
"Gubrak...." Sofia terjengkang dengan kepala yang hampir beradu dengan ubin. Untungnya dengan cepat satu orang cowok yang lebih dekat dengan Sofia sigap menahan kepala Sofia dari benturan.
"Ciyat....hup....!" Rivai dengan sigap menahan kepala Sofia dari benturan ubin.
"Aduhh....!" mata Sofia dan Rivai bertemu dan saling tatap persis adegan sinetron di TV.
Wisnu melongo melihat adegan yang bikin sekujur badannya tiba-tiba panas dingin. Dara menutup mulutnya membayangkan jika bibir Sofia dan Rivai menempel, alangkah malunya Sofia nanti.
"Sudah... jangan keterusan, entar malah Elu nyosor." Azlan mengangkat tubuh Rivai yang hampir saja menempel di tubuh Sofia. Sofia terkejut plus malu dengan kejadian ini, apalagi Wisnu menatapnya dengan tatapan yang kaget.
Beruntung Azlan cepat tanggap, melindungi Sofia dari curi kesempatan Rivai.
"Aduhhh... sudah mau dapat durian runtuh, ehhhh malah nggak jadi," sesal Rivai sambil ketawa merasa lucu.
__ADS_1
"Elu mau curi kesempatan ya sama adik Gua, kalau tidak ada kami bisa jadi Elu sudah nyosor."
"Tadinya begitu Lan, sudah Gua cium tuh bibir manis Dek Sofi." Sofia melotot mendengar ucapan Rivai lalu spontan menimpuk Rivai dengan buah Mangga yang teronggok di sana.
"Aduhhh... kalian, adik kakak kayak preman. Masa nimpuk bisa kompakan begitu. Masih mending tadi Sofia berhasil Gua selamatin, kalau tidak, kepala Sofia sudah segede bola tenis," racau Rivai pada Azlan dan Sofia yang berhasil nimpuk pakai Mangga secara bersamaan. Ocehan Rivai seketika membuat Wisnu merasa gedek.
"Nolong kok mau curi kesempatan, huhh... hancur martabat adek Gua," cibir Azlan seraya meninju lengan Rivai.
"Halah... mana ada Gua berani kurang ajar sama cewek, apalagi sama adik Elu. Kagak ada turunan Gua ngelecehin seorang perempuan, apalagi memaksa untuk jadi bini...." ujar Rivai angkuh sengaja menyindir Azlan. Azlan yang sadar akan sindiran Rivai menunduk seketika.
"Aku balik dulu ya... sudah mendekati sore nih. Aa pulang ya De, besok-besok kalau Aa ke Cijantung, Aa mampir sini lagi." Wisnu berpamitan pada Dara seraya memegang bahunya. Dara kelihatan berat hati melepas kepergian Wisnu. Wisnu keluar dari rumah Azlan tanpa berkata-kata lagi kecuali mengucap salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum....!" ucapnya tanpa menoleh lagi. Semua membalas salam Wisnu dengan kompak lalu menatap kepergian Wisnu dengan pikirannya masing-masing. Sofia menatap sedih kepergian Wisnu, sebab Wisnu sama sekali tidak menegurnya.
"Wa'alaikumussalam....!"
Kepergian Wisnu membuat Sofia tidak ceria. Padahal tadi sebelum kedatangan Rivai, mereka berempat masih rujakan bersama dan saling sahut juga ketawa.
"Teganya dirimu A....!" ucapnya lirih sembari menahan air matanya.
Satu minggu kemudian, Sofia balik kampung. Walaupun Sofia sedih harus kembali berpisah dari Dara, namun ada yang lebih sedih yaitu mengingat sikap cuek dan dingin Wisnu. Apa dikata, harapan manusia tidak selalu sesuai rencana Tuhan. Sofia maunya begini, namun Tuhan memberikan begitu.
"Sofi balik ya....!" pamitnya bersamaan gojek yang membawanya pergi menuju PO bis Cikarang. Sofia bertekad akan perlahan-lahan menghapus nama Wisnu dalam hatinya.
__ADS_1
Sidang pertama Sofia dimulai, Sofia merasa sangat tegang. Dosen penguji sudah berjejer di hadapannya. Saat sidang berlangsung Sofia berhasil menjawab pertanyaan ketiga Dosen penguji dengan lancar dan tanpa pengulangan. Sofia merasa lega. Dalam bayangannya Sofia langsung teringat Wisnu, andai Wisnu bisa melihat dirinya disini, alangkah bahagianya. Rupanya Sofia masih belum bisa melupakan Wisnu.