Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Keingintahuan Riki Terjawab Sudah


__ADS_3

"Apa syaratnya?" tanya Dara penasaran.


"Aku mau tanya sebenarnya hubungan kamu sama Abang aku itu apa?"


"Hubungan?"


"Iya... maksud aku hubungan spesial?"


Dara diam sejenak. "Kak Riki mau jawaban jujur atau nggak?"


"Jujur dong....!"


"Ok... sebenarnya sih Dara cuma punya satu hubungan sama Bang Reno, yaitu hubungan partner kerja."


"Yang benar....?"


"Benar...!" sahut Dara serius.


"Kenapa Kak Riki nanyanya begitu amat, seolah meragukan jawaban Dara?" Dara makin penasaran.


"Bang Reno itu patah hati sama kamu, itu makanya dia sampai berani melakukan perbuatan nekad dan ngeroyok Abang kamu," ungkap Riki akhirnya.


"Kenapa harus patah hati karena Dara, toh kita tidak pernah punya hubungan khusus?"


"Maksud kamu, kamu belum pernah pacaran dengan Bang Reno?"


"Belum pernah. Malah ditembak saja tidak, Bang Reno hanya bilang dia suka sama Dara setelah mengetahui Dara sudah menikah sama suami Dara," jelas Dara.


"Kok bisa...? Mungkin saja cowok yang jadi suami kamu merebut kamu dari inceran Bang Reno, itulah makanya Bang Reno tidak terima."


"Nggak, bukan begitu Kak....!" sangkal Dara.


"Lantas....?"


"Awalnya Bang Reno tidak tahu Dara sudah menikah sama suami Dara, dan selama itu Bang Reno masih baik-baik saja tidak pernah ada masalah sama suami Dara, nah... baru setelah Bang Reno tahu Dara sudah menikah sama Bang Azlan, Bang Reno berubah jutek dan tiba-tiba memancing permusuhan dengan suami Dara. Suami Dara kan kaget tidak tahu apa-apa, kenal sama Bang Reno saja sekilas-sekilas tidak akrab, hanya ketemu saat kebetulan kerja di shift yang sama dan ketemu saat jam istirahat saat nongkrong di depan pabrik. Bang Azlan tidak pernah merebut Dara dari siapapun, dan Bang Azlan tidak tahu Bang Reno naksir Dara. Setelah itu, ya... akhirnya terjadilah pelecehan dan pengeroyokan itu!" Jelas Dara.


__ADS_1


"Pelecehan? Siapa yang dilecehkan?" Riki kaget dan penasaran. Dara diam, seakan mengingat kembali kejadian tidak menyenangkan itu.


"Dara....," jedanya serak. "Dara dilecehkan oleh Bang Reno," jawab Dara jujur. Sejurus terlihat kesedihan di wajah Dara saat mengakhiri ceritanya itu.


"Kamu tidak bohong?"


"Tanya saja sama Pak Bahtiar, beliau bapak Kak Riki, kan? Dara sudah menceritakan kronologis pelecehan itu," ungkap Dara seraya berdiri dan menjauh dari mejanya.


Untuk menyembunyikan kesedihannya Dara menghampiri mesin yang ditutup kaca plastik transparan, sehingga dengan leluasa Dara bisa melihat proses bonding pada PCB yang keluar lalu masuk kedalam oven. Jika harus mengingat kejadian itu, jelas Dara selalu sedih. Dan Dara tidak ingin mengingatnya lagi, terlebih setelah itu terjadi pengeroyokan kepada Azlan, yang ternyata otak dan pelakunya Reno. Bagaimana Dara tidak sedih jika harus mengingat nama Reno.



"Dara... , aku minta maaf sudah mengungkit lagi masa kelam kamu akibat Abang aku. Sekarang aku percaya bahwa yang salah itu sepenuhnya Abang aku." Kata Riki merasa menyesal melihat Dara sedih.



Dara masih belum menyahut, dia asik memperhatikan PCB yang sudah dipasang bond dan komponen, lalu keluar dan masuk oven.



"Mulai sekarang kita bisa jadi partner solid, kan?" Riki mencoba meyakinkan.


"Ok... aku berjanji!" ucapnya.


Dara kembali ke mejanya lalu merogoh HPnya yang disimpan di tas. Sedangkan Riki ijin istirahat, karena jam istirahat sudah tiba.


