Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Kesepakatan


__ADS_3

"Mamak dari sana jam berapa, Mak?" Tanya Dara menyembunyikan kegalauan yang belum hilang.


"Jam 4 subuh. Kami hampir saja ditinggal pesawat. Gara-gara adikmu yang tertinggal HP di kamar mandi. Nasib baik HPnya masih ada di sana." Cerita Mamak sedikit menggerutu.


"Ya ampun Sofi... makanya kalau ke kamar mandi, jangan bergaya ngambil foto. Jadinya kena tulah kan?"


"Ihhhh... siapa pula yang ambil foto, Sofi cuma lupa ambil saat Sofi sudah beres berdandan. HP itu Sofi letak di atas wastafel, tapi lupa ambil." Sanggahnya sedikit manyun.


"Makanya banyak ngucap Sof, biar tidak cepat pikun, hahaha....!" Ejek Dara diakhiri tawa, sekilas Dara tidak terlihat seperti sedih dan galau saat tertawa seperti ini.


...----------------...


Setengah jam kemudian saat Dara, Sofia dan Mamak sedang asik berbincang di ruang tunggu pasien, tiba-tiba ada beberapa orang menuju ruang rawat Azlan. Dua orang diantaranya memakai seragam Polisi. Sebelumnya, salah seorang dari mereka menghadap ke ruang Perawat, mungkin meminta ijin untuk menemui Azlan. Seorang Perawat menghampiri dan ikut mendampingi, serta mengikuti salah seorang Polisi menuju ruang rawat Azlan.


"Silahkan, Pak! Kondisi pasien makin membaik dan bisa dimintai pertanyaan, kepada keluarga pasien mohon mendampingi!" Ujar Perawat tesebut. Rivai dan Rian menepi, memberi ruang pada pihak kepolisian untuk berkomunikasi dengan Azlan. Serentak Dara, Sofi dan Mamak menghampiri.



Salah seorang Polisi yang mengaku masih saudaranya Reno angkat bicara.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan rasa penyesalan kami atas perbuatan keponakan kami, kami disini ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya terhadap keluarga pasien, terutama pasien. Atas kejadian pengeroyokan yang menimpa saudara Azlan, yang diakibatkan oleh keponakan kami, yaitu saudara Reno. Kami disini ingin menawarkan jalan damai. Tapi seperti yang Saya ungkapkan diawal, tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa penyesalan kami, kami ingin mengajukan damai. Sekiranya pihak keluarga pasien setuju dan tidak keberatan maka seluruh pengobatan dan biaya RS lainnya berupa terapi dan makan para penunggu pasien akan kami tanggung." Terang salah seorang Polisi begitu berwibawa.


"Disini kami jelaskan, kami bukan bermaksud menyogok atau membeli hukum dengan sebuah timbal balik, tapi sebagai tawaran yang bisa saja disetujui atau tidak disetujui pihak keluarga pasien. Maka kami selaku keluarga akan menerima keputusan pihak keluarga pasien!" Sambung Polisi yang mengaku sebagai Pamannya Reno.


Sementara Dara dan Mamak serta Sofia saling pandang. Mereka bingung untuk memutuskan. Semua ini bergantung pada Azlan.


Dalam hati Dara sebetulnya sudah gemas sama Reno, dia inginnya Reno dipenjara saja biar jera.



"Boleh saya berpendapat Pak?" tanya Dara tiba-tiba.

__ADS_1


"Oh... silahkan. Anda dengan siapanya pasien?" sahut Pak Bahtiar ramah namun tetap penuh wibawa, beliau salah satu Polisi yang mengaku sebagai Pamannya Reno. Semua mata menuju Dara, termasuk Azlan.


"Maaf, nama saya Dara. Disini saya sebagai istri dari pasien. Kalau boleh jujur, saya ingin saudara Reno masuk penjara. Dan kejadian tidak menyenangkan ini bukan pengeroyokan saja, saudara Reno juga sebelumnya pernah melakukan pelecehan terhadap saya di pabrik tempat kami bekerja." Akunya tegas. Semua mata menatap Dara, Rivai dan Rian menatap tidak percaya.



"Pelecehan? Kalau boleh tahu, pelecehan berupa apa yang dilakukan saudara Reno? Tapi kenapa tidak ada laporan? Dan adakah bukti untuk pelecehan ini?" Tanya Pak Bahtiar penasaran.


Dara diam, seperti enggan mengungkapkan. Ada rasa malu yang menggelayuti dadanya.


"Bisa katakan empat mata saja dengan saya jika saudari Dara malu mengatakannya!" Pak Bahtiar seakan tahu apa yang dirasakan Dara, namun Dara menggeleng.



"Saudara Reno saat itu merangkul saya dan ingin mencium bibir saya, karena saya berusaha berontak, ciumannya berhasil mengenai pipi saya. Dan saya sangat marah saat itu. Dan sayangnya tidak ada bukti yang bisa menyeret dia, keadaan sangat sepi, semua teman-teman sibuk di mesin masing-masing. Sementara CCTV tidak mengarah ke arah meja Operator." Ungkap Dara mengingat kembali kejadian naas saat itu, sehingga air matanya tiba-tiba menetes. Dengan sigap Sofia merangkul bahu Dara mencoba menenangkan.




