
Azlan masuk ke ruangan HRD setelah dipersilahkan masuk oleh Pak Soni. "Silahkan Azlan, duduk!" titahnya berwibawa. Azlan duduk disertai sikap hormat. "Saya tahu kamu pasti heran kenapa dipanggil ke ruangan saya," ungkapnya sambil menatap Azlan lekat.
"Betul Pak, saya merasa terkejut kenapa saya dipanggil ke ruangan Bapak!" sahut Azlan.
"Begini..., bulan depan kamu ditugaskan di pusat. Hyundy Korea kekurangan tenaga Teknisi khususnya dari Indonesia, tentunya yang kompeten. Dan kami memilih kamu sebagai Teknisi yang kompeten. Yang lain bukan berarti tidak, namun setelah dipertimbangkan diantara Teknisi disini kamulah paling menonjol dan kompeten. Jadi kami tidak meragukan kamu lagi. Maka dari itu bulan depan persiapkan dirimu baik secara mental dan fisik!" tegas Pak Soni seakan keputusan yang tidak bisa dibantahkan.
Azlan sontak dilanda bingung. Gimana bisa dia menerima begitu saja keputusan Pak Soni, sedangkan dia kini sudah menikah. Khawatir dengan Dara yang baru saja mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Reno walau tidak secara langsung. Lama Azlan melamun dan Pak Soni menyadarinya.
"Lan....!" sahutnya mengejutkan Azlan. "Apakah bisa keputusan ini dirubah, maksudnya saya diganti dengan orang lain. Yang lain juga ada yang lebih kompeten dari saya, contohnya Rivai. Dia belum pernah diutus ke Korea. Dia bisa jadi pilihan tepat untuk menggantikan saya," ujarnya dan spontan memberikan saran sebagai bentuk penolakan.
"Alasan kamu menolak kesempatan emas ini apa? Berikan saya alasan kuat!" tutur Pak Soni menatap tajam. "Saya sudah menikah Pak, saya khawatir jika saat ini berjauhan dengan istri saya. Sebab kami masih baru dan belum terbiasa meninggalkan dia dengan waktu yang lama," ujar Azlan memberi alasan yang dia harap bisa diterima Pak Soni.
"Saya tahu kamu sudah menikah dan masih baru, tapi saya rasa itu bukan alasan yang kuat lho untuk menolak kesempatan emas ini. Istri kamu tidak sedang hamil kan?" tekannya.
"Tidak sih Pak, tapi... ada hal lain yang menjadi alasan saya mempertimbangkan perintah ini."
"Ini peluang emas buat kamu Lan, setelah dari Korea sana kamu langsung naik posisi menjadi Supervisor Teknisi, dengan gaji yang lebih besar dari Teknisi. Kesejahteraan kamu bisa lebih meningkat dengan posisi ini. Apalagi gaji di Korea sana berbeda dengan disini, lebih besar dan bisa buat kehidupan kamu ke depannya," tutur Pak Soni penuh bujukkan.
"Posisi tidak penting buat saya Pak, yang dipikirkan saya sekarang adalah keselamatan istri saya," sanggah Azlan lagi. "Saya tahu kamu mengkhawatirkan istri kamu. Kalian masih baru dan sedang hangat-hangatnya. Tapi saya rasa kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Dan kemampuan kamu lebih menonjol dari siapapun, walau kamu ingin mengganti dengan orang lain. Maka saya harap kamu tidak menolaknya, keberangkatan kamu bulan depan dan amplop ini bisa dan paspor kamu yang telah dipersiapkan perusahaan." Azlan seketika terhenyak, jelas keputusan ini tidak bisa dibantahkan mengingat perusahaan sudah menyiapkan semua, mulai visa dan paspor.
__ADS_1
"Ini, terimalah. Tugas ini adalah sebagai bentuk penghargaan kami karena kinerja dan kemampuan kamu sangat bagus. Jadi buat apa lagi kamu berpikir keras untuk menolaknya," ucap Pak Soni seraya memberikan sebuah amplop putih. Azlan menerimanya dengan tangan bergetar.
Azlan kembali ke mesinnya dimana dia berkutat. Mesin rupanya sedang on dan Ok. Akhirnya dia melangkahkan kaki menuju ruang Teknisi. "Zul... awasi mesin, Gua ke ruangan dulu," teriak Azlan pada Zulidan sang Operator mesin 8. Zul mengangguk.
