
Hari ini Ibu dan Bapak Dara akan pulang, bersamaan dengan itu Dara dan Azlanpun akan berangkat kerja. Dara dan Azlan berpamitan, sebab mereka lebih dulu pergi. Ibu dan Bapak Dara akan pulang sekitar jam 9 pagi.
"Kami berangkat kerja dulu ya Pak, Bu! Nanti pulangnya hati-hati ya," ucap Azlan seraya menyalami Ibu dan Bapak Dara. Dara merangkul Ibu dan Pak Malik, kerinduan masih jelas terlihat dari wajah.
"Baik-baik di sini ya Neng, jangan ada berantem dengan suami kamu, Ibu dan Bapak akan selalu merindukan kamu," ucap Bu Endah seraya memeluk Dara lalu mencium keningnya.
Dara melambaikan tangan kepada Ibu dan Bapaknya serta Mamak juga Sofia, saat motor yang dijalankan Azlan mulai menjauh dari komplek perumahan itu.
Tiba di depan pabrik 🆚, Dara turun dan berpamitan pada Azlan, sementara Azlan masih harus melajukan motornya kurang lebih 40 meter dari pabrik Dara bekerja.
Tiba di ruangan Teknisi, Azlan mendapat notice di dinding berita, saat dibaca rupanya itu sebuah notice dari pihak HRD. Tepat jam tujuh pagi, Azlan tidak menunda lama, lantas dia segera menjumpai HRD. Di sana Pak Soni sudah duduk di kursi kebesarannya. Azlan mengetuk pintu HRD, tanpa menunggu lama Pak Soni mempersilahkan masuk dan duduk.
.
Azlan duduk dengan gelisah, menunggu Pak Soni berbicara.
"Lan... selamat ya, kamu kami angkat sebagai Supervisor Teknisi. Posisi ini tidak lepas dari kerja keras dan keuletanmu selama ini," berita Pak Soni!
Azlan seketika terpana, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari Pak Soni. "Ini benaran Pak?" Tanya Azlan kaget.
"Ini benar Azlan, kamu diangkat menjadi Supervisor Teknisi," tandas Pak Soni sambil memberikan SKnya. Azlan meraih SK itu lalu dibuka dan dibacanya. Azlan seketika nampak bahagia.
"Dan mulai sekarang kamu bekerja hanya siang saja, dari pukul tujuh pagi sampai tujuh malam," urai Pak Soni yang membuat Azlan semakin diliputi bahagia.
Azlan keluar dari ruangan Pak Soni dengan membawa rasa bahagia. Dia kembali ke ruangan Teknisi yang sudah didapati Rian, Rivai dan Bang Tedy.
"Wah... yang sudah dari ruangan Pak Soni kelihatannya bahagia. Bisa traktir kita-kita dong," seloroh Bang Tedy seraya memandang Azlan penuh harap.
"Kalian bisa saja, Gua sekarang pindah dari ruangan ini Bang. Pak Soni sudah memberi SPnya, Gua minta maaf jika selama ini Gua banyak salah sama kalian selama bersama. Doakan Gua supaya Gua bisa menjalankan emban ini dengan baik dan benar. Dan kalian tetap teman-teman Gua, tidak berubah," tutur Azlan sedih. Walau bagaimanapun mereka tetap teman sehidup dan seperjuangannya selama menjadi Teknisi.
__ADS_1
Sebenarnya tidak ada yang berubah banyak dalam diri Azlan, dia masih mengawasi mesin SMT atau AI jika terjadi trouble. Dan sikap dia terhadap teman-temannya masih sama dan seperti biasanya.
...****************...
🆚 Industry
Dara tengah meminta tanda tangan untuk konfirmasi barang pada Jabar. Saat itu posisi keduanya begitu dekat. Jabar sengaja lama membubuhkan tanda tangan di kertas report Dara. Dia begitu menikmati kedekatan keduanya seperti ini. Harum tubuh Dara yang didominasi Minyak Kayu Kencana membuat Jabar senang menghirupnya.
"Abang... lama banget sih. Terus ini ngapain hirup-hirup begitu. Memangnya Dara bau ya?" protes Dara.
"Bukan bau, tapi wangi kamu menyegarkan. Abang yang tadinya mual karena belum sarapan. Setelah menghirup Minyak Kayu Kencana, mual Abang hilang," ucap Jabar jujur.
"Masa sih? Bukan Dara bau, kan? Sebab Dara tidak suka pakai parfum," ungkap Dara merasa mendadak tidak percaya diri.
"Bukan, kamu malah wangi menyegarky lho. Memangnya kenapa sih kamu tadi pakai Minyak Kayu Kencana?" Jabar penasaran.
"Dari sejak semalam Dara mual dan tiba-tiba pusing kepala, terus tadi pagi Dara balur lagi sama minyak itu. Supaya Dara tidak mual-mual lagi." Jabar mengerutkan kening mendengar penjelasan dari Dara.
