
Besoknya, Dara diantar kerja oleh Azlan. Sementara Azlan untuk dua minggu kedepan dapat cuti dari pabrik tempatnya bekerja. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Azlan. Dia mempersiapkan pindah rumah ke perumahan yang dulu disewa Pak Hendra.
Kebetulan Pak Hendra sudah dihubungi jauh hari sebelumnya oleh Azlan, dan masa kontraknya telah diputus. Kini Azlan akan mulai mempersiapkan segalanya, mulai dari renovasi rumah sampai membeli perabotan rumah tangga.
"Jadi kapan Elu pindah, Lan?" tanya Rivai saat dia bertamu ke kontrakan Azlan.
"Secepatnya I, setelah renov Gua beli perabotan rumah dan lain-lain," jawab Azlan.
"Dara sudah tahu kalian akan pindah?"
"Gua belum bilang, biarlah nanti Gua bilang setelah rumah siap dimasuki."
"Berkah Lu Lan, pergi Korea bisa lunasin rumah, beli perabotan rumah, kaya Lu sekarang Lan," ucap Rivai terharu.
"Makanya, Lu harus mau kalau suatu saat diover ke Korea."
"Gua tidak tertarik Lan, capek berat woyyy.... "
"Terus, masalah si Reno yang malam kemarin itu datang, gimana? Dia minta maaf sama Elu?" singgung 9 Rivai ganti topik. Azlan mengangguk seraya menyeruput kopi Guday Mukacina favoritenya.
"Jadi, sekarang kalian baikan?"
"Memangnya sejak kapan Gua musuhan sama dia? Dia yang memulai Vai," sergah Azlan tidak suka. "Kenapa juga kalian suka dengan cewek yang sama, si Rian juga bahkan si Ja...." ucapan Rivai terputus.
"Siapa lagi yang suka Dara, Elu tahu?" Azlan bertanya dengan menyelidik. "Ya pastinya masih ada cowok lain yang suka sama Dara," ujar Rivai mengalihkan pertanyaan Azlan.
"Saingan Elu itu banyak Lan, untungnya Dara tipe cewek setia. Selama dia Elu tinggal dia begitu setia menjaga kesucian cinta kalian. Jadi foto yang Elu dapat entah dari siapa itu, Gua rasa hanya posisi kebetulan saja, seperti apa yang diakui Dara."
"Cukup I, jangan ungkit lagi foto itu. Gua sudah percaya sama bini Gua, dan sekarang Gua tidak mau mengingat-ingat lagi. Gua sudah move on," cegah Azlan tegas.
__ADS_1
"Baguslah... itu lebih baik," balas Rivai.
"Ganti topik, sekarang gimana usaha Elu di kampung? Ada kemajuan, tidak?"
"Lumayanlah. Emak Gua di kampung bilang, walaupun dikredit tapi orang-orang kampung bayar tepat waktu," jawab Rivai.
"Baguslah I, itu artinya Elu masih kirim barang, kan?"
"Iyalah.... "
...----------------...
"Apa, pindah rumah?" sentak Dara kaget saat Azlan mengungkapkan maksudnya dengan jelas. "Rumah yang dulu disewa Pak Hendra?"
"Iya, tepat banget."
"Kapan kita pindah?" tanya Dara.
"Kurang lebih satu bulan lagi," tandas Azlan. Dara manggut-manggut paham.
*
*
Di depan perumahan tipe 36 kini Azlan berada. Tidak lama dari itu, muncul mobil pick up mengantar barang. Rupanya Azlan membeli perlengkapan perabotan rumah tangga. Mulai dari kulkas, lemari, ranjang juga perabotan lainnya.
Azlan terkesima melihat keadaan rumah barunya. Dia terharu, hasil kerja jauh dari Korea rupanya tidak sia-sia. Setidaknya bisa memberikan rumah walaupun diawali dengan sistem kredit, kepada Dara. Serta perabotan rumah tangga yang sedikitnya bisa membuat Dara nyaman. Bisa memberikan kasur berdipan saja, Azlan senangnya minta ampun. Inginnya memberikan lebih dari ini, namun Azlan baru bisa seperti ini yang dia berikan buat Dara tercinta.
