Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Informan Dadakan


__ADS_3

Dara bertekad tidak akan ada lagi getaran cinta untuk Rian, rasanya kini telah dia buang jauh-jauh untuk Rian.


"Ayo....!" ajaknya sambil meraih tangan Dara. Dara menurut, setelah dia merasa rapi dan cantik, lalu keduanya menaiki motor. Motorpun berlalu dari muka kontrakan.


"Abang mau ajak Dara kemana sih?" Dara heran.


"Ada deh...!"


"Ihhh..., main rahasia-rahasiaan!" rajuk Dara sembari mencubit pinggang Azlan.


"Aduhhh...geli Neng....!" Azlan menggelinjang. Serentak motor yang dikemudikannya sedikit oleng ke kiri.


"Woy..., kalau mau mesum jangan di jalan! Ini masih pagi, noh hotel banyak. Macam punya banyak nyawa Lu!" Hardik salah satu pengguna jalan, sewot.


"Maaf Bang!" ucap Azlan. Untungnya di sebelah kiri tidak ada kendaraan lain. Tapi yang sewot malah di sebelah kanan.


"Abang sih..., makanya jalannya fokus!" Dara ikut-ikutan menyalahkan.


"Habisnya Abang geli dicubit Adek....!"


Tak berapa lama, Azlan menghentikan laju motornya di depan portal pos satpam sebuah perumahan.


Azlan berbasa-basi sejenak dengan Pak Satpam,


setelah itu Pak Satpam membuka portal dan membiarkan motor Azlan masuk. Dara merasa heran, kenapa Azlan tiba-tiba masuk ke sebuah perumahan? Siapa yang mau dikunjunginya?


Rumah-rumah tipe 36 berjejer dari samping kiri dan kanan. Saat melewati rumah nomer 3, Azlan menghentikan motornya.


"Ayo turun sayang....!" perintah Azlan. Dara patuh dan segera turun. Ingin bertanya ini rumah siapa, tapi di halaman rumah sudah ada yang menyambut. Pria berumur sekitar 50 tahun menyapa dan tersenyum ramah pada Azlan. Pak Hendra namanya.


"Nak Azlan..., apa kabar? Ini istrinya?" tanyanya seraya melihat Dara sekilas.


"Kabar saya baik Pak, iya betul ini istri saya!"sahut Azlan.


" Silahkan duduk dulu....!" ucap Pak Hendra seraya menunjuk kursi bambu yang berada di depan halaman rumahnya, yang teduh karena tepat di bawah pohon Mangga. Suasananya begitu sejuk walau cuaca mulai panas, karena tiupan angin yang menerpa dedaunan.


Pak Hendra sesaat memanggil istrinya, untuk membuatkan minuman. Namun Azlan dan Dara keukeuh menolaknya, alasannya tidak akan lama dan masih ada perlu yang lain. Pak Hendra dengan terpaksa mengikuti kemauan Azlan.


"Gimana Pak, mengenai sewa rumah ini? Seperti yang pernah saya bilang, jika saya sudah menikah maka saya akan menempati rumah ini. Bukan saya tidak mau menyewakan lagi sama Pak Hendra, tapi ya... gimana lagi, sekarang saya sudah punya pendamping!" terang Azlan.

__ADS_1


"Saya paham Nak Azlan, tadinya saya ingin memperpanjang kembali untuk satu tahun ke depan," sesalnya.


"Jadi habis enam bulan ke depan, saya akan kosongkan rumah ini," lanjut Pak Hendra.


"Baiklah Pak, sesuai kesepakatan. Jadi nanti saya tinggal menunggu kabar dari Bapak enam bulan ke depan, Bapak hubungi saya dulu jika Bapak sudah siap dan menemukan rumah baru yang cocok. Untuk itu saya pamit dulu Pak!" Azlan berpamitan disambut ramah Pak Hendra.


Motor yang ditumpangi Azlan dan Dara, meninggalkan halaman rumah Pak Hendra.


"Hanya lima menit dari kontrakan kita, harusnya jalan kaki saja sambil joging!" komplen Dara.


"Oh... Adek mau jogging ya?"


"Iya sih, itu kalau tadi Dara tahu jarak kontrakan sama rumah Bapak tadi cuma lima menit saja."


"Ya sudah, kita jogging saja sekarang mungpung masih pagi ke Ibis!" serunya mengajak.


"Ihhh... tidak ah, Ibis jauh tahu. Pakai motor saja 15 menit. Kalau jogging bisa gempor, tahu!"


"Mana ada gempor, cuma 5 km saja? Masa masih ABG tidak kuat jalan!" kritik Azlan meremehkan.


"Ihh... kebiasaan meremehkan orang!" cubitnya di pinggang Azlan lebih kuat dari tadi.


"Aduhhh... sakit Dek, jangan kuat-kuat!" protes Azlan meringis.


