
Dara menatap Azlan dengan nyalang. "Khawatir dengan Dara atau kasihan dengan Meta?" ucap Dara berironi.
"Dengarkan Abang, Adek jangan salah paham dulu. Abang sangat takut Adek dapat masalah, Abang takut kejadian Meta dilabrak tadi imbasnya ke Adek, Abang takutnya Meta langsung berpikiran dibalik pelabrakan tadi ada campur tangan Adek. Abang tahu siapa Meta, dia perempuan nekad. Walau dengan jalan yang salah dia pasti lakukan, dengan memfitnah atau mencelakakan orang!" jelas Azlan penuh rasa khawatir.
"Nah itu yang dia lakukan makanya Dara senang saat dia dilabrak Bu Rani, sekali-kali Dara jahat dengan tersenyum bahagia dengan derita dia wajarlah,"
"Apa yang dia lakukan?" Azlan penasaran.
"Abang mau tahu apa yang dilakukan mantan tercinta Abang itu?" Azlan menggeleng menepis apa yang Dara ucapkan barusan.
"Dia memfitnah Dara, dia membawa bukti sebuah PCB terbakar yang dia temukan di Magazine outgoing," ucap Dara berhenti sejenak.
"Bukti apa yang dia temukan sehingga memfitnah Adek?" Azlan makin penasaran.
"Disudut kiri bawah PCB itu ada cap Dara, menandakan kalau PCB itu hasil dari pengecekan Dara yang Dara lepas. Jelas Dara menyangkal sebab Dara tidak pernah merasa melepas PCB rijek sampai ke QC."
"Oh ya....?"
"Meta merasa besar kepala, karena Dara keukeuh tidak mengakui bahwa itu kesalahan Dara. Lantas dia mengintimidasi jika Dara tidak mengakui, maka laporannya bisa sampai ke Manager dan kelar karir Dara," jelas Dara.
Azlan terhenyak tak percaya.
__ADS_1
"Kalau Dara tidak punya bukti kedekatan Meta sama Pak Erik, maka dipastikan dengan seenaknya Meta akan melaporkan PCB terbakar itu ke Manager, bisa jadi Dara kena SP atau yang terparah sekalipun yaitu dikeluarkan dari pekerjaan!" Dara berubah sedih mengenang kejadian saat meeting itu terjadi.
"Kenapa Adek baru cerita sama Abang sekarang, Adek bahkan tidak pernah mau cerita masalah apapun tentang Adek. Kenapa?"
"Karena Dara tidak ingin membebani orang lain!" ketusnya seraya berjingkat ke dalam kamar.
"Abang bukan orang lain Dek, Abang suami Adek!" tegas Azlan.
Dara tidak menyahut lagi, dia terlanjur marah dan merasa Azlan tidak berpihak padanya.
Azlan berusaha merayu Dara dan meminta maaf atas ketidaktahuannya selama ini. Selama ini Dara tidak pernah bercerita sedikitpun masalah yang menimpanya, bahkan ketika dia difitnah Meta, Dara lebih baik menyimpan semua kesedihannya sendiri. Dan ini jadi kekhawatiran sendiri buat Azlan. Dara punya masalah tapi Azlan tidak bisa membelanya, bahkan dijadikan teman curhatpun oleh Dara tidak pernah.
"Dek... Abang minta maaf, Abang tidak tahu Meta sampai sejauh itu. Dan perlu Adek tahu, Abang hanya khawatir sama Adek. Abang tidak mau orang yang paling Abang cintai dan sayangi dapat masalah dan kenapa-kenapa!" bujuk Azlan yang khawatir karena Dara menangis. Dara tidak menyahut, hanya isak tangisnya terdengar dengan kepala yang ditenggelamkan ke bantal.
Azlan hanya bisa mengelus Dada, Dara salah paham dan menganggap dirinya memihak pada Meta.
Sejak saat itu, Dara berusaha menghindari Azlan. Terlebih 3 minggu kedepan berturut-turut mereka beda shift, hanya beberapa jam saja bisa bertemu di rumah. Itupun Dara menghindar terus dan sama sekali sudah tidak mau makan di rumah.
Azlan sedih, begini rasanya terlalu mencintai seseorang. Memberi nasihat dianggap tidak memihaknya. Jika dibiarkan, Azlan tak mau orang yang disayanginya kebablasan yang akhirnya jadi dosa buat dirinya sendiri. Akhirnya hanya bisa membujuk dan bersabar untuk membeli hatinya kembali hangat. Dara memang sedikit keras kepala, jadi cara meluluhkannya dengan kelembutan dan kesabaran. Tapi sampai kini semua itu belum ada hasil.
