
Azlan segera membawa masuk motornya ke dalam setelah tadi sempat dibersihkan dari debu dan kotoran.
Sementara Dara langsung menuju kamar mandi membersihkan diri. Atmosfernya kini terasa dingin di ruangan petak yang dihuni dua orang manusia berbeda jenis ini.
Azlan meletakkan Es Boba diatas lemari plastik, lalu ia segera ke dapur melihat apa yang bisa dimakan atau di masak malam ini untuk berdua. Ada telur, mie dan Ikan Cumi Asin. Kalau Dara tidak lembur sampai jam 7 malam, bisa jadi bahan makanan itu sudah Dara olah menjadi masakan jadi.
Azlan hanya ada ide membuat nasi goreng buat makan malam kali ini. Tadi saat pulang kerja, karena suasana hati keduanya lagi dilanda perang dingin, Azlan tidak bersemangat untuk belanja lauk nasi untuk makan malam ini. Akhirnya, dia kepikiran membuat nasi goreng Ikan Cumi Asin.
Beruntung di dapurnya selalu tersedia bawang putih dan bawang merah, kecap dan saos sambal. Jadi bikin nasi goreng terasa gampang banget kalau bumbunya sudah ada.
Azlan menggoreng nasi goreng diiringi musik kasar dari kamar mandi, suara gebras gebrus guyuran air yang disiram pakai gayung ke tubuh Dara menjadi instrumental pengiring. Ditambah dentingan wajan dan spatula stainless yang saling beradu, menambah berisiknya suasana. Harum bawang merahpun menguar di udara, sampai tercium oleh Dara.
Finish juga akhirnya nasi goreng olahan Azlan, bersamaan dengan bunyi pintu kamar mandi yang terbuka. Dara menyudahi mandinya, tubuhnya basah ditutupi handuk dari dada sampai lutut. Mata keduanya bertemu, namun satu sama lain tidak berbalas senyuman. Keduanya terlihat kompak.
"Kalau sudah sholat, Adek makan saja dulu. Hari ini Abang tidak beli lauk nasi. Abang bikin nasi goreng Ikan Cumi Asin ditambah ceplok telor, Es Bobanya di atas lemari," intruksinya sambil ngeloyor meraih handuk yang tergantung di paku, lalu ke kamar mandi. Dara diam tidak menyahut, hatinya seakan sedih dengan sikap Azlan. Biasanya Azlan selalu berusaha menggodanya bahkan saat Dara sedang marah, tapi kini Azlan dingin.
Azlan segera membersihkan diri, tubuhnya benar-benar sudah gerah dan lelah. Rasanya ingin segera menyantap nasi goreng buatannya lalu tidur. Kekesalannya pada Dara rupanya membuat dia merasa lelah, bahkan untuk sekedar menggoda Dara supaya suasana kembali hangat, malam ini dia tidak sanggup. Azlan benar-benar lelah dan ngantuk.
__ADS_1
Azlan mengakhiri mandinya dan segera berpakaian lalu melaksanakan kewajibannya. Saat dia ke dapur ingin menyantap nasi goreng buatannya tadi, Azlan merasa heran sebab nasi goreng itu belum berkurang porsinya. Kayaknya Dara belum makan. Azlan berinisiatif membawakan nasi goreng untuk Dara. Bagaimanapun Azlan tidak ingin Dara menjadi kelaparan akibat perang dingin keduanya.
"Adek makanlah dulu... jangan membiarkan perut kosong karena rasa kesal," ucap Azlan sembari menyodorkan sepiring nasi goreng buatannya serta Es Boba yang tadi dibelikannya. Azlanpun berlalu, dia makan di ruang tengah yang hanya disekat oleh dua lemari plastik.
Dara menatap nasi goreng Ikan Cumi Asin yang diatasnya bertoping telur ceplok, irisan tomat dan timun buatan Azlan itu dengan sedih, air mata mulai menggenang. Azlan saat marah saja masih mengkhawatirkan dirinya. Namun yang membuat dia sedih lagi, sikap Azlan yang tidak hangat, tidak ada lagi rayuan Azlan untuknya supaya Dara tergoda dan kembali hangat.
Karena lapar, walau dengan perasaan sedih Dara terpaksa makan nasi goreng itu dengan pelan tapi akhirnya tandas juga. Nasi goreng buatan Azlan, Dara akui sangat enak. Beda dengan nasi goreng buatan warung tenda yang pernah dia beli. Ini lebih enak dan rasanya pas. Azlan memang cowok serba bisa.
