
"Abang... ini kok mati lampu? Habis token atau mati satu gardu?" tanya Dara penasaran.
"Kayaknya tokennya habis, Dek. Sebab dari luar sana masih ada cahaya remang-remang."
"Duh... gerah dan banyak nyamuk, lagi!" keluh Dara.
"Abang... kita keluar kamar saja, Dara tidak kuat panas."
"Tidak usah, biar kita disini saja, Sofia akan pergi membeli token ke konter depan," tahan Azlan menahan tubuh Dara.
"Abang panas banget, coba cari kipas atau buku yang bisa kipasin Dara. Aduhhh nggak kuat." Dara masih mengeluh. Azlan turun dari ranjang dan menyalakan senter HPnya untuk mencari kipas sovenir Dara dari nikahan Nela sohibnya.
Akhirnya kipas ketemu, Azlan segera naik ranjang dan kembali berbaring di samping Dara sembari mengipas-ipas kipas ke tubuh Dara.
Azlan merasa senang dengan situasi ini, berharap keadaan ini berlangsung lama.
"Kemana sih Sofia membeli tokennya? rasanya lama banget," keluh Dara tidak sabar. Azlan yang tahu betul kenapa situasi ini terjadi, dia tersenyum bahagia di dalam kegelapan kamar.
"Abang... agak kuat kipasnya! Dara masih kepanasan," perintah Dara. Azlan tidak membantah, dia malah senang. Azlan senang, bisa sedekat ini lagi dengan Dara.
Sudah lima belas menit lampu belum nyala, katanya Sofia membeli token di konter depan, tapi ditungguin tidak muncul-muncul.
"Aduh... gimana ini, mana panas lagi," keluh Dara.
__ADS_1
"Abang... perasaan minggu yang lalu Abang isi yang seratus, tapi kini kok sudah habis lagi. Masa sih?" selidik Dara heran.
Azlan tertawa geli dalan hati karena ulahnya yang bersekongkol dengan Mamak dan Sofia berhasil. "Maafkan Abang, De."
Dara masih gelisah, tubuhnya kini makin tidak nyaman, dia bergerak ke samping kiri dan kanan.
"Kenapa, ya, sekarang token yang seratus bisa cepat habis? Padahal kemarin-kemarin yang seratus saja bisa sampai 15 hari,"
"Kan BBM naik, Dek. Jadi semua kena imbas. Yang seratus saja sekarang bisa cuma lima hari,"
"Apa... cuma lima hari? Jadi kita sebulan bisa tembus 600 ribu. Gila...." teriak Dara.
"Iya, Dek. Sekarang semua serba naik. BBM naik, TDLpun ikut naik, harga telur saja masih mandeg di angka 32 ribu per kilo," jelas Azlan seraya masih mengipas-ngipasi tubuh Dara.
"Sabar Dek, mungkin sebentar lagi. Kita tunggu dulu ya!" bujuk Azlan sambil mengusap perut Dara.
Tidak berapa lama, lampu kembali nyala dengan suasana yang mengharukan. Azlan memeluk Dara dengan kipas di tangannya.
"Alhamdulillah... akhirnya lampunya nyala," teriak Dara senang.
"Lan... sudah tidak gerah lagi kan?" tanya Mamak berteriak.
__ADS_1
"Lumayan Mak, sebentar lagi juga akan kembali sejuk ACnya," jawab Azlan dari dalam.
Dara buru-buru melepaskan pelukan Azlan, dirinya seketika begitu malu.
"Kenapa harus dilepas? Abang rindu berat sama Adek, biarkan Abang peluk Adek seperti ini."
"Nggak....!" kelit Dara.
"Kenapa tidak?"
"Lampunya matikan dulu Abang, Dara tidak suka tidur dalam keadaan terang benderang!"
Azlan baru paham mengapa Dara melepaskan pelukannya. Azlan bangkit dan menuju saklar. lampu dan mematikannya.
"Trek...."
"Ayo, sekarang kita tidur. Hari semakin malam!" ajaknya seraya menyelimuti kaki Dara yang kelihatan mulai terasa dingin karena hembusan AC.
"Boleh Abang peluk?"
Dara dengan rona malu-malu menganggukan kepalanya mengijinkan Azlan untuk memeluknya.
Sejenak Azlan mendongak, mencium kening Dara sebagai ungkapan selamat malam. Dara memejamkan mata, menikmati ciuman itu. Hatinya kini kembali menghangat.
Suasana malam yang semakin sepi menambah syahdunya dua insan yang kini dibalut rindu. Deru nafas yang teratur kini menemani lelap keduanya.
"Selamat malam,"
__ADS_1