Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Peringatan Mamak


__ADS_3

"Mamak....!" kejut Azlan. Dara yang menyadari siapa yang ada dihadapannya, terkejut dan sangat malu. Ini semua gara-gara Bang Azlan, seandainya tadi tidak memaksa untuk mengajak ke taman belakang, mungkin kejadiannya gak akan begini. Ketahuan Mamak tengah malam. Gerutunya dalam hati, Dara jadi dongkol banget pada Azlan.


"Habis apa kalian dari taman belakang? Ini sudah dini hari hampir jam satu pagi, apa kalian tidak ngantuk?" tanya Mamak, membuat kami berdua bingung mau jawab apa.


"Kami habis ngadem Mak. Tadi di dalam panas banget, jadi kami cari udara segar di taman belakang?" Ujar Azlan memberi alasan.


Dara bersembunyi dibelakang Azlan menyembunyikan rasa malunya.


"Neng, pergilah tidur lagi... dan Kau Lan, tetap di sini!? " perintah Mamak datar. Dara berlalu dari hadapan Azlan dan Mamak dengan perasaan malu yang tak terkira.


"Lan... Mamak tahu apa yang kalian lakukan di belakang sana, dan Mamak tahu apa yang kalian rasakan saat ini. Namun perlu Kau ingat, Neng Dara itu masih muda dan masih banyak cita-cita yang belum dia gapai, karena ulah Kau dia berada di posisi saat ini. Jadi, tahan-tahan dirilah!" peringat Mamak keras.


"Lan paham Mak maksud Mamak, kami tidak sampai sejauh itu Mak!" sangkal Azlan.


"Mamak tahu, kalian belum sejauh itu. Namun suatu saat jika hasrat itu datang dan kalian sama-sama menginginkannya, maka Kau harus bisa menahannya. Sebab Neng Dara masih muda dan Mamak rasa Neng Dara belum siap untuk hamil." jelas Mamak tegas.


"Lan, paham Mak." sahut Azlan menunduk.


"Ingat Lan, Neng Dara itu pikirannya masih labil. Sama kayak Sofia adik Kau. Sofia masih muda dan jiwa mudanya jelas terasa, dia masih suka mengagumi lanang tampan berwajah klimis dan kulit putih bersih seperti apa yang dia tempel-tempel di dinding kamarnya. Neng Darapun sama, masih mengagumi hal-hal seperti itu. Jadi Kau harus kuat mental, dan jangan terlalu memaksakan kehendaknya. Kalau tidak, hubungan Kau dengannya tidak akan bertahan lama," jelas Mamak panjang lebar.


"Kau, diam-diam bae, paham idak?" ucap Mamak setengah membentak melihat Azlan yang diam menunduk.


"Ingat Kau Lan, Kau harus bisa menahannya sampai restu keluarganya Kau dapat!" lanjut Mamak lagi keras.


"Tapi, kalau Dara memintanya cakmano? "


Mendengar pertanyaan Azlan barusan, Mamak menatap tajam mata Azlan penuh intimidasi, tarikan nafasnya cepat seakan ingin meluapkan rasa marah yang tidak tertahan.


"Pandai-pandai Kau lah Lan, Mamak tidak mau tahu kalau Neng Dara sampai hamil sebelum restu orang tuanya bisa Kau dapat. Kau paham maksud Mamak?" tandas Mamak sengit.

__ADS_1


"Lan, paham Mak...!" sahut Azlan sambil tersenyum simpul.


"Ngapo Kau senyum-senyum, bukannya sholat malam, Kau malah curi-curi kesenangan?" cibir Mamak menyindir.


"Kageklah Mak, Lan sudah ngantuk mau tidur!" alasan Azlan sambil berlalu.


"Ah...Kau nih banyak alasan!" Mamak tampak kesal.


Azlan berjalan melenggang meninggalkan Mamak di dapur, rupanya Azlan baru ingat bahwa Mamaknya memang biasa bangun jam segitu karena mau sholat malam. Pantas saja Mamak mergoki mereka di taman belakang. Nasib, nasib...


*


Besoknya, Dara terbangun jam 4.30 Subuh, lebih awal dari biasanya. Hari ini dia tidak ingin terlambat seperti kemarin. Rasanya malu kalau sampai terlambat, sekarang malah dobel malunya gara-gara kepergok semalam.


Dara bergegas menuju kamar mandi, dalam hati berdoa semoga tidak papasan sama Mamak. Doanya terkabul, namun malah berpapasan sama Azlan. Dara masih kesal karena semalam, sehingga saat Azlan mengajak sholat Subuh bareng, Dara menolaknya.


