Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Azlani Andara


__ADS_3

Tinggal beberapa minggu lagi Dara akan melahirkan. Perlengkapan bayi seperti mantel, cawet, dan lain sebagainya telah dipersiapkan. Bahkan kamar bayi bernuansa hijau sage sudah dibikinkan. Azlan sengaja membuat kamar bayi di ruang tengah.



Ruang tengah yang lumayan luas tidak bersekat itu, sengaja dimodifikasi dan dibagi menjadi dua ruangan. Jadilah ruang tengah itu fungsinya menjadi dua, kamar bayi dan ruang tengah. Sehingga jika ada yang ingin melihat dede bayi, maka tidak usah jauh masuk ke kamar.



Dara kini sudah merasakan sesak dan eungap. Hari-hari masih dijalaninya berdua dengan Azlan tanpa teman. Wisnu, kakak tersayangnya sudah beberapa bulan tidak pernah lagi datang menjenguk, alasannya tidak lagi ke Cijantung mengawal Komandannya.



Dara sudah sering terlihat termenung sekarang, bahkan sering meringis tiba-tiba. Rasa ingin buang air kecil sering kali dirasakannya.



"Adek... apa yang Adek rasakan sekarang?" tanya Azlan penasaran karena melihat Dara meringis.


"Pengen buang air kecil sama eungap."


"Ini bukan tanda-tanda melahirkan kan, Dek?" yakin Azlan.


"Dara kurang tahu Abang, menurut buku Ibu hamil ini bukan termasuk tanda-tanda melahirkan." Azlan manggut-manggut, raut mukanya kembali tenang.


"Kapan Ibu mau datang?" tanya Azlan.


"Dara belum tahu, nanti saja pas hari H baru kasih tahu. Mamak juga sama jangan kasih tahu dulu. Dara takut mereka panik dan ikut khawatir," peringat Dara.


"Siap.... Abang akan turuti keinginan Adek," ucap Azlan sembari memijit-mijit kaki Dara yang sedikit bengkak.


"Abang... bagus banget ya kamar bayi kita. Hijau sage yang kalem, pastinya nanti anak kita akan kalem dan baik hati deh." Dara tersenyum bahagia membayangkan dede bayi jika sudah lahir dan besar nanti.


"Iya, tentunya dong. Baik dan cantik kayak Mamanya serta setia dan tanggung jawab seperti Papanya," tunjuknya bangga. Dara senyum-senyum sendiri melihat Azlan membanggakan diri.



"Tapi jangan jutek-jutek deh kayak Mamanya. Kalau sudah jutek, ihhhh serem," ledek Azlan berpura-pura merasa takut.


"Ihhh... Abang, apaan sih. Justru yang menakutkan itu Abang. Sudah tahu Dara jutek dan judes, tapi dihamilin juga," sungut Dara merajuk.


"Itu kan jatah Abang. Masa dianggurin?" Azlan mencolek hidung bangir Dara.


"Abang... Dara jadi kangen Kak Rivai dan Kak Rian, dulu sebelum kita pindah kesini mereka selalu main ke kontrakan kita yang di sebelah," tunjuk Dara ke arah dimana letak bekas rumah kontrakannya dulu.


__ADS_1


"Iya, Abang juga sama kangen sama mereka. Apalagi sama Rivai. Seminggu lagi Rivai menikah di kampungnya. Jadi susah banget ketemuan kalau dia sudah menikah."



"Akhirnya Kak Vai menikah ya. Nggak jomblo lagi dong." Dara merasa senang sohibnya Azlan menikah diusia yang sudah tidak muda lagi.



Hari berganti minggu, saat ini adalah hari dimana menurut perkiraan Bidan, Dara akan melahirkan, namun tanda-tanda mau melahirkan belum nampak. Azlan menjadi risau dan gelisah.



"Dek... bagaimana, sudah ada tanda akan melahirkan?" tanya Azlan gelisah. Azlan yang sudah menggunakan seragam kerjanya menjadi ragu untuk pergi.


"Kayaknya sih belum, ini hanya keram saja keluhan yang Dara rasakan."


"Abang mau berangkat kerja, apakah Adek tidak apa-apa Abang tinggal?"


"Sudah... Abang pergi saja, Dara tidak apa-apa kok," usirnya halus.


"Benar, nih?" Azlan meyakinkan yang diangguki Dara.


"Abang... nanti istirahat belikan Es krim Boba ya!"pinta Dara sebelum Azlan pergi.


" Ok, sayang. Abang pergi dulu ya!" Azlan mencium kening dan mencium bibir Dara sekilas. Setelah itu dia pergi sambil melambaikan tangan.


"Ssshhhh....hahhhh....!" ringisnya saat merasakan mulas itu makin kencang. "Ya Allah....!" Dara mengusap bokongnya dan melengkingkan tubuhnya mengatur rasa sakit itu seberkurang mungkin. "Ohh... Ya Allah.... sakitnya....!" Dara meringis lagi.


