Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Keributan


__ADS_3

"Assalamualaikum!" ucap seseorang memberi salam. Dara bangkit dan menghampiri pintu, sejenak Dara berdiri di depan pintu, membiarkan sang tamu mengulang kembali salamnya. Perasaan Dara tiba-tiba tidak enak. Jam di dinding masih menunjukkan pukul 18.45 malam. Sebentar lagi Azlan pulang.



"Assalamualaikum....!" ulang suara cowok dan Dara merasa kenal dengan suara itu. Tapi entah di mana sering mendengar. Dara bingung, mau dibuka takut orang jahat. Tidak dibuka malah berisik, takutnya ngucap salam berulang-ulang. Sedangkan di luar masih terdengar ramai penghuni kontrakan yang nongkrong di depan pintunya masing-masing.



Memberanikan diri Dara membuka pintu itu perlahan. "Bismillah...!" gumannya dalam hati.


Pintu terbuka sedikit, Dara mendongakkan kepalanya dari celah pintu yang tidak dibuka lebar itu.


"Waalaikumsalam, siapa ya?" Dara terperanjat seketika. "Bang Reno....!" pekiknya kaget sangat tidak diduga.


Dara melihat-lihat ke sekitar, masih ada beberapa orang tetangga yang berkeliaran, membuat Dara lega. Cowok di hadapannya kini bak cowok yang menakutkan meskipun terlihat tampan.


"Ada apa Bang, kok tiba-tiba datang ke kontrakan Dara? Bukankah beberapa jam kemudian kita tetap bertemu dalam satu mesin?"


Dara heran.


"Kenapa... , gak senang ya kedatangan aku?" tanyanya meninggi.


"Bukan, kok tumben Abang kesini?" heran Dara.


"Memangnya gak boleh aku bertamu?" sela Reno lagi sinis.


"Tidak juga. Abang tahu dari mana kontrakan Dara?" tanya Dara heran.


"Jadi kamu tinggal di sini sama si Azlan?" Bukannya menjawab, Reno malah balik bertanya. Dara tidak menyahut pertanyaan Reno.


"Kenapa ada tamu tapi tidak kamu sambut dengan baik atau dipersilahkan masuk atau duduk?" tanyanya dengan nada menekan.


"Tapi, Dara tidak bisa persilahkan Abang ke dalam. Di sini saja duduk," ujarnya sambil menunjuk dinding pembatas tiap kamar kontrakan, yang tingginya cuma 1 meter.


Dara sebenarnya ingin cowok ini segera beranjak dari hadapannya, sebentar lagi Azlan pulang. Namun Dara berdoa, semoga Azlan tidak segera pulang sampai cowok di hadapannya pergi.


"Abang ada perlu apa?" ulang Dara, sebab pertanyaannya tadi belum dijawab Reno.


"Mau ketemu kalian di sini!" sahutnya sambil berdiri dan berlagak. Dara jengah dibuatnya.


"Maaf ya Bang, Dara masuk dulu. Dara mau tidur. Sebentar lagi masuk kerja, takut ngantuk!" ucap Dara sembari hendak ke dalam.

__ADS_1


Reno segera berjingkat dan mendongak meraih tangan Dara, tubuh Dara tidak seimbang sehingga oleng dan menubruk tubuh Reno. Bersamaan dengan itu, motor Azlan, Rivai, dan Rian datang.



Azlan melepas helmnya dan melongo heran melihat adegan di depan mata, begitupun dengan Rivai dan Rian.


Secepat mungkin Dara melepaskan rangkulan Reno, yang benar-benar sengaja merangkul. Wajahnya merah diliputi marah, apalagi dilihat oleh ketiga cowok yang disitu ada Azlan yang seketika melihatnya dengan sorot marah.


Dara masuk ke dalam tanpa memberi penjelasan.


"Bang..., ada apa di sini?" tegur Azlan dengan nada menahan marah. Gimana tidak? adegan tadi benar-benar terlihat seperti adegan berpelukan sempurna. Tidak tahu malu rasanya, di muka pintu berpelukan, sementara diluar sini masih ada orang berkeliaran. Azlan tidak mau mengambil kesimpulan sendiri, dia perlu bertanya dengan Dara.


Rivai dan Rian saling bertatapan seraya berbisik. "Gimana Yan, kita balik lagi atau tetap disini?"


"Kalian tetap di sini!" tahan Azlan. Kedua sohibnya sontak menepikan motor masing-masing.


"Kebetulan... Lu datang saat Gua masih di sini!" Reno tiba-tiba bersuara dengan sedikit lantang.


"Abang mau apa ke sini?" tanya Azlan masih diliputi penasaran.


"Gua, mau membuktikan bahwa kalian tinggal bersama dalam ikatan pernikahan SIRI," lantangnya.


"Maksudnya?"


"Apaan sih Lu Bang, buat ribut di sini?" Rian tiba-tiba menimpali seakan ikut panas. Azlan menahan tubuh Rian dengan merentangkan tangannya.


Azlan berlalu masuk ke dalam dan mencari Dara. Dilihatnya Dara tengah menangis.


