
Dara menoleh ke arah asal suara, namun seketika dia tersentak. "Bang Reno...." guman Dara pelan. Reno mendekat namun Dara sedikit demi sedikit menggeser tubuhnya. "Apa kabar Dara?" Reno bertanya dan menatap Dara yang mendadak pias.
"Kamu masih takut dengan aku? Okelah aku paham, tapi tidak selamanya aku jahat, kan?" lanjut Reno menebak ketakutan Dara. Dara menarik nafas pelan. "Dara tidak berpikir begitu, Dara... hanya terkejut bisa bertemu Abang," tanggap Dara. Reno tersenyum lalu memberi Dara jalan.
"Kamu dengan siapa pulang?" Langkah Dara terhenti. "Bersama Kak Vai?" jawab Dara. "Hujan masih sangat lebat, ini diperkirakan masih lama. Kamu bareng aku saja, aku dan Riki bawa mobil." Dara diam dengan penawaran Reno. "Abang duluan saja, Dara sama Kak Vai kok."
"Hujannya lama Dara, aku kasihan saja sama kamu. Kedinginan dan malam makin larut," ucap Reno seraya menoleh jam ditangannya. Dara nampak risau melihat jam semakin menanjak malam.
"Woyyyy... rupanya disini Lu Bang, mojok sama cewek nggak bilang-bilang." Riki tiba-tiba datang dan mengejutkan mereka berdua.
"Lah... kok, Dara...." Riki terkejut saat menyadari cewek yang bersama Reno adalah Dara. "Kak Riki....," seru Dara nampak lega. Kekakuan antara dirinya dengan Reno sedikit mencair saat kedatangan Riki yang tiba-tiba.
"Kalian sejak kapan disini? Jangan bilang kalian janjian ya? Gua tidak mau antara kalian ada yang menyalah artikan," ucap Riki cemas. "Kita tidak janjian, Gua mau ke toilet tapi melihat dia keluar toilet. Gua tegurlah," bantah Reno sedikit sewot.
"Elu ngapain kesini, bukannya tadi ambil mobil di parkiran?" tanya Reno heran. "Gua kebelet, masa mau pacaran di toilet," cebik Riki kesal.
"Kak Riki, Bang Reno, Dara kembali ke depan ya," pamit Dara saat melihat Riki dan Reno berdebat.
"Dara... kamu tidak mau bareng kita?" Reno berteriak menawarkan tumpangannya.
"Tidak Bang, terimakasih...." Dara berlari kecil meninggalkan Riki dan Reno, Reno nampak kecewa atas penolakan Dara.
Tiba di depan teras gedung, orang-orang masih berkerumun menunggu hujan sedikit mereda. Namun hujan belum juga reda, ada risau di hati Dara. Mungkin bagi Nela dan sebagian pengantin baru lainnya, malam ini berkah. Namun bagi Dara adalah musibah. "Ya Allah....," gumannya risau.
"Kamu dari mana Neng, aku cari kok ngilang? Aku sempat kaget tadi," ujar Rivai saat mendapati Dara sudah berada di teras gedung lagi. "Tadi Dara ke toilet Kak, kebelet. Mau pamit Kak Vai, kejauhan," alasannya tidak tenang.
__ADS_1
"Haduhhh... gimana ini, hujan masih belum reda. Mana kamu tidak pakai jaket lagi," keluh Rivai. "Ya Allah... reda dong hujannya," ucap Rivai memohon. Sementara Dara, badannya nampak mengigil, Rivai tidak tega melihatnya. Tapi apa mau dikata, dia juga tidak menggunakan jaket.
10 menit kemudian, hujan nampak sedikit reda. Rupanya Sang Pemberi Hujan mendengar doa Rivai. Keadaan ini tidak disia-siakan orang-orang yang sejak tadi menepi di teras gedung. Mereka berhamburan ke area parkir membawa motornya masing-masing.
"Ayo pasang helmnya, mungpung hujan mulai reda," titah Rivai seraya memasang helm dan jas ponco. Rivai lupa, tadi tidak menyiapkan dulu jas hujan setelan. Terpaksa dia harus berbagi ponco dengan Dara. Untung ponconya lebar sampai belakang.
"Ayokk... cepat naik Neng, awas roknya rapikan dulu jangan sampai menjuntai," peringat Riva. Motorpun perlahan meninggalkan halaman gedung. Dara memekk
Belum setengah perjalanan, tiba-tiba motor Rivai berhenti nanggung. Dara yang duduk di belakang sambil menahan rasa gigil merasa penasaran.
"Waduhhh... kok mogok," guman Rivai kaget. "Kok mogok sih Kak?" Dara nampak cemas dan panik. "Carburator kena air kayaknya... parah ni," keluhnya. Dara dan Rivai turun dari motor, lalu Rivai menepikan motornya dan mencari tempat yang teduh.
Lampu mobil tiba-tiba menyorot menuju motor Rivai yang menepi, dan berhenti tepat di belakangnya.
"Dara....!" panggil seseorang kepada Dara seraya membuka kaca mobilnya.
Dara langsung menoleh dan menatap ke arah orang tersebut.
__ADS_1
"Ikut aku, biar aku antar. Hujan kemungkinan turun lagi dan kamu sudah menggigil kedinginan," ucapnya menawarkan. Dara tidak menyahut dia masih memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Tidak lama dari itu orang yang ternyata Reno turun dari dalam mobil dan menghampiri Dara.
"Vai, ijinkan Gua antar Dara. Lihat, dia sudah menggigil kedinginan," ucap Reno cemas. Rivai nampak ragu, apalagi dia tahu sepak terjang Reno pada Dara. "Ayolah Vai, Lu harus percaya. Gua tidak sejahat yang Lu pikir. Gua khawatir dengan
Dara," desaknya
"Gua bukan tidak percaya, tapi Dara pergi sama Gua dan pulang juga harus sama Gua," cegah Rivai.
"Bodohnya Lu Vai, ini lihat Dara menggigil. Jangan-jangan dia juga masuk angin."
"Gua tahu, tapi mau gimana lagi, motor Gua mogok," jelas Rivai.
"Iya makanya dari itu, Dara harus Gua antar," desak Reno kesal. Rivai menatap Dara yang semakin menggigil, diapun tidak tega, namun dia masih takut jika melepas Dara bersama Reno.
"Alah... lama banget mikirnya, Gua bukan mau ngapa-ngapain Dara. Gua sudah tobat!" pekik Reno dongkol.
"Riki... buka pintunya," titah Reno. Dara yang melihat Reno bersiap menariknya, perlahan menjauh. "Ayolah Dara, kamu menggigil begini dan badan kamu sekarang terasa panas, jangan-jangan kamu demam," ujar Reno cemas.
"Aduh... gimana dong, gimana ya... ya sudah Ren, Gua percayakan Dara Elu antar. Tapi Gua mohon, antar dengan baik ya. Elu jangan hancurkan kepercayaan Gua," peringat Rivai khawatir.
__ADS_1
"Kelamaan... akan Gua buktikan Dara pulang dengan selamat tanpa cacat." Lalu dengan cepat Dara ditarik dan dipapah Reno menuju mobil. Dara dipaksa masuk. Mobilpun kemudian melaju meninggalkan Rivai yang menatap khawatir akan kepergian Dara dan mobil yang disupiri Riki.
"Ya Allah, semoga si Reno benar-benar sudah baik lagi," bisik Rivai memohon.