Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Mendadak Lembur


__ADS_3

Dara dan Azlan terbangun saat waktu menunjukkan tepat jam 10 pagi.


"Hah... ya ampun... Abang... bukankah kita mau ke Ibis, aduh... hampir siang nih. Padahal Dara pengen makan Seblak di Ibis."


Azlan tersentak dengan lengkingan suara Dara yang hampir stereo.


"Iya, iya... ayo... kita ke Ibisnya sekarang....!" ajak Azlan sambil berdiri dengan cepat. Lalu menggunakan jaket kulitnya tanpa mengganti pakaian kerjanya.


"Ihhh... masa nggak mandi dan gosok gigi, bau jigong deh nanti," ejek Dara merasa risih.


"Kelamaan sayang...ayo cepat pakai kerudungnya," titah Azlan.


"Entar dulu, Dara harus gosok gigi dulu. Mulut Dara tidak enak, bau jigong," ucap Dara seraya masuk kamar mandi dan gosok gigi. Terpaksa deh Azlan gosok gigi juga, padahal pakai masker tidak perlu gosok gigi segala. Pikir Azlan.



Dara sudah siap dengan kulotnya dipadu hoodynya yang itu-itu saja. Maklum bukan artis, punya hoody dua juga sudah lumayan banyak.


Azlan menatap Dara lekat, kecantikan wanitanya kini semakin terlihat walau hanya memakai baju yang sederhana. Makin cinta saja dibuatnya.


"Kenapa Abang lihat-lihat Dara, apa ada yang aneh atau Abang makin cinta sama Dara?" tanya Dara sambil memutar-mutar tubuhnya di depan Azlan.


"Makin cinta dong sayang... apalagi kalau sudah menggoda begini, Abang jadi nggak pengen pergi."


"Eitsss... apa Abang bilang, enak saja... Dara sudah cantik dan wangi begini masa tidak jadi pergi. Kan Abang mau traktir Dara makan Seblak dan Boba, iya kan?" todong Dara.


"Iya, betul. Ya sudah jangan bicara terus, nanti Abang malah pengen meluk Adek di kasur kalau bicara terus," ajaknya seraya menarik lembut tangan Dara. Dara menyusul manja.


Azlan senang melihat Dara manja dan tersenyum begitu, semakin cinta dan gemas saja Azlan. Merekapun naik motor dan meninggalkan halaman kontrakan. Mereka berpegangan seraya menikmati ramainya jalanan pagi Cikarang-Kawasan Ibis. Layaknya pasangan muda yang tengah kasmaran, membuat mereka jadi sorotan.


"Tuh... tangannya jangan main Bang. Banyak yang iri....!" teriak salah satu pengguna jalan yang tidak mereka kenal. Sontak saja Azlan melepaskan remasan jemarinya.


...----------------...


Satu bulan kemudian.

__ADS_1


"Dar... kamu hari ini ada lembur lho," berita Kak Vita yang sontak membuat Dara terkejut.


"Lembur..., kok tumben Kak?" Dara mengkerut heran. "Iya, tapi lemburnya bukan di departemen kita?" Dara makin heran.


"Tapi di pabrik sebelah, pabrik tempat Abangmu mencari cuan."


"Hah... serius Kak?" Dara tersentak tidak percaya. "Iya... serius," Kak Vita mencoba meyakinkan.


"Lumayan lho Dar lembur 4 jam, apalagi lemburnya bisa dekatan sama Abang. Asik tuh... bisa sekalian kangen-kangenan," goda Kak Vita sambil tersenyum. "Ih... apaan sih Kak. Mana boleh kangen-kangenan, yang ada malah Dara diusir dari pabrik Hyundy," tepis Dara.



"Ya sudah siap-siap dulu. Kamu disana cuma ngecek dan masang komponen *jumper* yang lepas secara manual," jelas Kak Vita.


"Apa..., jumper? Itu kan kerjaan orang AI, kenapa harus Dara yang orang SMT?" Dara sedikit protes.


"Iya Kakak tahu, tapi PCB Kenwiid SAA proses bondingnya kan di mesin kamu SMT 10, orang AI kebetulan lagi banyak trouble. Mereka sedang sibuk mencari barang yang hilang satu roll. Ohhh rupanya itu dia alasannya.


"Gimana, mau komplen lagi? Harusnya senang lho Dar, nanti pulangnya bisa bareng Abang kamu. Tapi jangan lupa, pulangnya kesini dulu sebentar untuk gesek punch card," peringat Kak Vita.


Dara mengangguk paham.


"Iya sendiri. Nanti di depan pos Satpam pabrik Hyundy kamu dijemput QC yang bernama Ranti, dari sini kamu minta antar Pak Satpam saja, toh cuma sebentar saja kok," jelas Kak Vita.


