
Besoknya, saat Dara sedang menikmati sarapan nasi goreng buatannya sendiri, Dara dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Diintipnya sejenak dari balik kaca. "Kak Meta.....!" Guman Dara heran.
"Dari mana dia tahu kontrakan ini, jangan-jangan dia ngikutin Dara saat pulang tadi malam?" Tebak Dara.
Pintu masih diketuk, namun Dara belum mau membukanya. Dara dengan cepat menyiapkan hape androidnya, dan menyalakan mode rekaman. Setelah menemukan posisi yang pas untuk merekam, Dara meletakkan Hape Androidnya diatas lemari plastiknya. "Untuk antisipasi....!" Guman Dara.
"Siapa ya.....?" Sapa Dara sambil perlahan membuka pintu. "Kak Meta.......!", Seru Dara pura-pura terkejut. Sekilas Dara melihat jam dinding di ruang tengahnya, jam menunjukkan pukul 6.40 pagi. Lalu beralih ke arah Meta, Meta yang sudah siap dengan seragam kerjanya. "Ada apa Kak..., Kok Kak Meta tahu kontrakan Dara?" Tanya Dara heran.
"Jadi kamu tinggal disini?" Yakinnya.
"Iya Kak.....!" Jawab Dara tanpa mempersilahkan masuk.
"Ada apa Kak, kok tumben! Kak Meta sebelum kerja sengaja mampir kesini?" Tanya Dara penasaran.
"Iya aku sengaja datang kesini!" Jawabnya.
"Ada apa...?" Ulang Dara.
"Aku hanya penasaran dengan hubungan kamu sama Bang Azlan, tadi malam Nela bilang kamu dengan Bang Azlan teman dekat, coba jelaskan apa maksud teman dekat disini?" Tanya Meta penuh penekanan.
"Kan udah Dara jawab tadi malam, kalau Dara sama Bang Azlan teman dekat artinya kita dekat karena kita tetanggaan!" Jawab Dara lagi. "Setahuku kontrakan Bang Azlan bukan disini, tetanggaan dimana maksudmu?" Tanyanya penuh selidik.
"Iya dulu sebelum Dara pindah dari kontrakan lama, kita emang tetanggaan Kak!" Jelas Dara mulai jengah.
"Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah coba-coba dekatin Azlan. Aku lebih tahu banyak tentang dia." Peringatnya dengan nada tinggi.
"Perasaan dari tadi malam Kak Meta ngasih peringatan dan ancaman terus ke Dara, emangnya ada apa sih Kak? Kalaupun Dara dekat dengan Bang Azlan, apa salahnya? Terus apa hak Kak Meta larang Dara jalan dengan Bang Azlan? Jangan pernah ancam-ancam Dara dengan suatu hal yang Dara tak pernah mengerti, Dara bisa laporkan Kak Meta ke RT setempat atas ancaman ini!" Ujar Dara panjang lebar dengan suara lantang.
"Elu masih belum paham juga ya, Azlan itu cowok incaran Gue, Elu gak usah dekat-dekat sama dia walaupun dia ngajak pergi bareng. Gue ini dulu mantannya dan sekarang gue mau balikan lagi sama dia, jadi jaga sikap elu untuk tidak dekat-dekat dengan cowok incaran Gue. Kalau elu tidak ingin menyesal!" Terangnya panjang lebar seraya merubah kata panggilan aku kamu menjadi Gue elu.
"Cuma mantan bukan pasangan kan?" Ejek Dara.
"Jangan kurang ajar ya, Gue bakal jadi pasangannya sebentar lagi!" Tunjuknya ke muka Dara.
"Ya coba saja ambil kalau bisa, kalau dianya mau itupun!" Tukas Dara cuek.
"Elu lihat saja ya, Gue bakal jadian lagi sama Azlan. Akan Gue buktikan!" Berangnya seraya badannya mendongak. "Kalau gak ada hal sepele lagi yang mau Kak Meta omongin, silahkan Kak Meta pergi. Sebentar lagi jam 7, jam masuk kerja. Kasian PCB gak bisa outgoing kalau QCnya telat masuk!" Ucap Dara setengah mengusir sambil menahan tubuh Meta yang berusaha mendongak ke dalam.
