
Jam kerja dimulai, Dara nampak senang. Entah apa yang dirasakan. Dara tiba-tiba senang banget.
Senang, karena hari ini bisa satu shift lagi dengan Teknisi idolanya Jabar, si Teknisi wangi, ganteng, baik dan rapi. Setelah sekian lama beda shift, akhirnya bersama. Kalo mau milih antara Azlan dan Jabar, Dara lebih condong memilih Jabar sebagai idola. Kalau Azlan, Dara belum bisa menginterpretasi secara khusus cowok yang kini telah menjadi suaminya itu.
"Wahhh... nampaknya senang banget nih..., kayanya senang karena satu shift lagi sama Abang ya?" goda Jabar PD. Dara tersenyum mengiyakan dalam hati.
"Kayanya, bukan saja karena senang ketemu Abang. Tapi kayaknya habis gempa tektonik nih semalam," goda Jabar lagi sambil memperlihatkan giginya yang rapi.
Aduh Gustii... itu kalau Author belum nikah, auto kena pelet deh sama senyum Jabar yang manis dan super tampan. Hehe.... (canda sedikit).
"Gempa tektonik di mana, potensi Tsunami tidak?" cemas Dara.
"Dekat kamulah Neng, potensi Tsunami jelas dong!" jelas Jabar serius.
"Kapan? Dara belum lihat beritanya?" Dara masih belum sadar apa yang sedang dibicarakan Jabar, dia menanggapi serius tentang gempa tektonik yang diceritakan Jabar.
"Ya ampun, sok polos banget sih Operator mesin kesayangan Abang ini!" gemas Jabar dengan gaya bicara gigi dikatup.
"Abang enggak jelas sih ngomongnya, Dara kan kurang paham!"
"Aduh gini deh, pake isyarat saja!" putus Jabar sambil memperagakan kedua tangannya.
"Abang... jorok ihhh, mesum lagi!" cebik Dara kesal seraya menonjok kecil perut Jabar.
"Sumpah deh Neng, Abang kayak pengen embat kamu ke pelaminan!" ungkap Jabar.
"Apa...? Mulai deh bercanda!"
"Maksudnya pengen embat kalau Abang dan kamu belum punya pasangan!" ungkap Jabar diselingi senyum misteri.
__ADS_1
Jam istirahat tiba, Dara dan Nela bisa bertemu dan ketawa-ketawa lagi. Tiba-tiba, Jabar menghampiri dan memberikan sebuah cup minuman dingin, bukan cup minuman, tapi cup minuman tinggi berisi es boba kesukaan Dara. Ihh Jabar tahu saja kesukaan Dara.
Nela yang melihat, langsung melirik ke arah Dara dengan tatapan aneh.
"Aku tidak dikasih nih Bang, pilih kasih!" rajuk Nela kesal.
"Aduh Nela, kamu ada minuman mineral. Dara kan sukanya es Boba." Alasan Jabar.
"Alah... bilang saja ada udang di balik batu, makanya ngasih Dara!"
"Udang di balik bakwan kali!" timpal Jabar sambil ketawa.
...****************...
Besoknya masih di tempat kerja Dara, ada sedikit kehebohan, terutama di mesin Dara. Ada beberapa orang dari shift A yang masih ada disitu. Termasuk Reno yang kebetulan masuk shift malam, Meta juga ada disitu. Semakin dekat Dara ke mesinnya semakin dibalut heran. Sebab orang-orang yang berkumpul di sana hampir semua menatap Dara.
Tak berapa lama, Jabar, Kak Vita, Kak Dela dan Kak Santi sebagai Leader shift A dan C, ada juga disitu seakan sengaja dikumpulkan.
"Ada apa ini, kok semua orang menatap ke arahku?" batin Dara bertanya.
"Ada apa Kak....?" tanya Dara yang masih baru sampai.
"Dar, simpan tasnya di mesin. Atau titip di Ira!" peringat Kak Vita sebelum melangkah ke arah Store, sebab rencananya meeting dadakan akan dilaksanakan di Store.
"Ok Kak, Dara bersiap dulu. Nanti Dara nyusul," ucap Dara meminta waktu.
"Ra, titip tas ya! Bawa saja ke meja kamu. Aku percayakan tasnya ke kamu!" ujar Dara, Ira setuju.
"Neng... kamu belum tahu apa masalah yang akan dimeetingkan?" Dara menggeleng.
__ADS_1
"Ya sudah, kita jalan yuk. Mereka sudah menunggu. Abang merasa ada sesuatu yang tidak enak denganmu Neng!" ucap Jabar was-was. Darapun nampak galau, wajahnya diliputi was-was juga. Tapi dia belum tahu masalahnya. Nela yang melihat di ujung mesin, terheran-heran melihat sohibnya seakan digiring ke sebuah pengadilan agama.
