Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pernikahan Rian


__ADS_3

Siang itu di hari Minggu, Azlan dan Dara tengah bersiap untuk ke acara kondangan. Hari ini Rian menikah.


Dara memakai setelan rok warna krem yang tempo hari dibelikan Azlan. Azlan juga memakai kemeja warna krem senada dengan rok setelan yang dipakai Dara. Kopelan dan nampak serasi. Azlan nampak lebih tampan dan berkharisma, pasangan muda yang benar-benar serasi dan kompak boleh dinobatkan seperti itu, jika memang penobatan itu ada.


Dara menurunkan tubuhnya, lalu duduk bersila menyejajarkan tubuhnya dengan cermin yang disandarkan di dinding. Rok yang dia pakai diangkatnya hati-hati supaya tidak melipat, karena kalau kusut rasanya penampilannya tidak sempurna.



"Gara-gara cermin yang nyender begini, terpaksa ngacanya duduk. Abang...tolong dong kalau sudah ada waktu, digedor pakai palu cermin ini, gantungin di paku!" oceh Dara ngedumel.



Azlan sesaat menatap Dara lewat cermin, yang ditatap membalas dengan dilakkan mata yang judes, kembali mode juteknya on. Azlan heran, kenapa Dara tiba-tiba ngedumel, padahal kemarin-kemarin tidak protes dengan posisi ngaca seperti ini. Kayanya Dara lagi PMS moodnya sedang tidak baik. Tebak Azlan.



"Ohhh... iya nanti pulang dari kondangan Abang betulkan!" sahut Azlan.


"Sejak Dara pindah ke sini sudah sebulan lebih, posisinya masih begini mentang-mentang Dara nggak protes, Abang diam saja nggak peka," omel Dara masih belum puas.


"Abang minta maaf, nanti Abang pasang ya!" rayu Azlan sambil mengelus kepala Dara yang sudah tertutup jilbab.


"Udah cantik Dek, tidak usah di blush on lagi!" cegah Azlan. Dara tidak peduli, dia masih asik memoles tulang pipinya pakai blush on warna pink. Bibirnya juga tidak lepas dari touch up lipstik merah muda. Makin sempurna. Begitu kesimpulan Azlan.


"Ceklek...!" Azlan memotret dirinya dan Dara, dengan cepat dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Dara. Foto curianpun berhasil diambil Azlan. Selalu begitu, mencuri foto. Apa memang ini satu keahlian Azlan?



"Ihhh ... Abang selalu kayak gitu, mencuri foto. Dosa tahu nggak. Mana hasilnya jelek gitu, pasti Dara hasilnya tidak bagus!" protes Dara kesal.


"Ya udah kita ulang yuk fotonya, kita sama-sama ambil posisi tersenyum bahagia, seperti pasangan pengantin baru!" ajak Azlan. Dara merengut dengan ucapan Azlan tapi tidak protes.


"Siap... sayang...!" aba-abanya.


Jepret, jepret dan jepretan terakhir tepat saat Azlan mencium pipi Dara yang merah muda. Dara tersentak dan membelalakkan matanya tanda kesal.


"Ihhh...genit, curi-curi terus!" protesnya lagi.


Azlan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Gimana, Dara cocok tidak pakai baju ini dengan dandanannya?" Dara minta pendapat Azlan, sambil tidak sadar memutarkan badannya di depan Azlan.


"Masya Allah, cantik betul bini Abang bak bidadari surga!" Azlan berdecak kagum melihat kecantikan paripurna Dara. Walau di mata Azlan nampak sedikit menor, namun benar-benar kecantikan Dara dua kali lipat dari biasanya.



"Iya dong harus cantik, supaya Kak Rian nyesel tidak mendapatkan Dara," celetuknya tanpa sadar.


Azlan tidak berpikir Dara akan bicara seperti itu, sehingga kini Azlan diam dan sedikit melongo.


"Masih mengharapkan Rian rupanya!" cebik Azlan akhirnya setelah tadi terdiam.


"*Rupanya, hanya untuk Rian*!" gumannya dalam hati. Hilang sudah semangat Azlan gara-gara Dara bicara seperti itu.


Dara sekilas menatap Azlan yang diam, raut mukanya berubah muram. Uppss ... Dara langsung menutup mulut, baru disadari mungkin omongannya tadi menyakiti hati Azlan. Dara jadi serba salah.


"Tidid, tidid .... !" suara klakson motor nyaring di luar kontrakan Azlan. Rupanya Rivai yang sengaja mengajak pergi bareng, bedanya Rivai tidak membawa pasangan seperti Azlan. Ohhh ... tapi rupanya tidak mengurangi kecakepan Rivai. Dia nampak gagah dengan kemeja batik lengan panjangnya, dipadu celana jeans hitam. Keren deh jomblo yang satu ini.



"Lan... sudah siap belum, cepatlah 15 menit lagi jam satu!" peringat Rivai sambil menatap ke arah pintu kontrakan.


