
Pov Azlan
Saat Aku pamit untuk bekerja pada Dara, Aku melihat Dara begitu berat melepaskanku, sepertinya dia masih rindu. Sepulang dia kerja sore tadi, kami melepaskan kerinduan. Entah kenapa kali ini dia yang meminta, biasanya Aku yang selalu memulai.
Setengah perjalanan menuju pabrik, Aku dikejutkan oleh seseorang yang mencegatku dan berusaha minta tolong.
"To-long se-bentar, di sana ada kecelakaan!" ujarnya terbata dan panik serta bergetar seraya tangannya menggiring mengarahkanku ke arah Cibarusah. Aku sedikit heran, sebab jalan yang ditunjuk orang tadi adalah jalan penghubung lain menuju Cibarusah namun sepi dan jarang dilewati. Motorku terhenti sejenak seraya menatap pada orang itu. Orang ini nampak meyakinkan, dia bersiap melajukan motornya dan membimbingku supaya mengikutinya.
Walau Aku sedikit heran, namun laju motorku tidak bisa dihentikan lagi saat Aku mendengar kata "kecelakaan". Terlebih Aku memang merasa iba pada orang yang terkena musibah. Jam di tanganpun menunjukkan pukul 18.55 malam, sebentar lagi pukul 7 malam. Kalau begini caranya, alamat Aku bisa telat masuk kerja. Tapi demi kemanusiaan Aku rela telat kerja, biar nanti Aku langsung WA kepada Kepala Teknisi saja memberitahukan ketelatanku.
Orang tadi terus membawaku ke arah Cibarusah, jalan besar akhirnya mulai kelihatan. Namun yang bikin heran kenapa belok ke sebuah lapangan.
"Bang, dimana yang kecelakaannya....!" teriakku kencang agar suaraku terbawa angin dan sampai di telinga orang tersebut.
"Disini....!" serunya menunjuk ke lapangan itu yang memang selalu sepi.
Aku mengikutinya tanpa rasa curiga. Lalu berhenti mengikuti orang itu, aku pingak pinguk mencari alasan Aku mengikutinya, namun Aku tidak menemukan tanda-tanda orang kecelakaan.
Belum hilang rasa heranku, tak berapa lama kepalaku seperti ada yang menghantam. Dan Aku terhuyung sejenak seraya merasakan sakit di kepala bagian belakang. "Ya ampun....!" pekikku.
Tidak berapa lama, terdengar lagi beberapa deru suara motor menghampiri ke arah kami. Posisiku masih belum stabil, sehingga Aku yang ingin menyiapkan kuda-kuda dikejutkan akan penampakan yang tidak asing. Reno berada disini dan dia menghampiriku dengan tatapan nyalang.
"Apa yang mau dia lakukan, dan ada kepentingan apa dia disini? Ahh... orang tadi, apakah dia sedang menjebakku, dan berhasil menggiringku kesini? Ya Tuhan, Aku baru menyadarinya setelah Reno mengungkapkan sebuah pengakuan."
"Akhirnya umpan berhasil digiring. Hahahaha....!" ujarnya diiringi tawa menyeringai. Aku semakin heran melihatnya.
"Ada apa Bang, kenapa dia membawaku kesini dengan dalih ada yang kecelakaan? Terus hubungannya dengan Abang apa?"
"Jadi Elu mau tahu?" Reno menatapku tajam penuh emosi.
"Apakah Si Dara tidak bercerita bahwa dia telah berhasil gua cium saat di pabrik?"
__ADS_1
Pengakuan yang cukup menghantam dada, namun Aku berusaha tidak mempercayainya.
"Bahkan dia tidak menceritakannya pada Elu yang katanya sudah menjadi suami resmi. Itu artinya dia tidak sepenuhnya percaya dan mencintai Elu." Tekannya lagi merasa menang.
yu h "Maksud Lu apa Bang?" tanyaku masih benar-benar belum paham.
Reno masih menyeringai, sorot matanya tajam dan mendelik bagaikan belati yang siap menghujam.
"Maksud Gua, hubungan Elu sama si Dara Gua pastikan segera berakhir. Buktinya dia tidak bercerita saat Gua berhasil menciumnya, itu artinya dia masih belum bisa terbuka sama Elu karena dia sebenarnya tidak **MENCINTAI** Elu." Tandas Reno seraya menekankan kata mencintai begitu kuat.
Hati Aku begitu panas mendengar pengakuan Reno. Benarkah Dara telah dicium Reno, tapi dia tidak mau cerita padaku karena Dara belum mencintai Aku? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sehingga membuat Aku benar-benar sakit kepala, terlebih tadi sudah ada yang menghantam kepalaku.
