Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Waktu yang Tepat Untuk Dara


__ADS_3

Azlan meremas jemari Dara memberi Dara kekuatan, air matanya dipaksa dia tahan supaya tidak luruh. Dara berusaha untuk bangkit namun Azlan tahan saat seketika itu Dara menjerit karena bagian perutnya terasa keram dan sakit.



"Awwww....!" jeritnya seraya menahan perut bagian bawah. "Jangan dipaksakan... Dokter bilang perut Adek akan merasakan keram jika dipaksa bergerak. Jika Adek mau bangkit, harus pelan-pelan," ucap Azlan.


"Apa yang terjadi dengan perut Dara, Dara tidak keguguran, kan?" tanyanya risau. Azlan diam dia tidak mampu berkata-kata.


Dara masih berusaha untuk bangkit, lalu Azlan dengan sigap dan sabar membantu Dara bangkit dan duduk di bed pasien dengan kepala bersandar di kepala ranjang.



"Nela... Bang Ilham....!" sapanya lemah, dengan raut wajah yang masih menahan rasa sakit di bagian perut.


"Elu belum boleh bicara banyak, nanti efeknya ke perut Elu. Sekarang tenangkan dulu pikiran Elu," ucap Nela memberi saran. Dara menatap Nela sendu. Dia yakin sudah ada hal pahit yang terjadi pada dirinya sampai dia mengalami sakit di perutnya. Seketika terbayang saat dia terantuk sandaran kursi yang terbuat dari besi. Sangat sakit dan sekilas sebelum dia tak sadarkan diri, Dara melihat ada darah di mata kakinya. Setahunya, perempuan hamil jika keluar darah seperti itu, maka itu keguguran. Dan yang dipikiran Dara adalah itu, yaitu keguguran.


"Huaaaa....!" Dara tiba-tiba menjerit dan menangis. Azlan dengan sigap merangkul Dara memberi sandaran seraya memberi tepukan di bahu Dara untuk menguatkan.



"Kenapa ini terjadi pada Dara? Kenapa dia harus pergi secepat itu?" ucapnya pilu di sela-sela tangisannya. Azlan dan Nela saling pandang, mereka bingung harus memberi kekuatan seperti apa.



"Sabar Dek, sabar sayang... jangan terlampau sedih. Ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa." Azlan mencoba memberi kekuatan, padahal dirinyapun sama, sedihnya seperti yang Dara rasakan, bahkan mungkin lebih dari yang Dara rasakan. Melihat Dara sedih seperti itu, hilang sudah pikiran negatif tentang Dara.



Sekarang tugas Azlan mengembalikan keceriaan dan kebahagiaan Dara, meskipun itu tidak mudah. Nela mendekat ke sisi sebelah kiri bed dan dia meraba pundak Dara. Kemudian Dara mengalihkan fokusnya kepada Nela sohibnya paling baik dan pengertian itu. Lalu secara spontan Dara memeluk Nela sembari menangis persis anak kecil.


__ADS_1


Nela membiarkan Dara menangis sampai tangisan itu reda. Sementara Azlan memberi isyarat pada Nela untuk keluar ruangan sejenak menyusul suami Nela. Azlan berpikir, mungkin Nela bisa berbicara dari hati ke hati dan melunakkan hati Dara supaya melunak dan tidak menyalahkan diri sendiri atas musibah keguguran ini.



Satu jam kemudian, Nela dan suaminya ijin pamit. Nela melihat Dara sudah agak mendingan setelah tadi ngobrol pelan dan mencoba memahami isi hati dan kesedihan Dara. Rupanya Dara sangat terpukul dengan musibah keguguran ini.



"Bang... jangan ada tekanan buat Dara. Sama sekali jangan, dia bisa histeris dan emosinya sedang tidak terkendali. Abang harus berusaha kuatkan Dara, jangan pernah menyalahkan Dara atas kejadian ini," peringat Nela sebelum dia pergi. Azlan mengangguk paham.



"Terimakasih Nel, terimakasih Bang....!" ucap Azlan berterimakasih pada Nela dan suaminya. Nelapun bermaksud pulang, sebelumnya dia pamit juga pada Dara dengan berbisik di telinga Dara. Dara mengangguk sedih melepas sohibnya pergi.



Kini, di kamar rawat ini hanya ada Azlan dan Dara. Dara menatap Azlan sendu penuh raut sedih dan kecewa. Azlan mendekat ke arah Dara, dia tahu Dara butuh sandaran.