"Awas ya, lihat saja ejekan elu akan jadi malapetaka buat Elu!" Ancamnya sebelum beranjak meninggalkan kontrakan Dara.
Dara menarik nafasnya dalam. Perlahan dia menutup pintu. Diambilnya hape andriod yang sejak kedatangan Meta dia onkan mode rekaman.
"Klik...!" Rekaman diakhiri dan tersimpan.
Perasaan Dara kini campur aduk, benci, sebal dan sedih serta ingin menangis semua ada. Kesal dengan semua omongan Meta yang selalu mengancamnya. Ini berawal dari Bang Azlan, seandainya Bang Azlan tidak memaksa hadir dalam kehidupannya, mungkin tidak ada yang namanya Meta yang datang tiba-tiba terus mengancam. Yang patut dipersalahkan disini jelas Bang Azlan, begitu keyakinan Dara.
Saat Dara sibuk dengan perasaan yang berkecamuk dan campur aduk tadi, tanpa Dara sadari Azlan sudah pulang dan berada di dalam kontrakan.
"Dek.....!" Sapanya mengejutkan Dara. "Astaghfirullah.....!" Ucapnya ternganga saking terkejutnya. Seketika Azlan melihat mata Dara memerah seperti sudah menangis.
"Dek... ada apa?" Tanyanya seraya melebarkan daun pintu. Azlan nampak keheranan dan was-was.
"Gak usah dibuka, tutup saja pintunya!" Pekik Dara kesal. "Ada yang mau Dara omongin, malu kalau terdengar orang!" Lanjutnya masih ketus.
__ADS_1
Azlan menutup kembali daun pintu, niatnya supaya udara segar masuk kini ditutup kembali.
"Adek kesal kenapa?" Azlan memulai bertanya.
"Abang tahu kan Meta mantan Abang itu. Barusan dia datang ke kontrakan ini dan ngancam Dara!" Terang Dara. Azlan mengerutkan keningnya tak paham.
"Kemarin sore saat Dara diantar Abang pergi kerja, rupanya dia melihat kita. Dan apa yang terjadi?, dia datang menyusul Dara kedalam pabrik dan ngancam Dara!" Jelas Dara lagi kesal.
"Ngancam gimana?" Azlan masih tidak paham.
"Meta memberi peringatan supaya Dara menjauhi Abang dan gak usah dekat-dekat Abang, kalau tidak dia akan berbuat sesuatu yang akan membuat Dara menyesal!" Ucapnya penuh emosi.
"Kemarin ngancam, barusan juga ngancam. Ini semua gara-gara kehadiran Abang di hidup Dara. Sekarang Dara dipaksa oleh keadaan yang mana Dara sama sekali gak ada urusannya, tapi malah kena getahnya kena ancaman mantan terkasih Abang!" Tegasnya menggebu-gebu.
"Jadi Meta datang dan ngancam Adek karena melihat Abang ngantar Adek kemarin sore?" Azlan baru memahami kemana arah pembicaraan Dara.
"Abang sudah gak ada urusan sama dia Dek, sejak putus tiga tahun yang lalu Abang gak pernah berinteraksi lagi sama dia. Hanya baru-baru ini dia memang selalu sengaja mencegat Abang, tapi Abang tak pernah pedulikannya. Abang selalu menghindar." Jelas Azlan.
"Abangpun heran kenapa dia akhir-akhir ini seolah sengaja mendekati Abang lagi, dan Abangpun menyadari dari cara dia mencari tahu kabar Abang dari teman-teman Abang, tapi Abang berusaha menghindarinya. Abang sudah tidak mau terlibat masa lalu Dek!" Tegasnya.
"Abang pura-pura heran tapi senang kan? Udah ngaku saja!" Tuding Dara. "Ya ampun Dek, gak usah nuding sembarangan. Abang sudah tutup buku lama dengan yang namanya Meta. Abang hanya ingin bersama Adek walau Adek selalu menolak Abang!" Ungkapnya.
"Ini serius Bang, jangan gombalin Dara. Dara tidak mau gara-gara kedekatan kita Dara jadi korban ancaman orang!" Pekik Dara.
"Abang juga serius Dek, hanya Adek yang ada dihati Abang!" Ungkap Azlan lagi penuh penekanan.
