
Padat merayap, bis baru menapaki pintu tol Cipularang. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dalam waktu dua jam saja dari Cikarang ke Bandung, ini sudah hampir tiga jam baru sampai pintu masuk Cipularang. Belum lagi sambung ke arah Lembang yang butuh waktu kurang lebih satu jam setengah. Pada saat puncak arus mudik begini, mustahil bisa ditempuh dengan waktu satu jam setengah.
Dara nampak bergerak, perlahan membuka matanya. Dia melihat keluar kaca dan menatap plang yang berdiri tegap di jalanan.
"Baru sampai jalan xx, lambat banget," keluhnya pelan namun masih bisa didengar Azlan.
"Dek, sudah bangun?" Dara hanya melihat ke arah Azlan sekilas, setelahnya dia fokus kembali ke arah luar sana.
"Dek, masalah kontrakan yang tadi dibahas Adek, sebetulnya Abang masih belum paham. Kalau ngontrak sayang banget, masa cuma beberapa hari ngontrak rumah. Sebaiknya penginapan saja Dek," kata Azlan mengusulkan pendapatnya. Untuk beberapa saat Dara diam tak bersuara.
Sebelum berkata Dara menarik nafasnya sejenak, "kan tadi sudah Dara bilang, kalau penginapan kemungkinan akan penuh, apalagi dipuncak arus mudik kaya gini. Apalagi daerah Lembang yang sekarang sudah banyak tempat wisata, banyak pengunjung. Otomatis penginapan yang murah saja cepat penuh. Kalau kontrakan, Insya Allah bakal dapat walau cuma sepetak. Cari saja yang bisa dibayar per bulan," terang Dara panjang. Azlan menganggukkan kepala tanda paham.
"Tapi, bagaimana jika Abang langsung diterima oleh keluarga Adek?" tanya Azlan PD.
"Abang jangan terlalu berharap, kecuali jika Abang berbohong. Maka Abang akan mudah diterima."
"Abang tidak mau berbohong Dek, kalaupun Abang harus dibogem mentah saat itu juga, sudah Abang katakan Abang rela," tekan Azlan lagi sungguh-sungguh.
"Terserah Abang, yang jelas Dara sudah peringatkan," ucap Dara pasrah.
Hari makin siang, bis yang ditumpangi Azlan dan Dara baru merapat di rest area KM 14. Para penumpang yang kebelet berhamburan keluar bis.
"Keluar dulu yok, sebentar lagi adzan Zuhur. Kita sholat dulu di Mushola itu!" ajak Azlan seraya menunjuk ke arah Mushola di rest area itu. Dara mengikuti ajakan Azlan, lagipula dia juga kebelet pengen buang air. Tidak lama kumandang Adzan Zuhur terdengar.
Setengah jam kemudian, waktu istirahat habis. Azlan dan Dara beranjak meninggalkan Mushola yang sejak tadi mereka singgahi untuk sholat dan mengistirahatkan badan sejenak. Para penumpang bis yang lainpun ikut berhamburan menuju bisnya masing-masing.
Saat di parkiran khusus mobil pribadi yang dilewati Dara, tidak sengaja Dara melihat penampakan lagi, tapi ini lebih jelas dan cukup menghenyakkan dadanya. Cepat-cepat Dara mengambil HPnya dan mengarahkan kamera yang sudah dinyalakan rekaman, menuju objek yang bikin dia terhenyak. Tidak lupa Dara bersembunyi di balik badan mobil yang lain yang terparkir di sana.
"Sempurna," ujarnya.
__ADS_1
"Klik ...!" tersimpan.
Dara buru-buru menyusul Azlan yang tadi dibiarkan jalan duluan karena Dara menjalankan misi keponya. Azlan nampak menunggu Dara di depan pintu bis sambil celingukan mencari Dara.
"Nahhh ini dia, Adek dari mana dulu? Kenapa tadi menghilang?" tanya Azlan heran.
"Dara dari sana dulu," tunjuk Dara ke arah parkiran.
"Ya sudah yok, masuk!" Azlan dan Dara masuk kembali ke dalam bis.
Sebelum bis melaju, Kernet memeriksa dulu penumpang, dan menghitungnya. Setelah merasa kumplit, kemudian bis perlahan melaju meninggalkan rest area dan memasuki tol yang masih padat merayap.
Dara membenarkan posisi duduknya, kepalanya dia arahkan keluar kaca, memandangi satu persatu kendaraan kecil yang sama-sama merayap di sebelah kiri badan bis. Kadang di depan bis ada juga kendaraan kecil yang ingin menyalip ke arah kanan, pun sebaliknya ada juga yang menyalip dari sebelah kanan ke kiri, berharap lajur kiri bisa melaju lebih cepat. Begitulah keadaan di jalan tol saat padat merayap, kadang membuat para pengguna jalan jengah.