Setelah semua terkumpul termasuk Dara, Kak Dela sebagai Leader yang pertama mendapatkan laporan bahwa adanya trouble , membuka pembicaraan untuk pertama kali. Ucapan salam dan basa-basi menghiasi awal meeting kali ini.
"Untuk mempersingkat waktu, kita langsung ke inti masalah saja," ucap Kak Dela.
"Disini di tangan saya ada PCB terbakar, ini berikut laporannya sudah dilampirkan untuk diteruskan ke pihak lebih atas yaitu Supervisor, namun sebelum masalah ini maju ke hadapan beliau, sebisa mungkin harus bisa diselesaikan di lingkungan kita dulu sebagai produksi. Jadi dalam hal ini, kami mohon untuk saudara Dara diminta penjelasannya terkait PCB terbakar ini." Terang Kak Dela. Dara tertegun dan heran kok dia sih yang diminta penjelasan, memangnya PCB apa dan kode PCBnya apa? Benak Dara bertanya-tanya.
Dara sekilas melihat PCB yang dipegang Kak Dela, memang PCB itu model Kenwood yang dua hari yang lalu dia jalankan. Lantas Dara melangkah mendekati Kak Dela dan meraih PCB tersebut.
"Iya sih ini PCB yang dijalankan di mesin 10, operatornya kan ada 3. Dara, Delia, dan Vira. Tapi kenapa hanya Dara yang harus menjelaskan disini?" heran Dara.
"Iya, Dar. Tapi cap yang tertera disitu punya kamu kan, coba kamu lihat yang jelas disudut kiri bawah," ucap Kak Dela. Dara baru sadar dan segera melihat cap yang tertera di sudut kiri PCB.
Dan... rupanya memang benar cap yang tertera disana capnya Dara.
"Iya sih ini benar capnya Dara, tapi kalau boleh Dara menyangkal ini jelas bukan kerjaan Dara. Tidak mungkin Dara melepas begitu saja PCB yang terbakar sampai outgoing dan sampai ke QC, kalau memang ada rijek kenapa QC tidak langsung saja datang ke mesin produksi dan konfirmasi langsung pada orang yang dicurigai melakukan kesalahan," ucap Dara panjang lebar.
Semua yang meeting di ruang Store termasuk orang Store menatap ke arah Dara.
Meta yang sejak tadi berdiri, menatap tegas ke arah Dara. Reno juga menatap nanar, di sudut matanya seakan tak tega melihat Dara salah.
"Dar, Kak Vita tahu kamu tidak mungkin sengaja melakukan kesalahan. Tapi bisa jadi kamu lupa dan tidak jeli saat ngecek barang, namanya orang lupa kan bisa terjadi pada siapapun!" Kak Vita akhirnya menimpali.
"Dara tahu Kak, kesalahan bisa terjadi pada siapa saja termasuk Dara. Tapi selama Dara produksi Kenwood, dan kebetulan saat itu ngecek barang karena Ira istirahat, seingat Dara tidak pernah sampai melihat PCB terbakar apalagi sampai lolos cek. Dara juga tidak asal ngecek, Dara menggunakan hand glove (sarung tangan), templet, dan kaca pembesar, apa itu kurang? Pakai kasat mata saja Dara bisa ngecek, apalagi ini ada kaca pembesar, masa iya PCB terbakar bisa lolos dan masuk magazine outgoing?" Jelas Dara panjang lebar, nafasnya kini ngos-ngosan menahan emosi.
"Aku minta maaf Del disini ingin ngomong, bukan karena Dara operator di mesin yang aku pegang, lantas aku membelanya. Setahuku Dara tidak mungkin sengaja melakukan kesalahan, dia juga pandai ngecek barang selama Checker istirahat. Aku tahu kapasitas operator-operator dari shift A sampai C, termasuk Dara. Jadi tidak mungkinlah Dara melakukan kesalahan, apalagi selama produksi Kenwood akulah Teknisinya." Jabar menimpali dan memberikan pembelaan.
"Aku paham Bar maksud kamu, aku tahu kamu paling dekat dengan operator-operator kamu termasuk Dara, jadi aku yakin baik Reno dan kamu tahu kapasitas operatornya. Tapi masalahnya disini, PCB itu ada capnya Dara, makanya kami disini ingin penjelasan dari Dara. Jika Dara tetap tidak mengakui, kami tidak akan memaksa. Tapi laporan kami akan tetap merujuk pada cap yang tertera di PCB tersebut. Dan untuk Dara, Kak Dela minta maaf jika masalah ini diteruskan ke Supervisor. Mungkin Pak Supervisor ada jalan keluar, dan siapa tahu pelaku sebenarnya bisa mengaku. Kakak bukan nuding kamu langsung lho Dar, Kakak hanya merujuk pada apa yang jadi petunjuk di PCB!" terang Kak Dela sang Leader di Shift A.
__ADS_1
Dara sejenak diam, namun dengan tidak menunggu lama dia kembali bersuara.