
Bis yang ditumpangi Azlan dan Dara jurusan Cikarang-Bandung, masih bertahan menunggu penumpang. Beberapa menit kemudian, para penumpang mulai saling adu cepat menyerbu bis jurusannya masing-masing.
Dara dan Azlan tidak perlu saling berebut dengan orang lain untuk mendapatkan bis, sebab mereka berdua sudah memesan tiket bis via online terlebih dahulu.
Karena ini merupakan puncaknya arus mudik, maka tidak perlu waktu lama untuk menunggu penumpang penuh, bispun akhirnya penuh ketika waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB.
Perlahan namun pasti bis mulai berjalan meninggalkan kota Cikarang yang mulai crowded. Kendala pertama datang menghambat lajunya perjalanan bis ini, padahal baru beberapa meter meninggalkan terminal Cikarang.
Para pedagang asongan (gasong) tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya untuk menawarkan dagangannya di dalam bis. Mereka dengan lihai keluar masuk pintu bis yang satu, ke pintu bis yang lain tidak merasa takut terpeleset saat menaiki pintu bis. Pak Supir dan Kernetpun begitu baik mengijinkan *gasong* menjajakan dagangannya di dalam bis, hanya untuk sekedar menawarkan dagangannya yang harganya tidak seberapa.
Kadang ada juga penumpang yang merasa risih dengan keadaan ini. Namun Azlan dan Dara tidak merasa terganggu dengan keadaan ini, mereka cuek saja dengan kebekuannya masing-masing. Sungguh perjuangan hidup yang sangat keras nampak di depan mata Azlan dan Dara. Azlan menghembuskan nafasnya kasar. Nasibnya masih lebih baik dibanding mereka, walau hanya sebagai buruh di sebuah pabrik elektronik.
Bis berjalan perlahan menyusuri padatnya jalanan kota Cikarang yang semakin padat. Sementara para *gasong* masih ada sebagian di dalam bis. Kebanyakan para *gasong* kali ini bukan *gasong* makanan, ada yang menjual aksesoris rumah tangga yang harganya bervariasi dan murah meriah, kadang kebanyakan penumpang banyak tergiur untuk membeli karena harganya *murmer*.
Sementara para *gasong* makanan bisa dihitung dengan jari, karena hari ini masih berpuasa sampai besok.
Bis berjalan kembali dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Cikarang, semakin siang semakin ramai dan bis entah yang keberapa kali harus berhenti lagi. Para penumpang terdengar menghembuskan nafas kasar, pertanda protes dengan keadaan.
Azlan sesekali menatap ke arah Dara yang sedang menatap keluar kaca. Gadisnya kini sungguh menghindari kontak fisik langsung dengannya sejak mendengar obrolan Azlan dan Rivai tempo hari.
Azlan perlahan memberanikan diri meraih jemari Dara yang teronggok manis di atas pahanya. Dara menyadari sentuhan itu sehingga pandangannya dia alihkan ke arah jemari yang diraih Azlan.
"Eh ...." serunya kaget, membuyarkan lamunannya. Dara perlahan melepaskan remasan tangan cowok itu, mengalihkannya dengan meraih HP di dalam tas.
Dibukanya aplikasi WA, ada beberapa pesan masuk dari Nela dan Kakaknya Wisnu.
"Dar, udah sampai mana?"
"Baru beranjak, masih di Cikarang," jawabnya.
"Sama laki lu, kan?"
"Iya...!"
"Gua doain lancar ya, semoga pas pulang lagi ke Cikarang elu benar-benar udah nikah resmi."
Dara tidak membalas lagi pesan WA dari Nela. Kemudian Dara membuka pesan WA dari Kakaknya.
"Assalamu'alaikum! De, gimana jadi nggak pulang?"
"Udah sampai mana?"
Dara belum membalas pesan dari kakaknya. Dia malah menyimpan HPnya di dalam tas.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, HP Dara berbunyi tanda panggilan vidio WA masuk, Dara menatap layar HPnya, tertera nama "A Wisnu" di sana. Entah kenapa Dara nampak ragu mengangkat VC tersebut, seperti ada rasa takut.