"Kami sangat menyesal atas perbuatan keponakan kami, besar harapan kami terutama pada korban yaitu Saudara Azlan berbesar hati mau memaafkan dan bersetuju dengan cara damai. Kami menyerahkan keputusan pada pihak korban dan keluarga sepenuhnya. Kami beri kesempatan pada pihak keluarga korban untuk berembuk memutuskan semua ini." Pungkas Pak Bahtiar sembari memberi kode pada para bawahannya untuk keluar dari ruang rawat Azlan, memberi ruang pada pihak Azlan untuk berunding.



Sepeninggalnya pihak kepolisian atau salah satu kerabat Reno, Mamak mendekati Azlan. Dara, Sofia serta Rivai dan Rianpun ikut mendekat.


"Lan, menurut Kau ini bagaimana? Mamak berdebar-debar kalau harus bersangkutan dengan masalah hukum walaupun kita pihak yang dirugikan. Mamak tidak sanggup berurusan dengan pihak kepolisian." Ucap Mamak bergetar. Yang namanya orang tua pasti merasakan hal yang sama seperti Mamak, namun disisi lain ada hal yang dikhawatirkan Mamak, tapi entah apa itu.


Wajah Mamak gusar dan nampak sedih.


"Ini keputusan sepenuhnya di Kau, Lan. Hati Mamak ingin memenjarakan anak itu, namun sisi lain hati Mamak akan banyak orang yang akan terlibat, jadi saksi contohnya." Pungkas Mamak sedih.

__ADS_1


"Elu putuskan Lan. Kalau Elu mau damai pastikan si Reno tidak membahayakan Elu dan Dara ataupun keluarga Elu. Pastikan itu jadi jaminan untuk keselamatan Elu sekeluarga kedepannya." Saran Rivai.


"Gua setuju apa yang dikatakan Rivai. Jalan damai Ok saja jika mereka bisa menjamin keselamatan Elu dan bini Elu." Rian menimpali.


Azlan nampak berpikir. Wajahnya diliputi bingung. Sekilas dia menatap wajah Dara yang menunduk dan sembab. Hatinya kini bercabang. Tapi dia harus memutuskan.


"Gua akan ambil jalan damai saja Bro." Ucap Azlan menatap kedua sohibnya.


"Gua bukan tidak marah dan kecewa, namun kalau ini diperpanjang, betul kata Mamak akan banyak orang lain yang terlibat. Contohnya Nela, dia pasti akan jadi saksi dan bolak balik ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Gua kasihan, kalau dia jadi saksi akan rugi waktu dan tenaga. Gua tidak mau merepotkan orang lain lebih jauh." Putus Azlan setelah berpikir keras.


"Elu serius Lan? Sudah dipikir matang-matang?"


"Sudah I, Gua sudah berpikir. Anggap saja ini ujian buat Gua. Urusan dengan kepolisian ribet Bro. Gua juga punya tanggungjawab yang harus dihidupi. Kalau Gua bolak balik kantor polisi, Gua takutnya dikeluarkan dari pabrik saking seringnya minta ijin." Pungkas Azlan.


Ucapan Azlan barusan ada yang mencubit ulu hati Dara. Gimana tidak, yang disebut tanggungjawab oleh Azlan disini adalah dirinya. Tapi kenapa dia sedikitpun tidak pernah mau terbuka tentang masalah apapun pada Azlan termasuk pelecehan terhadap dirinya. Pengorbanan Azlan bagi Dara begitu besar, dia rela menderita demi Dara.


"Kalau keputusan Kau sudah matang dan bulat, maka ambillah keputusan itu. Mamak hanya berharap itu terbaik buat kalian. Buat hubungan rumah tangga kalian." Tandas Mamak menatap Azlan. Azlan menghela nafasnya dalam. Mungkin ini keputusan terbaik yang diambilnya.



Akhirnya, Azlan dan pihak Kepolisian yang diwakili Pamannya Reno bersepakat untuk jalan damai. Mereka membuat perjanjian hitam diatas putih atas kesepakatan itu. Dan pihak Azlan meminta jaminan keselamatan untuk dirinya dan keluarga serta teman-teman dekatnya, jika suatu saat Reno ataupun anak buah Reno beraksi kembali.



Pihak Reno dan pihak Kepolisian akan memberi jaminan sepenuhnya, kesepakatan hitam diatas putih yang ditanda tangani kedua belah pihak itu menghasilkan dua poin penting yang disepakati, yaitu jalan damai dan jaminan keselamatan bagi korban serta keluarga korban. Termasuk biaya RS dan biaya terapi ditanggung pihak keluarga Reno.



Dan ada yang mengejutkan, pihak keluarga Reno akan memberikan ganti rugi atas pekerjaan Azlan yang ditinggal karena harus dirawat. Azlan dan keluarga menyetujui karena bagaimanapun dirinya mengalami kerugian fisik yang belum tentu sembuh dalam waktu sebulan.


__ADS_1


Kesepakatan didapat, akhirnya semua berdamai. Pihak Reno merangkul Azlan dan menyalami Azlan sambil berkata sepatah Dua patah kata sebelum berpamitan dari RS.


__ADS_2