Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Dara Keguguran


__ADS_3

Sofia tersenyum bahagia saat disambut oleh kedua orang tuanya juga adiknya, Azman. Mereka berfoto bersama setelah acara wisuda selesai. Sarjana Kebidanan kini disandang olehnya. Rencananya dia ingin membuka praktek kebidanan di sekitar dusunnya. Sebab Bidan di dusunnya hanya ada satu orang itupun sudah berumur.



"Bidan Sofi... selamat ya....!" ujar seorang lelaki tampan berwajah oriental seraya menyalami Sofia.


"Terimakasih Dokter....!" sambut Sofia dibalut senyum.


Lelaki yang disebut Dokter itu benar-benar bahagia atas sambutan Sofia, dia menatap Sofia dari atas sampai bawah dengan takjub. Sofia menyadarinya, jujur Sofia jadi merasa malu.



"Maaf Dokter Herman, saya bergabung dulu bersama teman-teman saya dulu, mereka sejak tadi sudah menunggu saya." Sofia seperti menemukan jalan untuk menjauh dari Dokter Herman, melihat teman-temannya sudah melambaikan tangan. Lelaki tampan yang dipanggil Dokter Herman itu tersenyum walau ada sedikit kecewa di raut wajah tampan orientalnya.



"Sofia... cie, cie, deketan sama Dokter Herman nih rupanya. Kapan lamarannya?" celetuk Rima salah satu teman seperjuangannya selama. kuliah di kebidanan.


"Iss... ngaco kamu tuh, aku tidak ada hubungan spesial dengan Dokter Herman. Jangankan dilamar, menjalin hubungan saja tidak," bantah Sofia.


"Kalau begitu, aku mau deh dilamar Pak Dokter. Udah muda, tajir, tampan pula," celetuk Rima memuji Dokter Herman.


"Is, is, is... kamu ini? Mimpi kali Rima, aku juga mau. Sebelum kamu, aku dulu dong yang dilamar," debat Rima dan Ratna memperebutkan Dokter Herman.


"Kalian ini memperebutkan apa? Tong kosong ya? Dokter Hermannya juga belum tentu mau sama kalian. Sudahlah jangan berebut lelaki. Kita harus sukses dulu," pungkas Sofia menghentikan adu debat antara Rima dan Ratna



Gimana tidak digandrungi para kaum Hawa, Dokter Herman memang tampan rupawan. Dia berwajah oriental, mirip-mirip aktor Korea. Namun Sofia bukan salah satu pengagumnya. Padahal secara kasat mata, Dokter Herman selalu cari perhatian Sofia.



Di dalam hati Sofia yang selalu muncul malah Wisnu, cowok putih langsat, berbadan atletis dan berwajah tampan. Senyum Wisnu yang selalu terbayang di pelupuk mata Sofia. Entahlah baru kali ini dia begitu ngebet menyukai seorang lelaki.


"Aa, sebetulnya perempuan seperti apa yang Aa suka?" batin Sofia galau. Saat hati Sofia galau memikirkan Wisnu, tiba-tiba ibunya Wisnu memanggil VC. Alangkah bahagianya Sofia, anaknya yang dipikirkan, ehhh ibunya telpon.

__ADS_1


"Nak Sofia, selamat ya atas kelulusannya, Ibu ikut senang." Mereka berduapun larut dalam pembicaraan dalam telpon. Hubungan yang terjalin antara keduanya begitu baik dan dekat. Terlebih sejak awal bertemu Sofia, ibunya Wisnu memang menyukai Sofia.


Kembali ke Cikarang


"Sofia lulus, Alhamdulillah... akhirnya Sofia jadi Bidan." Dara begitu girang mendapat kabar Sofia telah wisuda dan kini telah menyandang gelar Sarjana Kebidanan.


Dara sebenarnya ingin menelpon adik iparnya. Namun kini dia sedang di ruang produksi yang tidak mungkin untuk bisa nelpon, akhirnya Dara mengirimkan pesan WA.



"Selamat ya adik ipar sayang, sudah menyandang gelar Sarjana Kebidanan." pesan WA terkirim. Lantas Dara menyimpan kembali HPnya yang berada di kolong meja kerjanya.



Dara bangkit dari duduknya, lalu memutar tubuhnya. Namun lutut Dara tiba-tiba kepentok duluan ke kursi. Dara tidak sempat berpegangan dan memang tidak ada sesuatu benda disekitarnya untuk bisa dijadikan pegangan, sehingga dengan cepat keseimbangan tubuh Dara tidak bisa dipertahankan, lalu condong dan alhasil perut Dara terantuk langsung dengan sandaran besi kursi.



