
Pagi menjelang, Dara terbangun setelah merasa tubuhnya ada yang mengguncang. Dara menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
"Hoammm....!" Dara masih menggeliat sambil menguap.
"Yuk..., Yuk Dara.... sudah pagi.... sholat Subuh sebentar lagi lewat!" Dara terperanjat kaget, sontak tubuhnya bangkit dan melihat jam weker yang ada di Nakas. Jam 5.30 pagi.
"Hahh....., aduhh... kesiangan....!" ujarnya kaget tak percaya.
"Maaf... Dara kesiangan....!. Kenapa kamu gak bangunin Dara?" tanya Dara dengan nada malu pada Sofia.
"Tadi Sofi mau bangunkan Yuk Dara, tapi Yuk Dara kelihatan lelap banget. Jadi Sofi urungkan. Karena waktu makin siang dan Sofi tahu Yuk Dara belum sholat Subuh, terpaksa barusan Sofi bangunkan," terang Sofia.
Dara merasa gak enak hati, di hari pertama dia berada di rumah orang tua Azlan malah bangun kesiangan, mau disimpan dimana muka ini kalau bertatap muka dengan mereka. Tapi, kenapa juga dia harus malu, baguslah supaya keluarganya Azlan merasa illfeel dan tidak suka gara-gara dia kesiangan. Niat awalnya Dara kan berharap keluarganya Azlan tidak suka sama Dara. Tapi, sisi lain hatinya mengatakan, masa iya keluarga yang menyambutnya dengan baik tega Dara sakiti? Rasanya tidak tega. Akhirnya pikiran Dara bercabang dua.
Dara segera beranjak dari ranjang, mengambil handuk dan peralatan mandi yang sengaja dia bawa dari Cikarang. Walau hatinya sedang bercabang, namun dia paksakan bangun untuk bersegera ke kamar mandi. Dara sedikit malu-malu karena Sofi menatapnya diiringi senyuman.
"Makasih Sof udah bangunin Dara. Kalau tidak, bisa-bisa Dara gak sholat Subuh, " ucap Dara malu-malu sebelum ngeloyor menuju kamar mandi. Sofia sikapnya baik, masa tega dia buat illfeel?
Untuk ke kamar mandi Dara harus melewati dua kamar dan dapur, alangkah malunya kalau Dara harus ketahuan kesiangan apalagi kalau sampai berpapasan sama Mamak dan Bapaknya Azlan. Kamar mandi di rumah itu sebetulnya ada dua, satu di bawah dan satunya lagi diatas yang berdekatan dengan dapur. Kalau mau milih sih pengennya kamar mandi yang berada di bawah, biar tidak ketemu sama siapa-siapa. Tapi takut tidak keburu untuk sholat Subuh, akhirnya Dara memilih yang diatas walau malu.
Dara berjalan mengendap-endap berharap tidak ada siapapun yang melihatnya. Namun nasib berkata lain, tiba-tiba Dara bertubrukan dengan seseorang.
"Brukkk....!"
"Aww... sakit....!" ringisnya.
"Adek......!" pekik Azlan kaget.
Dara masih nampak meringis, sebab tubrukan tadi tepat kena dadanya.
"Adek sudah bangun? Abang minta maaf...., Abang tidak sengaja," sesal Azlan seraya bermaksud menanyakan dimana yang sakit, namun belum sampai bertanya, Mamaknya datang tepat dari arah dapur.
"Kenapa dengan Neng Dara, apakah Kau mengganggunya Lan?" tanya Mamak heran.
__ADS_1
"Tadi kami tubrukan Mak, dan Dara kesakitan, " jelas Azlan jujur.
"Ya sudah, sebaiknya Kau kebawah Lan rewangi Bapak dan Bik Ima di toko, sekalian Kau lihat dan hitung barang yang sudah stoknya menipis, " ujar Mamak menghalau niat Azlan.
"Ya sudah Mak, Azlan ke bawah dulu, " pamit Azlan sambil melirik ke arah Dara. Dara yang sadar akan lirikan Azlan berpura-pura tidak tahu dan mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Azlan sedih, kayaknya Mamaknya sengaja menjauhkan Dara darinya.
"Maaf Mak, Dara bangun kesiangan, " ucap Dara penuh sesal.
"Tidak apa-apa..., sekarang cepatlah mandi, Subuh segera berakhir," ujar Mamak lembut.
Dara mengangguk dan segera beranjak ke kamar mandi, lantas membersihkan diri dengan cepat.
Sementara itu, Azlan yang sedang sibuk membantu Bapak dan Bibinya di toko, pikirannya tidak fokus. Dia berpikir bagaimana caranya supaya dia bisa berduaan dengan Dara. Azlan rindu berdekatan dengan Dara.
"Lan..., sini sebentar...!" ujar Bapak seraya melambaikan tangannya menuju gudang.
"Iya Pak....," Azlan patuh menghampiri.
"Setelah sarapan nanti kita ke ladang Sawit.... Bapak mau bicara dengan Kau..,".ucap Bapak dingin.
