
Azlan tiba di kontrakan dengan lesu, dia nampak suntuk dan ini tidak bisa dia sembunyikan dari Dara. Saat itu Dara sedang di dapur, wangi bawang putih dan merah menyeruak dari sana. Penciuman Azlan langsung mengendus harumnya masakan buatan Dara.
"Abang....!" sambutnya sambil memegang susuk atau spatula. Azlan jadi pengen ketawa melihat Dara yang lucu dan menggemaskan, dengan gaya ala-ala Koki handal. Bercelemek, rambut diikat tinggi keatas, celana pendek selutut, ditambah gaya khasnya tersenyum yang apabila dipandang maka yang mandang bakalan nggak kuat, malah ngakak dibuatnya. Aura kecantikannya makin terblow up seperti artis kenamaan Michele Yudit. Rasa suntuk yang tadi ada seketika hilang.
"Wahhh... harumnya yang lagi masak, masak apaan sih?" tanyanya heran. "Dara lagi masak Sayur Sop, Sambal Tempoyak, goreng Jengkol dan ikan Asin, mantap Abang. Ini kesukaan kita nih....!" promonya sambil menunjuk-nunjuk hasil olahannya. Benar banget, semua masakan yang disebutkan Dara barusan adalah masakan kesukaan mereka. Sambutan istri yang luar biasa seketika membuat rasa suntuk hilang. Dara benar-benar pandai bikin mood Azlan bagus kembali.
"Abang mau makan sekarang atau nanti habis mandi dan sholat Isya?" tawar Dara. "Nanti saja habis Isya," sahut Azlan. "Ok hubby....!" mendengar ucapan Dara yang bahagia dan menghibur seperti itu sontak membuat Azlan bahagia sekaligus sedih. Saat di kamar mandi Azlan menangis, membayangkan Dara cantik ini sebentar lagi akan ditinggalkan sementara ke Korea. Bakal sanggup tidak ya Dara mendengar berita ini?
Beres mandi dan sholat Isya, Dara sudah menghidangkan sajian makan malamnya diatas ambal tipis. Apa yang disebutkan Dara tadi dihidangkannya di sana. Ya Allah... nikmat Tuhan yang mana yang akan kami dustakan? Hidangan yang sederhana dan sambutan sumringah bini, melebihi hidangan mewah di restoran Kak Elang Novel sebelah. Azlan terharu, mengingat kebersamaan dia bersama Dara sebentar lagi akan terpisah jarak.
"Abang... ayo dong, kita makan dulu!" ajak Dara tidak sabar. "Iya sayang, iya....!" lamunan Azlan buyar oleh ajakan Dara. Ya ampun, air mata Azlan tiba-tiba tidak bisa ditahan. Dia lantas melengos cepat ke arah kamar, tidak sanggup rasanya melihat kebahagiaan Dara harus pudar seketika gara-gara dia akan pergi ke Korea. "Abang... ih... malah ke kamar. Nantilah dulu kalau mau ehem ehem, kan harus makan dulu biar ada tenaga," rayu Dara semakin membuat kesedihan Azlan menjadi.
"Abang kenapa sih... makannya kayak kesurupan. Lahap banget tapi Abang kayak yang tidak menikmati?" tebak Dara menyelidik. "Tidak... Abang menikmati kok," bohongnya sambil menyeruput air putih yang sudah Dara siapkan.
__ADS_1
Selesai makan malam, Dara langsung ke kamar mandi dan bersih-bersih. Malam ini dia harus tidur dulu satu jam sebelum berangkat kerja. Sementara Azlan masih sibuk menonton berita TV yang menceritakan pembunuhan seorang Brigadir. Yang beritanya menjadi headline news di setiap stasion TV.
"Abang... Dara mau tidur dulu ya... Abang jangan ganggu Dara, sebab malam ini Dara ada PCB urgent. Dara tidak mau Dara lelah dan ngantuk," beritahu Dara lalu ngeloyor ke dalam kamr. Niat Azlan ingin menceritakan keberangkatannya ke Korea, terpaksa ditunda. Lalu tanpa menunggu lama Azlan menyusul tanpa mematikan dulu TV.
Azlan tidur disamping Dara yang mulai lelap, lalu diapun ikut berbaring dan memeluk tubuh Dara erat. "Bagaimana caranya aku bicara tentang kepergianku ke Korea, sementara kami kini berbeda shift. Dan pertemuan kami sedikit?" Azlan lantas memeluk tubuh Dara seakan tidak ingin dia lepas.