"Elu harus punya kesabaran tingkat internasional Lan untuk menghadapi Neng Dara yang merajuk!" nasihat yang Rivai tempo hari.
__ADS_1
"Aneh, Azlan yang kita kenal keras dan tidak mau mengalah, hanya bisa dikalahkan oleh seorang wanita, Dara Virginia. Takaran cinta Elu sudah melebihi overload Lan, jadi luber ke mana-mana, tidak bisa ngapa-ngapain saking cintanya ke Neng Dara!" ejek Rivai lagi saat itu.
"Ya begitulah kalau cuma Elu saja yang cinta, Elu banyakin sabar tingkat dewa internasional saja deh! Hahahahah...." ejek Rivai seraya tertawa lepas, rasanya ingin nonjok saat ketawanya itu.
Azlan masih merenungi apakah ada yang salah dengan ucapannya tempo hari, yang mengingatkan supaya Dara jangan terlalu bahagia dengan derita orang lain, apalagi sampai digibahin? Semua kembali menunggu Dara yang luluh sendiri, menyimpan egonya.
...****************...
Hari ini Minggu, tepat dua minggu Dara mendiamkan Azlan. Dara duduk termenung memikirkan kekakuan antara dirinya dan Azlan. Bukan Azlan yang mendiamkan dirinya, namun Dara yang mendiamkan Azlan.
Sudah dua minggu ini Dara tidak pernah lagi makan di rumah, walaupun Azlan memasak tiap hari. Walaupun Azlan membujuk dan tetap bersikap manis dan baik, semua tidak ada artinya, karena Dara merasa Azlan tidak mengerti perasaannya.
Namun kini dia merasa rindu dengan semua tingkah Azlan, perhatiannya, kasih sayangnya, dan kadang konyolnya. Terlebih sikap romantisnya yang sering membuat Dara melayang. Dara menangis saat mengingat perkataan Nela tadi malam saat pulang kerja. Saat itu Dara memaksa ingin menginap di kontrakan Nela, namun Nela melarang, alasannya Dara tidak minta ijin pada Azlan, terlebih Nelan tidak mau dirinya dianggap terlibat perang dingin yang dibuat oleh Dara.
"Dosa lho Dar, mendiamkan laki Lu sampai dua minggu begini. Apalagi Elu sudah tidak mau makan di rumah, sungguh derita yang nyata bagi laki Lu mencintai Elu yang keras kepala begini. Sudahlah, sudahi ego Elu. Tiap hari Abang Elu perhatian, namun Elu cuek dan ketus. Untung Abang Elu punya stok sabar yang tingkat dewa. Kalau tidak, sudah ditinggal kelaut deh Lu!" ucap Nela tadi malam saat pulang dari pabrik.
"Gua tidak mau Elu nginap tanpa ijin laki Lu, Gua takut kena salah laki Elu. Sekarang Elu tidur seperti biasa di kontrakan Elu, dan tunggu kedatangan Abang Lu besok pagi saat pulang kerja, sambut dengan senyum bahagia dan permohonan maaf supaya hubungan kalian cair lagi. Atau kalau bisa sambut laki Lu dengan Jersey Horor yang Gua kasih tempo hari. Elu pakai, kemudian Elu sambut laki Lu dengan peluk dan cium, sedikit bermanja kemudian bawa ke kasur, wakwakwak....!" saran Nela tadi malam diiringi tawa yang menyeringai, penuh menggoda.
Dara bingung, jam di tangan menunjukan pukul 6.45 pagi, sebentar lagi Azlan pulang. Dara ingin menuruti saran dari Nela, tapi tidak untuk bermanja-manja seperti sarannya tadi malam, apalagi menggodanya dengan Jersey horor pemberiannya saat itu. Jantung Dara semakin dah dig dug, saat di depan terdengar suara motor yang berhenti dan ucapan salam yang diperdengarkan.
"Assalamu'alaikum!" ucap Azlan sembari masuk setelah membuka pintunya sendiri. Sunyi, hanya suara kipas angin halus menerpa ruangan.
__ADS_1
Azlan menurunkan keresek yang berisi belanjaannya, ada Es Boba dan Pempek kesukaan Dara.
"Adek... Abang belikan Pempek dan Es Boba kesukaan Adek, Abang letak disini ya. Abang mau mandi dan bersiap ke Mangga Dua!" ucapan Azlan masih belum ada tanda-tanda sahutan. Azlan segera beranjak ke kamar mandi.