Aku teringat tempo hari Dara hmn, "Abang, jika Dara ada yang melecehkan, Abang mau gimana?" Pertanyaannya tempo hari rupanya terjawab disini, oleh Reno sendiri pelaku pelecehan. Jelas Aku akan marah dan akan Aku patahkan tulangnya jika Aku bisa. Tapi, kenapa Dara tidak mau cerita, bukankah dia sudah mengungkapkan isi hatinya bahwa dia telah mencintai Aku?
Setelah rasa sakit di kepalaku rada mendingan, Aku berusaha berdiri dan menyiapkan seluruh tenagaku yang masih tersisa. Mukaku merah padam menyimpan kemarahan atas pelecehan yang dia lakukan pada Daraku.
"Dug....!" tinju panjangku kena tepat di rahangnya, Reno sedikit terjerambab ke belakang dan Aku mulai mendekat dan menyiapkan tinju selanjutnya untuk ku tinjukan di perutnya. Namun belum sampai Aku meninju untuk kedua kalinya, tiba-tiba orang yang menjebakku tadi dan tiga orang lainnya lagi sebagai orang suruhan Reno, menimpaku dengan beberapa kali tinju ke perut dan ke wajah yang berusaha Aku tepis.
Karena tidak seimbang, satu lawan empat akhirnya Aku lemas dan kalah. Aku pasrah ditinju, yang terbayang dalam otakku adalah kehormatan Dara. Aku matipun saat itu tidak masalah asal kehormatan Dara bisa Aku bela, mungkin saat inilah Aku menebus kesalahanku dulu saat menjebak Dara dalam drama penggrebegan di pagi hari, yang berakhir menikah paksa.
Sakit tiada terkira saat salah satu suruhan Reno yang badannya lebih besar memelanting tubuhku, sampai tanganku terasa seakan patah
__ADS_1
"Awwwwwww....!" jeritku panjang, sakit tidak terkira.
Tak berapa lama samar Aku mendengar suara perempuan menjerit meminta tolong, sontak Reno dan kawan-kawan berhamburan entah kemana.
POV End
...----------------...
Azlan mengakhiri ceritanya dan Dara sungguh terhenyak, dia tidak menyangka pengeroyokan ini adalah ulah Reno. Terlebih dirinya benar-benar merasa bersalah atas sikapnya yang tidak mau bercerita tentang pelecehan yang dilakukan Reno. Dan sekarang apa yang terjadi? Justru Azlan yang menjadi bulan-bulanan Reno. Untung saja tangan Azlan tidak patah, hanya pergeseran tulang saja. Namun itupun butuh waktu yang lumayan lama untuk pemulihan.
"Sudahlah, tidak perlu sedih lagi. Adek tidur saja di ranjang sebelah. Abang tidak mau Adek sakit karena jagain Abang. Besok Adek kerja, tidak baik kalau ngantuk di tempat kerja," ucapnya lirih.
Tapi Dara tidak mau beranjak dari ranjang Azlan, dia semakin meremas jemari Azlan semakin erat. Dara ingin berbicara satu kalimat saja supaya Azlan tidak salah paham padanya, tentang sikapnya yang tidak mau bercerita pada Azlan.
"Ijinkan Dara berbicara sebentar saja, tolong Abang dengar dulu Dara," bujuknya sedih.
"Abang masih ingat, kan, saat itu Dara pernah bertanya jika Dara ada yang melecehkan, apa yang akan Abang lakukan? Dan jawaban yang Abang lontarkan, membuat Dara urung bercerita. Dara terlanjur takut Abang melakukan kekerasan dan berakhir fatal," tukas Dara diiringi rasa khawatir.
Azlan nampak menarik nafasnya dalam, dia merasa Dara sia-sia bercerita kalau akhirnya dia yang mendapat kekerasan dan celaka karena pengeroyokan.
"Dan akhirnya apa, justru Abang yang dapat celaka dan kekerasan. Sudahlah, Abang bilang tidak ada gunanya Adek memberi penjelasan. Karena toh yang celaka Abang." Pungkas Azlan dingin.
Dara diam tidak mampu berkata apa-apa lagi, dia sadar diapun salah tidak mau bercerita pada Azlan. Dara sedih melihat Azlan kaku dan dingin.
Padahal disaat seperti ini, dia benar-benar ingin selalu berada disamping Azlan dan mengurus Azlan, untuk menebus kesalahannya pada Azlan.
"Sudahlah... Adek tidur, ini sudah larut," titahnya tanpa menoleh Dara. Dan sikap Azlan ini sungguh membuat Dara nelangsa dan canggung. Hati Dara menjerit dan menangis.
"
"
__ADS_1