ibu."
"Terimakasih, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Dengan begitu saya sekarang tahu kenapa suami saya sering banyak alasan pergi keluar kota, rupanya berselingkuh!"
"Tapi Bu, saya mohon jangan bocorkan pada Pak Erik kalau saya yang memberi tahu semua ini pada Ibu!" mohon Dara sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Sebab saya salah satu karyawan di pabrik VS Industry, dan perempuan muda yang bersama Pak Erik adalah QC di pabrik tempat saya bekerja!" jelas Dara.
"Oh ya...? Mbak Dara tidak usah takut, saya akan rahasiakan semuanya, aman Mbak! Justru saya sangat berterimakasih. Dan sebagai imbalannya....!"
__ADS_1
"Tidak Bu..., saya tidak menerima imbalan apapun!" tahan Dara memotong pembicaraan Bu Rani saat seketika Dara melihat tangan Bu Rani meraih sebuah dompet dari tas mahalnya.
Bu Rani melongo namun dengan elegan dia mengambil sesuatu dari dompet lain yang lebih kecil, sebuah kartu nama.
"Ini saja jika suatu saat Mbak Dara butuh sesuatu pada saya, Insya Allah saya siap membantu!" ujarnya ikhlas.
"Baik Bu saya terima. Sebaiknya, Ibu segera kesana saja jika Ibu memang ingin memergokinya!"
"Oh... baiklah... dan Mbak Dara serta suami jangan pergi dulu, awasi saja dari sini!" perintah Bu Rani. Azlan dan Dara setuju.
Perlahan-lahan Bu Rani berjalan menuju kedai makan yang ditunjukkan Dara. Hatinya sudah bulat ingin sekali melihat reaksi suaminya saat kepergok tengah bersama perempuan lain.
Dara dan Azlan mengawasi seperti apa yang dikatakan Bu Rani tadi.
Dengan langkah yang tegap Bu Rani menyusuri trotoar kedai, dan kini tubuhnya hilang karena telah masuk kedalam kedai yang dimasuki Meta dan Pak Erik tadi. Entah apa yang terjadi di dalam kedai, sudah hampir 10 menit Bu Rani atau penghuni kedai belum ada yang keluar. Namun beberapa detik kemudian, pertunjukan seakan dimulai.
Bu Rani keluar dengan menggusur Meta diikuti Pak Erik. Nampaknya Bu Rani marah, tiba-tiba Bu Rani masuk kedalam kedai lalu keluar lagi seraya membawa segelas air dan menyiram dengan kasar ke muka Meta. Tindakan Bu Rani serta Meta dan Pak Erik yang menjadi bulan-bulanan, berhasil menyita perhatian pengunjung sekitar. Menjadi sebuah tontonan gratis.
Dara menyunggingkan senyum, nampak seringai puas. Azlan hanya mampu mengusap dada seraya mengucap Istighfar. Kali ini Dara tidak merekam adegan di sana, karena semakin kesini orang-orang semakin banyak yang menyaksikan pelakor diamuk istri sah.
"Sebaiknya kita pulang saja Dek, kita tidak perlu belanja disini," ajak Azlan mengejutkan Dara yang sedang asik merayakan kepuasan hatinya.
"Eh... iya. Ayo....!" Dara kikuk seakan dikagetkan Azlan.
"Ayo....!" ajak Azlan lagi seraya meraih tangan Dara. Dara dan Azlan menaiki kembali motornya yang sejak tadi teronggok dibalik pohon, perlahan motor meninggalkan kawasan Ibis.
__ADS_1
"Pegangan Dek!" peringat Azlan yang serta merta dipatuhi Dara, Dara merekatkan jemarinya diantara pinggang Azlan, kemudian dia bergelayut manja di balik pung Azlan. Suasana hatinya kini betapa gembira sambil tidak hentinya tersenyum.
"Untuk kali ini ijinkan aku tersenyum bahagia melihatmu Kak Meta!" batinnya.