Dara segera masuk kamar mandi, bersih-bersih dan ambil wudhu. Setelah itu dia langsung menuju kamar Sofi dengan langkah cepat, karena disana masih ada Azlan.


"Sholat saja sendiri, Dara mau di kamar Sofi kok!" tolaknya ketus. Azlan cuma bisa mengurut dada menerima penolakan Dara.


*


"Srottttt..... " suara pintu rolling door berbunyi nyaring dan panjang, menandakan toko di bawah loteng ini sedang dibuka. Penasaran siapa yang membuka rolling door, Dara mencoba mengintip dari atas loteng lewat jendela kamar Sofi.


Rupanya Azlan yang membuka rolling door. Setelah rolling door terbuka, Azlan nampak menyapu halaman depan toko lalu merapikan dagangan.


"Rajinnya...!" Dara berdecak kagum. Sudah tidak aneh sebetulnya melihat Azlan seperti ini. Dia memang cowok yang rajin dan multi talenta.


"Hayohhh... Ayuk lagi ngintip Bang Azlan ya? ngaku deh...! Kalau kangen samperin saja Yuk, gak usah ngintip-ngintip gitu!" todong Sofi mengejutkan Dara.

__ADS_1


"Aduhhhh Sofi...ngagetin tahu...!" sergah Dara kaget. Sofia sengeh-sengeh menggoda Dara.


"Samperin deh Yuk... mungpung tidak ada Mamak sama Bapak!" Sofia memcoba memprovokasi Dara untuk nyamperin Azlan.


"Mamak sama Bapak memangnya kemana?"


"Ke pasar... belanja barang," Dara manggut-manggut.


"Ya sudahlah Yuk...samperin deh, soalnya tadi Kak Azlan berpesan sama Sofi supaya Yuk Dara menyusulnya ke bawah." Dara Mengerutkan dahinya.


"Ya sudah, Dara samperin Bang Azlan dulu deh Sof!" seru Dara akhirnya. Sofia senyum-senyum geli melihat tingkah malu-malu dan ragu-ragu Dara.


Dara melangkahkan kakinya menuju tangga loteng dengan langkah pelan, takut menimbulkan suara yang gaduh. Sesampainya di bawah, Dara tidak melihat Azlan. Dara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan toko. Semua dagangan telah tersusun rapi. Saat anteng memandangi perabotan kelontong yang bergelantungan di paku, tiba-tiba tubuh Dara dipeluk sempurna dari belakang.


"Diam sayang jangan bersuara...!" peringat Azlan seraya meletakkan telunjuk di bibirnya. Azlan menyeret Dara ke dalam gudang lalu mengunci tubuh Dara dengan kedua tangan kekarnya. Azlan menenggelamkan kepalanya di tengkuk leher Dara.


"Abang apa-apaan sih..., ngajak Dara kesini cuma buat Dara disekap di gudang?" protes Dara kesal.


"Abang kangen...pengen mengulang yang tadi malam," jujur Azlan seraya mencium-cium tengkuk Dara.


"Lepasin... geli tahu...!" Dara berontak ringan.


"Ayolah sayang...mungpung masih jam setengah enam, Bapak dan Mamak masih lama di pasar, jadi kita gak usah takut ketahuan," rayu Azlan lagi.


"Dara tidak mau, takut ketahuan Mamak sama Bapak!" tolak Dara lagi.


"Ayolah...!" rayu Azlan.


"Aduhh... sakit Abang! Jangan kuat-kuat dong pegangnya, tangan Dara jadi sakit!" keluhnya meringis.

__ADS_1


"Cupp...!" Dengan cepat ciuman itu mendarat dibibir Dara yang sedang protes. Dara diam tergugu dari kekagetannya. Azlan menatap dalam ke arah mata gadis itu. Tatapan keduanya bertemu dan saling merasakan hasrat yang menggebu. Wajah Azlan semakin mendekat, tanpa pemberontakan yang berarti Dara menerima dengan respon yang positif. Dara membiarkan dirinya dikungkung tubuh Azlan lalu dengan refleks kedua tangannya memeluk pinggang Azlan.


Ah, keduanya nampak mesra dan bahagia saling berbagi kecupan cinta. Indahnya pacaran saat menikah, begitu menggebu-gebu setiap jengkal sentuhan tangannya. Dan keduanya mengulang kejadian tadi malam dengan penuh gairah dan bahagia. Tinggal nanti ditunggu malam pertamanya Dara dan Azlan bakal seru atau tidak. Dan apakah malam pertama bujang dan perawan ini dilakukan sebelum menikah resmi atau sebaliknya?


__ADS_2