Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sama-sama Menyimpan Rasa Cemburu


__ADS_3

Jam 16.00 tiba, Azlan sudah menunggu Dara di depan pos Sekuriti. Jujur hatinya sangat senang. Sebab dua minggu kedepan dirinya bakal bersama-sama terus dengan Dara. Kebetulan pabriknya menjalin kerjasama dengan pabrik VS Industry tempat Dara bekerja. Dan kebetulan barang dari pabriknya diproses di mesin Dara. Saat ada rijek, otomatis orang VS harus datang ke pabriknya untuk memperbaikinya. Tapi kali ini bukan *Repairer* yang datang, tapi malah Operatornya.



Sebetulnya *rijek* yang dialami PCB itu adalah ada pada proses AI, namun entah kenapa malah orang SMT yang dikirim ke pabrik Hyundy, kan tidak nyambung. Ini jelas seolah keberuntungan dan kebetulan bagi Azlan. Ketiban durian runtuh namanya. Berarti qualitas Dara di pabriknya sangat diandalkan, Operator iya, Repairer Ok, AI sipp. Jadi istri apalagi, jutek-jutek menggairahkan.



"Adek... !" Azlan menyambut Dara dengan gembira dia tersenyum bahagia. "Makasih Pak....!" ucap Azlan pada Sekuriti yang mengantar Dara.


"Abang kok ada disini?" tanya Dara heran.


"Kan menjemput bidadari....!" sahutnya menggoda.


"Ihhh... gombal..., tapi kenapa harus dijemput segala? Dara tinggal masuk saja ke ruangan repair, kan?"


"Abang pengen saja jemput Adek, emangnya tidak boleh ya?"


"Bukan gitu, tapi kayaknya tidak enak saja dilihat. Kita seperti mau pacaran saja, nanti malah banyak yang cemburu. Terutama QC Mira," cetus Dara, seraya mendekatkan bibirnya dekat telinga Azlan saat menyebut nama QC Mira.


"Biar sajalah cemburu, biar dia berhenti ngudag-ngudag (ngejar-ngejar) Abang."


"Ohh... jadi QC Mira masih ngejar-ngejar Abang?"


"Nggak juga sih, cuma masih cari perhatian saja dari Abang!" Dara tidak membalas lagi, dengan cepat dia berjalan meninggalkan Azlan dan segera menuju ke ruangan Repairer.


Azlan mengikuti Dara, dia merasa ada yang tidak beres dengan sikap Dara.


"Haduhhh... kayaknya Gua salah bicara tadi," batinnya risau.


Azlan kini kembali ke mesinnya, mesin yang dia pegang adalah mesin 8 yang tidak mungkin dilewati orang yang mau pulang atau ke kamar mandi.


__ADS_1


"Lan... kenapa Lu kayaknya gelisah saja?" Sapa Rivai yang mesinnya bersebelahan dengan Azlan.


"Tidak ada....!" sahut Azlan bohong.


"Padahal bininya ada di ruang Repairer, kenapa bisa gelisah?"


"Mau tahu aja Lu....!"


"Tahu rasa lu Lan, kalau Dara sering kesini bisa jadi banyak yang naksir, apalagi Oppa-oppa Korea itu masih bersliweran jam segini, matanya bakal terbelalak melihat Dara," ujar Rivai mengompori.


"Omong kosong Lu Vai, jangan bikin Gua terbakar! Lagipula, mana ada Oppa Korea suka cewek berkerudung kayak Dara," sentak Azlan kesal.


"Eits... jangan salah Lan, sudah banyak Oppa Korea yang suka cewek berkerudung, kalau tidak percaya ya sudahlah. Gua mah cuma bilang fakta."


Azlan termenung sejenak memikirkan ucapan Rivai barusan. Ucapan Rivai ada benarnya, dia jadi tidak tenang. Apalagi baru saja tadi Dara terlihat tidak senang saat dirinya membahas nama QC Mira. Daripada bingung, lantas Azlan iseng menuju ruang Repairer. Dia sengaja ingin mengintip Dara dan menghampirinya.



Tiba di pintu Repairer, Azlan mengintip langsung ke dalam lewat kaca tembus pandang, alangkah terkejutnya Azlan saat melihat Dara ditemani Rian.


"Awas saja Lu, kalau sampai melakukan pelecehan terhadap bini Gua. Hilang pertemanan kita," gumannya lagi mengancam.