Saat Dara pulang kerja malam, Azlan langsung membawa Dara ke rumah baru mereka. Dara heran dengan Azlan yang tiba-tiba membawa Dara entah kemana. Saat mendekati rumah, Azlan berusaha menutupi mata Dara dengan kain.
Tiba di depan rumah, Dara ditahan sejenak. Sebetulnya Dara sudah tidak nyaman diperlukan demikian, namun dia berusaha sabar dengan kejutan yang mungkin saja akan Azlan berikan untuknya. Perlahan namun pasti, Azlan membuka kain penutup mata Dara.
"Abang... apaan sih, lama banget? Dara sudah pegal tahu," protes Dara. Azlan perlahan membuka penutup mata yang menghalangi Dara. Dan....
__ADS_1
"Surprise...." seru Azlan seraya merentangkan kedua tangannya. Dara terheran-heran.
"Dimana ini? Kok seperti di rumah yang disewa Pak Hendra?" heran Dara. Azlan tidak menjawab, dia membawa Dara menuju pintu rumah itu, yang kini disulap menjadi rumah yang nampak baru. Cat hijau toska menjadi pilihan tembok luar.
Pada saat masuk ke dalam, Dara dikejutkan dengan suasana rumah yang sungguh tertata rapi, cat berwarna krem sengaja dipilih supaya kesannya tetap terang. Satu persatu ruangan Dara singgahi dan diamati, semua membuat Dara senang. Ruangan pertama yang Dara masuki adalah kamar utama, yaitu kamar dirinya dan Azlan. Dara mengamati ruangan itu, ada yang berbeda dengan ruangan ini. Catnya gradasi perpaduan warna biru langit dan hijau toska, warna favorit Dara. Kesannya unik namun tidak norak.
Saat mata Dara terfokus pada kasur, tiba-tiba saja dia merasa terharu, kasur ukuran 4 yang ada dipannya. Selama ini di kontrakan, dia nyaman-nyaman saja tidur cuma alas kasur atau bahkan ambal saja, tapi disini dia melihat kasur yang ditumpu dipan. Dara sontak menghambur kepelukan Azlan. Dia menangis terharu.
"Abang... terimakasih banyak sudah memberikan semua ini untuk Dara," ucapnya seraya terisak. Azlan mengusap lembut kepala Dara dengan penuh kasih sayang, diapun merasa terharu melihat Dara begitu bahagia cuma karena kasur berdipan.
Setelah kamar utama, lalu Dara dan Azlan berkeliling melihat ruangan lain. Rumah ini hanya ada dua kamar tidur, ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan teras. Walaupun sederhana, namun bagi Dara sungguh luar biasa.
Rumah ini juga dibuatkan tangga tepat diruang belakang, yang rupanya diperuntukkan untuk menjemput pakaian. Dara semakin terharu, rupanya perabotan rumah tangga sudah kumplit. Kulkas, mesin cuci, lemari barang, wastafel, dan lain-lain. Yang jelas rumah ini begitu membuat Dara menjadi bahagia.
"Ayo... kita masuk kamar saja, hari sudah semakin larut, Adek juga pasti lelah dan ngantuk, bukan?" Azlan membuyarkan perasaan bahagia Dara dengan menarik Dara ke dalam kamar utama. Dara patuh lalu dengan seringai bahagia dia menjatuhkan dirinya diatas kasur empuk itu.
"Abang... enak banget, ini kasurnya tidak empuk dan tidak keras, jadi bagus untuk kesehatan," ucap Dara sok tahu. Dara memang tidak suka kasur busa yang terlalu empuk, sebab kalau bangun tidur tubuh Dara malah akan terasa sakit .
"Jadi... malam ini kita bisa memulai semua disini. Sekarang alangkah baiknya kita tidur. Abang sudah sangat ngantuk," ajak Azlan sembari membawa Dara dalam dekapannya. Dara menyambut dekapan hangat Azlan itu dengan suasana yang bahagia.
"Abang, terimakasih banyak. Malam ini Abang sudah membuat hidup Dara lebih bermakna dan berwarna. Dara mencintai Abang...." ucap Dara sembari mencium mesra bibir Azlan.
__ADS_1