Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Kemarahan POV Azlan


__ADS_3

Aku heran sekaligus khawatir dengan sikap Dara. Tadi malam masih nampak hangat, tapi kini berubah murung dan sedih, nampak jelas matanya sembab habis menangis. Ada apa sebenarnya?


Aku mencoba menghampiri, dan menyapanya. Tubuhku berjongkok mensejajarkan dengannya. Ku usap kepalanya pelan tanda sayang. Tapi dia menepisnya dengan kuat. Aku tersentak.


"Adek kenapa, sakit?" Sapaku khawatir. Tidak ada sahutan. Sikap demikian sudah sering Aku terima, namun yang sekarang ini sikapnya lebih garang, nampak guratan marah. Tapi Aku belum paham kenapa Dara tiba-tiba semarah itu?


Aku berdiri, rasanya tubuhku lengket dan merasakan gerah akibat pekerjaan tadi malam. Sebaiknya kudiamkan dulu, siapa tahu marahnya mereda. Sebelum mandi, alangkah baiknya Aku menyiapkan sarapan. Kayanya Dara juga belum sarapan. Mau beli rasanya malas untuk keluar, akhirnya Aku ada ide membuat Nasi Goreng Campur telur n pete, kebetulan kemarin saat belanja Aku membeli pete satu papan. Dicampur Pete kayanya enak, Darapun kebetulan doyan Pete, jadi gak masalah nasi gorengnya dicampur pete. Nasi goreng telah siap, segera Aku siapkan di piring dan dihidangkan buat Aku dan Dara.


Dara masih belum merespon ajakanku untuk makan, biasanya sejutek-juteknya Dara, dia pasti akan makan. Tapi kini dia diam, membuat Aku khawatir dan sedih. "Dek, sarapan dulu!" Bujukku sambil kusodorkan nasi goreng campur pete itu.


Belum sampai Aku menyuapkan nasi ke mulut, tiba-tiba hapeku berdering, tanda panggilan vidio masuk. Mamak di kampung telpon.


"Assalamualaikum Mak!"


"Waalaikumsalam." Sahut Mamak.


"Lan, cepat Kau beli barang itu sekarang, sebab sudah ditunggu pelanggan. Stok sudah menipis. Kalau nunggu hari Minggu kelamaan, barang keburu habis." [Mamak]


"Siap Mak, segera setelah Azlan sarapan dan mandi Azlan berangkat ke Mangga Dua!" [Aku].


"Iya cepat ya... Eh Azlan, siapa tuh dibelakang Kau." [Mamak heran].


"Ya sudah Mak, Azlan siap-siap dulu yo!" [Aku buru-buru mematikan panggilan VC, sebelum Emak bertanya lebih lanjut].


Setelah menerima panggilan VC dari Mamak di Kampung, Aku buru-buru sarapan kemudian mandi dan bersiap ke Mangga Dua. Sekilas kulihat Dara masih berdiam tanpa menyentuh sarapan yang Aku siapkan. Aku jadi semakin sedih dengan sikap Dara ini, biasanya dia masih menyahut walau jutek.


"Dek, Abang mau ke Mangga Dua. Adek ikut yuk!" Ajakku memberanikan diri. Dara mendongak lalu menatapku nyalang. Aku terhenyak kaget saat wajahnya dekat dengan wajahku. Amarahnya nampak berkobar.


"Pergi saja dengan mantan Abang yang masih ngejar-ngejar Abang itu!" Tekannya penuh emosi.

__ADS_1


Sejenak Aku terdiam tidak paham maksud Dara.


"Maksud Adek apa?" Tanyaku. Dara berbalik, kini tubuhnya membelakangi Aku. Dara diam. Sementara jam makin bergulir, merangkak ke angka setengah sembilan pagi, Aku harus segera pergi ke Mangga Dua untuk membeli barang kemudian mengirimkan ke Kampung walaupun badanku terasa cape.


Terpaksa ku abaikan dulu Dara. Biarlah nanti setelah dari Mangga Dua kalau masih keburu Aku mengajak Dara bicara dari hati ke hati. Aku pamit walau tanpa balasan. " Jangan lupa sarapan pagi Dek!" Lirihku sebelum beranjak.


Jam satu siang urusan di Mangga Dua berikut ngirim barang ke kampung selesai, tak lupa Aku membelikan 3 buah kerudung segi empat warna hijau Wardah, Merah marun dan Navy buat Dara bekerja serta setelan rok warna hijau toska. Pakaian yang kubeli ini nampak modis dan girly, Aku yakin ini sangat cocok dan cantik dikenakan Dara. Walaupun Aku seorang lelaki, tapi karena salah satu usaha sampinganku berhubungan dengan pakaian, jadi sedikit banyak Aku paham akan model pakaian yang digemari anak-anak muda maupun Emak-Emak. Tak lupa Aku membelikan Es campur dan cemilan lain untuk Dara.


Aku segera menjalankan motorku dengan kecepatan sedang, saat jalanan lengang kadang kutambah kecepatan. Rasanya ingin segera sampai di kontrakan dan ketemu Dara serta berbicara. Semoga saja masih sempat, harapku. Akhirnya jam 2.40 menit Aku tiba di kontrakan. Aku lihat Dara sudah siap pergi bekerja. Ada rasa sesal dihatiku sebab gak mungkin cukup waktu untuk bicara dengan Dara. Dara melihat ke arahku sekilas.


