
Dua minggu sering bertemu dan pulang bersama, namun tidak menjamin hubungan menjadi harmonis. Rasa cemburu dan marah lebih mendominasi pasangan muda ini. Namun ujung-ujungnya Azlan juga yang meredakan semua yaitu membawa Dara dalam dekapan cintanya. Sebuah kesabaran yang sebetulnya berbalik dengan watak aslinya yang keras hati, namun dengan Dara, dia mampu membangun sebuah nilai kesabaran. Sedalam itu cinta Azlan pada Sang Pujaan.
...----------------...
Dua bulan Kemudian
Sebuah tenda hijau berbaur merah muda telah berdiri kokoh di depan halaman rumah keluarga Dara. Saat ini Dara dan Azlan sedang berada di kampung halaman Dara, yaitu kota kecamatan Lembang yang udaranya masih terbilang dingin walaupun bangunan megah seperti villa dan hotel-hotel sudah mulai memadati kota kelahirannya ini.
Resepsi pernikahan Azlan dan Dara akan digelar, walau bukan di sebuah gedung, namun kemegahannya terasa. Azlan benar-benar menjadikan Dara seorang perempuan yang paling berharga. Walaupun tidak ada ijab qabul lagi, resepsi kali ini terasa begitu sakral dan penuh haru. Para tetangga Dara dan kerabat berdatangan silih berganti menghadiri acara pernikahan mereka.
Keluarga Azlanpun hadir lengkap, Mamang dan Bibi dari kedua belah pihak ada juga yang ikut menghadiri. Mereka datang dari kampungnya secara rombongan dengan menggunakan tiga mobil. Suasana makin meriah dan penuh suka cita.
Dara dan Azlan nampak cantik dan tampan layaknya raja dan ratu di singgasana. Dengan dibalut baju pengantin adat Sunda, Dara semakin terlihat kecantikannya. Dilengkapi dengan senyuman yang selalu mengembang dari keduanya, makin memancarkan pesona keduanya.
Keluarga Dara dan Azlan berbaur, saling bersuka cita dalam resepsi keduanya. Nampak akrab dan harmonis. Walaupun bukan orang tua kandung, Pak Malik dan Bu Endah memperlakukan Dara layaknya anak sendiri. Apalagi Dara merupakan keponakan kandung Bu Endah, anak dari adik kandungnya sendiri, yakni almarhum Bapaknya Dara.
__ADS_1
Sofia tidak ketinggalan, nampak sangat bahagia di hari pernikahan Azlan dan Dara. Dia nampak cantik, dibalut gaun brokat semata kaki warna hijau sage. Makin cantik mempesona. Kadang tidak sedikit cowok-cowok lajang menatap takjub melihat kecantikan cewek ceria satu ini.
Namun dibalik suka cita yang dirasakan semua orang atas resepsi pernikahan Azlan dan Dara, ada satu hati yang menahan pilu. Di taman belakang dia duduk termenung, meratap dengan tatapan mata sendu. Berbalut baju batik merah marun, pria tampan berkulit putih, berbadan tinggi atletis itu menatap lurus ke depan, dengan tatapan hampa. Bagaimana tidak, hari ini dia menyaksikan orang yang sangat dicintainya bersanding bahagia dengan lelaki lain. Dialah Wisnu, seorang tentara yang seharusnya berhati baja, namun kini meneteskan air mata di hari persandingan Dara dan Azlan.
Dara merupakan cinta pertama bagi Wisnu, menginjak usia Dara 19 tahun, benih cinta mulai tumbuh kuat di hati Wisnu. Dia jaga dan dia sirami penuh kasih sayang dan cinta. Cinta yang berubah menjadi cinta pada seorang wanita. Saat ini Wisnu membayangkan dirinya yang bersanding disisi Dara.
"Boleh Aa peluk....?" pinta Wisnu ketika rangkaian acara resepsi itu selesai. Wisnu meminta Azlan untuk membawa Dara sejenak menjauh dari keramaian. Azlan mengangguk namun hatinya menyiratkan keengganan. Sebab Azlan tahu lelaki itu mencintai Dara.
Wisnu membawa Dara ke taman belakang, dia mendudukkan Dara di sebuah kursi. Dara menatap penuh senyuman ke arah Wisnu.