"Awwww....!" mulut Dara menganga menahan sakit.


Seketika Dara pingsan, tidak ingat lagi apa-apa. Darah segar mengucur keluar dari kakinya.


"Dara, Dara... tolong....!" Ira berteriak bersahutan dengan suara mesin yang menderu di setiap mesin yang sedang berjalan memproduksi barang. Sehingga jeritan Ira hilang timbul. Namun secara kebetulan Jabar muncul dari arah ruang Teknisi, lalu seakan dikejutkan melihat Dara bersimbah darah.


"Neng... kenapa? Kok ada darah, apa Dara sedang hamil? Ira... cepat kasih tahu yang lain. Saya mau bantu Dara bawa ke RS, ini bahaya dia keguguran kayaknya. Cepat....!" Jabar panik dan berteriak, khawatir akan keselamatan Dara.



"Neng bertahan Neng....! " ucap Jabar sambil berkaca-kaca. Bagaimanapun juga Dara adalah Operator kesayangannya yang selalu membuat hatinya senang dan ketawa, terlebih terbersit rasa cinta di hati Jabar, namun dia memang tidak bisa mengharapkan Dara lebih, sebab dirinya dengan Dara sudah punya pasangan masing-masing. Rasa cintanya hanya mampu ia perlihatkan lewat candaan, tidak dengan cara kotor yang sempat Reno lakukan pada Dara dulu.



Jabar membawa Dara ke RS menggunakan mobil operasional pabrik, disupiri Pak Supri Supir pabrik.


__ADS_1


"Pak ke RS Harapan Semua, kita tidak usah ke Klinik pabrik sebab ini darurat," perintah Jabar panik. Mobilpun melaju sesuai arahan, dan tidak berapa lama tiba di RS Harapan semua.



Dara dilarikan ke ruang IGD dan segera diberikan tindakan. Sedangkan Jabar segera menelpon Azlan suami Dara. Jabar terlihat panik dan khawatir, dia gelisah dan mondar mandir di depan ruang IGD.



Beberapa menit kemudian Dara dibawa keluar dari IGD untuk menjalani tindakan kuret. Perawat bilang Dara keguguran dan harus dikuret. Jabar terhenyak mendengar kabar itu.



"Anda suaminya Nyonya Dara?" tanya Perawat saat membawa Dara keluar IGD dengan menggunakan brangkar.


"Nyonya Dara keguguran, dia harus menjalani tindakan kuret. Jadi diharapkan Anda segera menandatangi surat persetujuan dan menunggu di depan ruang operasi," ungkap Perawat membuat sekujur badan Jabar ikut lemas.


"Tapi... saya bukan....!"


"Bang... gimana keadaan bini Gua?" bersamaan dengan itu Azlan datang, tepat dengan apa yang dirasakan hati Jabar. Dia tadi mau bilang dia bukan suaminya, dan dengan cepat Azlan tiba.


"Bini Lu keguguran, dia sekarang harus menjalani tindakan kuret dan mau dibawa ke ruang operasi. Lu, tanda tangan surat persetujuannya dulu," ucap Jabar seadanya. Azlan seketika lemas mendengar penuturan Jabar, dia seakan tidak bernyawa. Jabar membantu Azlan berjalan menghampiri Perawat dan. mangambil. surat persetujuan yang harus dia tandatangani.



Tangan Azlan bergetar saat menandatangani surat itu. "Sabar Lan, jangan shock begini, Elu harus kuat sebab Elu masih harus menguatkan bini Lu." Jabar memberi semangat. Padahal hatinya juga sama, sedih seperti Azlan.



"Semoga proses kuretnya lancar Neng," doa Jabar buat Dara.



Brangkar yang didorong Perawat tiba di depan ruang operasi. Kemudian pintu ruang operasi dibuka lebar dan brangkar perlahan masuk kedalam. Azlan dan Jabar ditahan sampai depan pintu ruang operasi. Kemudian Perawat menutup kembali pintu itu rapat-rapat.


__ADS_1


Azlan menghempas tubuhnya di kursi tunggu, dia mengusap kasar rambutnya tanda kecewa dan sedih yang begitu besar. Air matanya kini mulai merembes melalui pipinya. Jabar melihat keadaan Azlan yang begitu terpuruk, sehingga dia tidak berani meninggalkannya minimal sampai Azlan tenang.


__ADS_2