
Hari ini Dara rasanya malas untuk bekerja, bangun dari tidur saja hampir kesiangan. Bawaannya ingin tidur. Padahal dia merasa tidak sakit.
"Dek, kok belum bangun, sih? Ini 15 menit lagi hampir jam 6, Adek belum Subuh juga, kan?"
"Dara malas bangun. Dara masih pengen tiduran."
"Ih... tumben. Kenapa, biasanya paling semangat. Adek tidak sakit, kan?" heran Azlan seraya menghampiri Dara dan meraba keningnya.
"Tapi nggak panas....!" rabanya. Saat tangan Azlan akan menjauh dari kening Dara, Dara langsung meraihnya dan memeluk tangan Azlan.
"Tumben banget nih sayangnya Abang males-malesan dan manja pagi ini. Ada apa sih? Kalau malas kerja, kan sudah Abang bilang sebaiknya Adek resign saja. Abang juga Insya Allah sanggup kok hidupin Adek."
"Apa? Resign? Ah... Dara belum mau. Nanti kalau Dara benar-benar hamil, Dara janji langsung resign. Tapi kalau resign kerja, Dara tidak akan bisa ketemu...."
"Jabar, maksudnya?" potong Azlan sembari mencibirkan bibirnya ke bawah.
"Abang sok tahu. Bang Jabar itu, orang paling baik se-SMT. Jadi wajar kalau Dara bilang tidak akan ketemu lagi Bang Jabar jika Dara resign. Dia kan orang yang suka menghibur Dara saat Dara sedih atau lelah." Dara memberi alasan.
"Tapi, bukan karena alasan lain, kan?" Azlan masih ragu akan alasan Dara tadi.
"Yang lain apaan?"
"Yaaa... semisal Adek punya rasa lain selain kagum."
"Ihh... dasar su'udzon saja. Tuh... cuci dulu otak Abang di mesin cuci biar tidak bersarang si piktor," ucapnya sembari bangkit dari ranjang dan berjingkat.
"Adek mau kemana....?" Azlan berteriak.
"Mau nyuci otak Abang yang piktor," sahut Dara kesal sambil menutup pintu kamar mandi sedikit kencang.
"Yang pelan sayang....!"
"Ayo....!" ajak Azlan sambil menggamit lengan Dara. Dara mengekor setelah tadi mengunci pintu.
"Abang... kalau Dara nanti tidak kerja lagi, boleh tidak sekali-kali mendatangkan Bang Jabar kesini. Tapi janji pas Abang ada di rumah. Sama istrinya juga boleh." Azlan mematung sejenak mencerna permintaan Dara baru saja.
__ADS_1
"Adek ini ada-ada saja. Masa permintaannya begitu. Kalau mau bertemu, ya undang saja pas lahiran bayi, sama aqeqahan bayi kita nanti. Tidak usah diundang atas permintaan khusus Adek, nanti Bang Jabar merasa besar kepala dan merasa dibutuhkan." Azlan mendumel tidak senang dengan permintaan aneh Dara.
Tiba di pabrik, sebelum turun dari motor, Dara melihat Mbak Fina istrinya Jabar di depan gerbang masuk. Dara turun, tidak lupa mencium tangan Azlan sebelum menuju gerbang.
"Pulang kerja langsung pulang ya, jangan kemana-mana. Nanti pulangnya Abang belikan Boba sama Pempek,"
"Nggak ah, nggak mau Boba. Dara pengennya Es Teller kesukaan Abang. Ya sudah, Abang pergilah," usirnya saat pesanannya sudah dia sebutkan. Azlan sejenak merasa heran, sebab tidak biasanya Dara menolak Es Boba favoritnya, justru kini dia maunya Es Teller kesukaannya.
Azlan langsung berlalu melajukan kembali motornya menuju Hyundy pabrik tempatnya bekerja.
Saat Dara makin mendekati gerbang, niatnya mau menyapa Mbak Fina, namun secara tidak sengaja Dara malah melihat kejadian yang tidak disangka-sangka.
"Jabar... cepat Kau, lama sekali. Aku mau masuk rumah kuncinya Kau bawa. Dasar laki-laki tidak berguna," sentaknya keras.
"Kamu pergi kemana semalam, macam tidak punya suami kamu kelayapan. Buat apa kunci, kamu masih ingat pulang? Aku begini-begini masih menghargai pernikahan kita, tidak aku rusak dengan perselingkuhan."
"Jangan banyak bacot Jabar... plakkkk....!"