"A... jangan sesedih ini. Dara hanya menikah, bukan untuk meninggalkan Aa dari dunia ini," ucap Dara yang hanya menambah kesedihan Wisnu. Dara tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Wisnu.
Wisnu merangkum wajah bermake-up tebal itu, ditatapnya lekat wajah itu. Air mata itu masih mengalir.
"Seandainya dia tahu aku mencintainya, apa yang akan dia lakukan?" Wisnu membatin, tatapannya masih lekat.
Wisnu masih menatap lekat wajah Dara. Semakin lama wajah itu semakin mendekat, Dara merasakan deru nafas Wisnu begitu memburu. Ada sebuah rasa yang beda yang Dara rasakan, sebuah getaran rasa yang sulit diartikan. Saat wajah Wisnu makin mendekat, bibir Wisnupun seakan makin mendekat dengan bibir Dara. Jantung Dara tiba-tiba berdetak kencang, seiring semakin dekatnya bibir Wisnu.
"Cup....!" sebuah kecupan mendarat di kening Dara. Berlomba dengan debaran jantung Dara yang semakin kencang. Ada rasa lega saat kecupan itu hanya mendarat di keningnya. Mungkin tadi Dara salah paham mengartikan gestur tubuh Wisnu.
__ADS_1
Sebuah kepalan tangan menghantam tembok disertai rasa marah. Azlan berdiri dari balik pintu belakang taman itu. Mengawasi mereka berdua. Hatinya mulai panas, kobaran cemburu mulai menyala. Melihat kekasih hatinya dipeluk dan dicium begitu mesra oleh seorang lelaki yang begitu mencintainya. Azlan hanya bisa memukul angin di udara.
"Aa... kenapa Aa begitu sedih? Dara jadi ikut sedih karena melihat Aa menangis." Wisnu tidak menyahut, dia melepaskan rangkulannya. "Aa tidak bahagia melihat kamu bersanding dengan dia," ungkap Wisnu. Dan hal ini sudah tidak membuat kaget Dara lagi. Dara tahu Wisnu belum ikhlas dirinya menikah dengan Azlan, sebab cara Azlan mendapatkan Dara yang menurutnya sangat curang.
"Dara tahu Aa belum ikhlas Dara menikah dengan Bang Azlan. Tapi Aa harus bisa menerimanya, sebab Bang Azlan sudah merupakan bagian dari keluarga kita," ucap Dara.
"Apakah kamu tahu apa yang Aa rasakan?" tanya Wisnu. Dara menggeleng.
"Kembalilah... tinggalkan Aa sendiri," ucapnya mengusir. "Tapi Aa juga harus ikut Dara, kita berfoto bersama," ajak Dara seraya meraih tangan Wisnu. Wisnu menahan tubuhnya sehingga Dara tidak bisa menariknya. "Ya sudah, Dara ke depan dulu."
Dara berjalan meninggalkan Wisnu, sementara Wisnu hatinya semakin perih ditinggalkan Dara. Saat Dara berbelok, tubuhnya tiba-tiba ada yang menarik.
"Aduh... apaan sih?" pekiknya. Azlan segera menutup bibir Dara dengan tangannya. "Abang....!" pekiknya lagi terkejut.
"Kenapa Abang disini?" Azlan tidak menjawab, secepat kilat tubuhnya sudah menghimpit tubuh Dara lalu menatap wajah Dara yang semakin cantik walau bermake-up tebal. Ditatapnya lekat pengantinnya, lalu wajahnya dengan wajah Dara semakin tidak ada jarak. Azlan mencium bibir Dara penuh perasaan.
"Abang sudah tidak sabar menantikan malam, untuk menikmati malam pengantin kita." Dara tersenyum malu digoda Azlan, dirinya merasa lucu dengan ucapan Azlan. Walaupun ini adalah resepsi pernikahan mereka, namun ini bukan lagi menjadi malam pertama bagi mereka, sebab mereka sudah lama melewati malam pertama.
__ADS_1
"Bukankah kita sudah sering melakukannya, jadi jangan bilang malam ini malam pertama kita," sergah Dara seraya meraih tengkuk Azlan dan meraup bibir Azlan dengan rakus membalas perbuatan Azlan tadi. Azlan hatinya senang, terlebih di belakangnya mendapati Wisnu yang nampak sangat kecewa.