Aku segera menghampiri Dara. "Sudah siap pergi, Dek?" Tanyaku. Dara tak menyahut. Aku berinisiatif untuk mengantarnya kerja. Sekalian Aku sodorkan Es campur yang tadi ku beli untuk dibawa bekal Dara. Dara menepis, hampir saja kantong kresek Es Campur itu terlepas kalau saja Aku tidak kuat mencengkramnya. Aku terhenyak kaget dengan sikapnya yang sengit itu.


"Jangan kasih buat Dara, kasih saja buat mantan yang masih ngejar-ngejar Abang!" Tolaknya kemudian dengan nada ketus. Lagi-lagi mantan yang ngejar-ngejar apa maksudnya? Memangnya Dara tahu mantanku?


"Ayo Abang antar!" Ucapku sambil memegang pergelangan tangannya. Dara menepis pegangan tanganku dengan kuat, hingga Aku hampir terjungkal dan peganganku terlepas.


POV End


Belum habis rasa penasaran akan sikap Dara yang marah, tiba-tiba panggilan Vidio dari Mamaknya Azlan berdering. Azlan ragu untuk mengangkatnya. Azlan tahu apa yang akan dibahas Mamaknya diVC kali ini. Sebab sejak di Mangga Dua tadi pesan WA Mamaknya sempat masuk membahas penampakan Dara didalam kontrakan. Tapi Azlan tidak menghiraukan, sebab Azlan belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjelaskan semua pada keluarganya di Kampung.


"Azlan, kenapa lama sekali Kau angkat telpon Mamak?, apakah ada yang Kau sembunyikan? Mamak ingin tahu siapa perempuan tadi yang ada di kontrakan Kau? Kau tinggal bersama dengan perempuan bukan muhrim?, sejak tadi Kau tak mau angkat telpon Mamak dan tak balas WA Mamak, Kau membuat Mamak curiga!" Omel Mamak Azlan ngebrebet. Azlan yang mendapat serangan mendadak, bingung mau jawab apa.


"Bukan gitu Mak, Azlan masih cape. Azlan mau istirahat dulu ngantuk. Nanti malam Azlan kan kerja." Alasan Azlan.


" Mamak tak mau tahu, Kau jelaskan sekarang siapa perempuan yang ada di kontrakan Kau itu?" Tanya Mamak memaksa.


"Baik Mak, Azlan nanti jelaskan di WA tapi tidak diVC atau ditelpon."


"Kanapa.... " Mamak merasa heran.

__ADS_1


"Nanti, Azlan janji jelaskan di WA saja Mak!"


"Baiklah, Mamak tunggu sekarang juga!" Tegas Mamak setengah berteriak.


Azlan menarik nafas dalam, dia bingung mulai dari mana untuk menjelaskan hal yang sebenarnya tentang Dara. Namun Azlan bertekad akan berbicara jujur, walau bagaimanapun reaksi Emaknya. Asal jangan kena serangan jantung saja, harap Azlan.


Azlan bercerita panjang lebar dari awal sampai akhir tentang siapa perempuan yang dilihat Mamaknya di VC tadi pagi. Semua diceritakan tanpa ada kebohongan, termasuk sikap Dara yang jutek pada Azlan.


"Apa....., Kau melecehkan anak gadis orang!" [Mamak].


"Ditaruh dimana otakmu Azlan?" [Mamak]


"Kau telah mencoreng nama baik keluarga kita dan keluarga gadis itu. Bagaimana nanti tanggapan keluarga gadis itu. Apakah Kau mau dibunuhnya, karena telah dianggap melecehkan anak gadisnya." Maki Mamak Azlan tak puas.


"Kau tak pantas hidup, kalau Kau ada disini Mamak matikan saja Kau, nyesel melahirkanmu yang tak bermoral. Kau punya adek wedok (perempuan) satu-satunya, apa Kau mau nasib buruk menimpa juga pada adek Kau, seperti yang menimpa gadis itu?";Maki Mamak Azlan penuh amarah.


" Caramu licik Azlan, Kau macam tidak disekolahkan. Mau ditaroh dimana muka Mamakmu ini?"


"Andai saja dengan bersujud dan meminta maaf di kakinya bisa membuat gadis itu memaafkan, maka Mamak rela melakukannya."


"Awas, selama kalian tinggal seatap jangan Kau sentuh gadis itu, kalau tidak, maka Mamak rela kehilangan Kau. Kau Mamak anggap telah mati." Peringat Mamak mengancam.


"Bawa gadis itu pulang ke kampung, Mamak ingin meminta maaf dan bersujud di kakinya." Pungkas Mamak Azlan dengan amarah yang menggebu-gebu. Pesan WA tersebut panjang lebar tanpa jeda seolah tidak ingin Azlan menyelanya.


Azlan meletakkan gawainya dengan lemas, rasa sesak kini menyeruak di dada. Semua yang diucapkan Mamaknya melebihi belati yang menghujam ulu hatinya. Seandainya semua ini akan menimbulkan kemarahan besar keluarganya, mungkin Azlan tidak akan melakukan kebodohan dengan menjebak Dara untuk nikah paksa dengannya. Semua kata-kata Mamaknya seolah hukuman baginya.


"Maafkan Azlan Mak, Azlan bodoh. Cinta membutakan Azlan sehingga berbuat yang tidak bermoral!" Guman Azlan menyesali perbuatannya. Tiba-tiba air mata Azlan luruh membasahi pipinya. Azlan menangis meratapi kebodohannya.


"Azlan janji akan membawa Dara pada Mamak dan pada keluarganya untuk meminta maaf dan tentunya restu." Guman Azlan lagi.

__ADS_1


__ADS_2