Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Dara Hamil


__ADS_3

Dara terbangun saat jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Rasa ingin buang air kecil begitu mendorong-dorongnya. Tangan Azlan yang melilit pas perut bawahnya semakin menekan rasa ingin buang air kecil.


"Ihhh... beratnya tangan ini," gerutunya sambil mengangkat tangan Azlan yang berada di atas perut Dara.


"Mau kemana....?" Azlan tiba-tiba bersuara.


"Pengen pipis, Dara kebelet."


"Abang antar, jangan?"


"Nggak usah," jawab Dara seraya berdiri dan turun dari ranjang.


Tidak berapa lama, Dara kembali ke kamar dan perlahan naik ranjang. Untuk sesaat Dara termenung belum membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba bayangan Jabar yang sedih berkelebat. Bukan apa-apa, Teknisi yang satu itu memang baik dan selalu menyenangkan. Dara menganggap Jabar sebagai kakak, walaupun Azlan pernah bercanda mengungkapkan isi hatinya, namun tetap perasaan Dara padanya menganggap sebagai Kakak. Rupanya disebalik candaannya itu, ada luka yang ditutupi.


Jabar di mata Dara merupakan cowok baik dan tidak tempramen. Selain tampan dan menarik, pembawaannya kalem dan tidak grasa grusu, Jabar cenderung dewasa, jarang marah, malah kesannya lembut. Pernikahannya dengan Mbak Fita yang katanya perjodohan, dia jalani dengan ikhlas. Walaupun pada akhirnya mungkin kandas juga.


"Abang, semoga hubungan Abang sama Mbak Fita bisa diperbaiki," ucap Dara mendoakan kebaikan buat pernikahan Jabar dan Mbak Fita.


Saat Dara akan membaringkan tubuhnya kembali, otak keponya menjalar. Dara meraih HP Azlan yang sengaja digeletak di atas kepala Azlan.


Dibukanya, dan sekali buka. Sebab HP Azlan memakai kode tanggal lahir Dara. HP itu menyala, namun Dara terhenyak seketika.


"Ya ampun Bang Azlan, nggak kira-kira masa foto ciuman dipajang jadi wallpaper." Dara geleng-geleng kepala. Lalu dibukanya galeri foto.


Hampir semua foto dirinya saat tidur ada disana, dan ini diambil Azlan saat Dara tidur nyenyak. "Bang Azlan benar-benar usil dan jail," gerutunya.


Dara ternganga saat mendapati foto tidak senonoh dirinya bersama Azlan ada juga disimpan disana. "Ampun Bang Azlan, masa foto kissing kita dipajang. Malu-maluin, bagaimana kalau ketahuan orang lain. Untung bukan foto lain yang lebih vulgar," bisiknya masih membuka galeri foto yang discroll ke bawah.


Saat melihat foto yang selanjutnya, ada yang membuat Dara terharu. Foto itu ada tulisannya.


"Kekasihku sehidup, semati, sesurga. I love u Forever."


"So sweet banget Bang Azlan," gumannya seraya berkaca-kaca.


Dara kembali membaringkan tubuhnya perlahan, matanya menatap lurus ke arah langit-langit rumah. Disana terlukis senyuman manis Azlan. Dara membalas senyuman itu. Sementara Azlan, dalam baringnya rupanya dia sudah terjaga, namun pura-pura masih tertidur pulas. Azlan sengaja tidak tidur lagi setelah tadi Dara kebangun ingin buang air kecil.


__ADS_1


Tiba-tiba Dara membalikkan tubuhnya menghadap Azlan, Azlan buru-buru merapatkan kembali matanya. Deru nafasnya teratur mirip orang yang benar-benar tidur.



"Cowok nyebelin ini rupanya tampan juga, walaupun kulitnya kecoklatan. Tapi masih mending tidak hitam pekat kayak aspal," ujarnya sampai kena ke ulu hati Azlan.


"Buset... Adek kalau ngomong jujurly banget."


"Abang itu baik, dan kayaknya sayang banget sama Dara. Dara juga akhirnya sayang sama Abang," akunya seraya mendekat lalu mengecup tiga detik bibir Azlan yang duduk manis disana.


Azlan girang hatinya dikecup tiga detik oleh Dara.


"Coba ciuman ini lama, Abang pasti senang. Tapi ingat ya Dek, Abang itu bukan kayaknya sayang sama Adek, tapi Abang sayang banget sama Adek."


"Tapi Dara sedih, Abang itu bohong sama Dara. Abang tega nggak belikan Es Teler dan Pempek buat Dara," ungkap Dara sedih dan benar-benar menangis. Azlan terkejut dan masih pura-pura tidur, dia benar-benar menyesal tidak berhasil mendapatkan Es Teler dan Pempek pesanan Dara.



