Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sohib rasa Ustadz


__ADS_3

"Apa nasihatnya?"


"Gua lupa sih kalau mau panjang lebar. Cuma yang gua tangkap, bahwa kita udah sah secara agama dan pak Ustadz bilang segera legalkan pernikahan kalian secara agama dan negara ke KUA, segera hubungi keluarga kalian dan ....!"



"Nah ... nah ... itu yang gua maksud," potong Rivai menghentikan omongan Azlan. Azlan melongo memperhatikan Rivai.


"Pak Ustadz bilang "segera" legalkan dan hubungi keluarga kalian, maksudnya di sini harusnya Elu setelah pernikahan paksa itu, segera hari itu juga hubungi keluarga kalian untuk melegalkan pernikahannya!" terang Rivai.


"Pernikahan itu, hanya menyelamatkan elu dari amukan massa pada saat itu, karena mereka berasumsi kalian telah melakukan perbuatan mesum saat itu," jelas Rivai lagi.



"Lan, lagipula wali hakim yang ditunjuk Pak Ustadz di sini kedudukannya belum tentu kuat, sebab Dara di sini masih punya keluarga dan gua dengar punya seorang Kakak laki-laki," lanjut Rivai lagi serius. Azlan diam tak berkata-kata dia berusaha mencerna semua omongan Rivai barusan. Dirinya seakan baru disadarkan dari komanya oleh Rivai, sohib somplak yang ternyata ilmunya dalam mengenai pemahaman agama. Padahal setahunya, Rivai sholatnya belang kayak Kucing belang.



"Gua baru nyadar I, gua gak pernah nanya tentang keluarga Dara. Gua jadi bingung I sekarang. Sedangkan Gua cinta banget sama Dara," ucap Azlan akhirnya bersuara dengan nada penuh sesal dan rasa takut.



"Elu cinta, tapi maksa. Akhirnya jadi bumerang sendiri buat elu. Bayangin kalau Dara masih punya bapak dan saudara laki-laki, maka hubungan yang kalian jalani sekarang adalah hubungan tidak sah. Apalagi kalau kalian sudah pernah *bergaul*, maka kalian termasuk melakukan zina," urai Rivai sambil menatap iba pada Azlan.



"Saat ini Dara masih punya wali yang senasab, bapaknya, saudara laki-laki dari bapaknya, Uwa atau Mamangnya, bahkan Kakeknya, atau bahkan Kakek buyutnya, juga Kakak laki-lakinya. Kalau tidak diwalikan oleh salah satu dari mereka, sementara mereka masih hidup, maka jelas pernikahan kalian " TIDAK SAH ," jelas Rivai tegas.



Azlan nampak terhenyak, penjelasan Rivai barusan menyadarkannya, seperti tonjokan yang keras mengenai ulu hatinya. Sakittt ... dan bodoh banget mengapa dia baru sadar sekarang saat hubungannya sama Dara semakin lengket.

__ADS_1



"Ini tidak lepas dari omongan Reno tempo hari saat dia datang ke sini. Guapun tergugah untuk mencari tahu sendiri perihal pernikahan kalian, sah atau tidak. Selain dari ceramah-ceramah Ustadz kondang, dulu gua punya sedikit ilmu saat masih sekolah di Mts. Makanya gua berani kasih tahu elu, tapi bukan berati gua punya ilmu. Ilmu gua cetek hanya didapat dari sekolahan," ungkap Rivai sedikit mengenang masa sekolahnya.



Benar kata Rivai, pernikahan yang dijalani Azlan akibat jebakannya, belum tentu sah. Apalagi Dara masih punya kedua orang tua dan saudara laki-laki. Azlan semakin dilanda ketakutan, ketakutan kehilangan Dara dan takut akan dosa.



"Yang perlu elu lakukan sekarang adalah, coba bertanya sama Dara tentang keluarganya. Kalau elu serius, maka elu harus ada perhatian dong sama keluarganya," lanjut Rivai.


"Gua takut kehilangan Dara I, setelah dia tahu tentang pernikahan ini yang rupanya belum tentu sah, gua takut Dara pergi dari gua. Gua sayang dan cinta sama dia," ungkap Azlan dalam. Wajahnya tertunduk lesu penuh kekhawatiran dan ketakutan.


"Kalau elu takut kehilangan dia, maka secepatnya elu ajak nikah resmi dia. Lamar dia baik-baik, minta sama kedua orang tuanya. Tidak kayak gini, elu nikahi tapi dengan cara memaksa!" tandas Rivai tegas.



B"Dan ingat, mulai detik ini jangan pernah sentuh Dara. Elu tahan dulu hasrat gila elu. Jangan maksa-maksa lagi deh kalau elu benar-benar sayang dan cinta sama Dara," tegas Rivai lagi.