Tiba di ruangan Teknisi, Azlan menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan lesu. Semua yang disana merasa heran. Sangat kebetulan Rivai, Rian, Arbi dan Teknisi lainnya termasuk Bang Tedy sang Kepala Teknisi berada disana. Mereka berkumpul di sana sebab mesin dalam kondisi on dan OK.
"Kenapa sih Lu lemas amat setelah dari ruangan HRD, dikasih persenan ya dari Pak Soni?" tanya Rian penasaran. "Gua dapat ini dari Pak Soni." Azlan memperlihatkan amplop putih yang diberikan Pak Soni tadi. "Apaan tuh?" sontak semua yang ada disana merasa penasaran.
"Kalau bisa digantikan Gua mau saja, tapi kalau sudah keluar visa dan paspor biasanya tidak bisa diganti atau dirubah, nama Elu kan sudah tertulis jelas disana di surat perintahnya," ucap Bang Tedy.
Mendengar ucapan Bang Tedy sang Kepala Teknisi, seketika Azlan makin down dan lesu. "Gua sudah nikah Bang, kasihan bini Gua kalau Gua tinggal," alasan Azlan. "Gua juga mau menikah 3 bulan lagi, masa mau Gua *cancel*?" sergah Bang Tedy.
"Rivai...! Nah, Elu belum nikah kan I, Lu gantikan Azlan saja ke Korea," saran Bang Tedy seraya menunjuk Rivai. Rivai yang ditunjuk malah nyengir kuda. "Gua...?, mana bisa, lha wong visa dan paspor Azlan sudah keluar," respon Rivai santai.
__ADS_1
"Ya sudah deh Lan, Lu terima saja tugas ini. Paling setahun, kagak lama. Lu terima saja resiko kangen istri. LDRan mana tahan.... hahaha....!" timbrung Arbi diakhiri tawa. "Gila Lu ya, kalian kira Gua lagi bahagia, pake ketawa segala. Sialan!" umpat Azlan kesal. "Et dah... mesin Gua bunyi," seru Arbi seraya keluar dari ruangan Teknisi. Disusul Bang Tedy dan yang lainnya, tinggal 3 serangkai yang masih di sana.
"I, kalau Gua pergi Korea. Sekali-kali lihatin Dara ya, Gua mohon jaga dia semampu Elu. Maksud Gua, anggap Dara sebagai adik Lu sendiri. Jaga dia sebagai adik Lu. Gua khawatir akan keselamatan dia dari Reno," tutur Azlan penuh permohonan. Rivai nampak terharu melihat sohibnya letih, lemah, lesu dan sedih tentunya.
"Yang sabar ya Lan, Gua pasti akan jaga Dara semampu Gua. Gua kan sudah anggap Dara seperti adik," ucap Rivai membesarkan hati Azlan. "Gua percaya sama Lu I."
"Gua juga titip sama Lu, Yan. Gua ingin Lu anggap Dara adik juga, Gua nggak pengen Lu goda Dara. Gua tahu Lu masih ada hati sama Dara. Tapi demi persahabatan kita, Gua mohon jangan sampai persahabatan ini hancur gara-gara Elu khianati Gua. Gua mohon!" mohonnya penuh ketakutan.
"Lu percaya deh sama Gua, walaupun Gua kayak begini tapi percayalah Gua tidak seperti Reno yang kurang ajar. Gua cuma goda-goda biasa, kecuali kalau Elu kagak balik untuk selamanya atau koit, maka Gua siap bakal gantiin posisi Elu. Menjadikan Dara bini kedua bagus juga tuh!"
"Isss dah... lelucon Elu kagak lucu. Sama saja Elu doain Gua mati. Kampret Lu!" umpat Azlan kesal. Rian tertawa menanggapi reaksi kesal Azlan.
"Kalau Elu sampai tikung Gua, maka balik dari Korea kita duel. Kita adu kekuatan Karate Elu dan Gua. Kalau Gua yang mati, Elu boleh ambil Dara jadi bini Elu."
"Serius Lu? Ahahahaha... kalau gitu sebaiknya Gua tikung saja....!"
"Awww... gila Lu, Gua belum siap... Lu main serang aja," pekik Rian yang diserang mendadak oleh Azlan.
__ADS_1
"Awas Lu ya, macam-macam. Gua patahin kaki Lu, " ancam Azlan kesal.