"Aku, istirahat dulu ya. Jam istirahat aku sudah lewat karena change model," pamitnya yang diangguki Dara. Dara sejenak menatap kepergian partner kerja barunya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Abang..., besok habis pulang kerja kita ke Ibis ya?" Dara mengirimkan pesan WA pada Azlan.


"Mau beli yang murmer ya? Mentang-mentang habis gajian mau borong ya? Oke deh cantik... sampai ketemu besok. Love you ❤❤❤." Balas Azlan.


"Cuma pengen makan Seblak sama Es Boba. Seblak disana katanya enak banget, Abang."


"Ok deh... kita kesana, sekalian Abang mau ambil duit. Selamat bekerja ya Cantik. Awas jangan ganjen-ganjen sama Teknisi baru!" Balas Azlan penuh peringatan


...****************...

__ADS_1


"Ayo naik....!" titah Azlan saat keduanya sudah berada di luar pabrik. Azlan sengaja menunggu Dara di depan pabrik. "Itu... tangan Abang sudah boleh dipakai pegang setang motor lama-lama?" tanya Dara merasa khawatir. "Boleh... asal jangan terlalu lama, kalau jaraknya Cikarang- Bekasi paling Abang harus banyak berhenti dulu karena pegal."


"Ya sudah, ayo....!" ajak Dara bersemangat. "Eitss... tapi ke kontrakan dulu kita."


"Mau apa?" Heran Dara. "Abang kayaknya gerah, harus mandi dulu." Dara termenung sejenak seakan berpikir. "Ok, Dara juga kayaknya harus mandi dulu. Biar sekalian bisa ngeceng," timpal Dara seraya tertawa. Azlan matanya sedikit melotot mendapat candaan dari Dara yang semakin hari semakin bikin gemas.


Sesampainya di kontrakan, Azlan segera menepikan motornya. Sementara Dara, langsung tiduran berselonjor membaringkan diri di ambal ruang tengah. Sepertinya Dara lelah. Melihat Dara yang langsung terbaring, tiba-tiba malah ada sesuatu hal yang mendorong Azlan untuk melakukan olah raga pagi. Tidak menunggu lagi, Azlan langsung mengunci pintu, menutup gorden lalu....



"Abang....!" pekik Dara terkejut. "Dara kayaknya nggak jadi ke Ibis, Dara ngantuk. Sore saja sekalian jalan sore," ucapnya sembari mulai meredupkan matanya.



"Abang juga sama, kayaknya Abang ngantuk. juga. Tapi sebelum itu, kita olah raga pagi dulu. Baru tidur," Goda Azlan seraya membawa tubuh Dara ke dalam kamar.



Didalam kamar, Dara sudah tidak berdaya lagi terlebih Azlan yang masih menggunakan pakaian Teknisinya, selalu membuat Dara terpedaya dengan ketampanan hitam manisnya yang semakin keluar.


"Siap-siap Abang terkam."


"Ciat...." Alzan merubah posisinya dengan cepat lalu berhasil meraup bibir ranum kekasih tercintanya.


"Cup... cup... cup....!" Azlan berhasil mencium bibir itu dengan leluasa. Namun yang empunya bibir sama sekali tidak ada pergerakan.


Ya ampun, rupanya Dara sudah terlelap meninggalkan Azlan ke alam mimpi.


"Abang... bertempurnya nanti siang saja, Dara sangat lelah dan ngantuk....!" ucap Dara lemah... kemudian suaranya benar-benar menghilang.


Azlan tersenyum paham, apalagi dirinya juga sangat ngantuk. Rasa kantuk rupanya mengalahkan keinginan hasratnya yang tadi sempat bergelora.


"Tidak apa-apa sayang, kali ini kamu selamat. Abang juga sebenarnya sangat lelah dan ngantuk. Sebaiknya kita bogi saja alias bobo pagi saja," ucapnya lemah juga sebab rasa kantuk benar-benar sangat menyerang. Azlanpun menyusul Dara, memasuki selimut yang sama. Lalu memeluk Dara begitu erat. Keduanya tertidur pulas dalam lelah yang mendera.



Suara deru nafas keduanya yang teratur, bersahutan dengan suara kipas yang halus.

__ADS_1


Wakwak.... gak jadi deh olahraga paginya.....


__ADS_2