"Assalamu'alaikum!" ucap yang di sana.
"Waalaikumsalam A, Dara sudah OTW nih. Baru beranjak dari terminal Cikarang!" Beritanya.
Azlan sekilas melihat sosok yang disebut Dara sebagai kakaknya itu menggunakan pakaian yang tidak asing baginya. Seragam loreng tentara. Namun dengan cepat Dara mengalihkan HPnya ke arah kaca jendela bis 🚌.
"Bisa jadi kakaknya seorang tentara, selama ini Dara belum pernah cerita tentang keluarganya. Bahkan saat ditanya tempo hari tentang keluarganya, Dara tidak mau bercerita, terlanjur marah padaku, alasannya tanggung dan percuma, karena aku tak pernah bertanya sejak awal." Batin Azlan, tiba-tiba jantungnya deg-degan sedikit cepat.
"Kenapa juga jantung ini tiba-tiba harus berdegup cepat, seperti merasakan sebuah ketakutan? Kenapa juga aku harus takut, bukankah aku akan berjuang keras untuk mendapatkan restu orang-tua dan Kakaknya Dara, meski sampai berdarah sekalipun? Aku tidak akan menyerah dan takut hanya karena Kakaknya seorang tentara. Aku harus gentle!" Azlan masih membatin.
"Kok Aa masih pakai seragam, Aa baru sampai rumah, ya?" tanya Dara.
"Iya, Aa baru sampai, De!"
"Kalau gitu sampai ketemu lagi di rumah, ya, A!" seru Dara mengakhiri VCnya bersama Kakaknya.
"Siap adikku sayang," jawab yang di sana mengakhiri perbincangan vidio callnya.
"Siapa Dek?" tanya Azlan berbasa-basi yang berharap akan dijawab Dara dengan jujur.
"Aanya Dara di kampung," jawab Dara pendek. Azlan menghela nafas dalam, seperti ingin bertanya lagi.
"Kakaknya Adek seorang Tentara, ya?" tanya Azlan, inipun berharap dijawab jujur.
"Iya. Apa Abang takut menghadapi Kakaknya Dara?" Dara bertanya penuh keraguan.
"Tidak, Abang tidak takut. Abang akan hadapi keluarga Adek dengan gentle," jawab Azlan tanpa ragu.
"Sekalipun nyawa Abang melayang, akan Abang hadapi demi mendapat restunya," keukeuh Azlan.
"Sebaiknya, Abang jangan katakan jujur awal hubungan kita!" ucap Dara pelan menyimpan ketakutan.
"Kenapa?"
"Jika Abang ingin direstui tanpa adanya kemarahan, sebaiknya jangan Abang katakan sejujurnya awal hubungan kita! Dara takut Abang kenapa-kenapa," ucap Dara memperingatkan dengan nada risau.
Azlan berpikir sejenak, gadis di sampingnya ini mengatakan itu dengan perasaan takut, itu artinya dia takut sesuatu hal terjadi pada Azlan jika kebenaran diungkapkan. Ini membuktikan bahwa di hati Dara sudah ada cinta untuknya walau belum 100 %. Begitu keyakinan Azlan.
"Apa Adek mencintai Abang, sehingga Adek bicara seperti itu, melarang Abang berkata jujur tentang awal hubungan kita?" Dara diam tidak langsung menyahut.
"Dara hanya takut Abang babak belur, Dara kasihan jika Abang harus menerima tindakan yang tidak menyenangkan dari mereka, terutama Kakak Dara," jawab Dara.
"Hanya takut karena kasihan. Adek tidak perlu kasihan, Abang pantas menerimanya. Bahkan sekalipun Abang mati di tangannya, Abang rela. Abang akan merasa tenang jika Abang sudah berkata jujur tapi akhirnya mati juga," ucap Azlan lugas.
__ADS_1
"Dengan begitu, Abang akan mati sia-sia,"
"Tidak sia-sia kalau Abang mati tapi sudah jujur," tepis Azlan.
"Terserah Abang," ucap Dara sambil menghembuskan nafas perlahan tanda pasrah.
