Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Belum Tentu Sah


__ADS_3

Belum juga gol, dan baru saja hanya menyentuh bibir gawang. Suara pekikan penonton memberi yel yel terdengar. Mungkin seperti itu diibaratkan. Dan bola gagal masuk gawang. Ada rasa kecewa yang dalam, namun sepertinya dia harus menghentikan aksinya. Deraian air mata itu tidak kuasa untuk Azlan merangsek masuk ke dalamnya.



Azlanpun sontak tersadar. Azlan merasa bersalah, dia segera mengenakan kembali pakaiannya yang terhambur. Setelah menemukan semua pakaian yang berserakan tadi, Darapun segera menutup kembali sekujur tubuhnya, dia terduduk lesu di atas kasur seraya membayangkan kejadian tadi yang baginya mengerikan.



Seorang perawan yang baru saja akan meraup surganya dunia, yang sering orang-orang bilang seperti itu. Tadi saat hasratnya melambung tinggi, Dara tidak merasa semengerikan itu. Namun rasa sakit yang dia rasakan, menggagalkan semua hasrat yang tadi menggebu. Deraian air mata masih membasahi pipi. Ada rasa berdosa dalam dirinya.



Sementara Azlan termenung di ruang sebelah ditemani secangkir kopi favoritnya. Dia merasa bersalah atas kejadian tadi, hasrat yang menggebu tadi membutakan nalarnya. Saat pedangnya berusaha susah payah mencari sarungnya, namun sarungnya rupanya masih belum bisa dengan mudah dimasuki, pintu masuknya masih tertutup rapat.



Maklum, Azlan perjaka tulen yang belum pernah merambah jauh ke hutan larangan manapun, sehingga saat hasrat itu datang menggebu, dia nampak berjuang sangat keras saat ingin menapaki jalan penuh ilalang itu. Langkah itu harus terhenti, sebab ternyata hutan larangan tersebut masih perawan belum pernah terjamah oleh siapapun.



Tiba-tiba nasihat Mamaknya di kampung terngiang-ngiang kembali diingatannya.


"Awas ya Lan, sebelum Kau dapat restu keluarganya Kau tahan dirilah, jangan sentuh Neng Dara!"


Azlan menghembuskan nafasnya kasar. "Apa jadinya jika pergumulan tadi terlanjur terjadi, bisa saja Dara hamil dan kami tidak punya persiapan dahulu." Batin Azlan.


Azlan memutuskan untuk meminta maaf pada Dara atas kekhilapan tadi yang hampir membuat keduanya sama-sama terlena.


Azlan mendapati Dara sedang termenung, tangisnya sudah reda, namun sedu sedannya masih terdengar. Azlan jadi ragu untuk bertanya, namun dia harus segera meminta maaf.


"Adek, Abang minta maaf jika tadi menyakiti Adek!" mohon Azlan tulus. Dara masih diam dalam kebekuan. Air matanya kini sudah berhenti.


Dara membiarkan tangan Azlan mengusap lembut kepalanya.


"Abang minta maaf, benar-benar minta maaf. Kejadian tadi kita lupakan. Abang tidak akan mengulanginya lagi," janji Azlan seraya memeluk hangat gadis yang sangat dicintainya itu.


Dara masih diam, namun tiba-tiba tangisnya pecah seakan menumpahkan segala unek-unek yang selama ini dia simpan. Dara menangis dalam pelukan Azlan yang mendekapnya erat.


"Abang janji, Abang tidak akan meminta lagi sebelum Adek siap!" tegasnya sungguh-sungguh.


*


Sesuai yang dijanjikan, Rivai datang tepat sehabis Isya sambil menenteng gitar. Azlan rupanya sudah menunggu.


"Woyyy... ngapain Lu bungkuk di situ, nunggu Gua ya? Sampai segitunya."


"Gua lagi nunggu setan usil!" alasan Azlan tanpa dosa.


"Lu anggap Gua setan usil, kampret. Kopinya mana weuyyyy?"

__ADS_1


"Alah ... baru sampai saja sudah minta kopi, sana ke warung Mpo Sari saja," sungut Azlan.


"Bini Lu mana, Lan?" tanya Rivai celingukan.


"Di dalamlah, masa iya di hatimu!" ketus Azlan.


"Kali aja di hati gua ... wakwakwak ...."


"Kalau Rian udah kawin dan pindah rumah, sepi dah kita!"


"Kalau pengen rame, lu tinggal bakar rumah kontrakan elu, tak berapa lama bakal rame tuh!"


"Gila lu, jangan bikin provokasi. Bisa-bisa gua yang bakar lu hidup-hidup biar nggak bakal ketemu Neng Dara," dengus Rivai.


"Isss dah, sama saja elu mendoakan Dara jadi janda."


"Kalau Neng Dara jadi janda, si Reno dengan senang hati bakal menerimanya!"


