Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Teknisi Baru


__ADS_3

Azlan merebahkan tubuhnya kasar. Dia prustasi dan sedih. Dara yang sudah dalam cengkramannya, kini lepas lagi gara-gara si merah sedang bertamu.


"Ngucap Lan, ngucap....!" Batinnya berusaha membujuk dirinya sendiri.


"Abang, Dara mau ke depan sebentar ya. Mau beli pembalut." Ijin Dara seraya membuka pintu. Azlan yang tengah berbaring, tersentak lalu bangkit.


"Mau Abang antar, tidak?" Seru Azlan.


"Tidak usah, Dara hanya ke warung depan." Sahutnya sambil ngeloyor meninggalkan Azlan yang masih prustasi.


Hampir setengah jam Dara yang tadi bilang mau membeli pembalut ke warung depan, belum muncul-muncul. Azlan jadi khawatir, tanpa pikir panjang Azlan meraih HPnya lalu menelpon Dara. Namun rupanya HP Dara ditinggal di atas lemari.



"Aduh... kemana nih Dara, masa iya belanja ke warung depan selama ini?" Dumel Azlan khawatir.


BT menunggu, Azlan iseng meraih HP Dara. Kemudian dia menelpon balik HP Dara, penasaran nama apa yang ditulis Dara untuk nomernya.


"Cowok Menyebalkan" memanggil. Azlan terhenyak. Rupanya Dara menyimpan nama Azlan sebagai cowok menyebalkan. Karena HP Dara tidak dikunci, Azlan bisa membukanya, lalu dia mengganti nama "Cowok Menyebalkan" menjadi "Suamiku Tersayang".


Belum puas mengganti nama kontaknya menjadi " Suamiku Tersayang", Azlan membuka galeri foto. Satu persatu Azlan membuka foto dan vidio. Kebanyakan foto yang disimpannya foto artis Korea, seperti Lee Min Ho, Song Jong Ki, dan banyak lagi, ada juga foto keluarganya termasuk Wisnu. Hati Azlan langsung terbakar cemburu, sedangkan foto dia sama sekali tidak ada.



"*Wisnu, bukan hanya kakak sepupu, tapi dia* *mencintai Dara sebagai wanita. Aku yang sudah* *menjadi suaminya dan memiliki dirinya seutuhnya*, *tapi Dara tidak pernah terpikirkan menyimpan foto* *Aku*," guman Azlan kecewa.



Azlan masih membuka galeri foto selanjutnya, dan dia menemukan sebuah foto Dara dan Jabar, berfoto berdekatan. Dibawahnya ada tulisan, Aku dan Teknisi idolaku. Walaupun tanggal pengambilan foto tertera jelas disana, yakni foto diambil sebelum Azlan dan Dara menikah, namun hati Azlan terbakar rasa cemburu.



Azlan menghembuskan nafas kasar, dia kecewa pada Dara, sedih dan kesal sampai meneteskan air mata. Cemen atau cengeng? Azlan begitu mencintai Dara, sakit rasanya foto dia tidak ada sama sekali di galeri foto Dara.



"Assalamu'alaikum....!" Tiba-tiba Dara datang mengejutkan Azlan yang masih memegang HP Dara. Terlanjur Dara melihat Azlan memegang HPnya, dengan berusaha tenang Azlan sodorkan HP itu ke pemiliknya.



"Rupanya tertinggal disini HPnya. Kenapa dengan HP Dara, apa tadi ada yang nelpon, siapa Bang?" Tanya Dara.


"Abang yang telpon." Jawab Azlan.


"Abang...? Kenapa Abang telpon?"

__ADS_1


"Abang khawatir kamu belum pulang-pulang, jadi Abang nelpon," jawab Azlan.


"Ohh....!" Serunya.


"Adek, Abang mau tanya tapi jawab yang jujur?"


"Hah... nanya apa, kok seperti formal saja, Dara diintrogasi segala?" Heran Dara.


"Nama kontak Abang di HP Adek apa sih?"


"Apa ya... emmm Dara lupa lupa ingat. Tapi kalau tidak salah sih " Cowok Menyebalkan", iya itu benar, Cowok Menyebalkan." Jawab Dara jujur, sambil sekali-sekali menggaruk kepalanya yang memang gatal.


"Memang kenapa sih Abang, Abang ngambek ya Dara belum ganti nama kontak Abang? Ya sudah nanti Dara ganti sama yang lain yang lebih bagus dan menyenangkan hati Abang." Jawab Dara sembari mengeluarkan belanjaan yang rupanya lumayan banyak. Sejenak Azlan melihat Dara sibuk mengeluarkan belanjaannya. Ada lagi satu pertanyaan Azlan untuk Dara, namun Azlan sedikit ragu, takut Dara marah.



"Di galeri foto Adek, kenapa tidak ada satupun foto Abang?" Akhirnya Azlan beranikan diri bertanya seperti itu. Pertanyaan yang sudah dia susun sebelumnya, dia ingin tahu seperti apa reaksi Dara.



"Emmm... Dara tidak sempat dan lupa mau simpan foto Abang, waktu itu saat kita ke nikahan Kak Rian, Dara lupa mau minta *share it* foto yang Abang ambil saat kita sebelum pergi ke kondangan. Ya sudah *share it* saja foto Abang ke Dara, biar Dara simpan dan jadikan wallpaper sekalian," ujar Dara santai. Azlan tidak percaya dengan tanggapan Dara yang sesantai itu, Azlan pikir Dara akan marah karena Azlan telah membuka-buka galeri HP dan ngutak-ngatik Hp Dara.



