Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Saingan Berat Azlan


__ADS_3

"Lan..., kami kesini mau makan Pempek, ehhh malah disuguhi pemandangan yang asik- asik...!" celetuk Rivai tak tahu tempat.


"Diam Lu Vai, ngompor-ngomporin saja. Orang lagi panas juga!" sentak Rian.


"Ini jadi gak, kami disuguhi Pempek?" tanya Rian sewot.


"Santuy lah, Gua masih shock dengan kejadian tadi!"


"Eh, ngomong-ngomong atas kejadian tadi, dapat disimpulkan bahwa si Reno memang benar naksir bini Lu, tapi sejak kapan?" ceplos Rivai.


"Gua saja baru tahu barusan dari kejadian tadi!" timpal Rian.


"Saingan Lu rupanya berat Bro, Rian yang mundur ehhh.... Reno Barak mepet. Satu lokasi pula, takutnya terjadi cinlok," seloroh Rivai tanpa tedeng aling-aling. Rupanya Azlan kepanasan, demi mengalihkan kesimpulan Rivai, dia pamit untuk menggoreng Pempek.


"Gua goreng Pempek dulu deh!" ucapnya sambil ngeloyor.


"Yang kumplit Lan, biar mantap. Minumnya Guday Mukacina...wakwakwak...!" teriak Rivai.


"Mukacina... pala Lu peang! Vai, Vai, sekalian aja Pakucina... hahaha...!" ejek Rian diakhiri tawa.


Beberapa menit kemudian Pempek goreng siap dihidangkan bersama cukonya, tidak lupa kopi pesanan kedua sohibnya kopi Guday Mukacina."


" Ini Pempek buatan Mamak Lu, Lan? Mantap, enak banget...." puji Rivai sambil mengangkat jempolnya.


"Iya, ini Pempek hasil olahan Dara sama Mamak dan adik Gua," jawab Azlan.


"Beneran ini hasil olahan Dara...?" Rian meyakinkan. !


"Asikkk... gak sia-sia Gua makan ini Pempek, mana tahu Dara jadi nempel ke Gua," seru Rian girang.


"Husss...bukan Dara yang nempel ke Elu, tapi Elu yang nempel ke Dara," ralat Rivai.


"Siapa bilang si Rian nempel ke Dara, yang ada Gua yang nempel ke Dara," aku Azlan PD.


"Sudah jelas Elu lakinya, nempel terus walau Dara menghindar," ejek Rivai sambil tersengeh .

__ADS_1


"Sok tahu Lu, kalian gak tahu saja kita itu sekarang lengket kaya perangko," ucap Azlan girang.


"Berani buka rahasia dia sekarang, dulu kusut melulu!" seru Rivai kepada Rian yang hanya tersenyum hambar.


"Iyalah nempel kaya perangko, dikasih pelet sih!" timpal Rian menohok.


"Gila Lu, kayak tidak punya iman saja maen pelet. Kampret!" umpat Azlan kesal.


"Benar tuh kata si Azlan, kita harus punya iman alias Iman Sulaiman tetangga Gua di kampung!" seloroh Rivai.


"Udahlah... Gua balik saja daripada dengar bacot kalian yang makin ngawur, udah jam 8 nih. Gua belum mandi, bau mesin pula. Vai, kalau Lu masih betah di sini, silahkan sampai besok juga, sampai keriting tuh bibir," cerocos Rian seakan malas meladeni Rivai, lalu beranjak menuju motornya, menghidupkannya dan berlalu dari kontrakan Azlan.



"Udah Lu balik duluan, Gua masih mau di sini. Lu rendeman deh sekalian, tiga hari lagi Lu mantenan. Aneh... masih belum cuti juga. Jangan-jangan Elu batal nikah Yan, kalau batal kasian amat gagal dua kali dong, " ejek Rivai.


"Sok tahu Lu, dasar kampret, doa itu yang baik-baik Vai," dumel Rian kesal.


"Hehehe... kesel tuh dia!" Rivai tertawa penuh kemenangan.


"Seneng Lu ya teman sengsara, dasar jomblo akut! Disini lama-lama Gua bisa gila, gara-gara Lu Vai. Efek gak laku sih. Gua balik Lan, makasih Pempeknya...,.salam buat bini Lu tercinta!" teriak Rian sambil menjulurkan lidah buat Rivai. Rivai hanya tertawa tak berdosa mengantar kepergian sohibnya yang kesal.