"Yan... ngapain Lu disini?" sentak Azlan heran. "Gua pikir Lu di ruang Teknisi, tahunya disini. Mau gangguin bini orang ya?" Dara dan Rian tersentak kaget, terutama Rian. Rian langsung berdiri seraya masih menyimpan keterkejutannya.


"Gua tidak ngapa-ngapain, cuma nemenin Dara saja. Yaa... sambil nyelam minum air gitu!" jawab Rian cengengesan tidak ada sama sekali ide untuk berbohong.


"Gila Lu ya, Gua lakinya. Jangan curi-curi kesempatan. Lu juga punya bini di rumah, ngapain masih jelalatan sama bini orang?" kali ini Azlan terlihat sedikit emosi.


"Ya sorry Lan, Gua cuma kangen saja pengen lihat bidadari. Ya sudah deh Gua pergi dulu. Emang Elu tidak pergi juga, mesin Elu bunyi tuh!" Rian pergi dengan rasa kecewa. Tadinya hanya ingin menemani Dara saat mesinnya Ok, ehhh Azlan malah nyamperin.


"Kenapa Abang kesini?" pertanyaan Dara malah membuat Azlan tercubit dan emosi. "Tadi saat Rian datang kesini, Adek bertanya yang sama, tidak?"


"Iya....!" sahut Dara pendek.

__ADS_1


"Rian tidak ngapa-ngapain kamu kan, Dek?"


"Ya nggaklah, dia cuma melihat Dara dan bantuin Dara," jawab Dara sedikit ketus.


"Kenapa... Abang cemburu sama Kak Rian?" sambung Dara.


"Iya dong Abang cemburu sama Rian, soalnya Rian masih suka ganjenin kamu!"


"Abang kan sudah tahu kayak gimana Kak Rian, jadi tidak usah cemburu. Dia keganjenan juga tidak mungkin bisa dapatin Dara,"


"Oh ya sudah, kalau dia mau ganjenin kamu terusin aja, Abang tidak boleh marah gitu ya?" ucapan Azlan sedikit meninggi.


"Maksud Dara, Abang tidak perlu menanggapi dengan serius sikap Kak Rian, toh Dara sudah tidak ada rasa lagi sama dia."


"Pintar banget Adek bicara seperti itu. Abang jalan berdekatan saja dengan Mira, Adek cemburu. Dan sekarang Abang melihat Rian dekatin Adek, Abang harus anggap biasa. Jelas-jelas Rian sengaja mau ganjenin kamu. Walaupun Mira dari dulu suka sama Abang, tapi hati Abang belum pernah diberikan pada dia," ucap Azlan sambil berlalu.


"Abang....!" teriak Dara. Azlan makin jauh, dan Dara tidak mungkin memanggilnya lagi, apalagi ini di kantornya orang. Dara merasa Azlan salah paham atas ucapan Dara tadi mengenai Rian.


Dara menjadi serba salah, dia menyadari ucapannya tadi sedikit menyinggung perasaan Azlan. Dan kini Azlan pergi dengan wajah yang sedikit kesal.



Jam tujuh malam, Azlan sudah berada di depan pintu Repairer. Dia sengaja menunggu Dara. Walau Azlan sedikit dongkol dengan sikap Dara tadi, tapi dia tidak mau membiarkan dia jalan sendiri keluar pabrik ini.


"Ayo.....!" ajaknya saat Dara mulai keluar. Pada saat itu ada beberapa teman Azlan yang melihat, ada juga beberapa temannya yang sudah tahu hubungan Azlan dengan Dara. Azlan berjalan menyamai langkah Dara, dia tidak mau meninggalkan Dara.


Di parkiran, Azlan bertemu Rivai dan Rian. Azlan hanya tersenyum tanpa menegur. Lalu dengan cepat dia menyalakan mesin motornya, sejenak berhenti saat Dara menaiki motornya.



Di tengah jalan saat Azlan mendapati tukang Es Boba keliling, Azlan menghentikan sejenak motornya, lalu membeli satu cup Es Boba buat Dara. Lalu motor kembali melaju menuju kontrakannya.


__ADS_1


Dara yang sejak tadi mengamati sikap Azlan yang tidak banyak bicara, sedikitnya paham kenapa Azlan begitu. Dia tahu Azlan kesal padanya, jadi lebih baik Azlan dibiarkan saja dulu. Toh nanti juga Azlan akan luluh sendiri.


__ADS_2