"Ayo berdiri, ikut Abang. Masalah tadi harus diselesaikan sekarang juga." Tiba-tiba Dara memeluk Azlan, dia menangis dipelukan cowok itu.


"Abang jangan percaya apa yang dikatakan Bang Reno, tolong jangan percaya!" mohon Dara sambil sesenggukan.


Sebenarnya Azlan belum paham dengan keadaan ini. Tapi tiba-tiba saat motornya baru sampai, dia dan kedua temannya langsung disuguhi pemandangan yang kurang bagus buat mata.


"Jelaskan nanti diluar!" Azlan menarik tangan Dara keluar. Dara menuruti ajakan Azlan.


Setelah di muka pintu Dara bersitatap dengan Reno. Dara menatap penuh amarah.


"Gua tanya sekali lagi sama Lu, Bang! Maksud dan tujuan Elu datang kemari ada apa, cari Gua atau gimana?" tanya Azlan sungguh-sungguh dan berharap Reno berkata jujur.


Reno menatap tajam Azlan, sorot matanya mendadak penuh ketidak sukaan.

__ADS_1


"Gua gak ada masalah sama Abang, tapi kenapa Abang menatap Gua penuh kebencian?"


Pertanyaan Azlan malah menyulut emosi Reno.


"Lu gak ada masalah sama Gua, tapi gara-gara Elu, Gua jadi ada masalah sama Elu!" tekannya membuat Rivai dan Rian bersiap-siap seandainya diantara keduanya ada baku hantam.


"Gara-gara Gua, masalah apa? Jangan bawa-bawa Gua dengan masalah Elu. Gua gak pernah ribut sama orang!" tandas Azlan heran.


"Gini deh, Gua hanya ingin penjelasan kejadian tadi di muka pintu," sambung Azlan lagi.


"Udah Gua sebut diawal, adegan tadi menandakan bahwa ada apa-apa diantara kami," jawab Reno enteng.


"Bohong..., Abang bohong...!" sela Dara emosi.


"Ngomong yang benar Bang, Abang jangan fitnah Dara!" Deru nafas Dara seketika naik turun tersengal-sengal.


"Bohong apaan, bukankah setiap kita ketemu di pabrik kita selalu sedekat adegan tadi," aku Reno tak gentar.


"Apa Abang bilang...?" Dara melotot dan menghampiri Reno seraya mengangkat tangannya. Sebelum tangan itu sampai di pipi Reno, Reno lebih dulu menangkap tangan Dara dan diacungkannya ke atas. Dara menepisnya cepat, dia tidak suka dipegang oleh Reno.


"Jangan sok keras, tapi hati kamu mengakui!" tekan Reno lagi membuat Dara semakin tersudut.


"Gini ya, buat kalian semua terutama Bang Azlan. Dara mau ceritakan kronologis yang sebenarnya." Dara menjeda sejenak ucapannya.


"Tadi sekitar jam 18.45 ada yang mengucap salam, saat dibuka ternyata Bang Reno. Dara tanya, ada apa Abang kemari, dia hanya menjawab berbelit-belit. Terakhir Dara tanya lagi apa tujuan Bang Reno ke sini, dia menjawab " mau ketemu kalian". Setelah itu Dara merasa jengah dan kayanya gak ada lagi hal penting yang mau diomongin Bang Reno, lalu Dara pamit mau masuk, saat tubuh Dara ada di bibir pintu, tiba-tiba Bang Reno meraih tangan Dara, lalu tubuh Dara oleng dan ambruk menimpa Bang Reno. Mungkin karena melihat kalian, dengan sengaja tubuh Dara dirangkulnya," terang Dara sejujur-jujurnya.



"Alah munafik kamu Dara, kamu juga mau dipeluk, kan...?" Reno semakin memanas-manasi Azlan yang memang sudah tersulut emosi.


Azlan berdiri mendekati Reno, matanya menatap tajam dan bermaksud meraih kerah baju Reno.


"Sembarangan Elu ya Bang, sengaja melakukan hal yang tak senonoh pada istri orang!" suara Azlan bergetar, giginya gemeratuk menahan marah. Lalu tangannya mengepal meninju rahang Reno. Rivai dan Rian segera memisahkan keduanya. Pukulan Azlan cuma tipis tidak sampai telak mengena.


Reno tersenyum mengejek. Dia balik menatap tajam Azlan.


"Lihat lah yah, Gua akan rebut kembali Dara. Akan kupastikan nikah siri Elu berakhir!" ucap Reno dengan nada penuh ancaman.


"Sudah, Elu pergi Bang! Jangan cari ribut disini!" gusur Rivai dan Rian menyingkirkan tubuh Reno dari depan kontrakan Azlan.


Reno bersungut-sungut menatap marah ke arah Azlan, seakan belum tuntas masalah dengan Azlan.

__ADS_1


Azlan terduduk di pembatas kamar kontrakan, nafasnya masih tersengal menahan marah. Rivai dan Rian berusaha menenangkan.


__ADS_2