Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Ketemu Jabar, Kekhawatiran Azlan


__ADS_3

Kehamilan Dara kini sudah memasuki usia dua bulan. Dara merasa senang sebab kehamilannya tidak mengalami morning sickness yang parah. Mengalami mual tapi tidak terus-terusan.



Sejak keluar dari pekerjaan, Dara hanya duduk diam di rumah. Banyak baca buku dan nonton vidio tentang tutorial memasak dan make up sampai bosan. Sampai-sampai cara make up sudah benar-benar Dara kuasai. Kadang-kadang dia praktekan di rumah saat Azlan bekerja, dan hasilnya benar-benar bagus. Sejak itu dia sering memandang cermin dan berdandan.



Jam 6 sore tiba, kumandang Adzan diperdengarkan. Setelah sholat Magrib Dara tiba-tiba ingin makan Ayam penyet. Menunggu Azlan rasanya lama. Dara berinisiatif untuk mencari sendiri. Dia tahu ayam penyet di ujung jalan itu enak banget, sampai pada ngantri.



Dara memakai hoody warna sagenya dan rok plisket warna hitam dengan kerudung segi empat warna hijau sage senada dengan hoody yang dipakai. Tidak lupa dipoles bedak tipis dan lipstik warna marun. Bibir Dara jadi terang dan sangat mempesona siapapun yang melihat. Entah kenapa, di kehamilan Dara yang ini dia ingin selalu berdandan dan tampil cantik, padahal dasarnya Dara memang cantik.



Jendelapun ditutup rapat lalu pintu dikunci. Dara berjalan melewati jalanan perumahan yang masih ramai. Tiba di portal, Dara bertegur sapa sejenak dengan Pak Sekuriti perumahan.



"Neng, pergi kemana?"


"Ke warung ujung jalan sana Pak Dev, saya mau cari ayam penyet. Pergi dulu ya!" pamit Dara sembari tersenyum.


"Hati-hati Neng....!" ucap Pan Devan tulus. Dara membalas dengan senyuman. Kadang Dara suka tersenyum sendiri dengan nama Pak Sekuriti di perumahan ini, nama mereka keren-keren. Contohnya Pak Sekuriti yang barusan saja namanya Devan Alehandro. Belum lagi yang shift siang namanya tak kalah keren yaitu Pak Aldiano Regruzo. Dara sering tersenyum sebab ingat dengan nama-nama Telenovela kesukaan Mamaknya Azlan. Kalau nama Devan, Dara sering menemukan di Novel yang dia baca. Dan kerennya lagi kedua Sekuriti itu tampangnya kece-kece tidak kalah dengan pemain sinetron kita. Untungnya sudah pada berumur, kalau tidak bisa-bisa Azlan punya banyak saingan.


Dara makin jauh meninggalkan portal perumahan. Langkah kakinya melangkah sedang, tidak pelan atau cepat. Dara sengaja tidak memberitahu Azlan akan pergi keluar cari makan. Hapenya juga dia tinggal, toh cuma sebentar ini. Dara pikir, dia akan pulang ke rumah sebelum Azlan pulang kerja.



Tiba di ujung jalan, Dara sudah mendapati para pembeli yang ngantri. Dara ikut antrian dan berdiri dibelakang seseorang. Saat ini Dara berada di antrian kelima. Satu orang saja bisa menghabiskan waktu lima sampai sepuluh menit, bagaimana dia yang masih lima.



"Neng....!" kejut seseorang seraya mencolek pinggang Dara, Dara tersentak dan sontak menatap pada orang yang menyapanya tadi.


"Abang....!" seru Dara sumringah sambil menatap cowok ganteng yang tadi mencoleknya.


"Ngantri juga?" Dara mengangguk.


"Sudah, kamu duduk saja! Nanti Abang pesankan pesanannya. Pesan apa?" Rupanya Dara bertemu dengan mantan Teknisi di pabrik tempatnya dulu bekerja sebelum resign.


"Dara pesan ayam penyet dua, dimakan disini satu sama dibungkus satu, minumnya Teh Jeruk hangat," ucap Dara. Jabar mengangguk paham, lalu tangannya meraih pundak Dara dan mengarahkan Dara supaya duduk di meja yang masih kosong.

__ADS_1


Dara menatap Jabar dari jarak 4 meter. Dimatanya makin tampan saja cowok itu, kulitnya putih bersih dan senyumnya memang mempesona. Lantas, kenapa Mbak Fina tega ingin berpisah dari cowok tampan ini?



"Melamun ya... ? Ayo, pesanannya sudah dagang nih, jangan dianggurin." Jabar mengejutkan Dara yang pikirannya tadi melanglangbuana kemana-mana.