"Mbak Fina....!" kejutku dengan mulut menganga. Saat bersamaan dengan itu, Dara melihat Jabar memegangi pipinya yang terkena tamparan Mbak Fina.
"Ingat ya, aku sudah muak hidup denganmu." Tekan Mbak Fina sambil menunjuk ke muka Jabar.
"Ehh... Dara... saya balik ya....!" pamitnya pelan dengan wajah yang menunduk lalu berlari kecil menghampiri seseorang yang menggunakan motor Thunder.
Dara memasuki gerbang dengan pikiran yang berkecamuk, heran dan kaget serta tidak percaya apa yang dilihatnya tadi. Nasib baik di gerbang tadi tidak ada orang lain lagi. Pak Sekuriti kebetulan entah kemana, mungkin saja lagi berkeliling ke belakang area pabrik.
"Abang....!" teriak Dara memanggil Jabar. Jabar memutar tubuhnya dengan cepat. Jabar berdiri mematung menunggu Dara mendekat seraya menutupi mukanya dengan satu tangan.
"Ayo... kita segera ke ruang produksi," ajaknya tanpa banyak bicara lagi seperti biasanya. Jabar tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan perubahan sikapnya di depan Dara. Walau dia diam namun Dara bisa melihat ada sedih dalam. raut wajan tampan lelaki yang kini sudah kepala tiga itu.
Kalau ingat kejadian tadi, Dara betul-betul tidak menyangka. Sejak kapan Jabar hubungannya tidak baik seperti yang dilihatnya tadi?
Jabar dan Dara sibuk seperti biasa. Di mejanya Dara sedang mempersiapkan report yang harus ditandatangani Jabar. Mereka satu meja namun atmosfirnya berbeda, Jabar tidak banyak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
Dara tidak pernah mendapati Jabar seperti ini sebelumnya, dia selalu ceria dan bercanda. Kadang jail dan suka culak colek pinggang.
"Neng... tadi melihat yang di depan?" tanyanya tiba-tiba dengan nada yang sedikit bergetar. Dara mendongakkan wajahnya lalu menatap Jabar. Dara mengangguk.
"Melihat, bahkan mendengar apa yang Mbak Fita dan Bang Jabar bicarakan," jawab Dara.
"Bicaranya kita pelankan, posisinya tetap begini saja biar orang lain tidak menuding kita sedang ngobrol." Dara diam tanda setuju sambil mengacungkan jempolnya.
Jabar dan Dara mempertahankan posisinya. Mereka berdua terlihat sibuk ngechek *part* dan menyamakan dengan Feeding list.
"Sejak kapan hubungan Abang sama Mbak Fita tidak baik seperti tadi?" tanya Dara pelan namun masih bisa didengar Jabar.
"Sejak tiga tahun yang lalu, selain kami jarang bertemu karena pekerjaan. Ternyata Fita bermain di belakang Abang." Dara terhenyak seakan tidak percaya.
"Abang pasti bohong. Bisa jadi ini akibat Abang yang suka banyak bergurau pada Dara, mau jadikan Dara bini kedualah, ngajak selingkuhlah. Itulah Abang kena karmanya akibat ngomong sembarangan," tuding Dara.
"Justru candaan Abang itu disaat rumah tangga Abang memang benar-benar sedang goyah, Abang bercanda hanya sekedar menutupi kegalauan hati Abang," alasannya.
"Dara tidak sangka saja rumah tangga Abang rupanya sedang goyah."
"Sudah lama goyah, tapi Abang bertahan. Abang tidak pernah marah dan masih menghargai dia," ungkapnya sedih dengan wajah berkaca-kaca.
"Ah sudahlah Neng, Abang tidak mau bercerita terlalu panjang. Abang tidak mau menjelekkan dia dihadapan siapapun. Anggap saja yang kamu lihat dan dengar tadi, tidak pernah ada," putusnya menyembunyikan kecewa yang teramat dalam.
"Tamparan tadi, masih sakit?"
"Ini tidak seberapa dibanding sakit disini," ucapnya seraya meraba hatinya.
"Jangan sampai kejadian tadi menimpa kamu, Neng. Kamu beruntung dinikahi Azlan, dan Azlan sangat beruntung dapat kamu," ucap Jabar mengakhiri obrolan bisik-bisik mereka.
__ADS_1
Dara menatap mata Jabar, sekilas Dara melihat mata itu berembun yang siap jatuh.
"Abang itu laki-laki baik, tapi kenapa masih juga disakiti perempuan?"