Bunyi sendok yang beradu di ruang tengah, sejak tadi sudah tidak terdengar lagi. Dara berharap Azlan menyusulnya ke kamar, lalu memeluknya dan tidur. Namun sampai jam 10 malam dia menunggu, Azlan tidak muncul juga. Hanya suara TV yang masih terdengar dan harum kopi yang masih menguar, agaknya Azlan masih belum lama membuat kopinya.
Dara berdebar menantikan Azlan yang akan segera menuju ke kamar. Namun harapannya sia-sia, Azlan yang ditunggunya tidak kunjung datang. Hati Dara semakin sedih, dia menangis dalam balutan selimut.
"Abang tega banget mendiamkan Dara seperti ini," bisik hati Dara kecewa. Sementara itu, Azlan sudah tertidur sangat pulas. Suara deru nafas yang dibarengi bunyi dengkuran bersahutan silih berganti, menandakan betapa Azlan sangat kelelahan.
Jam dua belas malam, Dara masih belum bisa memejamkan mata. Dia menangis dalam diam, kadang isak tangisnya terdengar. Dara masih tidak enak hati dibiarkan Azlan begini, biasanya Azlan yang merayunya supaya kembali hangat. Tapi kini... hatinya kecewa atas sikap diam Azlan.
Tiba-tiba Azlan terbangun, Dara yang menyadarinya sontak merapikan dirinya kembali dalam posisi tidur menyamping. Azlan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Dara menahan isaknya supaya tidak terdengar.
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi mulai terdengar dibuka, Azlan menyudahi buang air kecilnya. Lalu kembali menuju ruang tengah. Azlan beberapa saat mematung diri melihat situasi yang berbeda dari biasanya. Dia dan Dara tidur terpisah, ada rasa sedih dihatinya. Karena rasa cemburu keduanya, kini mereka lebih memilih egonya masing-masing. Tidak ada dari salah satunya yang mencoba merayu untuk meredam perang dinginnya.
Azlan kembali ke ambal yang tadi dia tiduri, dia duduk terpekur memeluk kedua betis dengan tangannya. Azlan berpikir, hanya dirinyalah yang selalu berusaha menghangatkan suasana. Ketika Dara marah, dia yang selalu mengalah. Mungkin karena dari awal hanya dirinyalah yang mempunyai rasa cinta, sedangkan Dara harus hidup dengannya dengan terpaksa.
Saat dirinya menyadari kesalahannya dahulu yang sengaja menjebak Dara, Azlan menyesal mengapa rasa cinta membutakan segalanya. Kini, mau tidak mau Azlan harus selalu mengalah, bersabar dalam menghadapi semua sikap Dara. Ini resiko dari perbuatannya dulu.
Azlan bangkit, perlahan kakinya menuju kamar. Ditatapnya sejenak tubuh Dara yang terbaring menyamping. Azlan sedih, dalam situasi begini Dara masih bisa tidur nyenyak, sedangkan dia berpikir keras bagaimana caranya supaya perang dingin ini berakhir.
Azlan perlahan membaringkan tubuhnya disamping Dara, bagaimanapun juga dia rindu memeluk tubuh Dara. Tubuh yang sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Maafkan Abang, Dek. Tidak seharusnya Abang mendiamkan Adek. Karena bagaimanapun, disini hanya Abang yang mencintaimu. Kamu hadir karena kesalahan Abang. Entah sampai kapan Adek akan benar-benar mencintai Abang," bisiknya seraya meneteskan air mata.
Dara yang sejak tadi mendengar ocehan Azlan, hatinya semakin teriris dengan ungkapan Azlan. Bukan hanya Azlan yang mencintainya, namun dirinya juga mencintai Azlan. Ingin Dara katakan itu, namun Dara merasa malu. Malu ketahuan bahwa dirinya sejak tadi menangisi Azlan yang mendiamkannya.
Azlan kemudian mencium kening Dara. "Maafkan Abang Dek, Abang benar-benar mencintai Adek. Tidak pernah di hati Abang ada yang lain, dan itu tidak akan pernah," bisiknya lagi seraya memposisikan tubuhnya sama seperti apa yang Dara lakukan. Memeluk Dara dengan erat dari samping.
__ADS_1
Walau hatinya menahan tangis, namun Dara bahagia akhirnya Azlan datang dan memeluknya.