Dua minggu kemudian di hari Minggu
Berita ini sungguh mengejutkan buat Dara. Bagaimana tidak, setelah dirinya diteror lagi oleh surat dari Reno tempo hari, kini Dara merasa tidak aman dan pada siapa dia akan bergantung kecuali pada Yang Maha Kuasa.
"Abang....!" tangisnya pecah dalam pelukan Azlan, Dara seakan menumpahkan semua kesedihannya di dada Azlan.
"Dara tidak mau Abang pergi, kalau Abang pergi siapa yang akan membuat Dara tersenyum marah sekaligus jutek lagi. Tolong Abang minta ganti saja. Dara tidak mau jauh dari Abang," mohon Dara sambil menangis pilu.
Azlan tidak bisa apa-apa. Maunya sih di cancel dan diganti sama orang lain. Namun dia bisa apa? selain pasrah menerima keputusan. Tangisan Dara belum reda, dia larut dalam kesedihan yang dalam. "Nanti jika Abang pergi, sering-seringlah ajak Nela tidur disini atau nanti kalau ada kesempatan Sofia libur panjang, biar dia datang kesini temanin Adek," bujuk Azlan.
__ADS_1
Hari yang ditentukan tiba, Azlan dan Dara akhirnya berpisah untuk waktu yang lama dan jarak yang jauh. "Adek... jaga hati ya!" pesannya sebelum melangkah pergi meninggalkan Dara. Pesan yang hanya pendek namun bermakna dalam buat Dara. Sebetulnya Azlan ingin berkata lebih banyak, namun rasa sedih terlanjur menyelimutinya. Dara menangis dipelukan Nela yang saat itu ikut menemani Dara mengantar Azlan ke bandara.
"Selamat jalan Abang... sampai jumpa lagi, Dara akan selalu mencintai Abang!" pesan WA itu terkirim.
...****************...
Enam bulan kemudian di kontrakan Dara, saat itu ada seorang tamu yang gagah dan tampan. Tidak salah lagi dia adalah Wisnu. Wisnu hanya dilayani Dara di teras depan kontrakan. Kalau dibawa masuk takut terjadi fitnah, walau pada kenyataannya Dara dan Wisnu kakak beradik lain Ibu yang sudah Dara anggap layaknya kakak kandung, namun dimata orang lain bisa jadi tanggapannya lain.
"De... kita di Kafe saja yuk, biar santai dan leluasa. Kalau disini tidak enak dilihat tetangga," ajak Wisnu sembari menatap penuh cinta pada Dara. "Dara malas keluar A, lebih baik kita begini saja. Aa di teras dan Dara di dalam. Lagipula Dara lagi nungguin Sofi, Sofia sebentar lagi datang. Dia mau liburan disini sekalian nemenin Dara," tolak Dara halus.
Wisnu menghela nafas kasar, dia nampak. kecewa atas penolakan Dara. "Kenapa sih De, sekarang kamu kurusan dan tidak ceria seperti saat acara resepsi pernikahan?" tanya Wisnu yang merasa heran dengan perubahan Dara.
"Masa sih A, padahal Dara merasa biasa-biasa saja," ucap Dara seraya menatap tubuhnya. "Iya benar, kamu kurusan. Pasti lagi ada pikiran ya?" tanya Wisnu lagi perhatian.
"Gimana tidak kepikiran sih A, Dara kan jauh sama Bang Azlan. Dara khawatir sama Bang Azlan, apalagi minggu kemarin Bang Azlan sakit, tapi Dara tidak bisa mengurusnya karena kita jauh, akhirnya Dara cuma bisa nangis dengarnya," ucap Dara sambil berkaca-kaca. Wisnu menghela nafas. Dia melihat betapa besar rasa khawatir Dara pada Azlan.
"Ya sudahlah De, doakan saja suami kamu selalu diberi kesehatan. Tapi ingat, jangan sampai karena memikirkan suami, badan kamu kurus tinggal tulang," peringat Wisnu. Dara diam nampak sudut matanya mengeluarkan cairan bening.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...! Ayukkk.... Sofi datang....!" tiba-tiba Dara dan Wisnu dikejutkan suara cempreng mengucap salam yang hampir stereo.