
Magrib menjelang, kumandang Adzan telah diperdengarkan. Dara segera bangkit untuk memenuhi panggilan Yang Maha Suci. Sambil sesekali menguap menahan rasa kantuk.
Setelah mengambil wudhu, segera Dara menjalankan perintahNya.
"Assalamualaikum!" Selesai mengucapkan salam kanan kiri, sejenak Dara memanjatkan doa.
"Semoga hari ini bisa dilalui dengan baik, aamiin.....!" Harapnya.
"Hoammmm......!" Rasa kantuk menyerang, Dara beberapa kali menguap. Namun Dara bingung dengan pintu. Jika dikunci sebentar lagi Azlan pulang, tidak dikunci Dara paling takut bila ada orang lain masuk.
"Bagaimana caranya ya?" Dara berpikir.
*
*
Jam 7.15 menit malam, Azlan pulang. Ternyata pintu dikunci, beberapa kali mengetuk dan mengucap salam namun tidak ada yang menyahut. Azlan bingung kemana perginya Dara?
Saat melihat jendela yang nampak terbuka beberapa inci, Azlan mencoba menariknya lalu membukanya. Oh rupanya jendela ini tidak ditutup rapat, supaya Azlan bisa menjangkau kunci dan membuka pintu.
Kunci berhasil dia raih, lalu pintupun berhasil dia buka.
"Assalamualaikum!" Salamnya seraya mencari sosok Dara. Ah rupanya Dara tidur, terdengar dari deru nafas yang teratur.
"Kenapa Dara tidak WA aku untuk memberi tahu kalau pintu dikunci?" Gumannya bertanya-tanya.
"Ah bisa saja saking ngantuknya Dara tidak sempat kirim WA." Pikirnya positif.
Sebelum ke kamar mandi untuk bersih-bersih, Azlan sejenak menghampiri Dara yang tertidur pulas. Dibalik lemari plastik suara deru nafas itu terdengar beraturan tanpa gangguan. Azlan masuk dan menghampiri.
Ditatapnya gadis kesayangannya itu penuh cinta, dengan posisi duduk. Raut wajah teduh namun lelah begitu nampak. Lelap sekali tanpa terganggu.
__ADS_1
Azlan mengecup lama kening Dara. Tiba-tiba Azlan berkaca-kaca, ada cairan bening menggumpal disana. Secepat kilat cairan itu jatuh hampir saja dipipi gadis terkasihnya itu, kalau saja Azlan tidak segera memalingkan muka.
Disaat seperti itu, tiba-tiba rasa bersalah dan sedih menggelayuti hatinya. Azlan menatap sedih muka Dara.
"Aku hancurkan mimpinya bahkan cita-citanya karena ulahku, usianya masih sangat muda. Pasti masih banyak obsesi-obsesi yang ingin dia capai terpaksa terhenti karena keegoisanku. Aku bersalah, aku tidak pantas dimaafkan!" Ungkapan penyesalan mengalir deras dari bibir Azlan sampai terlihat bergetar. Azlan menghela nafas mengakhiri kesedihan dan penyesalannya. Terakhir dia kecup kening Dara lama, sampai gadis itu melakukan pergerakan.
"Siapa sih....?" Gumannya lemah masih diselimuti ngantuk. Azlan tidak menyahut, secepatnya dia berjingkat dan berlalu menuju kamar mandi, membersihkan diri yang tadi sempat tertunda.
*
Jam 10.15 malam bunyi alarm HP Dara terdengar. Sengaja ia setting pada jam tersebut untuk membangunkan dari tidur dan bersiap untuk bekerja. Dara menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak.
"Hoammmm....!" Dara nampak masih mengantuk. Perlahan Dara bangkit, dipaksanya rasa kantuk dibawa ke kamar mandi, kemudian dibasuhnya muka ngantuk itu.
Dara tidak pernah mandi malam, sebab sebelum Ashar dia telah siap mandi. Hanya butuh gosok gigi lalu berwudhu, sebab Dara belum melaksanakan sholat Isya.
Segera Dara mendirikan sholat, sementara diluar sana terdengar samar-samar suara petikan gitar. Dara telah mengakhiri sholatnya, ketika terdengar suara pintu dibuka.
"Reket.....!" Pintu berderit pelan.
Dara segera memakai seragam kerjanya yang masih rapi, lalu duduk menghadap bingkai cermin yang tersandar di tembok.