"Benaran ...?" tanya Rivai mencoba meyakinkan karena merasa tidak percaya. Azlan hanya mengangguk.


"Gua tidak percaya, masalahnya elu 'kan tipe pemaksa. Siapa tahu saat elu paksa dan rayu, Dara luluh sama rayuan gombal elu." Rivai merasa belum yakin.


"Benar, kami belum pernah melakukannya. Kami hanya ringan-ringan," jawab Azlan jujur.


"Alah ... gombal."


"Kalau kalian sampai pernah melakukan itu, seret (sempit) rezeki lu Lan. Orang yang melakukan zina, sempit rezeki dunia akhirat. Kecuali kalau kalian taubat, taubatan nasuha." Rivai benar-benar seperti seorang Ustadz saat ini di mata Azlan.

__ADS_1


Azlan kini bagai tertampar luar dan dalam. Semua perkataan Rivai membuatnya sadar dan lemas seketika.


"Ya Allah bagaimana ini, kenapa hamba baru sadar apa yang hamba lakukan ternyata salah. Kenapa tidak dari sebelumnya hamba paham akan hal ini. Jangan pisahkan kami Ya Allah!" batin Azlan sedih. Azlan nampak tertunduk seperti orang yang benar-benar terpuruk akan kenyataan hidup.


"Lan... kalau elu benar-benar cinta sama Dara, maka perjuangkanlah. Tanyakan tentang keluarganya, dan jangan lupa pesan gua, jangan pernah sentuh lagi Dara, ringan maupun berat. Yang perlu elu lakukan sekarang adalah tunjukan perhatian elu, jangan pernah elu menyakitinya baik secara verbal atau fisik," peringat Rivai panjang lebar.



Azlan hanya mampu diam dan masih tertunduk lesu. Tubuhnya seakan tidak bertulang untuk sekedar bertumpu.


"Aku benar-benar bodoh. Aku tidak bisa bayangkan seperti apa yang akan terjadi setelah ini, setelah aku tanyakan tentang keluarganya?" Azlan masih membatin.


"Sudahlah Lan, jangan terlalu larut dalam ketakutan elu. Elu belum coba bertanya pada Dara tentang keluarganya. Dara juga belum tentu mau lepas dari elu begitu saja setelah kalian lengket, gua rasa Dara sudah mulai cinta sama elu.


Jangan pernah elu pudar dalam memberikan perhatian dan kasih sayang. Tunjukkan terus rasa cinta elu. Tapi ingat tidak dengan sentuhan fisik. Ingat Lan, wanita itu punya kehormatan. Dan mulai sekarang elu jaga kehormatan Dara!" peringat Rivai bijak.


"Tapi gua terus terang sama elu, walau cara elu mendapatkan Dara dengan cara yang salah. Namun gua lebih mempercayakan Dara ke elu ketimbang ke cowok lain," ungkap Rivai, membuat Azlan sedikit mendongakkan badannya yang sejak tadi tertunduk.



"Sudahlah Lan, kuatkan tekad dalam diri elu untuk terus memperjuangkan cinta Dara. Jangan lemas begini. Elu cuma shock saja akan kenyataan yang elu dengar barusan. Gua yakin elu bisa kok," Rivai memberi motivasi supaya Azlan tidak terpuruk.



"Gua makasih banyak sama lu I, elu benar-benar sohib baik gua. Elu menyadarkan kekhilafan gua. Hari ini gua benar-benar tertampar dengan semua omongan elu, elu benar-benar sohib baik bagi gua," ucap Azlan sambil berkaca-kaca.



"Ya sudah deh Lan, sebaiknya lu kuatkan hati dulu. Sekarang elu masuk rumah, dan buat Dara senyaman mungkin. Setelah elu merasa kuat dan siap, coba tanyakan tentang keluarganya. Dan ungkapkan keinginan elu yang ingin melamar Dara dengan baik," nasihat Rivai menenangkan.


"Makasih I ... gua akan coba kuat dan terus memperjuangkan Dara sebisa gua. Gua minta doa dari elu, " balas Azlan lemah.

__ADS_1


"Lebih baik gua balik, gua udah ngantuk. Besok-besok gitarannya. Gua tidak ingin elu tambah sedih jika gua di sini terus. Gua pamit Lan," pungkas Rivai seraya mengusap pundak Azlan sejenak untuk menguatkan sohibnya yang satu ini.


Azlan masih terduduk lemas sambil menguatkan seluruh kekuatan. Dia harus kuat demi cintanya untuk Dara. Semua nasehat Rivai akan dia jalankan dengan sepenuh hati. Tentang bagaimana kelanjutannya, Azlan pasrah. Namun akan terus berjuang dan berusaha. Semoga cinta di hati Dara tidak pudar setelah Azlan menanyakan tentang keluarga Dara. Dan tidak pudar setelah tahu jika pernikahan ini ternyata tidak sah.


__ADS_2