"Marah? Tidak sih, cuma kesel saja. Tapi... ya sudah, Abang kan suami Dara. Jadi Dara maklumi saja. Kalaupun Dara marah, nanti malah Abang yang marah balik ke Dara," balas Dara sambil menyeruput Es Teller yang dia beli barusan.


"Ini, Dara belikan Abang Es Teller kesukaan Abang." Sodor Dara. "Makasih sayang, rupanya istri Abang ingat juga sama Abang."


"Yeyyy... iyalah Dara ingat. Gimana nggak ingat coba. Tiap ada kesempatan pengennya Abang nempel terus ke Dara," ejek Dara.


"Ayo sini kita fotoan saja di HP Adek, sekalian fotonya jadikan wallpaper sama foto profil FB atau WA Adek. Keberatan nggak?"



"Emm... tidak sih, tapi kalau di WA nanti malah ketahuan banget Dara sudah menikah." Ucap Dara ragu. "Ohh gitu... ya sudah tidak jadi saja ambil fotonya." Rajuk Azlan sambil melengos ke dalam kamar. Dara menyusul dan meraih tangan Azlan.



"Abanggg... ihh... ngambek saja bawaannya. Ayo... katanya mau ambil foto, maafin Dara tadi Dara cuma bercanda. Ayo....!" Bujuk Dara yang kini merangkul Azlan untuk meredam aksi ngambeknya.



"Gubrak....!" Dara yang merangkul Azlan akhirnya terjerambab di atas kasur. Posisi yang benar-benar sempurna, Dara tepat berada di bawah Azlan. Dara ketawa-tawa usil menggoda Azlan dengan aksi nakalnya. Dara sengaja menggoda dengan menyingkapkan roknya sehingga paha mulusnya terpampang nyata di depan mata Azlan. Azlan hanya mampu menelan ludah, dia tahu Dara sengaja menggodanya, dan Azlan tidak mungkin menerkamnya. Karena si Brewoknya lagi sakit muntah darah.


__ADS_1


Azlan kesal, dia hanya mampu mencubit kecil hidung bangir Dara dengan gemas.


"Pintar ya, sudah berani menggoda Abang. Tahu rasa kalau si Brewok sudah sembuh, Adek habis diterkam Abang." Ancamnya garang. Dara tertawa puas melihat Azlan kesal. Sebagai rasa bersalahnya Dara mencium bibir Azlan sekilas.


"Ayo, kita ambil foto banyak-banyak. Ayo Abang, awas... badan Abang berat banget kaya kebo!" Ucap Dara sambil berusaha menyingkirkan tubuh Azlan yang masih betah di atas tubuh Dara. Azlan manyun dan kecewa.


"Kapan si Brewoknya sembuh, Dek?" Tanya Azlan sebelum tubuhnya benar-benar sempurna menjauh dari tubuh Dara.


"Seminggu sudah bersih."


"Asikkk... kebetulan dong. Sofia sudah balik dan kita satu shift. Kita bebas kangen-kangenan." Seru Azlan gembira.


"Ihhh... begitu amat sih Abang." Cebiknya mendelik.


Malam telah tiba, dan Sofiapun sudah pulang sejak Asar tadi. Azlan bersiap untuk bekerja, sekitar jam 6.45 malam Azlan pamit dan pergi bekerja. Kali ini dia pergi tanpa menggunakan motornya, sebab tangan kirinya belum sempurna betul untuk digunakan, kadang masih terasa linu kalau dipakai. Azlan sudah janjian dengan Rivai untuk pergi kerja bareng dengan dibonceng Rivai.



Tiba saatnya Dara bekerja, jam 10.45 malam Dara bersiap.


"Sof, Dara pergi dulu ya. Hati-hati di rumah. Kunci pintunya dua kali. Kalau ada yang ketik pintu, intip dulu siapa yang ngetuk, dan jangan lupa kasih tahu Dara atau Bang Azlan." Pesan Dara sebelum pergi. Sofia mengangguk paham. "Siap Yuk!"


Tiba di Pabrik, Dara langsung menuju mesin 10. Disana dia mendapati Santi yang sedang menulis laporan akhir dan bersiap pulang.



"Dara... sudah sampai?" Santi menyapa. Dara tersenyum membalas Santi.


"Ada Teknisi baru Dar di mesin kita. Namanya Riki." Berita Santi sambil ngeloyor ke arah Cheker.


"Dara... aku langsung pulang ya!" Teriak Santi dari arah meja Cheker.


"Ok...!" Seru Dara sambil melambai.


Dara segera menuju mejanya, mengisi report dan mengecek Feedinglist, lalu menyalakan mesin yang tadi distop sejenak oleh Santi. Tidak berapa lama, tiba-tiba ada yang menyapa Dara dari arah belakang.



"Kamu, Operator mesin ini di shift B?" Sapanya mengejutkan Dara. Dara menoleh dengan cepat.


"Oh... iya benar, saya Dara," ucap Dara sedikit gelagapan.


"Aku Riki, Aku Teknisi baru di mesin ini," ucapnya memperkenalkan diri. Dara terpana melihat cowok dihadapannya. Dia tampan dan masih muda dari Teknisi yang lain, mungkin umurnya sekitar dua tahun diatas Dara.


"Mohon kerja samanya ya selama kita satu shift!" Ucapnya tersenyum lalu pergi menuju ruang Teknisi. Dara terpana dan terhenyak seketika, saat mendapati senyuman cowok bernama Riki tadi. Mirip seseorang yang sama sekali tidak ingin diingatnya.

__ADS_1


__ADS_2