
Saat Azlan tiba di kontrakan, Dara sudah nongkrong di depan. Tumben banget, pikir Azlan.
"Adek..., lagi apa diluar?" Azlan heran.
"Ayo masuk dulu, siap-siap! Abang mau ajak Adek jalan-jalan dan makan diluar. Sekali-kali!" jelasnya.
"Cari angin..., di dalam panas!" sahut Dara tidak bersemangat.
"Ok deh, Abang mandi dan sholat dulu ya, Adek tunggu sebentar," ucap Azlan sambil ngeloyor ke dalam.
Saat Azlan selesai mandi dan sholat, Dara sudah berada di kasur dan membaringkan tubuhnya.
"Eh... kok tiduran sih, ayo siap-siap. Kita jalan!" Ajaknya heran melihat Dara tidak bersemangat.
"Enggak ah, malas!" ucapnya singkat.
"Ihhh... kok malas, kita sekalian ngedate!" rayu Azlan. Dara tidak menoleh sama sekali. Dipikirannya tiba-tiba ada kekesalan tentang vidio yang diperlihatkan Meta, tentang Azlan dan QC Mira yang sedang berjalan bersamaan. Padahal tadi saat pertama kali melihat dari Meta, hatinya tidak merasa kesal. Tapi sekarang kenapa kesal?
"Tadi Kak Meta datang kesini, bermaksud mau merebut Abang dari Dara, kalau Abangnya mau ya silahkan saja!" cetus Dara ketus.
"Meta datang lagi kesini....?" seru Azlan kaget.
"Dia ngancam lagi Adek?"
"Ngancam tapi tidak mempan!" ucap Dara lagi datar.
Azlan menghampiri Dara seraya merangkulnya dari belakang.
"Meta bicara apa lagi?"
"Dia memperlihatkan vidio Abang sedang jalan dengan QC Mira. Abang memang mau kemana bisa jalan bareng dengan QC Mira?" Azlan baru paham kenapa sikap Dara terlihat dingin sejak dia pulang sampai saat ini.
"Jadi Meta memvidiokan Abang saat jalan sama Mira? Tadi sore Abang memang jalan bareng sama Mira ke Pabrik Toshibi, Abang dan Mira sebagai QCnya, ditugaskan sama Supervisor untuk cek ulang PCB remot yang sudah outgoing, supaya pas peluncuran tidak terjadi kesalahan presentasi!" terang Azlan.
"Untuk seminggu ke depan Abang pasti diduetkan sama QC Mira, jadi Adek tidak usah khawatir. Antara Abang dan Mira tidak ada hubungan khusus apa-apa," terang Azlan.
"Memangnya kenapa Abang dengan QC Mira harus ke Toshibi?" Dara penasaran.
"Karena Pabrik kami bekerja sama dengan pabrik Toshibi memproduksi remot. Mereka PCBnya, pabrik kami memasang komponennya," jelas Azlan.
"Kenapa harus sama QC Mira, apa tidak ada QC yang lain?"
Azlan terdiam sejenak mencerna pertanyaan Dara yang dirasa sebuah ungkapan cemburu.
"Karena saat ini kebetulan satu shift sama Mira, otomatis Abang yang ditunjuk sebagai perwakilan dari pabrik Abang, maksudnya pabrik tempat Abang kerja, hehe...!"
"Kenapa pakai ketawa segala?" protes Dara.
"Cuma meralat omongan Abang sendiri, tadi salah sebut bukan pabrik Abang melainkan pabrik tempat Abang kerja," alasan Azlan.
__ADS_1
"Awas ya, kalau Abang sering-sering duet sama QC Mira, jangan sampai naksir!" peringat Dara.
"Jadi, cemburu nih ceritanya....?" goda Azlan diiringi senyum bahagia.
"Eh, apa? Cemburu? Ihh enggak!" sangkalnya kikuk.
"Hayo... ngaku saja!" ucap Azlan seraya makin merekatkan pelukannya dan mencolek-colek pinggang Dara.
"Aduhhh...geli, hentikan!" Dara menggelinjang seraya memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Azlan. Azlan senang dan berhasil mendaratkan ciumannya di kening Dara yang jenong kayak ikan Louhan.
"Gimana, mau jalan-jalannya disini saja atau jalan keluar?" goda Azlan seraya tersenyum licik.
"Gimana ya...!" Dara diam dan berpikir.
"Baiklah, lebih baik Dara diajak jalan keluar, daripada jalan di tempat!" ucap Dara setuju seraya bangkit dari dekapan Azlan.
...****************...
Motor yang ditumpangi Azlan dan Dara membelah jalanan Cibarusah. Azlan tahu sepanjang jalan ini banyak warung tenda pinggir jalan, dengan menu-menu berbagai macam pilihan. Ada makanan Seafood, Nasi Goreng, Mie Goreng dan lain sebagainya. Saat motor dibelokkan ke arah kafe, tiba-tiba Dara menjawil lengan Azlan. Azlan terhenyak.
"Ada apa Dek?"
"Jangan disini!" cegah Dara.
"Kenapa?" Azlan mengkerut heran.
"Iya kenapa?"
"Harganya mahal-mahal!" alasan Dara.
Ya ampun, gadisnya ini rupanya takut masuk kafe karena takut harganya kemahalan.
"Tidak apa-apa, Abang ada duit kok. Paling harganya tidak lebih mahal dari restoran mewah!" jelas Azlan membujuk Dara.
"Dara tidak mau, lebih baik Dara balik lagi!" rajuknya sambil manyun.
"Ok, Ok... ya sudah dong sayang jangan marah gitu!" rayunya.