"Ok deh Kak, Dara siap-siap dulu ya."


"Abang, Dara pamit dulu ya....!" pamit Dara pada Jabar. "Duh... mentang-mentang mau lembur di tempat Abangnya, senyum-senyum kesenangan," cibir Jabar seolah kesal. Dara tertawa kecil melihat tingkah konyol Teknisi idolanya itu, seperti seseorang yang tengah menahan rasa cemburu.



"Ya sudah deh sana cepat pergi, tapi ingat jangan sampai kepincut Teknisi lain selain Abang," peringat Jabar merajuk.


"Jabar... kamu ini apaan sih, Dara kan punya suami, wajar saja dia kepincut Teknisi mesin sebelah. Paling Abangnya yang kepincut sama Dara," halau Kak Vita.


"Dara pamit dulu ya Kak?" pamit Dara setelah selesai membereskan tasnya. Dara menjauh dari mesin 10, diiringi tatapan sendu Jabar.

__ADS_1


Tiba di depan Pos Satpam, Dara disambut seorang perempuan seumuran Kak Vita, dialah Kak Ranti QC yang disebutkan Kak Vita tadi.


"Kak Ranti ya?" sapa Dara, perempuan yang disapa Dara mengangguk. "Kamu Dara....?"


"Iya Kak... kebetulan saya yang ditugaskan untuk mengecek PCB Kenwiid SAA yang proses bondingnya di pabrik tempat saya bekerja," jelas Dara.


"Oh... Ok. Ikuti saya ya," ucapnya seraya berjalan diikuti Dara di belakangnya.


Saat memasuki ruangan produksi, Dara langsung disuguhkan pemandangan yang sedikit pengap dan suara deru mesin yang bersahutan. Kadang diselingi bunyi alarm yang sama persis seperti di pabriknya bekerja. Mesin-mesin besar yang dilewatinya ini adalah mesin pembuatan cangkang *Car* *Audio*, remot dan lain sebagainya. Semua Operator yang menjalankan mesin ini, dihuni oleh para cowok. Mungkin kerja mesin terlampau berat, jadi tenaga laki-laki lebih dibutuhkan disini. Saat Dara dan Kak Ranti berjalan melewati lorong-lorong pabrik, sontak hampir semua mata tertuju padanya. Dara malu dibuatnya.



Dara masih mengikuti Kak Ranti, sebenarnya mata Dara sambil celingukan mencari sosok suami.


"Kok bisa sih Bang Azlan tidak memperlihatkan dirinya," batinnya sedikit kecewak!


Langkah kakinya masih mengikuti Kak Ranti, dan kini langkah itu menunju sebuah tangga. Dara masih mengikuti dengan jantung yang tiba-tiba berdebar.


Dara mulai melewati mesin-mesin besar kembali. Deru mesin masih saling bersahutan dan memekakkan telinga. Mesin berjejer hingga 10 mesin. Ada mesin pembuatan PCB dan ada juga mesin yang memproses bonding atau solder, mirip mesin yang ada di pabrik dia bekerja.



Mesin sebegitu banyaknya, namun Dara sama sekali belum menemukan sosok Azlan. Tapi saat mau belok ke ruangan yang dimaksud Kak Ranti, Dara malah bertemu Rian, cowok yang sempat mengisi relung hatinya. Namun kini Dara sudah mencoba menyingkirkan perasaannya, dan rasa cinta itu kini mulai tumbuh subur untuk Azlan.



"Ehh... tidak salah nih, ketemu bidadari disini?" kejut Rian seakan penasaran. Dia memandang Dara yang berbelok ke ruangan *Repairer*. Dara tersenyum sejenak membalas tatapan Rian.



"Disini Dar... silahkan kamu cek kembali PCB yang proses *jumper*, ini templetnya, sarung tangan dan kaca pembesar." Tunjuk Ranti seraya menunjukkan sebuah ruangan yang suhu udaranya terasa dingin.



Jam kerja mulai habis, Dara segera bersiap dan membereskan semua peralatannya. "Ayo Dar....!" Ajak Kak Rianti mengajak Dara keluar dari ruangan *Repairer*.

__ADS_1


"Besok masih lembur lho Dar, jadi sampai ketemu lagi disini ya," Dara hanya mengangguk membalas ucapan Kak Ranti.


Saat Dara tepat keluar dari mulut pintu, tiba-tiba Dara melihat bayangan Azlan bersama seorang perempuan. Dara terhenyak dan Dara tahu siapa perempuan itu, namun Dara melewatinya. Dia terus berjalan mengikuti Kak Ranti keluar ruangan produksi dan keluar pabrik.


__ADS_2