"Nih.... rekaman ini sebagai bukti bahwa Meta mengancam Dara!" Ucap Dara sambil menyodorkan hapenya ke hadapan Azlan. Azlan meraih hape itu dan dilihatnya vidio rekaman terakhir Dara.
"Kenapa Abang gak lepasin Dara saja dan kembali sama Kak Meta, supaya hidup Dara terbebas dari ancamannya!" Putus Dara.
"Lagipula Kak Meta dengan percaya diri bisa kembali jadian lagi sama Abang. Makanya dari itu supaya Abang bisa kembali jadian sama Kak Meta, lepasin Dara sekarang juga." Lanjut Dara seakan tak ingin memberi kesempatan Azlan untuk bicara.
"Apa-apaan sih Dek ngomongnya gitu, bukankah Adek udah setuju memenuhi permohonan Abang untuk membawa Adek ke kampung halaman Abang. Memperkenalkan Adek sama Mamak dan Bapak Abang, anggap saja permohonan terakhir. Adek masih ingat kan?" Jelas Azlan mengingatkan Dara soal permohonan Azlan tempo hari.
"Dengan adanya ancaman ini, Dara rasa gak perlu lagi Dara dikenalkan pada keluarga Abang atau memenuhi permohonan yang Abang anggap sebagai permohonan terakhir itu!" Putus Dara membuat Azlan terhenyak.
"Kenapa Adek mesti takut dengan ancaman Meta, lagipula dia tidak tahu hubungan kita!"
"Mungkin dia belum tahu, tapi dengan melihat Dara diantar Abang kemarin saja, emosinya dan ancamannya membuat Dara muak. Terutama Dara muak sama Abang. Intinya yang membuat Dara jadi begini ya Abang!" Tuding Dara seraya menunjuk-nunjuk Azlan. Perdebatan ini nampaknya makin sengit. Baik Dara maupun Azlan masih dengan sikapnya.
"Ya ampun Dek, daripada Abang harus kembali sama Meta lebih baik Abang mati." Ucap Azlan menegang. Dara terkejut dengan ucapan Azlan barusan, tidak menyangka akan sejahat itu ucapan Azlan, dengan sumpah serapahnya.
"Kenapa Abang bisa bicara sejahat itu seakan-akan Kak Meta itu sudah tidak pantas lagi sama Abang. Dia cantik, tubuh tinggi dan seksi, jabatannya juga QC bukan operator kayak Dara. Jadi jangan asal bicara bersumpah serapah pada diri sendiri, nanti bisa jadi kenyataan!" Peringat Dara bergidik ngeri.
"Asal Adek tahu, Abang tidak akan pernah membuka masa lalu Abang, apalagi bersama Meta. Titik." Tegas Azlan. "Mau dia cantik, seksi atau dia seorang QC, Abang tutup buku dengan masa lalu." Tegasnya lagi.
"Terus apa dong alasan Abang sampai putus dari Kak Meta dan sampai Abang lebih baik mati daripada harus balikan sama dia?" Tanya Dara penasaran.
"Dia sukanya ngancam-ngancam!" Jawab Azlan sambil menatap jauh seolah ada yang dikenangnya.
"Abang tidak suka dengan perempuan yang suka ngancam, apalagi ngancamnya merugikan orang lain." Lanjut Azlan.
"Maksud Abang ancaman seperti apa?" Dara mulai menyelidik. "Abang dulu jadian sama Meta karena dijodoh-jodohkan, sebab Meta selalu datang ke kontrakan Abang dengan membawa makanan, bahkan saat malam hari dia selalu ikut gitaran sampai larut. Kawan tongkrongan Abang merasa gak enak dan risih juga, lalu mereka muncul ide menjodohkan Abang sama Meta. Abang sebetulnya menolaknya, namun Meta mengancam Abang dengan tudingan akan menyebarkan berita bohong bahwa Abang telah menodainya jika Abang menolaknya." Papar Azlan.
__ADS_1
"Abang gak takut dengan ancamannya, tapi dia nekad mau mendatangi warga dan Pak RT bahwa Abang tidak mau bertanggung jawab atas tindakan tak senonoh yang dia tuduhkan. Dia benar-benar mendatangi Pak RT namun Rivai berhasil mencegahnya. Akhirnya dengan bujukan kawan-kawan dan Rivai, Abang terpaksa menerima Meta." Pungkas Azlan dengan tatapan berubah berang.