"Apakah Adek mencintai Abang?" pertanyaan ini masih dilontarkan Azlan, ingin rasanya sekali ini dijawab Dara. Dara masih membeku, wajahnya dia palingkan ke arah jendela. Azlan menyadari, kebungkaman Dara adalah jawaban bahwa Dara masih belum mencintainya. Hanya sekedar rasa kasihan.
"Kita jalani saja apa yang sudah terpaksa kita jalani ini, Abang tidak perlu bertanya lagi tentang Dara cinta atau tidak pada Abang. Yang jelas Dara menghargai usaha Abang dan keseriusan Abang menjaga Dara sebulan terakhir ini," ungkap Dara diakhiri helaan nafas panjang.
"Menghargai?" Azlan menatap dalam wajah Dara seolah ingin penjelasan lebih bermakna dari kata menghargai yang diucapkan Dara baru saja.
"Menghargai, artinya sedikit rasa itu ada dalam diri Dara tapi Dara belum bisa sepenuhnya mencintai Abang," ucap Dara dalam dan jujur.
Sudah Azlan duga, perasaan Dara memang belum sepenuhnya untuk dia. Tapi Azlan hargai kejujuran Dara, walau dasar hatinya ada yang terasa sakit. Memang, untuk meluluhkan atau mendapatkan gadis di sampingnya ini perlu kesabaran tingkat tinggi dan tekad yang kuat. Maka dari itu Azlan bertekad tidak akan menyerah sedikitpun untuk meraih hati Dara dan restu kedua orang tua serta kakaknya Dara.
"Nanti setelah di Lembang, Abang cari kontrakan saja untuk beberapa hari tinggal di sana. Kalau penginapan dipastikan penuh semua," tutur Dara membuyarkan lamunan Azlan.
"Kontrakan? Buat apa? Di sana Abang cuma sebentar, kenapa harus ngontrak?" tanya Azlan heran.
"Dara minta maaf sebelumnya, Dara kasih saran barusan hanya untuk antisipasi jika saat itu juga Abang diusir oleh keluarga Dara, Abang tidak susah cari penginapan atau kontrakan lagi karena sudah mengontrak, gitu maksud Dara," jelas Dara menatap Azlan was-was.
"Dara hanya ambil pahitnya saja dulu, jika kita tidak diharapkan oleh keluarga Dara, maka kita punya tempat tinggal sementara, selama kita menunggu sampai pernikahan resmi kita tercatat!" sambung Dara sangat jelas.
Kata-kata "kita" yang diucapkan Dara barusan sedikit membuat hati Azlan berseri. Ada harapan besar dalam dadanya, apalagi Dara membahas "pernikahan".
Azlan besar hati, semangatnya kembali berkobar. Harapan untuk mendapatkan cinta Dara kini terbuka lebar di depan mata.
Bis yang ditumpangi Azlan dan Dara tidak terasa sudah sampai di daerah Johar Baru. Supir memberhentikan bis beberapa saat di sana. Tiba-tiba, sekelebat Dara melihat bayangan yang tidak asing baginya. Meta sedang berjalan beriringan dengan seorang pria. Entah mau kemana dia. Mungkin mudik juga. Iseng Dara mengambil HPnya, dan merekam kejadian di bawah sana di sebelah kiri badan bis. Sampai Meta masuk ke sebuah mobil Avanda.
"Klik." Dara menekan tombol tanda rekaman berakhir. Rekaman disimpan dengan hati bertanya-tanya.
Rasa ngantuk tiba, akhirnya Dara terlelap dengan badan menyender ke jendela. Deru nafasnya teratur, saking ngantuknya. Azlan tersenyum menyaksikan tingkah manis pujaannya, yang tertidur menggunakan masker bergambar love dan bibir sedang mencium💋.
Padahal Azlan belum paham betul soal pembahasan rumah kontrakan yang dimaksud Dara, Daranya sudah terlanjur tidur. Ya sudahlah nanti saja ditanyakan saat Dara terbangun. Pikirnya sambil merekam adegan manis saat Dara tertidur di dalam bis yang dia lihat sekarang ini.
__ADS_1