"Wahhh... rokok si Rian dia tinggal."


"Udud saja sama Lu, Vai!"


"Ogah ah, nanti Gua balikin saja,"


"Terserah Lu dah...!"


"Lu jangan keterlaluan deh Vai, bisa-bisa sumpah si Rian jadi kenyataan. Lu benar-benar jadi jomblo akut!" peringat Azlan diakhiri tawa.


"Alah... Lu percaya omongan si Rian, dia lagi gedek aja sebab tadi kita ngomongin tentang Elu dan Dara yang lengket kaya perangko, kalau masih ada hati ya gitu deh, perasaannya masih terombang-ambing," balas Rivai santai.


"Gua tahu Rian masih ada rasa sama Dara. Makanya tadi saat Lu nyebut tentang Dara, dia nampak datar dan merasa tidak nyaman," ungkap Azlan sambil matanya menerawang jauh.

__ADS_1


"Gua sengaja pancing-pancing Rian biar mental dia tambah kuat, demi menghadapi pernikahannya Minggu besok. Gua pengen Rian move on, apalagi dia mau membina rumah tangga. Kasian ceweknya nanti kalau dia masih ingat Dara," jelas Rivai serius.


"Tumben I Elu serius, giliran ada si Rian jahilnya minta ampun."


"Beda Lan atmosfirnya, si Rian kan tipe penggoda, sedangkan Elu tipe pemaksa, hahahaha...."


"Ihhhh sialan Lu... kirain serius, dasar kampret!"


"Eh ngomong-ngomong tentang si Reno, menurut Elu gimana I?" tanya Azlan meminta pendapat Rivai.


"Sudah Gua katakan tadi, bahwa saingan Elu sekarang Reno, berat lagi."


"Gua rasa gitu I, Reno dan Dara kerja satu lokasi. Apalagi dua minggu ke depan mereka satu shift. Pertemuan mereka jadi makin intens. Gua takut I, makin Reno menggoda dan melancarkan aksinya, Dara malah tergoda," Azlan terdiam sejenak, ada riak takut di dalam matanya.



"Apalagi ancamannya itu yang akan merebut Dara dari Gua. Gua gak bisa pantau atau lindungi dia jika dia diganggu Reno," Azlan menghembuskan nafasnya kasar.


"Elu gak perlu takut atau khawatir Lan, yang jelas yang perlu Elu lakukan pada Dara adalah berikan rasa "nyaman"


"Mau sekuat apa godaan dari luar, kalau Dara udah merasa nyaman sama Elu, maka dia gak akan mudah goyah diterjang godaan cowok lain. Yakinkan dalam diri Elu tekad yang kuat untuk terus memperjuangkan dan mempertahankan Dara, dan yang paling penting disini adalah " kesabaran ", perjuangan dan pertahanan Elu harus dibentengi dengan


"kesabaran". Dan kayaknya kesabaran Elu akan diuji dari mulai sekarang." Nasihat Rivai panjang lebar.


Kata-kata Rivai barusan mengingatkan Azlan pada nasihat bapaknya di kampung. Berikan rasa "nyaman", dan Azlan bertekad akan membuat Dara merasa nyaman berada di dekatnya. Rivai benar-benar berkah baginya. Azlan tersenyum cerah, seakan baru mendapatkan sebuah ilham.


"Elu emang sohib terdebest I, walau kadang somplak, tapi Elu punya kelebihan yang membuat orang lain bisa berpikir jernih dan panjang. Elu benar-benar deh sohib Gua rasa Abang kandung!" puji Azlan berapi-api. Semangatnya kembali berkobar.


"*Walau rintangan di depan mata, Aku bertekad* *akan tetap berjuang dan mempertahankan Dara*, *bagaimanapun caranya*." Batin Azlan penuh sorot optimis.



"Ya udah deh Lan, Gua balik dulu daripada nemenin orang bengong, takut kesambet Gua. Mana badan Gua bau mesin lagi," pamit Rivai.


"Oklah Vai, Lu balik geh sana. Gua juga mau mandi bau mesin!" balas Azlan seraya membereskan gelas dan piring sisa ngopi mereka.

__ADS_1


" Makasih Pempeknya Lan, Gua pamit. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab Azlan seraya meninggalkan Rivai yang tengah menstarter motor maticnya.


__ADS_2