Walaupun demikian, Dara tetap menikmati warna warni di jalan tol, baginya ini refreshing mata. Sebab sejak dulu Dara sangat suka menikmati pemandangan dari dalam bis, jika melakukan perjalanan darat. Ditatapnya satu persatu kendaraan kecil di sebelah kiri bis, saat pandangannya tertuju pada sebuah mobil Avanda, Dara merasa tidak asing. Sepertinya itu adalah mobil yang sama yang sempat dia jumpai dua kali secara tidak sengaja, dan Dara berhasil mengabadikannya di rekaman HPnya.
Dara kembali fokus dengan penemuannya. Walau hanya dilihat dari atas bis, di dalam mobil itu jelas banget terlihat si pengemudi yang Dara kenal, kaca mobil sengaja dibuka mungkin karena sedang macet.
Cukup mengagetkan dan rasanya tak percaya melihat pemandangan itu, sang pengemudi dan pasangannya yang cukup Dara kenal juga, nampak bergelayut mesra. Entah apa yang mereka lakukan, yang jelas badan sang pengemudi mendongak miring menuju penumpang sebelahnya. Lama sekali. Kepo tapi tidak terlihat jelas apa yang terjadi di dalamnya.
Kali ini Dara tidak berusaha merekamnya, sebab sudah cukup jelas dia mendapatkan objek yang bagus dan jelas saat tadi di parkiran. Dara membuka HPnya, lalu dia membuka rekaman yang sudah tersimpan. Dibukanya kembali rekaman terakhir.
Terpampang jelas di sana Meta dan Pak Erik sang Manager di pabrik elektronik tempat dia bekerja. Pria berusia 40 tahun itu nampak begitu cool, terlebih memang wajahnya tampan. Jadi di usia 40 tahun belum nampak tua.
Nampak Pak Erik membukakan pintu depan sebelah kiri untuk Meta, mereka nampak mesra. Sesekali Meta sebelum masuk mobil, memegang tangan Pak Erik, dan Pak Erik membalasnya dengan senyuman genitnya. Pemandangan yang cukup jelas buat bukti bahwa mereka ada apa-apa, sedangkan Pak Erik sendiri seorang pria dewasa yang sudah beristri. Entahlah apa hubungan Meta dengan Pak Erik.
__ADS_1
"Apa sih yang Adek lihat, anteng banget?" gertak Azlan mengagetkan Dara.
Dara buru-buru menyembunyikan HPnya. Azlan jadi curiga.
"Pasti menyimpan foto-foto nggak benar," tuding Azlan yang berhasil membuat Dara melotot.
"Apaan sih, kepo!" dengusnya sebal.
"Nih kalau ingin lihat," seru Dara sambil memperlihatkan HPnya.
Foto-foto cowok berkulit putih mulus, berambut klimis, berperawakan tinggi terpampang banyak di layar HP Dara. Galeri fotonya hampir dipenuhi foto-foto cowok Korea, didominasi oleh duda baby face Song Joong Ki dan si bujang lapuk Lee Min Ho. Mereka berdua memang diatas segalanya dari Azlan, namun dengan PD Azlanpun menobatkan dirinya diatas segalanya dari kedua cowok Korea tersebut, yakni kesetiaan dan kesabaran.
"Mereka boleh tampan, tapi lebih ganteng Abang. Abang asli cowok keturunan Indonesia, dan Abang punya dua hal yang tidak dipunyai mereka," jelas Azlan sombong.
"Apa...?" Dara penasaran.
"Kesetiaan dan kesabaran," sahut Azlan yakin.
"Song Joong Ki tampan, tapi sayang mukanya kaya bayi kurang garang. Lee Min Ho tampan juga, cuma sayang dia bujangan lapuk, jangan-jangan dia tidak suka cewek ....!"
"Ihhhh, apaan sih ngata-ngatain idola Dara gak benar. Bisa kena UU ITE tahu!" sungut Dara sambil merebut HP yang dipegang Azlan.
"Coba lihat Abang juga mirip artis Korea, ehh salah Taiwan. Mamak bilang, Abang mirip To Ming Se. Kalau tidak percaya, coba Adek searching di KiuTub.
"Alah ... paling mirip saringan kelapa muka Abang itu, mau dimirip-miripin sama artis," cibir Dara sambil mencebik.
"Coba nih lihat," sodor Azlan saat membuka KiuTub dan membuka profil seorang To Ming Se atau nama bekennya Jerry Yan.
Dara meraih HP Azlan, rasa penasarannya membludak. Dan dilihatnya profil To Ming Se artis Taiwan yang digadang-gadang mirip Azlan.
Dara mengamati artis Jerry Yan dengan jelas. Mata dan senyumannya memang mirip Azlan, sekilas wajahnya memang mirip namun yang membedakan adalah warna kulit. Jerry Yan berkulit putih, sedangkan Azlan sawo matang. Benar-benar nyata di depan mata, Azlan memang duplikatnya To Ming Se versi kulit sawo matang.
Tidak jelek amat, bahkan Dara sering dibuatnya jatuh cinta ketika cowok hitam manis itu sedang mengenakan seragam Teknisinya.
__ADS_1
Dara mematikan aplikasi KiuTub di HP Azlan, dan Dara melihat, rupanya Azlan memasang foto mereka berdua saat mau menghadiri ke pernikahan Rian, sebagai wallpapernya.