"Et dah ... lu ini, keterusan deh. Nggak akan gua biarkan Daraku jadi janda, kecuali Tuhan yang berkehendak!" protes Azlan tidak senang.


"Sudahlah jangan bahas yang beginian, bahas yang lainlah," protes Azlan.


"Alah, elu mengalihkan pembicaraan, takut ya?" tuding Rivai.


"Iyalah gua takut!" akunya jujur.


"Memang mau gua nikahi secara resmi kok!" tandas Azlan.


"Tapi kapannnn ....?"


"Secepatnya ....?"


"Secepatnya? Elu malah kalah dari Rian, dia beberapa langkah lebih maju dari elu!"


"Gua tahu...tapi gua belum ada waktu yang agak panjang untuk menemui keluarga Dara, paling bulan haji!"


"Nunggu bulan haji, lama dodol!" cebik Rivai.


"Gua bukan CEO atau bos I, jadi gak bisa seenaknya ijin tidak masuk kerja!" tepis Azlan.


"Lebaran bulan depan, elu nikahi Dara secara resmi! Lagipula nih Lan, pernikahan elu dengan Dara yang terpaksa itu sebetulnya belum tentu sah secara agama!" ucap Rivai gamblang.


"Maksud elu?" Azlan belum paham seraya menatap Rivai penasaran. Bersamaan dengan itu Dara muncul dari dalam, sambil membawa dua cangkir kopi kesukaan dua cowok di depannya.


"Kak Vai ... ini kopinya," sodor dara pada Rivai dan Azlan.


"Asikkkk ... akhirnya yang ditunggu datang juga." Rivai kegirangan.


"Ayo dong Kak, gitaran. Biar Dara kali ini yang nyanyi," pinta Dara sambil menggoyang-goyang lengan Rivai.

__ADS_1


"Memangnya Neng Dara mau gabung gitaran sama kita?" tanya Rivai meyakinkan.


"Mau dong," sahut Dara.


"Asik aja ngobrol berdua, gua dicuekin," sela Azlan dongkol. Dara dan Rivai sontak saling pandang dan memberi kode satu sama lain.


"Ah ... ya udah deh Dara tidak jadi ikut gabung gitaran sama kalian, ada yang dongkol di sebelah," sindir Dara seraya mengarahkan bibirnya ke arah Azlan.


Dara kembali masuk ke dalam disertai perasaan sebal pada Azlan. Pada saat Dara benar-benar masuk dan tidak kembali lagi, Azlan dan Rivai kembali meneruskan obrolan sebelumnya.



"Coba bahas yang tadi I, tentang pernikahan gua dengan Dara, yang tadi Elu bilang belum tentu sah!"


"Sruputttt ...!" sebelum Rivai membuka obrolan kembali, dia menyeruput kopi Guday Mukacina favoritnya terlebih dahulu.


"Seperti yang gua bilang tadi, pernikahan elu dan Dara yang dipaksa itu belum tentu sah di mata agama." Rivai menjeda sejenak ucapannya.


"Tapi yang menikahkan kami kan seorang Ustadz!" sela Azlan.


"Betul. Tapi, saat kalian nikah jelas tidak rukun nikahnya?"


"Ya jelaslah ...!" tegas Azlan.


"Gua rasa belum tentu!" tepis Rivai.


"Belum tentu gimana, jelas disitu gua kasih mahar, ada saksi, dan wali hakim!" jelas Azlan.


"Itu dia masalahnya, wali hakim. Siapa yang nunjuk wali hakim? Pak Ustadz yang terpaksa menunjuk gitu?" Rivai sedikit meninggi.


"Tapi Pak Ustadz bilang karena kami terpergok mesum, jadi harus segera dinikahkan agar hubungan kami menjadi sah!" jelas Azlan.


"Tidak segampang itu dodol!" cebik Rivai jengkel.


"Lantas?"


"Gua juga bingung menjelaskannya, Lan, cuma setahu gua kalau menikah itu untuk pihak cewek harus ada wali nikah, dan jika wali nikahnya tidak sanggup mewalikan karena sesuatu hal, maka boleh menguasakan pada orang lain untuk menjadi wali hakim buat anaknya," terang Rivai.


"Jadi gimana, gua juga belum paham penjelasan Elu?"


"Gini deh, gua tarik kesimpulannya saja menurut versi gua." Rivai menjeda sejenak ucapannya.


"Ustadz Wawan saat itu menikahkan elu dan menunjuk seorang Wali hakim dadakan, bisa jadi hanya sekedar menyelamatkan kalian dari amuk masa karena kalian terpergok berbuat mesum pada saat itu."


"Terus ....?" Azlan nampak diliputi penasaran.


"Pada saat kalian dinyatakan SAH oleh Ustadz Wawan, beliau ada kasih nasihat tidak?"


"Ada ...." jawab Azlan pendek.

__ADS_1


__ADS_2