Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pernikahan Nela


__ADS_3

Hari pernikahan Nela tiba, Dara dan Rivai telah siap. Dengan motor bebeknya Rivai nampak sangat tampan, cowok hitam manis itu tetap punya kharisma. Kharisma kalem, kocak dan melindungi. Pantas saja Azlan lebih mempercayakan Dara pada Rivai, sebab Rivai sosok yang bisa diandalkan bisa sebagai Kakak, teman dan kadang-kadang kalau lagi waras bisa jadi Ustadz. Ustadz belang betong...


"Sudah siap belum Neng....?"


"Sebentar Kak, Dara lagi make up dulu."


"Amplopnya jangan lupa....!" Rivai mengingatkan. "Sudah Kak... isinya juga tidak lupa. Kak Vai sudah diisi belum amplopnya?"


"Sudah dong....!"


"Motor Abangmu sering dipakai, tidak?"


"Tidak, Dara kan tidak bisa makenya,"


"Tapi sering dipanaskan, kan?"


"Tiap hari....!"


"Ck, ck, ck, cantik-cantik tidak bisa naik motor. Jadi selama ini motor dianggurin?"


"Ya... gitu deh, terakhir Sofia yang pakai saat dia kesini!"


"Pakai saja motor matic Bang Azlan, bebek Kak Vai suka mogok, tidak?"


"Tidak dong. Sudah jangan takut, bebek punya Kak Vai tahan banting dan anti mogok," ucap Rivai percaya diri.


"Kenapa pula resepsinya malam-malam begini, mana mau hujan lagi," keluh Rivai sambil melihat ke atas langit. "Sudah mendung ya Kak?"

__ADS_1


"Iya, noh langit mulai ditutupi awan hitam. Bintang dan bulan saja mulai ditutup awan Cumulus."


"Ayo....!" Dara telah siap dengan dandanan yang sangat cantik. Rivai terpesona dan ternganga. "Alamak... bidadari si Azlan turun dari kontrakan."


"Ayok dong Kak, ngapain juga sampai melongo?" gertak Dara heran. "Eh, iya.... ayo!" motorpun melaju membelah jalanan Cikarang-Tambun.


"Duhh... dimana ya gedungnya?" Rivai pusing kepala mencari letak gedung resepsi pernikahan Nela. "Namanya Gedung Kesenian Tari Tradisional, tanya orang saja Kak, tuh di depan ada gojek ngumpul," Rivai patuh, lalu berhenti sejenak dan menyapa para gojeker.


"Turun saja Kak, kayaknya mereka lagi asik dengan HPnya masing-masing." Dara dan Rivai turun, namun hanya Rivai yang menghampiri gojeker. Rivai nampak serius mendengarkan penjelasan salah satu Gojeker.


"Ok, terimakasih Bang. Mari....!" Rivai nampak berpamitan dan kembali menuju motor bebeknya.


"Dimana Kak alamatnya?" Dara penasaran. "Di depan belok kiri, 500 m kemudian."


"Emang Abang Gojek tadi jawabnya begitu?" Dara penasaran. "Iya... begitu itu!" Lalu Dara dan Rivai kembali menaiki motor dan motor kembali melaju menuju ke Gedung Kesenian Tari Tradisional.



"Ikut saja Kak, siapa tahu dapat buket bunga dan dapat jodoh. Dara disini saja," ucap Dara. Rivai tersenyum kegirangan, cowok hitam manis itu berjalan penuh semangat menghampiri kerumunan saweran itu. Seketika suasana gedung riuh. Peserta saweran saling rebut dan saling dorong ingin mendapatkan sawerannya.



Tiba saatnya buket bunga dilempar kedua mempelai, Nela dan Ilham yang kini sudah sah menjadi pasangan suami istri bersiap melemparkan buket bunga dengan posisi membelakangi peserta saweran. Dan...


"Ciyat... plung... hap...." Dengan sempurna buket bunga itu ditangkap sempurna oleh tangan kekar Rivai. Dara yang melihat, sontak bersorak sorai senang. "Akhirnya... Kak Vai nikah.... " celoteh Dara tanpa sadar. Peserta saweran yang tidak berhasil mendapatkan buket bunga, ada yang merutuk ada juga yang ketawa-ketawa, ada juga yang biasa-biasa.


Rivai berjalan menghampiri Dara yang sejak tadi tidak beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Asikkk... kayaknya sebentar lagi bakal ada yang kawin nih."


"Isss... bukan kawin, tapi nikah," sela Rivai seraya mencium buket bunga yang baru beberapa menit menjadi miliknya. "Siapa calonnya?"


"Belum ada.... " sahut Rivai mendadak lemas. Dara seketika tersenyum lalu mengajak Rivai menyalami penganten.


"Ayo Kak, kita salamin penganten. Ini sebentar mau hujan, Dara takut kehujanan di jalan." Rivai mengikuti Dara.



"Dara...!" Baru saja Dara mendekat, Nela sudah merangkul Dara. "Selamat ya Nel... Elu cantik banget. Semoga SAMAWA ya," ucap Dara tulus. "Makasih ya Dar... Elu juga cantik malam ini. Eh Elu sama Kak Vai doang, kan?"


"Iya...." sahutnya sambil menoleh ke arah Rivai. Kemudian Dara beralih ke pengantin pria, yang begitu tampan dan serasi disandingkan dengan Nela. Diikuti Rivai di belakangnya.


Selesai sesi foto-foto, para tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangannya yang digelar secara prasmanan.


"Ayok Neng, kayaknya sebentar lagi hujan turun. Kita harus cepat," ucap Rivai cemas karena angin sudah terdengar derunya. Dara mengakhiri makannya dan mengikuti Rivai keluar gedung.


Belum juga Rivai sampai di parkiran, hujanpun turun dengan derasnya. Kepulangan mereka akhirnya tertahan karena hujan yang langsung lebat. Dan waktu kini menunjukkan jam 10 malam. Dara dan Rivai serta tamu undangan yang lain terpaksa berteduh di teras gedung.



Hujan semakin deras, Dara yang mulai menggigil kedinginan kini juga merasakan ingin buang air kecil, rasanya sudah tidak tertahan. Saat ingin memberitahu Rivai, tapi Rivai sedang berkumpul dengan teman-temannya yang sama-sama tertahan karena hujan. Tanpa pikir panjang, Dara segera beranjak dan pergi menuju toilet.



"Dara...!" sapa seseorang sambil mendekat ke arah Dara yang baru keluar dari toilet. Dara menoleh namun seketika dia tersentak.

__ADS_1


Siapa ya kira-kira yang Dara temui di muka toilet? Tunggu kelanjutannya ya teman-teman.


__ADS_2