Rasanya malas banget untuk kerja malam dua minggu ini, alasan jelasnya malas ketemu Reno yang tadi malam terang-terangan mengungkapkan kekecewaan pada Dara. Seandainya Reno tidak mengungkapkan rasa kecewanya tadi malam, mungkin malam ini Dara akan bersikap biasa, walaupun memang pada kenyataannya dia biasa selalu dijutekkin oleh Reno. Rupanya alasan dia jutek karena penolakan Dara.
Tap, tap... skinker, bedak padat, dan lipstik merah jambu kini telah berpindah ke wajahnya. Lalu Dara bercermin mematut diri, rasanya ada yang kurang.
"Adek sudah cantik banget, kenapa juga harus ditambah bedak, nanti malah Bang Reno naksir Adek. Kecewa sampai ubun-ubun Abang!" Protesnya sambil merebut bedak padat yang akan Dara bubuhkan dipipi tirusnya.
"Apaan sih...., main rebut saja!" Dara merengut tidak terima. Tidak berhenti disitu kini Dara meraih celak, untuk digoreskan digaris matanya.
"Sret, sret....,".Dara menggoreskan pensil celaknya ke garis mata. Merasa hasilnya sempurna, Dara mengakhiri riasannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Azlan.
__ADS_1
Azlan menatap Dara takjub. "Macan....." Gumannya. Setelahnya, Dara segera ke dapur untuk menyiapkan bekal, namun dengan cekatan Azlan meraih centong nasi yang akan Dara pegang. Lalu menyedukkan nasi dan lauknya ke tempat bekal yang selalu Dara bawa.
"Abang apaan sih, Dara juga bisa sendiri. Kenapa serobot-serobot gini? Dara bukan orang sakit. Dara juga bisa. Dara tidak mau ngerepotin orang lain! Protesnya ketus.
" Aduh..... kenapa sih bini Abang kini jutek lagi, ada apa Dek, Abang bukan orang lain!" Azlan heran.
Dara hanya merengut mukanya tambah kusut.
"Abang tahu, pasti Adek malas masuk malam karena Teknisinya Bang Reno yang jutek itu kan?" Tebakan Azlan mengena banget, semakin membuat Dara jengah.
Dara melengos menuju ruang tengah, lalu meraih tasnya dan bersiap berangkat kerja. Azlan melongo heran, diikutinya Dara dari belakang seraya menyambar kunci motor yang tergantung di paku.
"Kak Rian, Kak Vai.......!" Sapa Dara sesaat setelah berada diluar. Azlan yang mendengar Dara menyapa dua sekawan dengan penuh senyuman, sontak hatinya diliputi rasa iri. Dirinya yang sejak tadi menggodanya malah dijutekkin.
"Ya Allah.... bidadari keluar dari sarangnya....!".Celetuk Rian sambil menatap Dara lekat. Dara tersipu malu.
" Berangkat kerja Neng....?" Rivai menengahi.
"Iya Kak.!" Sahutnya.
"Sudah.....woyyy, bidadarinya mau diantar kerja!" Tegur Azlan kesal.
"Issss dah......Lu tuh Lan, ganggu orang saja yang sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang indah ini," protes Rian tanpa ragu.
"Asal aja Lu ngomong. Ciptaan Tuhannya sudah milik Gua. Ingat itu!" Peringat Azlan garang.
"Mau nikah saja masih cengengesan sama bini orang!" Sambung Azlan kesal.
"Kalian lanjutkan gitaran, Gua antar dulu bidadari!" pamit Azlan segera menyalakan motornya. Dara tersenyum berpamitan pada Rian dan Rivai. Setelah Dara siap dan berada diatas motor, Azlan perlahan membelah jalanan menuju tempat Dara bekerja.
Angin malam menghembus, seakan ikut mengantarkan kepergian Dara. Dara sedikit mendesah karena rasa dingin. Selama perjalanan tidak ada yang bersuara, Azlan hanya mampu menatap wajah Dara dari spion motor Maticnya dengan heran. Kenapa hari ini Dara kembali diam dan jutek?
__ADS_1
Tiba didepan pabrik, Dara segera turun tanpa berkata apapun, dia hanya meraih bekal yang Azlan cantolkan digantungan motor.
"Dek...... hati-hati!" Dara menoleh sesaat, lalu masuk ke dalam gerbang. Azlan menatap kepergian Dara dengan nanar. "Ada apa lagi dengan Dara?" tanyanya dalam hati.