Azlan merasakan wanitanya marah, lantas menepikan sejenak motornya.


"Adek marah ya?... maafin Abang, Abang hanya bercanda!" mohonnya sambil memalingkan mukanya ke belakang menatap sang wanita.


Dara diam saja, dia makin cemberut.


"Ayo yuk, kita ke Ibis. Kita jalan-jalan. Di sana suka ada pasar kaget kalau Minggu begini, banyak barang-barang murah meriah dan sayuran segar-segar. Kita belanja sayur disana, biar pulangnya Abang masak buat kita!" bujuk Azlan sambil mengusap lembut pipi Dara.


"Ayo sayang... Abang minta maaf ya!" mohonnya lagi seraya meraih tangan Dara yang masih merajuk.


Azlan kembali menyalakan motornya, setelah Dara sudah terlihat duduk sempurna, walau kini tidak berpegangan lagi pada pinggang Azlan. Akhirnya motor kembali berjalan menuju Ibis.


"Pegangan sayang....!" peringat Azlan. Dara patuh, namun tangannya hanya memegang sedikit tepi jaket yang Azlan pakai, Dara nyatanya masih merajuk gara-gara masalah sepele tadi.


"Rupanya gadisku sensitif hanya gara-gara masalah sepele seperti tadi. Apa dia kini lagi PMS? Aduhhh... kalau benar, rugiiii deh. Tidak bisa menyimpan saham!" batin Azlan.

__ADS_1


Beberapa meter lagi sampai tujuan, Dara menghentikan Azlan. Mata Dara menatap tajam ke arah depan, terlihat Meta dan Pak Erik berjalan bersisian setelah turun dari mobil yang baru di parkir. Dara terus mengawasi, sambil Hapenya ia persiapkan. Mode keponya kini lagi on.


"Abang, tepikan dulu motornya!" perintahnya. Azlan patuh sambil matanya ikut fokus pada objek yang Dara lihat. Oh ternyata.... Meta...


Setelah dirasa aman dari penglihatan subjek, Dara segera menyalakan vidio dan merekam. Sesaat saja lalu "klik" disimpan.


Lalu dengan cekatan tangannya membuka aplikasi WA, segera dibuka kontak "Bu Rani Manager", jemarinya lincah menuliskan pesan dan dikirimkan.


Seketika Dara seakan menjadi detektif dadakan. Misinya kali ini ingin membongkar kedekatan atau kasarnya "perselingkuhan" Pak Erik dan Meta, kepada Bu Rani, tanpa ada yang memerintah. Jahat tidak sih Dara? Bahkan Dara merasa puas jika kedekatan Meta dan Pak Erik dipergoki istrinya. Dara menyeringai puas dan licik.


"Adek jadi detektif?" tanya Azlan.


"Dadakan... tetaplah Abang dukung Dara, Dara tidak mau kesempatan indah ini terlewat!" duhhh rasanya ucapan Dara jahat banget, mau mencelakai Pelakor dihadapan istri sah.


"Adek... jangan ikut terlibat lebih jauh, Abang takut terjadi apa-apa sama Adek!" peringat Azlan was-was.


"Iya makanya kita jangan sampai ketahuan makhluk dua itu," sahut Dara.


Dara masih mengawasi pergerakan Meta dan Pak Erik, yang sekarang menuju kedai makan di samping hotel Ibis. "View yang bagus untuk mengintai!" guman Dara.


Tiba-tiba notif pesan WA Dara bunyi. Pesan dari Bu Rani.


"Mbak, tempatnya dimana? Kirim cepat! Sebentar lagi saya sampai, mungkin lima menit lagi," pesannya.


Dara dengan lihai mengirimkan alamat dimana Pak Erik dan Meta makan di kedai yang tadi dilihatnya.


"Sayang... gimana?" tanya Azlan. Dara meletakkan telunjuknya diantara bibirnya. Azlan menurut.


"Terus dari mana Adek dapat nomer WA istrinya pria itu?" Azlan nampak heran.


"Dara kan ngulik pakai ini," ucapnya sembari menunjuk kepalanya.


"Sejak kapan?"


"Sejak Meta ketangkap basah sedang jalan berdua dengan Pak Erik!"


"Jadi, Adek merekam kebersamaan mereka? Mungkin saja bukan ada hubungan spesial, kita tidak boleh menafsirkan jelek dulu!"


"Aduh Abang ini, tahu nonton sajalah gimana endingnya," protes Dara.

__ADS_1


"Bukan apa-apa Dek, kalau Adek ketahuan sama Pak Erik yang membocorkan kedekatan mereka, Abang takut Adek yang dapat masalah dengan Pak Erik!" Azlan merasa was-was.


"Abang ini jangan takut, Bu Rani bersedia merahasiakan Dara sebagai informannya," yakin Dara.


__ADS_2