Azlan memutar balik motornya keluar dari halaman kafe yang belum sempat disinggahinya.
Azlan berpikir, sebegitu perhitungannya Dara. Sampai diajak ke kafe saja menolak karena takut kemahalan. Padahal dia ada duit untuk sekedar makan di kafe. "Sayang... padahal Abang pengen ajak Adek ke tempat yang lebih bagus!" batinnya.
"Jadi, Adek maunya di mana nih makan malam kita?"
"Di warung tenda saja dengan menu Seafood, kebetulan Dara lagi mau makanan Seafood!" ucap Dara.
"Ok, nanti pas ketemu warung tenda berbahan Seafood, kita langsung nongkrong disitu ya!" Dara mengangguk.
"Sayang....!" sapa Azlan saat dia tidak menyadari anggukan Dara.
__ADS_1
"Ehhh... apa?" Dara heran.
"Ya sudah....!" sahut Azlan sembari meraih jemari Dara dan dilingkarkannya ke perut. Dengan spontan Dara bergelayut manja di punggung cowok hitam manis itu, seraya makin mengeratkan pelukannya di pinggang Azlan. Azlan senang.
Sementara Dara, pikirannya menerawang sambil menikmati hangatnya punggung lelakinya. Ada perasaan nyaman dan wangi maskulin dari parfum cap kampak favorit Azlan, Dara anteng menyesapi harum parfum itu yang cukup menenangkannya.
Akhirnya tiba di sebuah warung tenda pinggir jalan dengan menu berbahan Seafood.
"Sayang... sudah sampai!" Azlan memberitahu seraya memarkirkan motornya.
Dara segera turun dan menunggu Azlan, Azlan meremat jemari Dara dan menuntunnya membawa ke dalam warung tenda yang sederhana.
Dara duduk di kursi plastik yang sudah tersedia di sana, sambil melihat daftar menu.
Dara merasa lebih nyaman di warung tenda, ketimbang di Kafe tadi atau di restoran.
"Adek mau yang mana, pilihlah dulu. Sekalian minumnya!" perintah Azlan.
"Cumi asam pedas sama sayur sawi, minumnya teh manis hangat saja karena Es Boba tidak ada," sahut Dara.
Sedangkan Azlan memilih menu yang sudah tidak asing "pecel lele".
Pesanan mereka akhirnya datang sesuai pesanan. Tidak menunggu lama Dara dan Azlan segera melahap hidangannya. Dara begitu lahap, karena memang sudah kelaparan. Tidak jaim-jaim, bahkan dia menyambar lalaban yang berada di piring saji Azlan, karena Azlan suka meninggalkan bagian yang itu. Daripada mubazir, lebih baik Dara samber saja, sebab Dara memang suka lalapan apalagi mentah.
Azlan tidak kaget lagi melihat wanitanya makan begitu lahap, dia malah terpesona sebab perempuan di hadapannya ini suka sekali lalaban mentah, dan sedikit unik atau ekstrim dalam soal makanan. Ekstrim yang masih wajar sebetulnya, seperti kemarin makan Baso dicampur Pempek. Tapi hasilnya enak. Ada juga makan pisgor dicocol sambel.
Bahkan pernah juga buah Apel, Jambu Biji dan Mangga menjadi menu cocol sambelnya, belum lagi makan Jengkol mentah dan Pete mentah. Sudah tidak merasa takut bau. "Kalau bau tinggal gosok gigi, makan beras mentah saat pergi, atau kunyah permen, atau yang saat ini lagi trend, memakai masker penutup hidung dan mulut, aman deh." Ucapnya antusias tempo hari. Haduhhh Gusti sudah aneh-aneh saja menurut Azlan.
Tapi karena keunikannya inilah Azlan suka dengan Dara, sederhana tapi cantik, cantik tapi unik, unik tapi tidak jaim, jaim hanya pada saat diajak masuk Kafe atau restoran. Mungkin tidak PD takut uangnya tidak cukup untuk membayar makanan di restoran.
Sungguh makhluk wanita yang satu ini, selain mempesona, juga membanggakan. Beruntung Azlan memilikinya, sebab Dara tipe perempuan yang tidak pemilih soal makanan.
Makan telah usai, Azlan kemudian memesan makanan untuk dibungkus dan dibawa ke kontrakan. Melihat Dara lahap tadi dengan menu Cumi asam pedas, Azlan memesan menu yang sama seperti yang Dara tadi pesan.
Perut telah kenyang, Azlan dan Dara keluar dari warung tenda. Tanpa diduga mereka berdua bertemu dengan Rian dan istrinya.
"Rian....!" teriak Azlan senang.
"Lan..., habis ngapain?" mereka saling sapa. Darapun demikian menyapa duluan istri Rian, kemudian Rian.
"Habis kencan dan makanlah Bro!" jawab Azlan.
"Halo Mbak Dian, apa kabar pengantin baru?" sapa Dara sambil tersenyum ramah. Dian membalas sapaan Dara dengan ramah juga.
Dara menatap takjub kepada Dian, cantik dan tinggi semampai, ramah juga. Beruntung sekali Rian mendapatkan Dian. Sebab Dian tipe-tipe cewek idaman Rian. Apalagi tatapan Dian ke Rian begitu penuh cinta. Sementara Rian, masih nampak curi kesempatan menatap Dara tanpa sepengetahuan Dian.
Mungkin saat ini waktu yang tepat untuk tidak mengharapkan Rian lagi, apalagi di sisinya ada Dian yang penuh cinta. Dara baru sadar, dibalik ketampanan Rian yang sudah mendapatkan Dian, tapi masih terselip sikap cengengesan dan genit.
"Goodbye forever Kak Rian".
__ADS_1