Azlan yang belum mengetahui Dara merasakan mulas, dia masih duduk santai seraya menyeruput kopi Guday Mukacinanya di ruang tamu.



"Abang... Abang....!" panggilnya hilang timbul. "Hahhhh... Abang....!" Dara mengeluarkan nafasnya dari mulut bersamaan rasa mulas yang semakin intens. Dara meraih HPnya lalu mencoba memanggil nomer WA Azlan.



Sementara itu Azlan yang masih duduk santai di ruang tamu, merasa dikejutkan oleh suara telpon. Saat dia melihat siapa yang memanggil, Azlan mengerutkan keningnya heran.


"Dara memanggil!" gumannya seraya berjingkat menuju kamarnya. Saat tiba di kamar, Azlan terhenyak melihat Dara yang seakan kesakitan, dengan kasur yang sudah tidak berbentuk. Seprei yang tadi masih diatas kasur, kini luruh ke lantai.


"Dek....!" kejutnya.


"Apakah ini sudah saatnya?"


"Abang... jangan banyak tanya dulu... Cepat... siapkan perlengkapan bayi kita. Itu... sudah disiapkan seminggu yang lalu di tas besar di bawah lemari," tunjuk Dara. Azlan segera mempersiapkan tas yang ditunjuk Dara tadi.

__ADS_1


"BPJS Dara di dompet....!" Dara menyodorkan dompetnya. Azlan melangkah mendekati Dara dengan panik. Namun dasar harus ketiban sial, tiba-tiba kaki Azlan terantuk seprei yang sudah berantakan di lantai akibat ulah Dara yang menahan rasa sakit saat mulas tadi. Sehingga kepala Azlan nyungseb tersungkur mengenai pintu lemari.



"Duggg....!" Dara yang melihat insiden ini bukannya sedih atau simpatik, Dara tertawa sembari meringis menahan sakit. Disaat merasakan rasa mulas yang tiada tara ini, Dara malah disuguhkan insiden mengharukan sekaligus menggelikan. Dara tertawa melihat cara Azlan tersungkur seolah benda yang lagi diterbangkan.



Azlan segera bangkit lalu meraba keningnya yang sedikit benjol. "Wahhh, benjol." Sudah merasa tidak ada waktu untuk meraung karena rasa sakit di keningnya, Azlan segera bergegas menyiapkan tas tadi di emper rumah.



"Ayo... pelan-pelan, kita ke depan seraya menunggu GrabCar datang." Azlan memapah Dara ke depan dan mendudukannya di kursi bambu.


Saat masih menunggu GrabCar, Azlan menghubungi keluarganya juga keluarga Dara untuk memberitahukan bahwa Dara sudah akan melahirkan. Tidak lupa Azlan juga menghubungi orang pabrik memberitahukan bahwa dia


"Mamak tidak bisa datang, Dek. Mamak sedang sakit. Mungkin Sofia sama Azman yang akan datang," berita Azlan sedih. Dara nampak kecewa, terlebih mendengar Mamak yang sakit dia sangat sedih.


"Mamak sakit? Sakit apa?" Dara sangat terkejut.


"Mamak sakit meriang dan sekujur badannya sakit Dek, sekarang hanya bapak dan Bi Ima yang bergantian menunggu Mamak."


Tidak berapa lama, GrabCar yang dipesan Azlan tiba. Lalu Azlan memapah Dara menuju GrabCar. GrabCarpun melaju menuju Rumah Sakit Harapan Semua.



Singkat cerita, Dara sudah ditangani Perawat untuk dibantu mengeluarkan jabang bayi dari perutnya. Bukaan sudah lengkap, lalu para Perawat melaksanakan tugasnya membantu dan mengaba-aba Dara supaya tarik nafas lalu menghempaskannya. Berulang-ulang Dara melakukan itu, sehingga pada gerakan mengejan yang ketiga kalinya suara bayi mulai terdengar.



"Owe... owe... owe....!"



Azlan yang sejak tadi was-was dan selalu berdoa dalam hati, sontak menghampiri ruangan bersalin, namun rupanya belum boleh oleh Perawat, karena bayi mau dibersihkan dulu dan diinisiasi dini ke \*\*\*\*\*\* ibunya. Azlan menangis haru, terlebih saat tadi melihat Dara sangat kesakitan saat bukaan mulai lengkap.



Dan kini terlahir sudah seorang bayi cantik berkulit kuning langsat dan bersih. Dengan BB 2600 gram, panjang 49 cm. Bayi mungil yang cantik itu diberi nama Azlani Andara.



Azlan sangat bersyukur, kini mempunyai dua perempuan kesayangan di rumah barunya. Bayi perempuan cantik dan mungil yang memang sangat Azlan harapkan. Azlan nampak. bahagia banget. Senyumnya mengembang walaupun masih diiringi rasa haru. Azlan mengecup kening Dara hangat saat Dara sudah di pindahkan ke ruangan rawat.


__ADS_1


"Terimakasih sayang....!"


__ADS_2