Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Es Krim Korneto


__ADS_3

Pulang kerja, Dara langsung baringan di ambal Palembangan. Rasa lelah dan gerah menggerayangi tubuhnya. Ditambah lemas, sehingga beraktifitas saja kurang bersemangat. Dari sejak pagi Dara sudah merasa malas pergi bekerja. Dan rupanya di tempat kerja Dara mendapatkan fakta yang cukup mengejutkan.


Sedikit banyak keadaan rumah tangga Jabar yang baru diketahui Dara tadi pagi secara tidak sengaja, masih terngiang-ngiang dan mempengaruhi pikirannya.


"Kasihan juga Bang Jabar, ternyata di balik sikap cengengesannya rupanya ada luka yang disembunyikan," batin Dara bersimpati.


Tidak lama kemudian Dara tertidur dengan posisi tubuh terlentang dan kaki ditekuk, di ruang tengah. Begitu lama Dara tertidur, kumandang Adzan Maghrib telah bersahutan menggema di udara.


Dara bergeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kau. Lalu duduk seraya mendengarkan suara Adzan. Rasa lapar tiba-tiba menyerangnya. Tapi Dara bingung mau makan apa. Saat ini yang terbayang dalam benaknya


adalah makan Pempek dan Es Teller yang dipesannya pada Azlan. Namun Azlan belum juga kembali, padahal ini sudah jam 7 lebih 20 menit.


"Assalamu'alaikum!" Suara salam diperdengarkan. Dara terhenyak, lalu dia sedikit mendongak dari posisi baring.


"Baru pulang, padahal ini sudah jam 7.40 menit.


" Adek, sudah tiduran....?" Azlan menghampiri Dara yang masih baring di ambal. Rasa kesal Dara langsung memenuhi dada. Dara diam saja saat Azlan menyapanya, entah kenapa moodnya hari ini begitu tidak baik. Kesal di dada malah kian bertambah, akhirnya Dara tiba-tiba menangis saking menahan kesal.


__ADS_1


Dara berdiri, susah payah dia bangkit karena tubuhnya memang terasa lemas, air mata kini mulai membasahi pipinya yang mulus. Dara melangkahkan kakinya menuju kamar, dia sudah tidak ada selera lagi untuk makan.



"Dek....!" Azlan sempat kaget melihat Dara yang sudah menghilang dari ambal ruang tengah. Kemudian dicarinya ke kamar, rupanya Dara sudah berada di kamar terbaring dengan posisi telungi.



Didekatinya Dara, Azlan duduk di tepi ranjang sambil mengusap punggung Dara. Seketika Azlan terhenyak karena mendapati tubuh Dara bergetar dan sesiki hangat yang tidak biasa.




"Ayo... bangun yuk! Abang suapin ya basonya?"


Dara semakin kesal dengan bujukan Azlan, entah kenapa dadanya semakin dilanda kesal.


"Pergi... Dara sudah tidak lapar....!" usirnya seraya nmendorong tubuh Azlan.

__ADS_1


Azlan semakin bingung, kok tiba-tiba Dara sangat kesal padanya. Tadi saat diraba suhu tubuh Dara terasa hangat, tapi seperti bukan hangat biasa. Seperti deman, pikirnya.



Setelah diusir Dara dari kamar, Azlan segera berjingkat hendak membersihkan diri yang masih berkeringat dan gerah. Dalam benaknya Azlan berpikir, Dara yang tiba-tiba menangis dan kesal.



Tanpa menunggu lama, Azlan masuk ke kamar dan membawakan baso dan Es Boba yang tadi dia beli. Azlan berharap kali ini usahanya tidak gagal dan Dara mau dia suapin.



"Sayang... makan dulu ya!" Azlan mencoba mengangkat tubuh Dara yang tenggelam. Namun Dara semakin kuat menahan tubuhnya, yang ada tangisnya kian pecah. Azlan tersentak mendengar Dara menangis. Azlan paksa Dara bangkit dan dia peluk.



"Dek ada apa? Ayo ngomong sama Abang....!" Dara tidak menjawab dia malah semakin keras menangis. Di benaknya saat menangis terbayang sebuah es krim Korneto yang super lezat.


__ADS_1


"Es Krim Korneto... Abang... Dara pengen Es Krim Korneto....!" rengek Dara. Tanpa pakai lama, Azlan langsung berjingkat keluar, hendak mencari Es Korneto kemauan Dara. Lagipula ini keinginan Dara yang tidak biasanya. Jangan-jangan Dara... benak Azlan berpikir sudah senang. Semoga saja, harapnya sembari menghidupkan motor dan melaju membelah jalanan komplek mencari toko Es Krim.


__ADS_2