"Abang, mengagetkan saja," protesnya seraya memukul kecil lengan Jabar.


"Ayo dimakan....!"


"Ini juga mau dimakan," sahut Dara sambil mulai menyuapkan ayam penyet pesanannya. Jabar juga mulai menyuap pesanannya.


"Kehamilannya aman....?"


"Aman....!"


"Kenapa datangnya sendirian, harusnya tunggu abangmu pulang."


"Dara sudah tidak sabar ingin makan ayam penyet, jadi Dara pergi sendiri deh. Lagian ini bawaan bayi, pengen cepat-cepat makan," alasan Dara sambil menyuap.


"Kamu makin cantik saja Neng saat hamil ini," puji Jabar sambil menatap Dara lalu tersenyum. Dara salah tingkah dibuatnya.



"Hubungan Abang sama Mbak Fina gimana?" tanya Dara mengalihkan fokus Jabar.


"Serius....?"


"Kapan sih Abang tidak serius?"


"Abang tidak sedih?" tanya Dara sambil menyeruput Teh Jeruk hangatnya.


"Mau bagaimana lagi. Sedih saja tidak guna. Ya sudah... kalau Fina sudah tidak cinta lagi, buat apa ditangisi? Masih ada Dara, Dara yang lain yang menunggu Abang."


"Ihhh... kok Dara... bukankah yang mau diceraikan Mbak Fina?" protes Dara.


"Abang maunya Dara, sebab Dara yang Abang kenal adalah cewek yang pantang diajak berselingkuh."


"Gombal....!" ejek Dara sambil meleletkan lidahnya.


"Udah yuk, Dara sudah kenyang," ajak Dara sambil berdiri dan hendak membayar pesanannya.


"Udah Abang bayar semua cantik... sama yang dibungkus."

__ADS_1


"Ihhh... kok gitu? Ya udah deh, makasih ya. Dara pulang ya," ucapnya seraya melangkahkan kaki.


"Nanti dulu, biar Abang antar sampai rumah. Ini sudah jam setengah delapan, tidak baik malam-malam sendirian.


Akhirnya Dara mau diantar Jabar sampai rumah. Setelah melewati portal, dari jarak 50 meter, Jabar sudah terlihat di depan pintu rumahnya, berdiri resah menunggu Dara. Nampaknya Azlan baru beberapa menit pulang kerja.



"Terimakasih ya Bang!" ucap Dara saat turun dari motor Jabar.


"Lan, baru balik? Tadi Gua tidak sengaja ketemu sama bini Lu di ayam penyet ujung jalan. Baliknya sengaja Gua antar, habisnya Gua khawatir lihat Dara jalan sendirian." Azlan menatap Jabar sambil tersenyum.


"Makasih ya Bang, sudah antar bini Gua pulang," ucap Azlan berterimakasih.


"Gua pulang ya. Neng... Abang pulang ya!" pamit Jabar pada Azlan dan Dara. Jabarpun melajukan motornya berbalik arah.


Dara masuk ke dalam rumah disusul Azlan.


"Abang... Dara bawain ayam penyet buat Abang," ucap Dara sambil meletakkan kantong kresek berwarna hitam di meja.


"Abang tidak lapar, Abang sudah kenyang," jawab Azlan datar.


"Memangnya Abang makan di mana?"


"Kenyang melihat Adek diantar pulang orang lain," sahut Azlan nampak kesal.


"Kenapa Adek makan diluar tidak menunggu Abang saja, Adek kan lagi hamil muda, Abang khawatir dengan keadaan Adek," sambung Azlan datar, meskipun datar namun kesalnya terasa.



"Dara minta maaf, tadi Dara sudah tidak kuat ingin cepat-cepat makan ayam penyet. Jadi Dara pergi saja memberanikan diri," ucap Dara.


"Kenapa tidak WA Abang atau minimal bawa HP biar Abang bisa hubungi Adek?" cecar Azlan lagi.


"Tadi Dara pikir, Dara akan pulang sebelum Abang pulang kerja." Dara menunduk merasa bersalah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pulangnya jadi telat karena bertemu Jabar, kan?"


"Dara tidak sengaja bertemu, Abang....!" Dara mencoba menjelaskan.


"Adek tahu kan Abang khawatir dengan keadaan Adek, lain kali jangan begitu dong. Hargai Abang dulu, kalau mau pergi bilang jangan pergi seenaknya," ucap Azlan meninggi.


Dara menatap Azlan tanpa berkata-kata, lalu memasuki kamarnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bruggg....!" suara pintu ditutup dengan keras. Azlan tersentak lalu menggelengkan kepalanya.


"Marah lagi deh... alamat nggak diberi jatah malam ini!" ucap Azlan nelangsa.


__ADS_2