"Aneh, padahal semalam marahnya hilang gara-gara sudah dibelikan Es Krim Korneto, tapi sekarang sedih dan marah lagi." Azlan heran dengan perubahan sikap Dara, yang kadang happy kadang juga sedih.



"Adek... Abang minta maaf ya, karena kemarin Abang tidak berhasil menemukan penjual Pempek dan Es Teler yang Adek pesan. Tolong maafin Abang ya!" Azlan meminta maaf penuh penyesalan seraya memeluk Dara semakin erat.


Dara yang menyadari, malah menangis kian menjadi. Dara entah mengapa suasana hatinya tiba-tiba tidak enak dan kesal banget. Moodnya kini mudah berubah, entah apa yang terjadi dalam tubuhnya.


Azlan menyadari perubahan sikap dalam diri Dara. Dara moodnya berubah-ubah, kadang senang lalu dengan cepat begitu sedih dan kesal.


"Anehh... apa perlu di cek, gitu?" pikir Azlan penasaran.


Dua hari kemudian, kebetulan hari ini Sabtu dan Azlan pulang lebih cepat yaitu jam 5 sore. Pulang dari pabrik, Azlan mampir dulu ke Apotek dan membeli sesuatu. Lalu mampir ke Pasar Cikarang untuk membeli Pempek dan Es Teler untuk Dara.



Tiba di rumah, tepat Adzan Maghrib selesai berkumandang. Azlan mendapati Dara sudah bermukena dan akan menjalankan sholat Maghrib.


"Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam....!" sahut Dara.


"Sholatnya bareng sama Abang, tunggu Abang sebentar ya!" ajak Azlan yang diangguki Dara.


Selesai sholat Maghrib berjamaah, Azlan membuka bawaannya. Seporsi Pempek dan secup besar Es Teler pesanan Dara waktu itu.


"Makanlah sayang, Abang baru berhasil menemukan menu kesukaan Adek di Pasar Cikarang, tadi," ucapnya seraya menyodorkan Pempek yang sudah dimangkoki. Dara berbinar melihatnya dan langsung meraih mangkuk itu.


"Sekarang Abang ada satu permintaan."


"Apa?" Dara heran.


"Adek coba merem lalu tengadahkan kedua tangannya." Dara masih heran dengan perintah Azlan. "Pokoknya merem dan tengadahkan tangan," ulang Azlan. Akhirnya Dara patuh.


Dara merem lalu sedetik kemudian ada sesuatu benda yang menimpa tangannya, ringan namun entah apa. Hati Dara bertanya-tanya.


"Buka....!" titah Azlan. Perlahan Dara membuka matanya dan melihat apa yang diletakkan Azlan di tangannya.


"Apa ini... TEST PACK?" ejanya mengerutkan kening.


"Iya, ayo pergi ke kamar mandi dan coba Adek tes urinnya. Abang punya firasat kalau Adek hamil." Azlan yakin. Dara patuh dengan pelan dia menuju kamar mandi.


Lima menit kemudian Dara menarik celupan tespek dari dalam botol air kencingnya. Dara melongo tidak percaya. Dari intruksi yang tadi dia baca di kemasan tespek, kalau garisnya....


Dara ternganga tidak percaya, sejenak dia menatap dirinya di cermin kamar mandi. Dara terharu, seraya meraba perutnya yang memang rata.


"Ya Allah... apakah saat ini waktu yang tepat untuk hamba diberi kepercayaan?" Dara berurai air mata.


"Adek... sayang... sudah belum?" Azlan berteriak memanggil dari luar pintu kamar mandi. Dara keluar perlahan, air matanya tidak bisa dibendung saat dia bertatap mata dengan Azlan. Sementara tangan kirinya memegangi alat tespek yang telah ia pakai tadi.


Azlan heran dan jantungnya berdebar kencang.


"Mana hasilnya, Dek?" Dara memberikan alat itu lalu memeluk Azlan dan menangis haru. Azlan dengan cepat melihat hasil tespek dan alangkah mengejutkan. Dugaannya selama ini benar, Dara benar-benar hamil.


"Alhamdulillah... akhirnya Adek hamil. Abang jadi Ayah... Abang jadi Ayah....!" pekik Azlan senang bukan kepalang seraya mengangkat tubuh Dara lalu diputarnya.


"Dara menangis dan terharu."

__ADS_1


"Terimakasih sayang... sudah memberi Abang kebahagiaan....," ucap Azlan sembari mengecup kening Dara.


__ADS_2