"Abang... Dara minta ma-af, Dara ti-dak bisa menjaga amanah i-ni," ucapnya tersendat diiringi isak tangis. Azlan tidak tega mendengar Dara berbicara seperti itu. Ini adalah musibah berdua, dan Dara jangan sampai menyalahkan dirinya sendiri. Dia harus segera bangkit dari kesedihan.



"Sudah sayang... Abang paham, Adek sedih dan kecewa, tapi Abang mohon Adek jangan terlalu terpuruk. Ini adalah ujian dari Allah, ini yang terbaik bagi kita. Sebab hanya Allahlah yang lebih tahu rencananya dibanding kita," Azlan mencoba menguatkan Dara yang sangat sedih.



"Abang tidak menyalahkan Dara....?" tanya Dara. Azlan menggeleng, dia sadar ini takdir Allah yang harus diterima dengan lapang dada. Mau menyalahkan Darapun sangat tidak tepat, sebab Dara saja sangat kehilangan dan menyesal.

__ADS_1



"Kita jalani kehidupan kita ke depan dengan lembaran baru, biarlah kejadian ini menjadi pembelajaran buat kita supaya lebih hati-hati dan menerimanya dengan lapang dada. Kita bisa bikin lagi kalau Adek mau dan siap," ujar Azlan membesarkan hati Dara.



Tidak berapa lama, Dokter yang menangani Dara tiba bersama satu orang Perawat. Dokter tersenyum sembari memeriksa cairan infus.


"Nyonya Dara, besok sudah boleh pulang. Jika Anda mengalami keram di perut atau rasa tidak enak diperut sebelah bawah, Anda jangan panik. Anda cukup rilexkan gerakan Anda. Jangan terlalu melakukan pergerakan yang banyak. Jangan terlalu. capek apalagi ngangkat yang berat-berat. Disarankan, untuk dua tahun ke depan Anda tahan. dulu untuk hamil, karena kondisi rahim belum benar-benar stabil." Dokter berbicara panjang lebar sembari menuliskan resep obat di secarik kertas.


"Untuk suaminya, tahan dulu ya selama satu bulan ke depan, supaya kondisi rahim istri bisa lebih stabil dan membaik." Dokter memberikan saran terselubung bagi Azlan yang membuat Azlan langsung ketar ketir. "*Alamak... satu bulan*, *tidak salah*?"



"Untuk suami mungkin bertanya-tanya kenapa harus menunggu sebulan menahan keinginan itu? Nyonya Dara keguguran dan harus melalui proses Kuret disebabkan benturan pada benda keras, sehingga rahimnya luka dan perlu penyembuhan yang lumayan lama, kalau Anda bisa menahannya sampai dua bulan, itu lebih bagus buat rahim nyonya Dara," jelas Dokter seakan tahu apa yang dipikirkan Azlan.



"Baik Dok, saya paham dan akan saya jalankan saran Dokter," sahut Azlan.


"Ini resep obat yang harus diambil. Dan satu lagi, saya kasih surat ijin untuk istirahat di rumah selama satu minggu, supaya kondisi Nyonya Dara semakin pulih," ucap Dokter seraya memberikan secarik kertas resep kepada Azlan.


"Terimakasih, Dok!" ucap Azlan dan Dara secara berbarengan. Dokter tersenyum ramah lalu meninggalkan ruangan Dara.



Besoknya, Dara sudah boleh pulang. Untuk menghindarkan dari goncangan berlebih pada rahim Dara yang baru proses Kuretisasi, Azlan memesan GrabCar untuk pulang. Sementara motor, Azlan akan meminta bantuan Rivai dan teman nongkrongnya untuk ambilkan.



Suasana di dalam rumah kini tidak lagi ceria, terlebih Dara dan Azlan sedang berduka, janin yang baru beberapa minggu bersemayam di perut Dara harus diambil kembali oleh Zat Pemilik Nyawa. Masih ada kesempatan buat Azlan dan Dara untuk punya keturunan, dua tahun lagi Dara baru bisa hamil. Dan tahun itulah tahun yang dijanjikan Dara siap untuk hamil.

__ADS_1



Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik buat Dara. Saat Dara belum siap hamil, Dara diberi ujian dan keguguran. Dan setelah keguguran, Dokter menyarankan Dara baru boleh hamil lagi setelah dua tahun. Itu seakan waktu yang tepat yang diinginkan Dara. Dan Tuhan mengabulkan keinginan Dara.


__ADS_2