"Lantas kenapa akhirnya Abang bisa putus?"
"Ada suatu kejadian yang memberatkan dia bisa jadi tersangka, itu makanya Abang memaksa dia untuk putus dari Abang. Lagipula hubungan Abang sama dia tidak berjalan lama, hanya 6 bulan. Itu makanya Abang menghindari Meta, bahkan cuma sekedar bertegur sapa sekalipun." Ungkap Azlan seolah membuka luka lama.
"Terus kejadian seperti apa yang Abang maksud yang memberatkan Meta bisa jadi tersangka?" Selidik Dara. Azlan menarik nafasnya dalam sebelum memulai berbicara.
"Kasus fitnah yang melibatkan Meta dengan QC lain!"
"Fitnah....?" Seru Dara kaget.
"Iya fitnah.... Meta memfitnah salah satu QC disatu departementnya." Ucap Azlan membenarkan.
"Sebelum kasusnya sampai ke Supervisor, QC yang kena fitnah itu ngundurin diri, sebab dia merasa gak kuat mental menghadapi Meta. Lagipula QC itu tidak banyak bicara, sekali bicara dengan Meta dia kalah." Beber Azlan lagi.
"Untuk lebih jelasnya Adek tanyakan langsung sama Vita dan QC senior lainnya, mereka sebetulnya sudah tahu gimana sikap Meta!" Pungkas Azlan.
"Sebetulnya Dara belum bisa menangkap jelas cerita Abang. Jadi intinya yang salah itu Kak Meta, begitu?" Yakin Dara. "Untuk lebih jelas Adek tanyakan sama QC senior disana!" Ulang Azlan lagi.
"Terus....?"
"Maksudnya terus yang mana?" Tanya Azlan bingung.
"Abang sampai bisa putus dari Kak Meta?" Tekan Dara.
"Atas fitnah yang dia perbuat pada salah satu teman QCnya itu, Abang memaksa minta putus!" Ucap Azlan.
"Memangnya ada bukti gitu, kok sampai Abang orang luar tahu dengan kejadian itu?" Dara penasaran.
"Abang hampir kenal semua QC dan Teknisi senior disana Dek, mereka dulu tetanggaan juga ngontraknya. Kami akrab dan sering ngobrol. Gosip-gosip didalam ruang lingkup kerja, saat kami ngumpul keluar semua." Ungkap Azlan.
"Terus kenapa sekarang Kak Meta ngejar-ngejar Abang lagi?, kenapa Abang gak kembali lagi saja sama dia?" Azlan nampak BT mendapat pertanyaan seperti itu dari Dara. "Kan Abang udah punya Neng Dara yang cantik dan jutek, emangnya Neng Dara rela gitu Abang jatuh ke pelukan cewek yang suka fitnah dan nyelakai orang, emang Adek tega membiarkan Abang terjerambab ke jurang yang sama!" Tanya balik Azlan berapi-api.
"Kalau Abang mau ya silahkan saja!" Jawab Dara cuek seraya mendelik-delikan matanya.
"Alah bohong, Adek pasti nangis kejer kalau Abang balikan lagi sama dia. Adek pasti saat ini sedang cemburu kan?" Ledek Azlan percaya diri.
"Cemburu......, cinta aja kagak masa cemburu?" Cibir Dara.
"Jangan bilang gak cinta tapi faktanya cinta, hayoh ngaku!" Tuding Azlan sambil senyum-senyum.
"Ihhhh..... sory tidak.....!" Ujar Dara sambil meleletkan lidahnya. "Awas ya, entar Abang cium lidahnya!?" Ancam Azlan sambil mendekati Dara, Dara sontak menjauh dan berlari ke arah kasur. Azlan mengejarnya.
Gubrak, gedebug, aduh.....
"Ih.... lepas Abang.... jangan peluk, berani peluk Dara teriak, awas, aduh berat! Jangan cium, ihhh bau belum ganti baju, pergi sana, aduh sakit, gosok gigi dulu, awwww, cup, cup, cup.....
Suara keduanya akhirnya menghilang....entah ditelan apa?
Ditelan apa coba?
Hai readers, dukung karya pertama saya ini! plissss...... dukungan kalian mood booster terbesar bagi saya. Trmksh. Ai lop yu!
__ADS_1