"Ayo Dek!" ajak Azlan seraya menutup jendela! Lalu mengunci pintu sebelum mereka beranjak meninggalkan rumah kontrakan.


"Wawww ... bidadari turun dari kontrakan, sungguh cantik luar biasa!" ucap Rivai terpukau.


"Sudah ayok, jangan ngiler lihat bini orang. Hatinya bukan untuk elu!" sentak Azlan datar.


"Ihhh ... sewot, tibang takjub doang bukan mau rebut hatinya juga. Dasar kampret!" balas Rivai kesal.


"Naik Dek, jangan lupa pegangan!" perintah Azlan.


Dara masih merasakan sikap Azlan berubah jadi dingin, diapun menyadari semua ini kesalahannya.


Motor Azlan dan Rivai kini beriringan, menyusuri padat dan teriknya jalanan kota Cikarang- Bekasi. Tiga puluh menit akhirnya tiba di gedung tempat Rian menikah, jalanan yang padat dan teriknya matahari membuat Dara kegerahan. Azlan melihat Dara sedikit menjaga jarak darinya, Azlan tahu perubahan sikapnya itu. Dara merasa bersalah atas ucapannya tadi, "*baguslah kalau* *sadar*." Guman Azlan dalam hati.



Tak ingin membiarkan gadisnya diliputi perasaan bersalah berkepanjangan, Azlan tanpa ragu meraih tangan gadis itu, lalu menautkan di antara jemarinya.

__ADS_1



"Nah gitu dong, 'kan jadi kelihatan mesra dan romantis!" goda Rivai sambil tersenyum.


"Diam Lu Vai! biar tidak jomblo akut nanti di dalam nyari perawan deh, janda juga tidak masalah," sentak Azlan kesal.


Azlan, Dara dan Rivai berjalan beriringan untuk menuju pelaminan menyalami kedua mempelai yang duduk gagah di depan para tamu. Tidak lupa memasukkan amplop berisi uang ke kotak kayu yang telah disiapkan.



Kini giliran Rivai, Azlan dan Dara menyalami kedua mempelai.


"Selamat Bro ... semoga samawa dan langgeng, dan nggak playboy lagi!" saat mengucapkan kata "playboy lagi", Azlan sengaja membisikkan di telinga Rian. Rian membalas dengan senyuman kecut. Tak lupa Azlan juga menyalami mempelai perempuan yang cantik bagai ratu sehari. Tapi baginya tetap Dara ratu tercantik di dalam hatinya, meskipun ratunya itu masih punya perasaan yang bercabang.


"Sudah sana, giliran bini Lu yang nyalamin Gua, eh ngomong-ngomong bini Lu hari ini cantik banget bikin Gua pengen jadikan dia yang **kedua**," usir Rian berbisik kesal, saat mengucapkan kata "kedua", Rian sengaja membisikkan di telinga Azlan, membuat Azlan melotot.



Tinju Azlanpun langsung mengepal di hadapan Rian. Orang lain yang sempat melihatnya, berpikir hanya candaan, karena melihat Rian dan Azlan berbicara sambil ketawa-ketawa akrab. Padahal masing-masing menyimpan rasa gondok yang tertahan.



"Selamat Kak Rian ... semoga Samawa dan langgeng!" Ucapan yang sama seperti Azlan tadi meluncur begitu saja dari bibir Dara. Kini giliran Dara menyalami mempelai perempuan, Dara takjub dibuatnya. Pengantin perempuan yang berdiri di hadapannya begitu cantik bagai ratu.


"Selamat ya Kak ....!" ucap Dara tulus.


"Silahkan nikmati hidangannya!" balas pengantin perempuan yang bernama Dina itu ramah.


Kami bertiga beriringan menuju meja parasmanan, mengambil piring dan mengisinya sesuai dengan keinginan kami makan. Setelah mendapatkan porsi yang sesuai, kami mencari kursi kosong untuk duduk. Azlan mencarikan terlebih dahulu untuk Dara, rupanya di sebelah kiri meja prasmanan posisinya sedikit masuk ke dalam, masih banyak kursi tamu yang kosong.


Azlan, Dara dan Rivai akhirnya menduduki kursi tersebut, rasa gerah yang tadi sempat datang, seketika sirna tergantikan hembusan angin sepoy yang menerpa.


Saat mereka tengah asik makan, tiba-tiba Jabar muncul bersama seorang perempuan cantik. Rupanya itu bininya Jabar.


"Bang Jabar...!" pekik Dara.


"Halo Kak Fina ...!" Dara juga menyapa istrinya Jabar ramah. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka semua pun menikmati hidangan pesta yang meriah itu. Dara berdecak kagum dan membayangkan resepsi pernikahannya nanti bakal semeriah ini. Senyum Darapun merekah membayangkannya.


Azlan menghampiri tempat duduk Dara sembari membawa minuman dan makanan penutup untuk dia dan Dara. Azlan begitu perhatiannya pada Dara, sehingga membuat Dara merasa tersanjung sekaligus merasa bersalah akan kesalahannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2