"Apa... kamu mual-mual, jangan-jangan kamu lagi hamil ya?" Jabar terkejut. Namun Dara menggeleng.
"Dara tidak hamil, Dara cuma masuk angin," tegasnya seraya mengibaskan tangannya supaya Jabar menjauh karena Dara akan memasangkan part pada Feeder. Jabar nampak tersenyum gembira mendengar Dara mengatakan bukan hamil.
"Belum, dia belum mau hamil. Dia menunda sampai umur 30 tahun. Masih lima tahun lagi," sahut Jabar.
"Sama dong, Dara juga belum mau hamil," balas Dara.
"Sebetulnya alasan kalian kaum cewek menunda hamil itu kenapa? Apa tidak bahaya pakai pil KB terus?" tanya Jabar penasaran.
"Dara cuma belum siap dan masih muda, nanti kalau umur Dara sudah 25 tahun, Dara siap untuk hamil," ucap Dara.
"Coba... dulu kamu Abang nikahi lebih cepat, maka sekarang kamu bakal jadi bini Abang. Iya, kan?"
"Emang Abang dulu ada niatan nikahin Dara? melamar saja nggak."
"Abang keburu dijodohin sama Fina, Neng. Padahal Abang saat itu sudah mau mengungkapkan isi hati Abang sama kamu, tapi malah keburu nikah," papar Jabar mengenang saat dirinya begitu ingin mengungkapkan cintanya pada Dara.
"Abang gombal terus, pandai merayu," cibir Dara tidak suka.
"Benar, Abang tidak gombal. Sumpah...."
__ADS_1
"Nyatanya, kita bukan jodoh," celoteh Dara.
"Tapi, seumpama kita jodoh kamu senang tidak, Neng?" Dara mengernyit heran mendapat pertanyaan itu, lalu tersenyum seraya membayangkan sesuatu.
"Senang, tidak? Jawab dong sayang....?"
"Tebak saja sendiri." Jawaban Dara membuat Jabar menjadi teka-teki.
"Abang tahu, kamu pasti senang kan kalau kita jodoh?" Dara tetap tidak menjawab dia hanya memberikan senyuman misteri. Jabar membalas senyuman Dara itu dengan sebuah khayalan, bahwa kini dirinyalah suami Dara.
Mendekati jam pulang, Dara mengeluh tidak enak badan pada Nela. Dara merasa mual dan sakit kepala. Nela sedikit panik, namun dia berusaha membujuk Dara sebab jam pulang tinggal beberapa menit lagi.
Jabar yang melihat gelagat seperti itu, lantas dengan sigap menghampiri Dara. Saat jam tepat mengarah pada angka 3 sore, Jabar dengan inisiatif berniat mengantar Dara pulang. Untuk sementara mesin dia titip pada Anton Teknisi mesin 9.
"Vit, aku antar Dara pulang dulu ya. Sebentar kok," pamit Jabar pada Kak Vita. Kak Vita mengangguk. Mendapat persetujuan dari Kak Vita Jabar segera membawa Dara dan mengantarkan Dara ke rumahnya. Sepanjang jalan Jabar menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi pada Dara. Dia hanya berdoa wanita yang dicintainya ini baik-baik saja.
"Abang, terimakasih ya!" ucap Dara sambil melambaikan tangan pada Jabar yang kembali lagi ke pabrik. Saat itu Dara disambut Mamak dan Sofia dengan agak heran. Soalnya tidak biasanya Dara pulang diantar orang lain.
"Ayuk, kok Ayuk tadi diantar orang. Apa Ayuk sakit?" Sofia panik lalu membawa Dara ke dalam dan mendudukkannya di kursi.
"Dara tadi tiba-tiba mual dan sakit kepala," ucap Dara lemas. Sofia menyernyit heran.
Sofia dengan cepat meraba urat nadi pergelangan tangan Dara lalu meraba perut Dara dari dalam baju kerja Dara yang belum diganti. Sofia meminta ijin dulu pada Dara untuk meraba perutnya. Saat tangan Sofia meraba perut Dara, raut mukanya mendadak tersenyum bahagia. Entah apa yang Sofia temukan atau rasakan.
Saat Azlan pulang, sekitar jam 8 malam Azlan membawa Dara ke bidan terdekat. Atas saran Sofia untuk memastikan keadaan Dara yang sebenarnya. Ada berita yang cukup terharu dan membahagiakan Azlan setelah Dara selesai diperiksa.
"Sayang... kamu ternyata hamil....!" Azlan berteriak pada Dara saking bahagianya.
"Apa... Dara hamil....?" Dara terhenyak tidak percaya.
"Tidakkk... Dara belum siap hamil," pekik Dara seraya menangis.
__ADS_1