"Kak Azlan, kapan Kakak nikah sama Yuk Dara? Kalau Kakak nikah nanti, Azman mau ikut seserahan biar bisa melihat kota Bandung, " celoteh Azman adik bontotnya yang masih kelas 11 itu tiba-tiba. Azlan melongo terkejut dengan pertanyaan dan ungkapan polos adiknya barusan.
"Doakan saja Man, secepatnya...," jawab Azlan sambil menunduk.
"Asikkk...., sebentar lagi dong Azman bisa pergi keluar pulau," ucapnya girang.
"Memangnya Kau senang kalau Kakak menikah dengan Yuk Dara?" tanya Azlan mengorek pendapat Azman.
"Senanglah Kak, kayaknya selain cantik kelihatannya Yuk Dara juga baik," jawab Azman.
"Azman juga mau cari jodoh dari Pulau Sunda ah kayak Kak Azlan, biar dapat yang cantik dan baik macam Yuk Dara, " katanya sambil senyum terukir. Azlan terkekeh mendengar penuturan adiknya itu.
"Kau ini, masih sekolah jangan mikirin jodoh dulu. Lagipula mana ada pulau Sunda, yang ada suku Sunda. Ahhh.... ngaco...!" sergah Azlan diikuti tawa geli.
__ADS_1
"Jadi, Yuk Dara berasal dari pulau mana Kak....?" Azman meminta penjelasan.
"Yuk Dara berasal dari pulau Jawa, tepatnya Jawa Barat, sukunya suku Sunda. Begitu...!" jelas Azlan. Azman manggut-manggut baru paham.
"Sudahlah Man, Kau tak perlu mikirin jodoh dari suku mananya dulu, suku manapun yang penting baik dan cocok, " pungkas Azlan sambil berdiri. Azman hanya tersenyum-senyum menanggapi ucapan Abangnya barusan.
"Kau mau pergi kemana Man, bawa sepeda?" Heran Azlan melihat adiknya mengeluarkan sepeda dari gudang.
"Azman mau antar pesanan pempek ke RT sebelah, " sahut Azman sambil membenarkan posisi sepedanya. Lalu berpamitan untuk mengantar pesanannya.
Di dapur suasana begitu hangat, suara Dara dan Sofia kadang bersahutan tertawa riang, kadang Mamak juga menimpali dan tertawa. Azlan yang mendengarnya merasa senang dan mengintip di balik pintu.
Sepertinya sudah sebegitu dekatnya Dara dan Sofia, mereka tidak canggung lagi tertawa bercanda ria. Ditatapnya Dara yang sedang memilin-milin adonan pempek. Rupanya Dara sedang belajar membuat pempek dengan berguru pada Mamak. Begitu semangatnya Dara.
"Dara belum pandai bikin Pempek kapal selam sama lenjer Mak, susah juga ya, " seru Dara dibarengi tawa.
"Terus belajar Yuk, pasti bisa. Besok juga kita masih bisa bantuin Mamak, " Sofia memberi semangat pada Dara.
Azlan yang masih setia mengintip Dara dari balik pintu, ikut tersenyum bahagia melihat keakraban ketiga perempuan yang disayanginya itu.
"Lan.... ngapoi Kau ngintip-intip disiko, jingok siapo hayohhh?" tiba-tiba Bik Ima ngagetin Azlan yang tengah anteng ngintip. Azlan gelagapan bingung mau jawab apa, sementara dari arah dapur Dara dan Sofia ikut kaget dan menoleh ke asal suara Bik Ima.
"Kak Azlan..... kok disitu, ngapain Kak...?" Sofia menatap Azlan heran.
"Palingan kakak kau lagi ngintip calon Ayukmu, Sofi...!" celetuk Bik Ima tak segan-segan membocorkan gelagat ponakannya. Azlan hitam sudah mukanya tercoreng oleh celetukan Bibiknya itu. Dara ikut menoleh, mukanya bersemu merah mendengar namanya disebut oleh Bi Ima.
"Idak..., Azlan nak nyingok apo lah siap belum sarapannyo!" tepis Azlan menyembunyikan rasa malunya dengan menggunakan sedikit bahasa Palembang.
"Sebentar lagi siap Kak...., panggil sekalian Bapak, kalau Azman lah balek tolong kasih tahu jugo!" timpal Sofia.
Akhirnya sarapan telah siap. Mereka berlima tanpa Azman, sarapan dengan diiringi obrolan ringan, sementara Bik Ima memisahkan diri, sarapannya dibawa ke dalam toko takut ada yang beli, alasannya.
Sarapan selesai, Dara dengan sigap membantu Mamak dan Sofia membereskan bekas sarapan. Sementara Azlan, sesuai apa yang dibicarakan dengan Bapaknya tadi di toko, bersiap pergi mengikuti Bapak ke ladang sawit. Sebelum pergi Azlan menyempatkan diri menyapa Dara, Dara hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk membantu Sofia.
__ADS_1
Sebenarnya, apa yang mau Bapak bicarakan dengan Azlan? Pantengin dan dukung terus cerita Dara dan Azlan. Ok Guys.....